MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
BADUT TAMPAN


__ADS_3

Sedari tadi tangan keduanya tidak


terlepas sama sekali. Mereka masih


berpegangan tangan mengelilingi


taman bermain. Menjajal semua


jenis permainan. Aurel sampai


lupa dengan kesedihannya. Dan


semua itu karena Daren yang


sudah berhasil menghiburnya.


Mereka duduk disebuah kursi


panjang. Aurel melirik jajanan


permen kapas karakter yang sangat besar."Daren mau itu," ucap Aurel


menunjuk permen kapas di


sebelah sana.


Daren melihatnya. "Gak usah nanti


sakit gigi."


"Alah, pengen itu... " ucapnya lagi.


"Ya udah iya gue beliin," ucap


Daren. Daren berjalan ke stand


harum manis tersebut. Aurel


tersenyum senang, melihat Daren


membawa permen kapas yang


sangat besar."yey"Ucap nya begitu senang. Daren duduk lagi di sebelah Aurel.


Aurel mengambil ponselnya dan


langsung memotret harum manis


tersebut. Setelah itu Aurel


memakannya.


"Mau dong," ucap Daren. Aurel


menyodorkan permen kapasnya.


Bukan Daren namanya kalau tidak


jahil. Lelaki itu bukannya


memakan permen kapas malah ia


meremasnya. Membuat permen itu


kempes.


"Daren ih!" ucap Aurel sebal. Daren hanya tertawa, melihat


ekspresi wajah Aurel.


"Gak jadi sayang nih!" ancam


Aurel. Daren langsung meredakan


tawanya begitu mendengar


ancamnan Aurel.


"Yah jangan gitu dong! Harus


sayang... " ucap Daren.


"Gak tahu ah ngambek!" ucap


Aurel membuang mukanya. la


enggan menatap Daren.


"Rel jangan ngambek dong! Gue beliin lagi ya. " Ucap Daren. Aurel diam. Daren bangkit dan


langsung membelikan Aurel


permen kapas lagi. Tapi kali ini


beda. Daren membeli semua


permen kapas. Ada sekitar 15 biji


dan Daren borong semuanya.


"Nih gue ganti 15, jangan ngambek


lagi ya.. " ucap Daren membujuk


Aurel.


"Banyak banget," ucap Aurel. "Lo


mau buat gue sakit gigi?" ucap


Aurel.


"Biar gak ngambek lagi," jawab Daren.


"Tapi gak gini juga," ucap Aurel


"Siapa yang mau makan?


Mubadzir dong nanti."


Keduanya diam, Aurel melihat


kanan dan kiri. Ada banyak


anak-anak disini.


"Gue punya ide," ucap Aurel


sembari tersenyum.


"Apa?" tanya Daren tanpa ada rasa


curiga. Aurel membisikkan sesuatu kepada Daren."Ha? Enggak gila lo," ucap Daren


tidak setuju dengan ucapan Aurel.


"Ya udah, gak gue maafin," ucap


Aurel merajuk lagi.


"Ya jangan gitu dong," ucap Daren.


"Iya deh iya gue mau."


"Nah gitu dong," ucap Aurel


tersenyum senang.


"Cium dulu," ucap Daren


menyodorkan pipinya.


"Enggak deh ini tempat umum.malu kalau diliat orang gimna? " ucap Aurel. Daren menghela nafas


mendengarnya.***


Aurel duduk sendiri, ia melihat


anak-anak yang sedang memakan


permen kapas bersama seorang


badut. Aurel tersenyum, ketika


badut itu menari, sangat lucu.

__ADS_1


Setelah menghibur anak-anak.


Badat itu berjalan menghampiri


Aurel. la memberikan satu


bungkus permen kapas untuk


Aurel."Makasih badut ganteng," ucap


Aurel.


"Akhirnya lo ngakuin kalau gue


ganteng," ucap Daren melepas


topengnya. "Gimana? Udah


seneng?"


Aurel mengangguk.


"Udah gak ngambek lagi?" tanya


Daren.


Aurel mengangguk lagi.


"Pulang yuk," ajak Daren."Hayuk," ucap Aurel merangkul


lengan Daren.


"Lo ke mobil dulu gih. Gue balikin


baju ini dulu. Gerah juga


lama-lama pake baju ini," ucap


Daren.


Aurel menurut, ia langsung


berjalan menuju mobil Daren.


Memilih menunggu Daren di


dalam mobil.***


"Masih mikirin Aurel?" ucap Aldiano membuyarkan lamunan Tissa.


"Aku gak pernah marahan sama


Aurel selama ini," ungkap Tissa.


"Kamu beneran sayang sama aku


kan? Bukan mainin perasaan


aku?"


Tissa mendongak menatap Aldino


untuk meminta kejelasan.


"Iya aku serius sama kamu," ucap


Aldino.


"Aku udah mengkhianati


persahabatan aku sama Aurel demi sama kamu, aku harap kamu gak khianati aku. "


"Tenang sayang, aku gak akan


khianati kamu," ucap Aldino


menenangkan Tissa.


Aldino memeluk Tissa. Membuat


keresahan di hidup Tissa sedikit


memudar. Ia takut Aldino


Aldino meninggalkannya ia sudah


tidak memiliki siapa-siapa. Dan itu


yang Tissa takutkan sejak dulu.


