
'Huh' Terdengar helaan nafas yang sangat berat dari mulut Aurel. Sedari tadi, Aurel tidak berhenti mengomel karena ulah Daren. Keduanya masuk kedalam mobil Daren. Aurel yang menyetir. Daren tersenyum, padahal kakinya baik-baik saja. Tapi semua ini ia lakukan untuk memberi pelajaran kepada Aurel.
"Kita mau kemana?" tanya Daren kepada Aurel yang sedang fokus menyetir.
"Ke rumah sakit kan? Buat ngobatin kaki lo itu!" ucap Aurel.
"Iya, lo pelan-pelan nyetir mobilnya. Gue masih pengen hidup!" ucap Daren. Seakan tidak mendengarkan ucapan Daren, Aurel menginjak pedal gas agar kecepatan mobilnya bertambah.
Daren panik melihat semua ini. Aurel menghentikan mobilnya mendadak karena di depan ada lampu merah. Seketika Daren menghela nafas lega.
"Hampir aja hidup gue sia-sia gara-gara lo!" ucap Daren.
"Lebay banget sih!" balas Aurel. Lampu merah telah berganti menjadi kuning, kemudian hijau. Aurel melajukan lagi mobilnya. Kali ini berbeda, jauh lebih pelan.
"Eh lo mau bawa gue kemana? Kan rumah sakitnya belok kanan," ucap Daren.
"Kayaknya kalau di rumah sakit bakalan ribet. Terus lama mending kita ke tukang urut," ucap Aurel dengan senyuman sinis di ujung bibirnya.
Daren terkejut mendengar ucapan Aurel. "Enggak gue gak mau ke tukang urut!"
"Kenapa? Kan biar cepet sembuh, iya kan?" ucap Aurel sembari tersenyum sinis.
"Turuin gue di sini sekarang!" ujar Daren.
"Gak bisa gitu dong. Kata lo gue harus tanggu jawab kan?" ucap Aurel membuat Daren bertambah panik. "Kenapa sih lo? Kok kek gitu banget!"
"Gue gak mau ke tukang urut. Nih liat kaki gue udah gak kenapa-napa," ucap Daren menggerakkan kakinya. Aurel tertawa mendengarnya.
"Masa sih? Kan sakit tuh," ucap Aurel. Aurel membelokkan mobilnya kesebuah permukiman warga.
"Rel pulang aja yuk... " ucap Daren.
"Tenang Daren, ini adalah duku terbaik yang gue kenal," ucap Aurel sembari membukakan pintu mobil untuk Daren.
"Ah gue gak mau!"
"Ayo turun!" ucap Aurel sembari menarik Daren. Daren bak anak kecil yang takut dengan tukang urut.
Daren turun, karena Aurel menariknya. "Lo liat, gue gak kenapa-napa kan?"
Daren beridi tegak, memperlihatkan kepada Aurel bahwa ia baik-baik saja.
"Dugaan gue bener, Daren cuma ngerjain gue dari tadi. Oh liat aja apa yang akan gue lakukan," batin Aurel.
"Udah, lo harus di cek kedaaan kaki lo. Biar baik-baik aja," ucap Aurel. Aurel merangkul Daren untuk memapah tubuh lelaki itu.
Daren pasrah, padahal ia sangat trauma dengan dukun urut. Dia terlalu takut untuk hal ini.
Tok... tok... tok....
"Assalamualaikum... " ucap Aurel sembari mengetuk pintu. Namun tidak ada sahutan dari dalam rumah.
__ADS_1
"Udah yuk Rel pulang! Gak ada orangnya tuh," ucap Daren memohon kepada Aurel.
"Diem kenapa sih lo," ucap Aurel
sembari memelototi Daren. "Assalamualaikum..." "Permisi... " ujar Aurel lagi.
Clek...
Pintu terbuka, menampilkan seorang nenek-nenek.
"Wa'alaikumsalam cari siapa?"| tanya nenek tersebut.
"Ini Nek, saya mau mengobati kaki teman saya," ucap Aurel.
"Silakan masuk, Mbak, Mas..." ucap nenek tersebut begitu ramah.
Aurel membantu Daren untuk masuk. Wajah Daren sudah gelisah sejak tadi. Dan Aurel sangat suka dengan ekspresi wajah itu.
"Silakan duduk saya ambil peralatannya dulu," ucap nenek tersebut.
"Rel pulang aja ya, gue udah gak kenapa-napa beneran gue uda bisa jalan bahkan lari juga bis-...."
""Sttt... diem!" ucap Aurel memotong ucapan Daren. Seketika Daren terdiam. Nenek tadi datang, membawa beberapa peralatan yang di butuhkan. Aurel menarik kaki Daren. Lalu melepaskan sepatunya.
"Nek, sebenarnya saya gak kenapa-napa kok Nek," ucap Daren membuat Aurel melotot kearah Daren.
"Loh ini beneran sakit atau enggak?" tanya nenek tersebut.
"Argh..." Daren sedikit berteriak.
