
"Jujur gue bingung harus gimana. Lo baru confess sekarang setelah perasaan gue ke lo berubah jadi benci. Kenapa gak dari dulu aja sih?" ucap Aurel.
"Gue terlambat ya? Lo udah punya pacar kan?" ucap Daren. Aurel kaget dengan ucapan Daren.
"Siapa Rel? Siapa yang udah gantiin posisi gue?" ucap Daren lagi.
Aurel masih menimang apakah ini saat yang tepat kalau Daren tahu yang sebenarnya. Kalau ia telah berpacaran dengan Aldino.
"Aldino.... " ucap Aurel sembari menunduk.
"Aldino sepupu gue?" tanya Daren. Aurel mengangguk. "Berapa lama?"
"Sebulan, kita jadian sehari sebelum kita nikah," jawab Aurel jujur.
"Lo cinta sama dia?" tanya Daren.
"Kalau gue gak cinta kenapa gue nerima Aldino?" ucap Aurel.
"Kalau cinta bisa jadi benci.
Kenapa benci gak bisa jadi cinta, " ucap Daren seketika membuat Aurel mendongak kearahnya.
"Rel lo harus percaya, kalau gue bisa buat lo jatuh cinta lagi sama gue," ucap Daren sembari tersenyum. Aurel kira Daren akan marah soal dirinya dan Aldino. Tapi malah seperti ini.
Daren bangkit, "Oke udah selesai sekarang tugas lo buatin gue mie rebus kayak biasanya." Lelaki itu mengambil dua bungkus mie lalu memberikannya kepada Aurel.
"Huh, kebiasaan!" Aurel bangkit, lalu berjalan menuju kompor untuk mulai memasak mie. Daren mengamati Aurel dari belakang. Ia benar-benar tidak menyangka semua ini akan terungkap secepat ini.
"Daren tolong dong ambilin telur di dalam kulkas," ucap Aurel. Daren sadar dari lamunannya. Lelaki itu langsung menuruti kemauan Aurel. Ia mengambil telur, lalu memberikannya kepada Aurel.
Lagi, Daren mengamati Aurel. Rambutnya masih terurai, dan Aurel juga nampak kesusah. Dengan ide inisiatifnya. Daren berdiri di belakang Aurel dan langsung membantu Aurel untuk mengikat rambutnya.
Awalnya Aurel kaget, namun sedetik kemudian ia menormalkan ekspresinya.
"Cantik banget..." puji Daren tepat di telinga Aurel. Kedua pipi Aurel memanas menahan rasa malu.
"Udah lo duduk aja. Gue yang masak," ucap Aurel mengusir Daren.
"Kenapa emang? Kan gue mau bantuin lo masak," ucap Daren mengambil alih bungkus mie. Lelaki itu membuka satu persatu bungkus mie.βGak usah, gue bisa sendiri... " ucap Aurel menolaknya.
Daren akhirnya menurut. Dari pada Aurel kesal kepadanya. Lebih baik ia menuruti kemauan Aurel. Lelaki itu hanya duduk di kuris meja makan. Mengamati Aurel yang sedang memasak.
Beberapa menit kemudian. Daren sudah dapat mencium bau mie instan yang sangat enak. Lelaki itu langsung menatap Aurel yang membawa dua mangkuk untuk keduanya.
"Lo kenapa sih suka banget makan mie?" ucap Aurel."Suka aja. Apalagi mie buatan lo," ucap Daren lalu menyeruput kuah mie tersebut.
Aurel tersenyum melihatnya.
"Oh iya, lo akan selalu buatin mie buat gue, kan?" ucap Daren.
"Tiap hari maksudnya?" ucap Aurel. Daren mengangguk.
"Tiap hari sampai mati," ucap Daren serius.
"Janji gak?" Daren menyodorkan jari kelingkingnya di depan Aurel. Aurel diam, menatap Daren.
__ADS_1
"Janji kan?" ucap Daren lagi. Akhirnya Aurel menyatukan jari kelingking mereka."Iya gue janji... " ucap Aurel akhinya. Tentu saja hal ini membuat Daren semakin senang. Bukankah itu tandanya Aurel mulai menerimanya?
***
Aldino berjalan menuju balkon. Ia mengambil ponselnya lalu mencoba untuk menghubungi seseorang. Beberapa kali, namun seseorang itu tidak mengangkat telponnya.
"Aurel masih sayang gak sih sama gue? Kenapa gue merasa di permainkan sama dia, " ucap Aldino menatap layar ponselnya. Aldino menelpon Aurel lagi. Namun tetap sama, tidak ada jawaban dari Aurel. Tiba-tiba Tissa memeluk Aldino dari belakang.
"Kamu kemana aja? Aku cariin kamu tahu," ucap Tissa begitu manja dengan Aldino.
"Kamu udah mandinya?" tanya Aldino membalikkan tubuhnya. Tissa mendongak menatap lelaki yang jauh lebih tinggi darinya.
Aldino membiarkan Tissa untuk memeluknya.
"Aku juga udah masak buat makan malam kita," ucap Tissa lagi.
"Ya udah yuk makan. Aku juga udah laper," ucap Aldino.
"Cium dulu!" ucap Tissa manja.
Tissa berjinjit lalu mencium bibir Aldino.
Hanya sebentar, karena mereka memutuskan untuk ke meja makan. Tissa mengambilkan makanan untuk Aldino tiba-tiba ponsel Aldino berunyi. Sebuah telpon dari Aurel. Tissa juga sempat melirik layar ponsel Aldino.
