
Aurel membuka pintu mobil Daren dengan kasar. Lalu duduk di jog kursinya.
"Udah ayo cepat jalan!"
"Gue bukan supir lo, pindah ke depan!" ujar Daren menatap Aurel dari kaca spion.
"Gue gak mau deket-deket sama lo," ucap Aurel memalingkan wajahnya.
"Oke!" ucap Daren. Keduanya diam, bahkan Daren tidak menghidupkan mesin mobilnya.
Aurel meniup wajahnya. Ia membuka pintu mobil Daren dan pindah kedepan.
"Nah, gitu dong!" ujar Daren sembari menghidupkan mesin mobilnya.
"Gue pindah kedepan biar gak lama-lama berduaan sama lo ya. Takut lo ngapa-ngapain gue!" ucap Aurel melipat tangannya di depan dada.
"Oh gitu?" ucap Daren masih fokus menyetir. Keduanya kembali diam, larut dalam pikiran mereka masing-masing.
"Lo ada hubungan spesial sama Aldino? " cetus Daren setelah keduanya terjebak dalam keheningan.
"Bukan urusan lo!" jawab Aurel dengan angkuhnya.
"Ya urusan gue dong. Aldino kan sepupu gue, keluarga gue," balas Daren tidak mau kalah.
"Tapi lo bukan emaknya Aldino! Restu lo sama sekali gak penting!" ucap Aurel sembari tersenyum menang.
Karena Daren tidak menjawab ucapannya. Daren menghentikan mobilnya. Karena mereka sudah sampai di depan butik. Ia turun lebih dulu, sementara Aurel menyusulnya. Keduanya masuk kedalam butik.
"Mas Daren ya?" ucap salah satu pegawai butik.
"Iya saya Daren, anaknya Ibu Sarah," ucap Daren.
"Kalau begitu silakan ikut kami," ucap pegawai butik. Aurel dan Daren berjalan mengekor di belakang pegawai butik.
Mereka masuk kedalam ruangan yang penuh dengan gaun-gaun pengantin.
"Nah ini gaunya, silakan di coba Kak."
Aurel memegang gaun yang masih di letak kan di manekin itu.
Sangat cantik, Aurel sangat kagum melihatnya.
"Mari saya bantu," ucap pegawai butik. Aurel tersadar dari lamunannya.
Ia mengikuti pegawai ke ruang ganti. Sementara itu, Daren menunggu dengan sabar. Sembari melihat kearah ponselnya. Tidak lama setelah itu, Aurel berjalan menghampiri Daren.
"Mas coba di liat calonnya," ucap pegawai butik kepada Daren. Sontak Daren mengalihkan fokusnya.
Daren terpesona dengan kecantikan Aurel.
Apalagi gadis itu tengah tersenyum kepadanya dengan begitu cantik.
"Ya ampun, Kak calon suaminya sangat terpesona," ujar pegawai butik.
Kemudian Daren sadar dari lamunannya.
"Iyalah Mbak, dia sangat terpesona sama saya," ucap Aurel dengan kepercayaan diri yang tinggi. Daren mendengus kesal.
__ADS_1
"Tapi kalian sangat cocok."
Daren dan Aurel saling tatap. Lalu keduanya bergidik ngeri.
"Amit-amit saya nikah sama dia... " ucap Aurel."Gue juga gak mau ya nikah sama lo!" balas Daren.
"Bagus deh, mending gue jadi perawan tua dari pada harus nikah sama lo!"
Pegawai butik semakin bingung dengan keduanya.
"Maaf, bukannya sebentar lagi kalian akan menikah?"
"Enggak!" keduanya kompak mengatakan hal itu.
"Mbak ini tuh saya di suruh buat gantiin adik ipar saya fitting baju, dan adik ipar saya itu adik dia," jelas Aurel.
Barulah pegawai butik mengangguk paham.
Pantas mereka nampak tidak akur. Aurel masuk keruang ganti untuk berganti baju. Beberapa menit kemudian, Aurel keluar dan langsung mengajak Daren pulang.
"Baiklah, untuk gaun besok akan kami antarkan, ya Kak..." ujar pegawai butik.
"Iya terima kasih, Mbak... " ujar Aurel. Aurel dan Daren masuk kedalam mobil.
"Seneng kan lo? Di kira mau nikah sama gue," goda Aurel sembari memasang seat belt-nya. Pletak!
Tanpa dosa Daren menjitak kepala Aurel.
"Sakit bego!" ucap Aurel mengusap kepalanya.
"Makanya jadi orang gak usah kepedean!" ucap Daren.
