MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
APA PUN DEMI AUREL (1)


__ADS_3

Aurel sedang menyiapkan sarapan


untuk dirinya dan Daren. Tiba-tiba


Aurel merasakan seseorang


memeluknya dari belakang. Hal ini


tentu saja membuat Aurel kaget.


"Duh, bisa gak sih gak ngagetin?"


ucap Aurel.


"Hehe, maaf.. " ucap Daren.


"Pasangin dasi boleh?""Gak liat,lagi ngapain" Jawab Aurel sambil memainkan pisaunya.


"Buset, serem amat," komentar


Daren. "Tapi mau kan?


Aurel mengangguk, Daren pun


mencuri satu ciuman di pipi Aurel.


"Daren!" ucap Aurel mengusap


pipinya kasar. "Rabies nanti. "


"Sialan, dikira gue hewan apa,"


ucap Daren tidak terima. Aurel


hanya tertawa mendengarnya. "By


the way, lo gak pernah cerita kalau


apartemen lo sama Aldino ternyata dekat. ""Mana kita juga baru tahu lagi


kalau dia tinggal sama Tissa juga,"


sambung Aurel.


"Ya gue pikir Aldino gak pernah


tingga di Apartemen jadi ya gak


pernah ngasih tahu," ucap Daren.


Aurel diam, Daren mengamati


Aurel lelaki itu tahu apa yang


sedang di pikirkan oleh Aurel.


Lelaki itu berjalan mendekat


kearah Aurel memeluk Aurel lagi.


Bedanya kali ini Aurel tidak


sekaget tadi."Udah, jangan dipikirin. Kan ada


aku," ucap Daren memeluk Aurel.


"Siapa yang mikirin mereka," ucap


Aurel seakan tidak memikirkan


"Gue tahu lo lagi mikirin mereka


kan? Udah jujur aja, gak papa" ucap Daren


menarik kepala Aurel agar


menatap kearahnya.


"Yang harus lo pikirin sekarang


gue. Dan gue rasa ini waktu yang


tepat buat lo buka hati buat gue,"


sambung Daren. Daren mendekatkan wajahnya.


Semoga kali ini tidak ada


penganggu seperti sebelumnya.


Aurel memejamkan mata. Namun


tiba-tiba tidak jadi karena mereka


mencium bau gosong.


"Telor gue!" ucap Aurel


kelimpungan untuk mematikan


kompor.


"Gagal lagi, gagal lagi... " gumam


Daren tersenyum dengan ikhlas.***Aurel dan daren bersiap untuk


pergi ke kantor. Mereka masuk


kedalam lift. Daren memencet


pintu lift. Namun tiba-tiba


seseorang masuk. Mereka kaget,


namun tetap masuk kedalam lift.


Keempatnya saling kenal, tapi


mereka tidak mnenyapa sama sekali.


Sedari tadi Tissa hanya


menunduk, sementara Aurel


malah merapatkan tubuhnya


kearah Daren. Aurel mengenggam


tangan Daren erat.


Daren tahu apa yang tangan Aurel begitu dingin. Dan


sedikit bergetar.


Ting...


Sampai pintu lift berbunyi pun


mereka tidak saling sapa. Aurel


langsung mengajak Daren keluar


lebih dulu. Dan langsung masuk


kedalam mobil.


"Ayo jalan... " ucap Aurel.

__ADS_1


Daren menurut langsung


menjalankan mobilnya. la


mengetuk-ngetuk stir mobil. Ingin menghibur Aurel tapi dengan cara apa?


"Rel lo ingat gak? Dulu kayaknya


waktu stady tour kita pernah ke


Bandung kan? Yang di tanman


bermain ada banyak badut


kesukaan lo, ingat gak?" tanya


Daren.


"Badut? Taman bermain?" tanya


Aurel. Seketika Aurel


mengingatnya. "Ah iya gue inget.


"Gimana kalau kita kesana," ucap


Daren."wah, bercanda nih Jakarta-Bandung gak deket loh.


Lagian kan harus kerja, ini bukan


hari libur, kan, " ucap Aurel.


"Apapun demi Aurel," ucap Daren


langsung membelokkan mobilnya.


"Daren lo beneran gila," ucap Aurel


tidak menyangka jika Daren akan


melakukan ini. Mobil masuk


kedalam tol.


"Ini beneran kita bolos kerja lagi?"


ucap Aurel.


Daren mengangguk. "Biar mood lo balik lagi, " Aurel tersenyum, mendengar


ucapan Daren. Ia sadar, kalau


selama ini hanya Daren yang selalu


ada untuknya.


"Lo ngantuk?" tanya Daren di


persetengah perjalanan.


Aurel menggelengkan kepalanya.


la merasa kasihan dengan Daren


jika ia tidur Daren sendirian tidak


ada teman ngobrol. Perjalanan kali


ini juga cukup jauh kan.


