
Aurel sedang menyiapkan sarapan
untuk dirinya dan Daren. Tiba-tiba
Aurel merasakan seseorang
memeluknya dari belakang. Hal ini
tentu saja membuat Aurel kaget.
"Duh, bisa gak sih gak ngagetin?"
ucap Aurel.
"Hehe, maaf.. " ucap Daren.
"Pasangin dasi boleh?""Gak liat,lagi ngapain" Jawab Aurel sambil memainkan pisaunya.
"Buset, serem amat," komentar
Daren. "Tapi mau kan?
Aurel mengangguk, Daren pun
mencuri satu ciuman di pipi Aurel.
"Daren!" ucap Aurel mengusap
pipinya kasar. "Rabies nanti. "
"Sialan, dikira gue hewan apa,"
ucap Daren tidak terima. Aurel
hanya tertawa mendengarnya. "By
the way, lo gak pernah cerita kalau
apartemen lo sama Aldino ternyata dekat. ""Mana kita juga baru tahu lagi
kalau dia tinggal sama Tissa juga,"
sambung Aurel.
"Ya gue pikir Aldino gak pernah
tingga di Apartemen jadi ya gak
pernah ngasih tahu," ucap Daren.
Aurel diam, Daren mengamati
Aurel lelaki itu tahu apa yang
sedang di pikirkan oleh Aurel.
Lelaki itu berjalan mendekat
kearah Aurel memeluk Aurel lagi.
Bedanya kali ini Aurel tidak
sekaget tadi."Udah, jangan dipikirin. Kan ada
aku," ucap Daren memeluk Aurel.
"Siapa yang mikirin mereka," ucap
Aurel seakan tidak memikirkan
"Gue tahu lo lagi mikirin mereka
kan? Udah jujur aja, gak papa" ucap Daren
menarik kepala Aurel agar
menatap kearahnya.
"Yang harus lo pikirin sekarang
gue. Dan gue rasa ini waktu yang
tepat buat lo buka hati buat gue,"
sambung Daren. Daren mendekatkan wajahnya.
Semoga kali ini tidak ada
penganggu seperti sebelumnya.
Aurel memejamkan mata. Namun
tiba-tiba tidak jadi karena mereka
mencium bau gosong.
"Telor gue!" ucap Aurel
kelimpungan untuk mematikan
kompor.
"Gagal lagi, gagal lagi... " gumam
Daren tersenyum dengan ikhlas.***Aurel dan daren bersiap untuk
pergi ke kantor. Mereka masuk
kedalam lift. Daren memencet
pintu lift. Namun tiba-tiba
seseorang masuk. Mereka kaget,
namun tetap masuk kedalam lift.
Keempatnya saling kenal, tapi
mereka tidak mnenyapa sama sekali.
Sedari tadi Tissa hanya
menunduk, sementara Aurel
malah merapatkan tubuhnya
kearah Daren. Aurel mengenggam
tangan Daren erat.
Daren tahu apa yang tangan Aurel begitu dingin. Dan
sedikit bergetar.
Ting...
Sampai pintu lift berbunyi pun
mereka tidak saling sapa. Aurel
langsung mengajak Daren keluar
lebih dulu. Dan langsung masuk
kedalam mobil.
"Ayo jalan... " ucap Aurel.
__ADS_1
Daren menurut langsung
menjalankan mobilnya. la
mengetuk-ngetuk stir mobil. Ingin menghibur Aurel tapi dengan cara apa?
"Rel lo ingat gak? Dulu kayaknya
waktu stady tour kita pernah ke
Bandung kan? Yang di tanman
bermain ada banyak badut
kesukaan lo, ingat gak?" tanya
Daren.
"Badut? Taman bermain?" tanya
Aurel. Seketika Aurel
mengingatnya. "Ah iya gue inget.
"Gimana kalau kita kesana," ucap
Daren."wah, bercanda nih Jakarta-Bandung gak deket loh.
Lagian kan harus kerja, ini bukan
hari libur, kan, " ucap Aurel.
"Apapun demi Aurel," ucap Daren
langsung membelokkan mobilnya.
"Daren lo beneran gila," ucap Aurel
tidak menyangka jika Daren akan
melakukan ini. Mobil masuk
kedalam tol.
"Ini beneran kita bolos kerja lagi?"
ucap Aurel.
Daren mengangguk. "Biar mood lo balik lagi, " Aurel tersenyum, mendengar
ucapan Daren. Ia sadar, kalau
selama ini hanya Daren yang selalu
ada untuknya.
"Lo ngantuk?" tanya Daren di
persetengah perjalanan.
Aurel menggelengkan kepalanya.
la merasa kasihan dengan Daren
jika ia tidur Daren sendirian tidak
ada teman ngobrol. Perjalanan kali
ini juga cukup jauh kan.
