MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
APAPUN DEMI AUREL(2)


__ADS_3

Daren dan Aurel berada disebuah


restoran untuk makan siang.


Mereka pun mulai memesan


makanan.


"Lo mau makan apa?" tanya Daren


membuka buku menu.


"Sama aja deh kayak lo," ucap


Aurel.


"Mbak saya pesan nasi liwet yang Paket-B. "Ucap daren Lalu menutup buku menunya.


"Iya Kak, mohon menunggu


pesanannya," ucap pelayang


langsung pergi meninggalkan


Aurel dan Daren.


Aurel merasakan perutnya begitu


sakit. "Gue ke toilet dulu ya!


Urgent nih!"


Aurel langsung pergi berlari


menuju toilet. "Mampus, bener


dugaan gue. Gimana nih."


Aurel bingung harus gimana. la sedang bulan dan sama sekali tidak membawa pembalut.


la diam dalam toilet tidak tahu


harus gimana.


Sementara itu, Daren duduk masih


menunggu Aurel. Tapi entah


kenapa Aurel tidak kunjung datang


juga. Pelayan datang membawa


pesanan makanan Daren. Daren


sudah lapar, tapi tidak mungkin


kan dia makan duluan tanpa


menunggu Aurel.


Karena Aurel lama, Daren beranjak


dari duduknya dan langsung Berjalan menuju toilet. Dan berdiri didepan toilet perempuan


menunggu Daren.


Namun beberapa orang


perempuan keluar toilet membuat


Daren bingung kemana Aurel?


Karena khawatir, Daren


menerobos masuk kedalam toilet


perempuan.


"Eh ngapain mas! Mau mesum ya!"


ucap salah satu perempuan yang


kaget.


"Enggak, saya cari istri saya..." Ucap daren membela dirinya. Karena perempuan itu memukul


Daren dengan tasnya.


"Rel... Aurel... " ucap Daren.


"Loh itu kan suara Daren," ucap


Aurel yang ada di bilik kamar


mandi.


Aurel membuka pintu bilik kamar


mandi. "Maaf mbak itu suami


saya,' ucap Aurel.


Perempuan itu menghentikan


pukulannya. Daren berjalan


menuju Aurel."Kenapa sih kesini segala. Kan jadi


gini," ucap Aurel.


"Soalnya lo gak keluar keluar dari


tadi. Kan gue khawatir," ucap


Daren.


"Daren lo bisa bantuin gue gak?"


ucap Aurel.


"Bantuin apa?" tanya Daren. Aurel


membisikkan sesuatu kepada


Daren.


"Ha? Pembalut? Yang ada


sayapnya?" ucap Daren begitu kaget dengan ucapan Aurel."Iya. Please ya bantuin gue,"


rengek Aurel.


"Ya udah, tunggu bentar," ucap


Daren langsung pergi


meninggalkan Aurel.


"Semoga Daren bisa bedain yang


mana yang sayap mana yang


bukan," ucap Aurel menat


kepergian Daren.***


Daren berada di supermarket


terdekat. la menatap rak pembalut.berbagi macem merek ada, tapi Daren bingung. Pembalut mana


yang ada sayapnya. Daren


menggaruk telinga belakangnya.


"Duh yang mana ya, Aurel tadi gak


nyebut mereknya lagi," ucap Daren

__ADS_1


bingung sendiri.


Tiba-tiba ada seorang perempuan


bersama temannya. la mengambil


sebuah pembalut. Daren


memperhatikannya, tangannya


ikut mengambil pembalut itu. la


membacanya sekilas.


"Cari pembalut A?" ucap perempuan itu sembari tersenyum


kepada Daren.


"Iya, maaf Teh ini yang ada


sayapnya bukan?" ucap Daren


menunjuk pembalut yang ada di


tangannya.


"Bukan, yang ini nih yang ada


sayapnya," ucap perempuan itu


menunjukkannya kepada Darer


"Oh ini, makasih atuh Teh," ucap


Daren. Daren berjalan ke kasir.


Perempuan tadi mengikuti Daren."A-nomernya berapa"ucap perempuan itu. Daren


mengerutkan keningnya.


"Nomor apa teh?" tanyanya


bingung.


"Ya atuh nomor ponsel, masa iya


nomor sepatu," ucap perempuan


itu sembari tertawa.


"Semuanya 37-590," ucap kasir.


Daren membayarnya.


"Saya gak punya nomor ponsel.


Gimana kalau nomor ponsel istri


saya aja?" ucap Daren. Seketika pipi perempuan didepannya. merah menahan malu.


"Atuh Aa saya kira teh belum


nikah," ucapnya menahan. Daren


hanya tersenyum menggelengkan


kepalanya. la langsung pergi dari


hadapan perempuan itu.***


"Daren lama banget sih," gumam


Aurel yang sudah tidak betah


menunggu di toilet.


"Rel... " ucap Daren. Aurel


langsung membuka pintu bilik toilet."Mana?" ucap Aurel. Daren


menyerahkan bungkusan plastik


"Gimana? Salah gak?" tanya


Daren.