Tidur aja kalau ngantuk," ucap


Daren."Gak mau,"


1," ucap Aurel. Aurel


melihat dashboard mobil Daren


dashboard tersebut. la mnemukan


sebuah gelang yang sangat indah.


"Ini gelang siapa? Cantik banget,"


ucap Aurel mencoba memakainya.


Daren melirik sekilas lalu fokus


lagi dengan jalanan didepannya.


"Punya mantan gue," jawab Daren.


"Sofi?"


"Nessa," jawab Daren."Oh, " jawab Aurel meletakkan lagi


gelang tersebut ditempat semula.


Aurel tidak kenal siapa itu Nessa.


Tapi dari foto yang ia lihat


kemarin. Perempuan itu sangat


cantik, lebih cantik darinya


tentunya.


"Sekarang Nessa dimana?" tanya


Aurel melirik Daren.


"Setahu gue sih, dia ada di kuala


lumpur, ya..." jawab Daren.


"Kenapa putus sama dia?" tanya


Aurel. Aurel benar-benar kepo dengan mantan terakhir Daren.


"Alasannya gak jelas sih. Nessa


yang ninggalin gue gitu aja," jawab


Daren masih fokus dijalanan.


"Kenapa sih nanya gitu?"


"Gak pa-pa, pengen tahu aja,"


jawab Aurel. "Eh dia tahu lo udah


nikah?" tanya Aurel lagi.


"Enggak deh kayaknya soalnya kan


yang dia tahu yang mau nikah itu


Ruby. Bukan gue," ucap Daren.


Seketika Aurel diam mendengar ucapan daren."Kenapa?"


"Lo terakhir ketemu dia kapan


emang?" tanya Aurel begitu kepo.


"Kapan ya, sebelum pernikahan

__ADS_1


kita sih. Kan waktu itu gue ke


kuala lumpur. Nah dia ngajak


ketemuan," ucap Daren.


Aurel mengangguk paham.


"Udah jangan nanya-nanya lagi.


Takutnya lo nanti sakit hati kalau


tahu karena buat lo overthinking,


ucap Daren mengusap kepala Aurel. Aurel menurut, tapi ia masih soal


kepikiran dengan lingerie yang ia


temukan waktu itu. Perempuan itu


menyandarkan kepalanya di jog


mobil. Sembari menatap jalanan di


depannya.***


Pukul setengah 11 siang, mereka


baru saja memasuki kawasan


Bandung. Aurel membuka


matanya. Karena sekarang berada


si rest area.


la tidak menemukan keberadaan Daren. Namun ia melihat jas


Daren yang menyelimuti


tubuhnya. Lalu kemana lelaki itu?


Aurel mencari ponselnya untuk


menelpon Daren. Namun saat


menelpon Daren, ponselnya ada di


dashboard mobil.


"Duh, kemana sih tuh orang," ucap


Aurel.


Tiba-tiba Daren masuk mobil


membawa kantung plastik merk


lebah biru.


"Lo dari mana sih?" tanya Aurel."Nih snack," ucap Daren


menyerahkan kantung plastik itu.


Aurel membukanya, ternyata


isinya jajanan kesukaan Aurel.


"Langsung ke tanman bermain?"


tanya Aurel membuka ice crime


yang di beli Daren.


"Ice crime vanila enak banget ya


Tuhan.. " ucap Aurel menikmati


ice crimne tersebut.


Daren tersenyum melihatnya. la


langsung menghidupkan mesin


mobilnya. "Cari makan siang dulu mau?"


"Masih jam setengah 11," ucap


Aurel melirik jam di ponselnya.


"Eh tapi kalau lo laper gak pa-pa


sih. Kita makan dulu."


"Oke, kita cari makan dulu ya,"


ucap Daren. Aurel mengangguk,


menurut karena menurutnya


makan ice crime siang ini begitu


nikmat.


"Mau gak?" ucap Aurel


menyodorkan ice crimenya.Daren membuka mulutnya. Aurel menyuapi Daren, Daren


tersenyum.


"Enak kan?" ucap Aurel.


Daren mengangguk, setuju dengan


ucapan Aurel. "Mau yang lebih


enak gak?"


"Ha? Apa?"


Daren menepikan mobilnya. la


mengambil ice crime Aurel,


memakannya lalu mendekatkan


bibirnya dengan bibir Aurel.


Memasukan ice crime itu kedalam mulut Aurel Aurel masih syok, baru kali ini ia


memakan ice crime dengan sensi


yang berbeda.


"Enak kan?" ucap Daren.


Dengan polosnya Aurel


mengangguk.


"Lucu banget sih," ucap Daren


mengacak-acak rambut Aurel.


"Mau lagi? " tawa Daren.


Aurel menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Udah jalan lagi yuk. Nanti pulangnya kemaleman". Daren menurut, sekali lagi apapun


demi Aurel.


__ADS_2