
Bugh!
Aurel menampar lengan Daren kasar. Membuat lelaki itu meringis kesakitan.
"Argh sakit kepala gue gagar otak nih!" ucap Daren dengan kalimat hiperbolanya.
"Gak usah alay deh! Lo emang nyebelin anjir!" ucap Aurel langsung bangkit dan meninggalkan Daren.
"Eh Rel tunggu dong!" ucap Daren mengejar Aurel.
Mereka masuk kedalam ruangan dan kaget melihat Vivi dan Sarah yang sudah pulang.
"Kok kalian basah-basahan?" tanya Vivi menatap keduanya dengan tatapan aneh.
"Iya tumben nih berdua mandi bareng," ucap Sarah.
"Gak mandi bareng Mi!" ucap Aurel dan Daren bersamaan. Keduanya saling pandang.
"Lo ngapain sih ngikut-ngikutin gue!" ucap Aurel kepada Daren.
"Gak ada yang ngikutin lo!" ucap Daren.
Aurel menatap Daren sebal. "Apa lo liat-liat!" ucap Aurel. Padahal ia sendiri yang menatap Daren.
"Duh kalian itu berantem terus. Udah-udah ya... " ucap Vivi memisahkan keduanya.
"Abisnya Daren nyebelin sih! Dorong-dorong Aurel sempe nyebur ke kolam. Giliran di dorong balik malah tenggelam," ucap Aurel.
"Tenggelam?" ucap Sarah. "Kok bisa? Daren kan bisa berenang." Mendengar ucapan Sarah membuat Aurel menatap Daren.
"Beneran M1? Daren bisa berenang?" tanya Aurel.
"Iya sayang, Daren tuh jago berenang. Udah biasa berenang, gak mungkin tenggelam!" ucap Sarah.
Daren hanya cengar-cengir menatap Aurel. Sementara emosi Aurel sudah di ubun-ubun.
"Jadi yang tadi bukan nafas buatan? Tapi gue cium Daren?" batin Aurel.
Daren mundur beberapa langkah. Lalu ia berlari membuat Aurel menyadarinya.
"Daren! Sini lo!" teriak Aurel sembari mengejar Daren.
Vivi dan Sarah hanya bisa menggelengkan kepalanya, bingung kenapa pasangan suami istri itu selalu bertengkar.
***
Di beda Negara, Ruby duduk di sebuah taman menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Tiba-tiba Ali datang membawa dua buah es krim untuk mereka berdua.
"Nih makan dulu, biar lebih enjoy," ucap Ali sembari menyodorkan es krimnya.
"Makasih.. " ucap Ruby sembari menerimanya.
"Kamu udah nelpon Mami?" tanya Ali.
Ruby mengangguk. "Bang Daren nelpon aku. Terus aku ngomong sama Mami."
Ali mengangguk paham. "Beruntung mereka gak marah sama kita. Walaupun aku yakin pasti mereka kecewa sama kita."
"Aku masih ngerasa bersalah sama Kak Aurel dan Bang Daren. Ini benar-benar di luar ekspetasi kita kan? Mereka yang menerima konsekuensinya. Padahal ini bukan mereka yang melakukan kesalahan." Ali mengambil tangan Ruby dan menggenggamnya.
"Bukan cuma kamu yang ngerasa bersalah. Aku juga, soalnya aku tahu Kak Aurel yuh gimana. Dia kalau gak suka sama orang ya gak suka. Dan selama ini aku lihat dia gak suka sama Bang Daren. Aku yakin, dia ngerasa kesiksa... " ucap Ali.
"Iya, aku juga udah menghancur cita-cita Bang Daren buat nikah sama cewek yang selama ini dia cintai. Padahal aku tahu segimana besarnya Cinta Bang Daren ke cewek itu... " ucap Ruby.
__ADS_1
"Tapi ini pilihan kita Ruby. Kesedihan dan penyesalan kita hari ini adalah pilihan kita kemarin. Yang terpenting kedepannya kita harus lebih hati-hati dalam memutuskan sebuah pilihan," ucap Ali menasehati Ruby.
Ruby mengangguk, menyetujuinya ucapan Ali.
"Kita udah janji buat ngadepin ini bersama-sama. Jadi jangan biarkan beban itu kamu pikul sendiri," ucap Ali.
Ruby menyandarkan kepalanya di bahu Ali.
"Makasih ya Ali, kamu selalu ada buat aku. Maaf banget, sifat aku masih labil kayak anak kecil," ucap Ruby.
Ali mengusap kedua bahu Ruby. "Aku gak akan tinggalin kamu."
***
Ruang makan keluarga Wardana cukup ramai karena ada besan dan sang mantu yang sedang makan malam bersama. Aurel telihat masih bad mood karena ulah Daren tadi. Ia juga sangat males menatap wajah Daren di depannya.
"Jadi gimana Pa? Ali sama Ruby baik-baik aja kan di sana?" tanya Vivi kepada Adicipta.
"Baik kok Ma. Mereka sama sekali gak kekurangan," jawab Adicipta.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Vivi tersenyum lega.
"Oh iya, Mama dengar dari Mami Sarah kalian mau pindah ke apartemen? Kapan?" tanya Vivi. Aurel dan Daren saling pandang. "
"Secepatnya Ma!" ucap Daren.