"Tuh kan Nek, tuh. Sakit tuh kakinya," ucap Aurel meyakinkan nenek. Padahal bukan karena itu, melainkan karena Aurel yang mencubit pinggangnya.
Nenek langsung menarik kaki Daren, dan mulai memijatnya. Daren meringis kesakitan. Aurel tersenyum, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Perempuan itu keluar untuk mengangkat telpon.
"Halo sayang," ucap Aldino di seberang sana.
"Kamu dimana? Aku nyariin kamu dari tadi."
"Iya sayang, maaf ya. Aku nemenin Daren ke tukang urut. Kakinya terkilir," ujar Aurel.
"Kenapa harus kamu sih?" ucap Aldino dengan nada bicara yang tidak suka.
"Ya aku gak tahu. Daren sendiri yang minta aku buat nemenin dia,' ucap Aurel.
"Ya udahlah terserah kamu.
" tut... tut... tut..
Aldino langsung mematikan sambungan telpon begitu saja. Membuat Aurel semakin resah.
"Mampus, Aldino marah sama gue lagi, " ucapnya.
__ADS_1
"Argh... sakit banget!" Aurel mendongak melihat Daren yang sedang berteriak.
"Ya Allah! Arghh... " lagi Daren berteriak kesakitan.
"Mampus, main-main sama gue sih... " ucap Aurel sembari tertawa kecil.
***
Tissa mengemasi barang-barangnya. Sekarang pukul 5 sore. Itu tandanya dia sudah jam pulang.
"Eh tahu gak sih? Aurel masa dia deketin Pak Daren, client kita... " ucap seseorang. Membuat Tissa mendongak kearah sumber suara.
โPadahal nih ya, Pak Daren sendiri yang bilang ke gue kalau dia udah punya istri," tambahnya.
"Lemes banget sih mulut Anjani. Bilang aja kali kalau Pak Daren gak mau sama dia," ucap Tissa sembari mengamati perkumpulan teman-teman kantornya.
"Parah banget sih Aurel. Gue rasa dia emang demen deh merebut pasangan orang lain. Nih ya, kalian tahu kan kalau Aurel itu karyawan kesayangan Pak Gunawan," ucap salah satu teman Anjani.
"Udah gue duga! Kalau sebenarnya dia juga punya hubungan spesial sama Pak Gunawan!" sambung Anjani. "Eh kalian ingat gak? Waktu ada client di Lombok? Gue yakin sih awal kedekatan mereka ada di situ."
"Wah gak bisa di biarin ini." Tissa berjalan menuju perkumpulan teman-teman kantornya.
"Hey, dari pada ghibahin orang. Mending koreksi diri sendiri deh," sindir Tissa.
"Ya jelas lah lo bilang gitu. Kan yang di ghibahin sahabat lo iya kan? Sama-sama murahan," balas Anjani.
"Heh jaga ya mulut lo itu! Kayak gak pernah di sekolahin aja!" ucap Tissa tidak terima. "Lo iri kan sama Aurel? Anjani... Anjani cara lo buat jatuhin Aurel tuh kampungan tahu gak!"
"Apa lo bilang?! Gue iri sama Aurel? Najis banget, jelas lebih cantik gue, lebih pintar gue juga. Ngapain gue iri?!" Tissa tersenyum.
"Iri karena Pak Daren lebih milih Aurel di bandingkan lo, iya kan?" ucap Tissa sembari tersenyum mengejek menatap Anjani. Anjani hanya diam, Tissa sendiri lebih memilih untuk pergi meninggalkan mereka semua.
"Bener-bener manusia kurang banget kerjaan ngomongin orang gitu. Awas aja ya, sampe Anjani sama temen-temennya itu nyebarin gosip gak penting di kantor, gue robek-robek tuh mulutnya. "
"Tissa... " ucap seseorang memanggil Tissa.
"Pak Aldino," ucap Tissa, mendadak jantungnya berdetak lebih kencang.
"Aldino aja, gak lagi di kantor," ucap Aldino.
"Eh iya, hai Aldino," ucap Tissa Masih terlihat begitu kaku.
"Ngapain di sini?" "Nunggu Aurel," jawab Aldino. "Lah Aurel kan pergi sama Daren."
"Iya. Gue tahu kok. Tadinya gue pikir mereka bakalan pulang ke kantor. Taunya selama ini," ucap Aldino tersenyum tipis.
"Lo mau kemana?"
"Mau pulang. Udah jam pulang kantor, "jawab Tissa.
"Mau pulang bareng? Tapi temanin gue makan dulu ya. Gue laper, tadinya mau ngajak Aurel. Malah gak jadi, dan gak enak kalau makan sendiri, gimana? Mau kan?" ucap Aldino panjang lebar. Tissa terdiam sebentar. Sebenarnya ia takut tidak bisa mengontrol perasaannya. Tapi melihat Aldino ia memohon begini membuat Tissa tidak tega melihatnya.
__ADS_1
"Oke, baiklah... "