Larut dalam kesendirian.*** Daren melirik Aurel yang sudah


tertidur begitu pulas. Mereka


sedang berada di jalan pulang.


Sekarang pukul 7 malam. Dan


mungkin satu jam lagi mereka


akan sampai di Jakarta.


Daren mengusap kepala Aurel.


Ketika lampu merah terlihat.


"Kenapa gue nambah sayang sama


lo ya?" ucap Daren sembari


tersenyum.


Perempuan itu membuka kedua


matanya. Ketika merasakan Daren mengusap kepalanya.


"Udah sampe?" tanya Aurel.


"Belum. Tidur lagi gih, nanti gue


bangunin kalau udah sampai


rumah," ucap Daren.


"Tapi lo gimana? Gak ada yang


nemenin," ucap Aurel menatap


Daren.


"Lo capek kan?" ucap Daren


menatap Aurel.


"Lo lebih capek pasti," jawab Aurel. "Gue gak akan tidur. Mau nemenin lo," ucap Aurel lagi.


Aurel mengubah posisi duduknya


sekarang ia memeluk lengan


Daren. Sesekali matanya tertutup.


Daren hanya memperhatikan


Aurel dari kaca spion tengah.


Lucu, Aurel sangat lucu.


Daren membiarkan Aurel tidur di


lengannya. Meskipun menyetir


menjadi lebih susah. Tapi Daren


tidak perduli, apapun ia lakukan


demi membuat Aurel aman dan


nyaman.***Daren mnemarkirkan mobilnya di


garasi mobil. Aurel tidur pulas,


masih dengan posisi yang sama.


Memeluk lengan Daren. Daren

__ADS_1


sedikit kesusahan untuk


mengendong Aurel. Namun pada


akhirnya ia bisa melakukan itu.


"Assalamualaikum, Mi..." ucap


Daren.


"Wa'alaikumsalam. Lo Aurel


kenapa?" tanya Sarah panik."enggak, kok mi. Aurel cuma ketidur aja," jawab Daren. "Daren


ke kamar dulu ya."


Daren masuk kedalam kamarnya.


Aurel belum juga bangun. Lelaki


itu mencondongkan tubuhnya


mencium kening, pipi kanan-kiri,


puncuk hidung Aurel, dan terkahir


bibir Aurel.


"Good night sayang," ucap Daren.


Daren keluar kamar membiarkan


Aurel tidur. Karena ia tahu Aurel


pasti sangat kecapean.*** Daren mengambil air di dalam


kulkas. Lalu meminumnya.


"Kalian dari mana? Tadi Mami


telpon Sella katanya kamu gak


masuk ke kantor," ucap Sarah dari


belakang Daren.


"Dari Bandung," jawab Daren


dengan santainya.


"Ha? Bandung? Ngapain?" ucap


Sarah.


"Ya gak ngapa-ngapain sih. Cuma


liburan aja. Soalnya Aurel lagi gak Mood, dan kayanya butuh hiburan Jadi aku ajak aja ke Bandung."


Sarah menggelengkan kepalanya.


la hafal betul dengan sikap Daren.


la akan melakukan apa aja untuk


orang yang ia sayang.


"Oh iya kenapa Mami nyuruh kita


buat kerumah?" tanya Daren.


"Gak pa-pa. Semalam bolehkan


nginep?" ucap Sarah. Daren


mengangguk. "Dah ah Daren mau


tidur.


"Udah buat cucu Mami belum?"tanya Sarah."Masih proses. Makanya Mami


jangan ngangguin Daren!" ucap


Daren langsung pergi


meninggalkan Maminya sendiri


didapur.


Daren masuk kekamar. la kaget,


melihat Aurel yang tidak ada di


ranjangnya. Tiba-tiba Aurel keluar


kamar mandi. Hanya mengenakan


handuk di tubuhnya. Tentu saja


mereka sama-sama kaget.


"Kok lo masuk gak bilang-bilang,"


ucap Aurel kaget."Lo ngapain gak pake baju? Mau


goda gue?" ucap Daren.


"Bukan gitu. Tadi gue kira lo


masih di luar," ucap Aurel. "Udah


sana keluar dulu. Gue mau pake


baju.


"Gak mau. Lo pake di sini aja. Di


depan gue," ucap Daren sembari


tersenyum.


"Mana bisa begitu gue kan...."


Ucapan Aurel terpotong. Ketika


Daren menarik tubuhnya keranjang. Daren langsung menimpa Aurel. la menatap Aurel yang juga


menatapnya.


"Kayaknya harus sekarang," ucap


Daren. Daren mencium bibir


Aurel. Aurel masih tetap


mengenggam handuk agar tidak


lepas dari tubuhnya.


Ciuman Daren turun. Ke leher


jenjang Aurel. Dan saat Daren


akan membuka handuk Aurel.


Aurel menahannya.


"Kok gak boleh?" tanya Daren."gak bisa, jangan sekarang. "Ucap Aurel menatap Daren.


"Kenapa?" ucap Daren gusar.


"Kan gue lagi halangan," ucap


Aurel.


Seketika Daren diam. Kenapa


tidak ada pengganggu malah Aurel


pas halangan? Tanpa


mengucapkan sepatah kata pun.


Daren masuk ke kamar mandi,


untuk menjernihkan pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2