"Halo? Aurel..."
"Iya maaf tadi ada Daren," ucap Aurel dari seberang sana. Aldino dapat mendengar suara gemercik
air. Apa mungkin Aurel sedang dikamar mandi?
"Iya aku baik-baik aja," ucap Aurel.
"Aku takut kamu kenapa-napa. Soalnya tadi Daren nelpon Tissa nanyain kamu kedia," ucap Aldino.
"Loh kamu lagi sama Tissa?" Aldino keceplosan mengatakan hal yanh sejujurnya. "AI? Kamu..."
"Kamu jangan mikir aneh-aneh kan tahu sendiri kalau Tissa di pindah tugaskan di kantor aku," ucap Aldino.
"Siapa yang mikir aneh-aneh... Aku cuma mau ngomong sama Tissa sebentar. Masih sama dia?" ucap Aurel. Aldino diam melirik Tissa.
"Eng.....gak.. Aku udah gak sama Tissa. Ini lagi dirumah," ucap Aldino berbohong.
"Yah aku kira masih sama Tissa," ucap Aurel sedikit kecewa.
"Eh ada lagi yang mau dibilangin?" ucap Aurel. "Gak ada..." jawab Aldino.
"Aku tutup ya, bye sayang, love you.. "
"Love you to... " ucap Aldino menatap layat ponselnya.
Aldino melirik Tissa yang memajukan bibirnya sebal. Nampaknya gadis itu trngaj cemburu. Aldino langsung menarik Tissa untuk duduk di pangkuannya.
"Kenapa?" ucap Aldino mmeluk pinggang Tissa.
"Kamu mesra banget sama Aurel," ucap Tissa menunduk. "Kamu cemburu?" ucap Aldino.
__ADS_1
"Menurut kamu?" ucap Tissa menatap Aldino.
Aldino tidak menjawab. Lelaki itu langsung memeluk Tissa yang ada di dalam dekapannya dengan erat. "I love you.. " bisik Aldino.
Tissa tersenyum mendegar ucapan Aldino. Gadis itu mebelai wajah Aldino.
"I love you to..." jawab Tissa mencium bibir Aldino lebih lembut dari yang biasanya. Aldino selalu punya cara untuk meluluhkan hati Tissa. Sampai-sampai Tissa tidak bisa marah kepada Aldino.
Kalau pun bisa, mungkin hanya sebentar. Tapi pernah lama.
***
Aurel keluar dari kamar mandi. Ia melihat Daren yang sedang fokus menonton kartun. Aurel berjalan kearah Daren. Dan langsung duduk disebelahnya.
"Udah gede masih aja nonton kartun," ucap Aurel. Aurel mengambil popcorn di pangkuan Daren.
"Mau nonton film?" tanya Daren.
"Boleh, jangan kartun ya. Apalagi dora, kartun ngeselin sama kayak lo!" ucap Aurel. Daren hanya tertawa mendengarnya.
Daren mencari film yang cocok untuk keduanya. Film diputar, keduanya nampak menikmati alur film tersebut. Tiba-tiba di pertengahan film ada adegan kissing. Sontak hal ini membuat Aurel menutup wajahnya dengan bantal sofa.
Daren mengamati Aurel. "Ngapain di tutup gitu? "
Aurel membukanya, dan masih ada adegan tersebut. Aurel menutup lagi wajahnya b dengan bantal lagi. Namun dengan kejahilannya Daren menarik bantal tersebut.
"Ih Daren! Balikin gak bantalnya!" ucap Aurel mencoba merebut dua bantal yang di bawa oleh Daren.
"Gak, kenapa sih emang cuma kissing doang," ucap Daren.
"Malu liatnya," ucap Aurel. Ia memilih untuk menutup wajahnya dengan tangannya. "Udah ganti film aja, Dora aja gak pa-pa.."
"Tadi katanya Dora nyebelin. Ini malah milih buat nonton Dora, gimana sih?" ucap Daren.
Aurel merebut remot di tangan Daren namun kalah cepat dengan Daren. "Ih nyebelin!" Aurel melipat bibirnya sebel.
"Rel jangan-jangan lo belum pernah ciuman ya?" ucap Daren serius. Aurel diam menatap Daren.
"A... apaan sih. Nanyanya begituan, " ucap Aurel gugup.
"Bener? Selama hampir 26 tahun belum pernah ciuman bibir?" ucap Daren begitu kaget.
"Berarti, yang di kolam renang itu, pertama kan?" ucap Daren girang.
Aurel menunduk malu. "Ya kan gue menjaga diri gue. Buat jaga first kiss gue buat suami gue."
"Suami? Buat gue dong?" ucap Daren menggoda Aurel. Aurel menjuhkan dirinya ketika Daren mempersingkat jarak mereka.
"Mau ngapain lo?" ucap Aurel panik.
"Mau gue ajarin ciuman gak?" ucap Daren. Aurel diam menatap Daren. "Mau kan?"
Daren diam-diam mendekat kearah Daren. Sepertinya perempuan itu sudah terhipnotis dengan Daren. Daren merapihkan anak rambut Aurel menaruhnya di belakang telinga agar tidak ada yang menghalangi.
"Tatap mata gue Rel..." ucap Daren mengunci pandangan mata Aurel.
__ADS_1
Aurel menurut, Daren mendekatkan wajah mereka. Aurel tidak mampu menahan nafasnya, begitu merasakan nafas Daren yang memburu. Daren memiringkan kepalanya bersiap untuk mencium bibir Aurel.