Tidur aja kalau ngantuk," ucap
Daren."Gak mau,"
1," ucap Aurel. Aurel
melihat dashboard mobil Daren
dashboard tersebut. la mnemukan
sebuah gelang yang sangat indah.
"Ini gelang siapa? Cantik banget,"
ucap Aurel mencoba memakainya.
Daren melirik sekilas lalu fokus
lagi dengan jalanan didepannya.
"Punya mantan gue," jawab Daren.
"Sofi?"
"Nessa," jawab Daren."Oh, " jawab Aurel meletakkan lagi
gelang tersebut ditempat semula.
Aurel tidak kenal siapa itu Nessa.
Tapi dari foto yang ia lihat
kemarin. Perempuan itu sangat
cantik, lebih cantik darinya
tentunya.
"Sekarang Nessa dimana?" tanya
Aurel melirik Daren.
"Setahu gue sih, dia ada di kuala
lumpur, ya..." jawab Daren.
"Kenapa putus sama dia?" tanya
Aurel. Aurel benar-benar kepo dengan mantan terakhir Daren.
"Alasannya gak jelas sih. Nessa
yang ninggalin gue gitu aja," jawab
Daren masih fokus dijalanan.
"Kenapa sih nanya gitu?"
"Gak pa-pa, pengen tahu aja,"
jawab Aurel. "Eh dia tahu lo udah
nikah?" tanya Aurel lagi.
"Enggak deh kayaknya soalnya kan
yang dia tahu yang mau nikah itu
Ruby. Bukan gue," ucap Daren.
Seketika Aurel diam mendengar ucapan daren."Kenapa?"
"Lo terakhir ketemu dia kapan
emang?" tanya Aurel begitu kepo.
"Kapan ya, sebelum pernikahan
__ADS_1
kita sih. Kan waktu itu gue ke
kuala lumpur. Nah dia ngajak
ketemuan," ucap Daren.
Aurel mengangguk paham.
"Udah jangan nanya-nanya lagi.
Takutnya lo nanti sakit hati kalau
tahu karena buat lo overthinking,
ucap Daren mengusap kepala Aurel. Aurel menurut, tapi ia masih soal
kepikiran dengan lingerie yang ia
temukan waktu itu. Perempuan itu
menyandarkan kepalanya di jog
mobil. Sembari menatap jalanan di
depannya.***
Pukul setengah 11 siang, mereka
baru saja memasuki kawasan
Bandung. Aurel membuka
matanya. Karena sekarang berada
si rest area.
la tidak menemukan keberadaan Daren. Namun ia melihat jas
Daren yang menyelimuti
tubuhnya. Lalu kemana lelaki itu?
Aurel mencari ponselnya untuk
menelpon Daren. Namun saat
menelpon Daren, ponselnya ada di
dashboard mobil.
"Duh, kemana sih tuh orang," ucap
Aurel.
Tiba-tiba Daren masuk mobil
membawa kantung plastik merk
lebah biru.
"Lo dari mana sih?" tanya Aurel."Nih snack," ucap Daren
menyerahkan kantung plastik itu.
Aurel membukanya, ternyata
isinya jajanan kesukaan Aurel.
"Langsung ke tanman bermain?"
tanya Aurel membuka ice crime
yang di beli Daren.
"Ice crime vanila enak banget ya
Tuhan.. " ucap Aurel menikmati
ice crimne tersebut.
Daren tersenyum melihatnya. la
langsung menghidupkan mesin
mobilnya. "Cari makan siang dulu mau?"
"Masih jam setengah 11," ucap
Aurel melirik jam di ponselnya.
"Eh tapi kalau lo laper gak pa-pa
sih. Kita makan dulu."
"Oke, kita cari makan dulu ya,"
ucap Daren. Aurel mengangguk,
menurut karena menurutnya
makan ice crime siang ini begitu
nikmat.
"Mau gak?" ucap Aurel
menyodorkan ice crimenya.Daren membuka mulutnya. Aurel menyuapi Daren, Daren
tersenyum.
"Enak kan?" ucap Aurel.
Daren mengangguk, setuju dengan
ucapan Aurel. "Mau yang lebih
enak gak?"
"Ha? Apa?"
Daren menepikan mobilnya. la
mengambil ice crime Aurel,
memakannya lalu mendekatkan
bibirnya dengan bibir Aurel.
Memasukan ice crime itu kedalam mulut Aurel Aurel masih syok, baru kali ini ia
memakan ice crime dengan sensi
yang berbeda.
"Enak kan?" ucap Daren.
Dengan polosnya Aurel
mengangguk.
"Lucu banget sih," ucap Daren
mengacak-acak rambut Aurel.
"Mau lagi? " tawa Daren.
Aurel menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Udah jalan lagi yuk. Nanti pulangnya kemaleman". Daren menurut, sekali lagi apapun
demi Aurel.