
Daren dan Aurel berada disebuah
restoran untuk makan siang.
Mereka pun mulai memesan
makanan.
"Lo mau makan apa?" tanya Daren
membuka buku menu.
"Sama aja deh kayak lo," ucap
Aurel.
"Mbak saya pesan nasi liwet yang Paket-B. "Ucap daren Lalu menutup buku menunya.
"Iya Kak, mohon menunggu
pesanannya," ucap pelayang
langsung pergi meninggalkan
Aurel dan Daren.
Aurel merasakan perutnya begitu
sakit. "Gue ke toilet dulu ya!
Urgent nih!"
Aurel langsung pergi berlari
menuju toilet. "Mampus, bener
dugaan gue. Gimana nih."
Aurel bingung harus gimana. la sedang bulan dan sama sekali tidak membawa pembalut.
la diam dalam toilet tidak tahu
harus gimana.
Sementara itu, Daren duduk masih
menunggu Aurel. Tapi entah
kenapa Aurel tidak kunjung datang
juga. Pelayan datang membawa
pesanan makanan Daren. Daren
sudah lapar, tapi tidak mungkin
kan dia makan duluan tanpa
menunggu Aurel.
Karena Aurel lama, Daren beranjak
dari duduknya dan langsung Berjalan menuju toilet. Dan berdiri didepan toilet perempuan
menunggu Daren.
Namun beberapa orang
perempuan keluar toilet membuat
Daren bingung kemana Aurel?
Karena khawatir, Daren
menerobos masuk kedalam toilet
perempuan.
"Eh ngapain mas! Mau mesum ya!"
ucap salah satu perempuan yang
kaget.
"Enggak, saya cari istri saya..." Ucap daren membela dirinya. Karena perempuan itu memukul
Daren dengan tasnya.
"Rel... Aurel... " ucap Daren.
"Loh itu kan suara Daren," ucap
Aurel yang ada di bilik kamar
mandi.
Aurel membuka pintu bilik kamar
mandi. "Maaf mbak itu suami
saya,' ucap Aurel.
Perempuan itu menghentikan
pukulannya. Daren berjalan
menuju Aurel."Kenapa sih kesini segala. Kan jadi
gini," ucap Aurel.
"Soalnya lo gak keluar keluar dari
tadi. Kan gue khawatir," ucap
Daren.
"Daren lo bisa bantuin gue gak?"
ucap Aurel.
"Bantuin apa?" tanya Daren. Aurel
membisikkan sesuatu kepada
Daren.
"Ha? Pembalut? Yang ada
sayapnya?" ucap Daren begitu kaget dengan ucapan Aurel."Iya. Please ya bantuin gue,"
rengek Aurel.
"Ya udah, tunggu bentar," ucap
Daren langsung pergi
meninggalkan Aurel.
"Semoga Daren bisa bedain yang
mana yang sayap mana yang
bukan," ucap Aurel menat
kepergian Daren.***
Daren berada di supermarket
terdekat. la menatap rak pembalut.berbagi macem merek ada, tapi Daren bingung. Pembalut mana
yang ada sayapnya. Daren
menggaruk telinga belakangnya.
"Duh yang mana ya, Aurel tadi gak
nyebut mereknya lagi," ucap Daren
__ADS_1
bingung sendiri.
Tiba-tiba ada seorang perempuan
bersama temannya. la mengambil
sebuah pembalut. Daren
memperhatikannya, tangannya
ikut mengambil pembalut itu. la
membacanya sekilas.
"Cari pembalut A?" ucap perempuan itu sembari tersenyum
kepada Daren.
"Iya, maaf Teh ini yang ada
sayapnya bukan?" ucap Daren
menunjuk pembalut yang ada di
tangannya.
"Bukan, yang ini nih yang ada
sayapnya," ucap perempuan itu
menunjukkannya kepada Darer
"Oh ini, makasih atuh Teh," ucap
Daren. Daren berjalan ke kasir.
Perempuan tadi mengikuti Daren."A-nomernya berapa"ucap perempuan itu. Daren
mengerutkan keningnya.
"Nomor apa teh?" tanyanya
bingung.
"Ya atuh nomor ponsel, masa iya
nomor sepatu," ucap perempuan
itu sembari tertawa.
"Semuanya 37-590," ucap kasir.
Daren membayarnya.
"Saya gak punya nomor ponsel.
Gimana kalau nomor ponsel istri
saya aja?" ucap Daren. Seketika pipi perempuan didepannya. merah menahan malu.
"Atuh Aa saya kira teh belum
nikah," ucapnya menahan. Daren
hanya tersenyum menggelengkan
kepalanya. la langsung pergi dari
hadapan perempuan itu.***
"Daren lama banget sih," gumam
Aurel yang sudah tidak betah
menunggu di toilet.
"Rel... " ucap Daren. Aurel
langsung membuka pintu bilik toilet."Mana?" ucap Aurel. Daren
menyerahkan bungkusan plastik
"Gimana? Salah gak?" tanya
Daren.