***
Seperti yang sudah di janjikan. Ruby datang ke cafe tempat ia dan Ali janjian. Membawa laptop di dalam tasnya. Ia diam-diam pergi dari rumah, karena pasti Sarah Maminya tidak akan mengizinkan Ruby keluar rumah.
Ruby melihat Ali yang sudah datang. Ia segera menghampiri Ali.
"Kamu bawa apa?" tanya Ali. "Laptop." Ruby langsung mengeluarkan laptopnya dari dalam tas. Ali semakin penasaran hal apa yang akan di tunjukan oleh Ruby
. Ruby menunjukkan laptopnya kepada Ali. Ali mengerutkan kening. "Kamu keterima beasiswa di universitas monash di Australia?" Ruby mengangguk. Ali terdiam sebentar, keduanya saling tatap.
"Impian kita terwujud Li," ujar Ruby lirih masih mengunci tatapan mata Ali.
"Tapi kenapa baru sekarang? Ketika kita mau nikah?" sambung Ruby.
"Sayang, kalau kamu mau ambil beasiswa itu. Kita ambil, setelah menikah kita...."
"Gak bisa, kita harus berangkat h-1 pernikahan kita Li. Kamu gak baca?" ujar Ruby memperlihatkan lagi layar laptopnya.
"Aku bingung, aku pengen banget ambil beasiswa itu. Dari dulu kamu juga tahu, gimana kita berkerja keras buat dapat beasiswa ini," ungkap Ruby.
Ali hanya diam, sembari mengusap bahu Ruby.
"Iya aku ngerti, aku paham. Apa yang kamu rasain," ujar Ali.
"Beasiswa kamu belum di batalin kan?" tanya Ruby.
__ADS_1
"Belum. Aku belum kirim surat pembatalanya," jawab Ali.
"Emang kenapa?"
"Kita harus kejar cita-cita kita, kan?" ucap Ruby."Kamu mau batalin pernikahan kita?" tanya Ali seakan tahu maksud Ruby.
Ruby menggelengkan kepalanya.
"Gimana kalau kita kabur?" usul Ruby.
"Ruby, jangan asal ambil tindakan. Persiapan pernikahan udah 90%dan kamu malah ngajak kita kabur?" ujar Ali.
"Demi kebaikan kita. Aku tahu ini berat buat kita. Tapi aku gak bisa nginggalin mimpi aku Li, dan kamu juga gak mungkin kan mau di sini? Sementara aku yang pergi."
"Itulah kenapa kita yang harus pergi," sambung Ruby.
"Lalu gimana dengan keluarga kita? Kamu gak mikirin perasaan mereka?" tanha Ali.
"Ali, Mami aku punya penyakit jantung. Aku juga gak tega ninggalinnya, tapi aku yakin mereka bakalan ngerti," ucap Ruby meyakinkan Ali.
Ali terdiam sebentar. Sungguh sangat berat menuruti kemauan Ruby kali ini. Mereka mungkin bisa di katakan egois. Lalu bagaimana tanggapan orang tua mereka tentang semua ini?
"Gimana Li? Aku bakalan lebih tenang pergi sama kamu," ucap Ruby lagi.
"Aku akan mikirin semua ini," ucap Ali mengusap kepala Ruby.
Ruby tersenyum mendengarnya. Meskipun begitu bukan kah ada secercah harapan untuknya.
***
"Gimana fitting bajunya, Rel?" tanya Vivi ketika Aurel memasuki rumahnya.
"Ya gitu-gitu aja, " jawab Aurel lemas.
"Daren mana?""Udah pulang, kenapa Ma?"
"Kenapa gak kamu ajak masuk aja
sih? Sekalian makan malam," ucap Vivi.
"Udah kenyang dia," jawab Aurel berbohong. Padahal jelas-jelas tadi Daren mau turun dan meminta makan di rumah Aurel.
Namun Aurel malah mengusir Daren.
Memang jahat, tapi Aurel suka menyiksa Daren.
"Ya sudah sana kamu mandi, terus makan!"
Aurel mengangguk, gadis itu segera masuk kedalam kamarnya.
Sebelum mandi dia mengecek ponselnya.
Aldino Rel, tadi gue liat lo sama Daren.Kemana?
Aurel merebahkan tubuhnya di ranjang sembari membalas pesan dari Aldino.
Fitting baju, gantiin Ruby. Ruby lagi sakit kan?
__ADS_1
Aurel menunggu pesannya di balas oleh Aldino. Aurel masih Setia menunggu hingga, kedua mata Aurel tidak sanggup lagi membuatnya memejamkan mata.