
Sedari tadi tangan keduanya tidak
terlepas sama sekali. Mereka masih
berpegangan tangan mengelilingi
taman bermain. Menjajal semua
jenis permainan. Aurel sampai
lupa dengan kesedihannya. Dan
semua itu karena Daren yang
sudah berhasil menghiburnya.
Mereka duduk disebuah kursi
panjang. Aurel melirik jajanan
permen kapas karakter yang sangat besar."Daren mau itu," ucap Aurel
menunjuk permen kapas di
sebelah sana.
Daren melihatnya. "Gak usah nanti
sakit gigi."
"Alah, pengen itu... " ucapnya lagi.
"Ya udah iya gue beliin," ucap
Daren. Daren berjalan ke stand
harum manis tersebut. Aurel
tersenyum senang, melihat Daren
membawa permen kapas yang
sangat besar."yey"Ucap nya begitu senang. Daren duduk lagi di sebelah Aurel.
Aurel mengambil ponselnya dan
langsung memotret harum manis
tersebut. Setelah itu Aurel
memakannya.
"Mau dong," ucap Daren. Aurel
menyodorkan permen kapasnya.
Bukan Daren namanya kalau tidak
jahil. Lelaki itu bukannya
memakan permen kapas malah ia
meremasnya. Membuat permen itu
kempes.
"Daren ih!" ucap Aurel sebal. Daren hanya tertawa, melihat
ekspresi wajah Aurel.
"Gak jadi sayang nih!" ancam
Aurel. Daren langsung meredakan
tawanya begitu mendengar
ancamnan Aurel.
"Yah jangan gitu dong! Harus
sayang... " ucap Daren.
"Gak tahu ah ngambek!" ucap
Aurel membuang mukanya. la
enggan menatap Daren.
"Rel jangan ngambek dong! Gue beliin lagi ya. " Ucap Daren. Aurel diam. Daren bangkit dan
langsung membelikan Aurel
permen kapas lagi. Tapi kali ini
beda. Daren membeli semua
permen kapas. Ada sekitar 15 biji
dan Daren borong semuanya.
"Nih gue ganti 15, jangan ngambek
lagi ya.. " ucap Daren membujuk
Aurel.
"Banyak banget," ucap Aurel. "Lo
mau buat gue sakit gigi?" ucap
Aurel.
"Biar gak ngambek lagi," jawab Daren.
"Tapi gak gini juga," ucap Aurel
"Siapa yang mau makan?
Mubadzir dong nanti."
Keduanya diam, Aurel melihat
kanan dan kiri. Ada banyak
anak-anak disini.
"Gue punya ide," ucap Aurel
sembari tersenyum.
"Apa?" tanya Daren tanpa ada rasa
curiga. Aurel membisikkan sesuatu kepada Daren."Ha? Enggak gila lo," ucap Daren
tidak setuju dengan ucapan Aurel.
"Ya udah, gak gue maafin," ucap
Aurel merajuk lagi.
"Ya jangan gitu dong," ucap Daren.
"Iya deh iya gue mau."
"Nah gitu dong," ucap Aurel
tersenyum senang.
"Cium dulu," ucap Daren
menyodorkan pipinya.
"Enggak deh ini tempat umum.malu kalau diliat orang gimna? " ucap Aurel. Daren menghela nafas
mendengarnya.***
Aurel duduk sendiri, ia melihat
anak-anak yang sedang memakan
permen kapas bersama seorang
badut. Aurel tersenyum, ketika
badut itu menari, sangat lucu.
__ADS_1
Setelah menghibur anak-anak.
Badat itu berjalan menghampiri
Aurel. la memberikan satu
bungkus permen kapas untuk
Aurel."Makasih badut ganteng," ucap
Aurel.
"Akhirnya lo ngakuin kalau gue
ganteng," ucap Daren melepas
topengnya. "Gimana? Udah
seneng?"
Aurel mengangguk.
"Udah gak ngambek lagi?" tanya
Daren.
Aurel mengangguk lagi.
"Pulang yuk," ajak Daren."Hayuk," ucap Aurel merangkul
lengan Daren.
"Lo ke mobil dulu gih. Gue balikin
baju ini dulu. Gerah juga
lama-lama pake baju ini," ucap
Daren.
Aurel menurut, ia langsung
berjalan menuju mobil Daren.
Memilih menunggu Daren di
dalam mobil.***
"Masih mikirin Aurel?" ucap Aldiano membuyarkan lamunan Tissa.
"Aku gak pernah marahan sama
Aurel selama ini," ungkap Tissa.
"Kamu beneran sayang sama aku
kan? Bukan mainin perasaan
aku?"