"Enggak kok ini udah bener,"
jawab Aurel dari dalam toilet.
"Gue tunggu di luar ya!" ucap
Daren.
"Iya... " jawab Aurel.
Daren keluar dari toilet. Tapi ia menunggu Aurel di depan pintu. toilet.
Tidak lama setelah itu, Aurel
keluar dari toilet. Daren melihat
rok Aurel seperti ada noda darah.
Seketika Daren menarik Aurel.
"Kenapa?" tanya Daren.
Daren tidak menjawab, ia langsung
mrlrpas jasnya. Dan mengikat jas
tersebut di pinggang Aurel.
"Tembus ya?" tanya Aurel.
"Dikit kok," jawab Daren. Aurel lega mendengarnya mereka
langsung melanjutkan perjalanan.
"Yah nasinya udah dingin," ucap
Aurel.
"Mau dipesenin lagi?" ucap Daren.
"Eh gak usah ini aja," ucap Aurel.
"Yang ini nanti mubazir loh."***
Aurel bersorak gembira, ketika
melihat taman bermain. Daren
mematilkan mesin mobilnya. Aurel tidak sabar untuk turun.
Perempuan itu turun lebih dulu.
Daren menyusulnya. la berdiri di
depan gerbang taman bermain.
"Rel jangan lari nanti jatuh,"
Daren.
Daren berdiri disamping Aurel.
"Gimana? Mau main yang mana
dulu?" ucap Daren merangkul
pinggang Aurel.
"Rollercoaster, gimana?" ucap
Aurel melirik Daren."kenapa gak putar komedi dulu?" ucap Daren.
__ADS_1
"Gak seru, ayolah rollercoaster
lebih seru," ucap Aurel merengek
seperti anak kecil. "Ah atau lo gak
berani ya? Iya kan? Lo gak
berani?" ucap Aurel lagi.
"Ih ngarang! Gue berani lah!" ucap
Daren.
"Ya udah ayo..." ucap Aurel.
"Katanya apapun demi Aurel,"
sambung Aurel mengingat ucapan
Daren tadi."ya udah ayo."ucao Daren. akhirnya membuat Aurel senang.
Aurel menarik Daren dengan
antusias. Sementara Daren diam,
mimik wajahnya berubah ketika
melihat rollercoaster yang melaju
begitu cepatnya.
"Nahkan liat, seru banget!" ucap
Aurel.
Daren bergidik ngeri melihatnya.
"Rel gimana kalau lo aja yang
naik? Gue nungguin disini."
"Kenapa sih emang? Gak seru tahu
kalau sendiri," ucap Aurel."Gue tiba-tiba kebelet," ucap
Daren memengangi perutnya.
"Alah gue tahu lo boong kan?
ucap Aurel tidak perca
"Ini beneran loh, kok dikira boong
sih," ucap Daren.
"Podo amat, pokoknya lo harus
temenin gue!" keputusan Aurel
begitu mutlak dan tidak bisa di
ganggu gugat. Perempuan itu
mencoba menarik Daren untuk
memasuki kawasan rollercoaster.keduanya duduk bersandingan Aurel memasang sabuk pengaman.
Begitu juga dengan Daren yang
nampak kesusahan. Aurel
membantu Daren untuk
memasangkannya.
"Ini pertama kalinya ya?" ucap
Aurel. Daren mengangguk.
"Keliatan banget soalnya, "
sambung Aurel sembari tertawa.
Rollercoaster mulai berjalan.
Daren menganggam tangan Aurel
erat. Sembari memejamkan
matanya. Penumpang lainnya berteriak, begitu juga dengan
Daren dan Aurel.
"Aurel gue sayang banget sama lo!"
teriak Daren begitu kencang. Aurel
mendongak menatap Daren yang
berteriak begitu kencang. Aurel
tersenyum mendengar teriakan
Daren.
"Daren gue juga sayang sama lo!"
teriak Aurel kini Daren yang
mendongak kearahnya.
"Apa Rel? Gue gak denger!" balas
Daren pura-pura tidak dengar."Gue sayang bangat sama lo
Daren!" teriak Aurel membuat
Daren tersenyum puas.
Rollercoaster berhenti, rasa takut
Daren hilang. Karena dia sangat
bahagia mendengar teriakan Aurel
tadi.
"Yang tadi beneran?" ucap Daren
setelah melepas sabuk pengaman.
"Apa?" tanya Aurel mendadak
hilang ingatan.
"Yang katanya lo sayang banget Sama gue, beneran. "Ucap Daren. mengingatkannya.
"Ih mana ada gue ngomong gitu,"
ucap Aurel benar-benar meledek
Daren.
Daren cemberut kesal ia berhenti
berjalan membiarkan Aurel jalan
lebih dulu.
"Daren, kok berhenti?" ucap Aurel.
Aurel menghela nafas.
"Iya gue sayang sama lo!" teriak
Aurel membuat beberapa orang
__ADS_1
melihat kearah mereka. Daren tersenyum, dan langsung
berlari untuk memeluk Aurel.