"Enggak kok ini udah bener,"


jawab Aurel dari dalam toilet.


"Gue tunggu di luar ya!" ucap


Daren.


"Iya... " jawab Aurel.


Daren keluar dari toilet. Tapi ia menunggu Aurel di depan pintu. toilet.


Tidak lama setelah itu, Aurel


keluar dari toilet. Daren melihat


rok Aurel seperti ada noda darah.


Seketika Daren menarik Aurel.


"Kenapa?" tanya Daren.


Daren tidak menjawab, ia langsung


mrlrpas jasnya. Dan mengikat jas


tersebut di pinggang Aurel.


"Tembus ya?" tanya Aurel.


"Dikit kok," jawab Daren. Aurel lega mendengarnya mereka


langsung melanjutkan perjalanan.


"Yah nasinya udah dingin," ucap


Aurel.


"Mau dipesenin lagi?" ucap Daren.


"Eh gak usah ini aja," ucap Aurel.


"Yang ini nanti mubazir loh."***


Aurel bersorak gembira, ketika


melihat taman bermain. Daren


mematilkan mesin mobilnya. Aurel tidak sabar untuk turun.


Perempuan itu turun lebih dulu.


Daren menyusulnya. la berdiri di


depan gerbang taman bermain.


"Rel jangan lari nanti jatuh,"


Daren.


Daren berdiri disamping Aurel.


"Gimana? Mau main yang mana


dulu?" ucap Daren merangkul


pinggang Aurel.


"Rollercoaster, gimana?" ucap


Aurel melirik Daren."kenapa gak putar komedi dulu?" ucap Daren.

__ADS_1


"Gak seru, ayolah rollercoaster


lebih seru," ucap Aurel merengek


seperti anak kecil. "Ah atau lo gak


berani ya? Iya kan? Lo gak


berani?" ucap Aurel lagi.


"Ih ngarang! Gue berani lah!" ucap


Daren.


"Ya udah ayo..." ucap Aurel.


"Katanya apapun demi Aurel,"


sambung Aurel mengingat ucapan


Daren tadi."ya udah ayo."ucao Daren. akhirnya membuat Aurel senang.


Aurel menarik Daren dengan


antusias. Sementara Daren diam,


mimik wajahnya berubah ketika


melihat rollercoaster yang melaju


begitu cepatnya.


"Nahkan liat, seru banget!" ucap


Aurel.


Daren bergidik ngeri melihatnya.


"Rel gimana kalau lo aja yang


naik? Gue nungguin disini."


"Kenapa sih emang? Gak seru tahu


kalau sendiri," ucap Aurel."Gue tiba-tiba kebelet," ucap


Daren memengangi perutnya.


"Alah gue tahu lo boong kan?


ucap Aurel tidak perca


"Ini beneran loh, kok dikira boong


sih," ucap Daren.


"Podo amat, pokoknya lo harus


temenin gue!" keputusan Aurel


begitu mutlak dan tidak bisa di


ganggu gugat. Perempuan itu


mencoba menarik Daren untuk


memasuki kawasan rollercoaster.keduanya duduk bersandingan Aurel memasang sabuk pengaman.


Begitu juga dengan Daren yang


nampak kesusahan. Aurel


membantu Daren untuk


memasangkannya.


"Ini pertama kalinya ya?" ucap


Aurel. Daren mengangguk.


"Keliatan banget soalnya, "


sambung Aurel sembari tertawa.


Rollercoaster mulai berjalan.


Daren menganggam tangan Aurel


erat. Sembari memejamkan


matanya. Penumpang lainnya berteriak, begitu juga dengan


Daren dan Aurel.


"Aurel gue sayang banget sama lo!"


teriak Daren begitu kencang. Aurel


mendongak menatap Daren yang


berteriak begitu kencang. Aurel


tersenyum mendengar teriakan


Daren.


"Daren gue juga sayang sama lo!"


teriak Aurel kini Daren yang


mendongak kearahnya.


"Apa Rel? Gue gak denger!" balas


Daren pura-pura tidak dengar."Gue sayang bangat sama lo


Daren!" teriak Aurel membuat


Daren tersenyum puas.


Rollercoaster berhenti, rasa takut


Daren hilang. Karena dia sangat


bahagia mendengar teriakan Aurel


tadi.


"Yang tadi beneran?" ucap Daren


setelah melepas sabuk pengaman.


"Apa?" tanya Aurel mendadak


hilang ingatan.


"Yang katanya lo sayang banget Sama gue, beneran. "Ucap Daren. mengingatkannya.


"Ih mana ada gue ngomong gitu,"


ucap Aurel benar-benar meledek


Daren.


Daren cemberut kesal ia berhenti


berjalan membiarkan Aurel jalan


lebih dulu.


"Daren, kok berhenti?" ucap Aurel.


Aurel menghela nafas.


"Iya gue sayang sama lo!" teriak


Aurel membuat beberapa orang

__ADS_1


melihat kearah mereka. Daren tersenyum, dan langsung


berlari untuk memeluk Aurel.


__ADS_2