
Mobil Daren berhenti di depan rumahnya. Kemudian mereka semua turun dari mobil.
"Daren, kamu bantu Aurel bawa kopernya dong ke kamar kamu," ucap Sarah.
Daren hanya menuruti kemauan Maminya. Ia mengambil koper Aurel.
"Sayang, kamu anggap rumah sendiri ya. Kalau ada apa-apa bisa minta tolong sama Mami, kalau gak Mbak Ningsih."
"Iya Mi, makasih... " ucap Aurel masih kaku.
"Silakan kalau kalian mau istirahat," ucap Sarah setelah mengantarkan mereka ke kamar Daren.
Aurel menatap seluruh kamar Daren. Kamarnya sangat bersih dan wangi. Tiba-tiba Aurel ingat apa kata Aldino waktu itu. Kalau Daren menyimpan fotonya. Tapi dimana?
"Cari apa lo?" tanya Daren mengagetkan Aurel.
"Enggak. Gak cari apa-apa," ucap Aurel. Daren menatap Aurel menyelidik.
"Apa liat-liat?"
Daren langsung meninggalkan Aurel. Lelaki itu masuk kedalam kamar mandi. Aurel menatap kepergian Daren.
"Kira-kira dimana ya?" gumam Aurel. Aurel mencoba mencari di meja belajar Daren. Namun tidak ada. Ia juga mencari di setiap penjuru kamar namun tidak ia temukan.
"Apa mungkin Aldino boongin gue?" gumam Aurel. Aurel mengacak-acak tempat DVD mencoba mencarinya. Namun tetap tidak ketemu.
Daren keluar dari kamar mandi. Menatap heran kearah Aurel yangmengacak-acak kamarnya. "Lo ngapain sih?" tanya Daren.
"Eum... gak pa-pa, kamar lo harus di rapihin lagi. Jadi gue mencoba buat merapikannya."
"Ngerapihin apa ngeberantakin?" ucap Daren membuat Aurel menyengir. Daren menggelengkan kepalanya.
"Udah sana mandi. Lo itu bau!"
"Enak aja! Gue wangi ya!" ucap Aurel tidak terima.
Aurel mengambil handuk yang sudah di sediakan. Lalu masuk kedalam kamar mandi. Kedua matanya melebar melihat sebuah foto yang terpampang di depannya.
"Daren!" teriak Aurel begitu kencang. Sementara Daren diluar sana sudah tertawa terbahak-bahak.
Aurel membuka pintu kamar mandi. "Maksud lo apa naro foto gue di kamar mandi?"
"Lo gak tahu fungsinya?" ucap Daren.
Aurel terdiam masih menahan kesalnya.
"Biar tikus, kecoa, setan yang ada di kamar mandi pergi. Karena mereka takut liat wajah lo, " ucap
lDaren sembari tertawa.
"Sialan lo! Gak lucu ya!" ucap Aurel benar-benar kesal.
Brak...
Aurel menutup pintu kamar mandi dengan kasar.
"Duh foto cantik gue, mana tinggi banget lagi."
__ADS_1
***
Makan malam di keluarga Daren berjalan dengan lancar. Meskipun begitu, Daren dapat melihat dengan jelas wajah kesal Aurel. Menurut Daren wajah Aurel saat ini terlihat begitu menarik.
"Sayang kok kamu gak makan?" tanya Sarah kepada Daren.
"Eum, kayaknya Daren pengen aku suapin deh, Mi..." ucap Aurel. Sontak Daren menatap kearah Aurel. Aurel tersenyum angkuh.
"Ah enggak, Daren bisa makan sendiri kok... " ucap Daren.
"Tapi aku pengen suapin kamu sayang," ucap Aurel. Mendengar itu membuat Daren ingin muntah. Sikap Aurel yang tiba-tiba berubah patut ia curigai.
"Udahlah Daren, gak pa-pa gak usah malu gitu," ucap Sarah menahan senyumnya.
"Mi tapi.... "
Terlambat, Aurel sudah mengambil alih piring Daren.
"Coba buka mulutnya," ucap Aurel. Dengan ragu Daren membuka mulutnya. Aurel langsung memasukan suapan pertama kedalam mulut Daren.
Daren melebarkan matanya. Merasakan pedas di indera perasaanya. Dia sendiri tidak suka pedas. Bahkan tidak bisa makan pedas."Gimana sayang? Enak kan?" ucap Aurel sembari tersenyum.
"Enak... " ucap Daren pelan. Aurel bersiap untuk menyuapi Daren lagi. Namun Daren melambatkan kunyahannya.