"Gak tahu kapan!" ucap Aurel berbeda dengan Daren.
Daren menatap Aurel yang memasang wajah juteknya.
"Secepatnya Ma! Kalau bisa malam ini juga kita pindahan," ucap Daren.
Bugh!
"Daren kamu kenapa?" tanya Sarah.
"Gak pa-pa Ma..." jawab Daren sembari mengusap kakinya.
"Apa sih lo?' ucap Daren berbisik kepada Aurel.
Aurel hanya diam, dengan tatapan mematikan.
"Ya sudah kalau kalian mau pindah malam ini," ucap Sarah.
"Kami semua akan membantu kalian."
"Nah iya, kami akan membantu kalian," sambung Vivi.
***
"Ini semua tuh gara-gara lo tahu gak!" ucap Aurel sembari memberesi pakaiannya.
Daren yang sedang memasukan beberapa barang di kardus menatap Aurel.
"Kok gue?"
"Iyalah! Lo ngapain pake bilang malam ini pindahan?" ucap Aurel.
"Ya udah sih, lebih cepat lebih baik," ucap Daren.
"Pala lu!" seru Aurel. "Gue males serumah berdua sama lo, anjir!"
"Kenapa emang?" ucap Daren menghentikan aktifitasnya.
__ADS_1
"Ya males. Lo nyebelin banget!" ucap Aurel.
"Oke deh gue janju buat gak nyebelin lagi," ucap Daren.
"Pret! Gue gak percaya!" ucap Aurel.
"Lo masih marah karena hal tadi?" tanya Daren.
"Menurut lo?" ucap Aurel menatap Daren sebal. "Lo tuh nyebelin banget! Bisa-bisanya nge-prank gue anjir!" "Ya maaf!" ucap Daren.
"Maaf aja gak cukup," ucapan Aurel.
"Terus gue harus ngapain?' ucap Daren.
"Gak tahu!" ucap Aurel merajuk. Daren menghela nafas, memikirkan cara agar Aurel tidak marah lagi kepadanya.
"Sini ikug gue... " ucap Daren menarik Aurel ke balkon kamar.
"Ngapain?" tanya Aurel.
Daren memperlihatkan sebuah akuarium yang sangat familiar untuk Aurel.
"Ikan?" gumam Aurel.
"Lo gak ingat?" ucap Daren membuat Aurel menggelengkan kepalanya. "Lo pernah ngasih ikan ini ke gue." "Kapan?" ucap Aurel.
"Kiko sama Momo masa lo gak inget sih? Lo sendiri yang kasih nama mereka berdua... " ucap Daren lagi membantu ingatan Aurel.
Aurel terdiam sebentar. Menatap ikan hias yang lumayan besar di depannya. Tiba-tiba ingatannya melambung ke masa lalu.
Aurel berjalan di koridor sekolah. Ia menatap sekelilingnya yang mulai ramai. Akhirnya Aurel memutuskan untuk duduk di kursi koridor. Menselonjorka kakinya.
Ia menatap bazar tahunan di sekolah yang begitu ramai. Suasana yang sama sekali tidak ia temukan di sekolah yang lama.
Hingga akhirnya ia menatap salah satu stand bazar kelas lain menjual ikan hias. Aure berjalan kearah stand bazar itu melihat-lihat ikan yang sangat mengemaskan.
"Woy ngapain lo?" ucap Daren mengegatkan Aurel.
"Anjir! Bisa gak sih gak ngagetin?" ucap Aurel menatap Daren kesal.
Aurel tidak lagi menghiraukan Daren. Dia membeli dua ikan hias yang menurutnya Bagus.
"Kek bocah lo, beli ginian!" ucap Daren. "Biarin! Wle!" ucap Aurel.
"Lucu banget mereka, gue kasih nama Momo sama Kiko ah.." sambung Aurel.
Aurel langsung pergi meningvalakn Daren. Daren mengikuti langkah Aurel. Ia mlihat Aurel tengah bertengkar dengan seseorang. Ia adalah Sofi kekasihnya.
Sofi mengambil ikan itu dan langsung membantingnya di depan Aurel. Aurel tidak terima ia menjambak rambut Sofi. Hingga akhirnya ada guru yang menggiring keduanya ke ruang BK.
Daren buru-buru mengambil plastik dan langsung menyelamatkan ikan hias tersebut.
"Udah ingat?" ucap Daren membuyarkan lamunan Aurel.
"Jadi lo? Yang bawa kabur Kiko sama Momo?" ucap Aurel.
"Gak bawa kabur sih. Tadinya mau gue kasihin lagi ke lo. Tapi setelah di liat-liat mereka lucu juga," ucap Daren sembari memberi makan ikan hias itu.
"Gue mikirnya mereka udah mati keinjek-injek siswa yang lewat. Taunya di pungut sama lo. Ini semua gara-gara Sofi! Dia nuduh kalau lo yang beliin ikan hias ini."
"Kok gitu?" Aurel mengangkat kedua bahunya.
"Ikan ini, bukti Cinta gue ke lo Rel..." batin Daren. Menatap Aurel yang sedang bermain dengan kedua ikannya.
__ADS_1