"Buka mulutnya lagi dong sayang..." ucap Aurel. Menyodorkan sendok didepan mulut Daren.
Mau tidak mau Daren membuka mulutnya lagi. Kali ini lebih pedas dari sebelumnya.
"Perasaan di piring gue tadi gak ada sambel kok ini berasa pedes banget sih," batin Daren.
"Rasain lo! Emang enak, piring lo sama piring gue kan udah gue tuker. Lagian ngeselin sih. Masa foto cantik gue di taro di kamar mandi!" batin Aurel.
Daren bangkit dari duduknya. Lalu
berjalan menuju kamar mandi.
"Daren kenapa Rel?" tanya Sarah.
"Gak tahu Mi..." jawab Aurel di sisi lain. Aurel tertawa, karena berhasil membalas kejahilan Daren.
***
Vivi menatap kearah luar jendela. Hujan di luar begitu deras. Saat ini ja tengah memikirkan Ali. Kemana anak itu pergi membawa anak perempuan orang? Di sisi lain juga ja memikirkan Aurel. Bagaimana tidak, Aurel baru saja menikah dengan orang yang tidak ia cintai. Dari belakang Adicipta mengamati istrinya.
"Masuk, hujan begitu deras," ucap Adicipta.
"Aku lagi mikirin anak-anak kita," jawab Vivi. "Mas, kira-kira Ali dimana ya? Terus Aurel apakah akan bahagia dengan pernikahannya?"
Adicipta hanya diam, sembari mengusap bahu Vivi. "Kita hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan mereka."
"Aku baru dapat info, dari anak buah ku. Kalau mereka menemukan identitas Ali dan Ruby pada penerbangan ke Australia."
"Australia?" ucap Vivi memastikan
kalau ia tidak salah dengar. Adicipta mengangguk.
***
__ADS_1
Aurel menguap, ia lelah menatap Daren yang keluar masuk kamar mandi.
Belum lagi hujan di luar begitu deras membuat perempuan itu menarik selimut hingga sebatas lehernya.
Daren keluar dari kamar mandi.
"Lo kenapa sih? Segitu ngefansnya sama gue? Sampai-sampai bolak balik kamar mandi buat liat wajah cantik gue?" ucap Aurel.
Daren mendengus kesal. "Ini semua gara-gara lo ya." "Kok gue?" ucap Aurel.
"Iyalah. Lo yang udah masukin sambel di piring gue kan?" ucap Daren.
Aurel tertawa. "Makanya jadi orang jangan jahil. Gue jahilin balik lah!"
"Lo ngeselin banget sih!" ucap Daren.
"Lo duluan kan?" ucap Aurel. Daren akan berbicara. Namun perutnya sakit lagi. Jadi lelaki itu masuk kedalam kamar mandi lagi.
"Kasihan juga sih dia. Tapi dia juga ngeselin sih!" gumam Aurel. Aurel turun dari ranjang berjalan menuju dapur. Entah kenapa ia sedikit merasa bersalah. Jadi ia membawakan air putih untuk Daren.
Setelah itu Aurel membawa Air
putih ke kamar lagi. Ia melihat Daren duduk di tepi ranjang.
"Nih minum!" ucap Aurel sembari menyodorkan air minum yang baru saja ia ambil.
Daren menatap Aurel curiga. "Gak lo kasih racun kan?"
"Ya enggak lah. Gila apa gue,
ngasih lo racun," balas Aurel.
"Bener nih?" ucap Daren memastikan.
"Iya. Gak percaya banget sih. Nih liat gue minum airnya," ucap Aurel meminum air itu sedikit.
"Tuh kan. Gue gak kenapa-napa."
Daren pun meminum air itu sampai habis. Lalu meletakkannya di nakas sebeleh ranjang.
"Eh kita tidur seranjang?" tanya Aurel melihat Daren yang mulai merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Kenapa emang? Tinggal tidur aja."
"Gak bisa gitu dong! Nanti kalau lo ngapa-ngapain gue gimana?" ucap Aurel.
"Ya udah sih kalau gitu lo tinggal tidur di bawah aja," ucap Daren dengan entengnya.
"Kok gue?" ucap Aurel.
"Iyalah. Kan ini kamar gue."
Aurel kesal dengan Daren. Lelaki itu mulai memejamkan matanya. Aurel menatap hujan di luar yang semakin deras. Udara juga terasa begitu dingin.
"Gak mungkin nih gue tidur di bawah," batin Aurel. "Tapi masa gue harus tidur sama Daren sih?"
Aurel masih berdebat dengan batinnya. Beberapa menit
__ADS_1
kemudian ia menghela nafas.
"Daren geser, gue mau tidur!"