Tissa mendongak menatap Aldino
untuk meminta kejelasan.
"Iya aku serius sama kamu," ucap
Aldino.
"Aku udah mengkhianati
persahabatan aku sama Aurel demi sama kamu, aku harap kamu gak khianati aku. "
"Tenang sayang, aku gak akan
khianati kamu," ucap Aldino
menenangkan Tissa.
Aldino memeluk Tissa. Membuat
keresahan di hidup Tissa sedikit
memudar. Ia takut Aldino
Aldino meninggalkannya ia sudah
tidak memiliki siapa-siapa. Dan itu
yang Tissa takutkan sejak dulu.
Larut dalam kesendirian.*** Daren melirik Aurel yang sudah
tertidur begitu pulas. Mereka
sedang berada di jalan pulang.
Sekarang pukul 7 malam. Dan
mungkin satu jam lagi mereka
akan sampai di Jakarta.
Daren mengusap kepala Aurel.
Ketika lampu merah terlihat.
"Kenapa gue nambah sayang sama
lo ya?" ucap Daren sembari
tersenyum.
Perempuan itu membuka kedua
matanya. Ketika merasakan Daren mengusap kepalanya.
"Udah sampe?" tanya Aurel.
"Belum. Tidur lagi gih, nanti gue
bangunin kalau udah sampai
rumah," ucap Daren.
"Tapi lo gimana? Gak ada yang
nemenin," ucap Aurel menatap
Daren.
"Lo capek kan?" ucap Daren
menatap Aurel.
"Lo lebih capek pasti," jawab Aurel. "Gue gak akan tidur. Mau nemenin lo," ucap Aurel lagi.
Aurel mengubah posisi duduknya
sekarang ia memeluk lengan
Daren. Sesekali matanya tertutup.
Daren hanya memperhatikan
Aurel dari kaca spion tengah.
Lucu, Aurel sangat lucu.
Daren membiarkan Aurel tidur di
lengannya. Meskipun menyetir
menjadi lebih susah. Tapi Daren
tidak perduli, apapun ia lakukan
demi membuat Aurel aman dan
nyaman.***Daren mnemarkirkan mobilnya di
garasi mobil. Aurel tidur pulas,
masih dengan posisi yang sama.
Memeluk lengan Daren. Daren
__ADS_1
sedikit kesusahan untuk
mengendong Aurel. Namun pada
akhirnya ia bisa melakukan itu.
"Assalamualaikum, Mi..." ucap
Daren.
"Wa'alaikumsalam. Lo Aurel
kenapa?" tanya Sarah panik."enggak, kok mi. Aurel cuma ketidur aja," jawab Daren. "Daren
ke kamar dulu ya."
Daren masuk kedalam kamarnya.
Aurel belum juga bangun. Lelaki
itu mencondongkan tubuhnya
mencium kening, pipi kanan-kiri,
puncuk hidung Aurel, dan terkahir
bibir Aurel.
"Good night sayang," ucap Daren.
Daren keluar kamar membiarkan
Aurel tidur. Karena ia tahu Aurel
pasti sangat kecapean.*** Daren mengambil air di dalam
kulkas. Lalu meminumnya.
"Kalian dari mana? Tadi Mami
telpon Sella katanya kamu gak
masuk ke kantor," ucap Sarah dari
belakang Daren.
"Dari Bandung," jawab Daren
dengan santainya.
"Ha? Bandung? Ngapain?" ucap
Sarah.
"Ya gak ngapa-ngapain sih. Cuma
liburan aja. Soalnya Aurel lagi gak Mood, dan kayanya butuh hiburan Jadi aku ajak aja ke Bandung."
Sarah menggelengkan kepalanya.
la hafal betul dengan sikap Daren.
la akan melakukan apa aja untuk
orang yang ia sayang.
"Oh iya kenapa Mami nyuruh kita
buat kerumah?" tanya Daren.
"Gak pa-pa. Semalam bolehkan
nginep?" ucap Sarah. Daren
mengangguk. "Dah ah Daren mau
tidur.
"Udah buat cucu Mami belum?"tanya Sarah."Masih proses. Makanya Mami
jangan ngangguin Daren!" ucap
Daren langsung pergi
meninggalkan Maminya sendiri
didapur.
Daren masuk kekamar. la kaget,
melihat Aurel yang tidak ada di
ranjangnya. Tiba-tiba Aurel keluar
kamar mandi. Hanya mengenakan
handuk di tubuhnya. Tentu saja
mereka sama-sama kaget.
"Kok lo masuk gak bilang-bilang,"
ucap Aurel kaget."Lo ngapain gak pake baju? Mau
goda gue?" ucap Daren.
"Bukan gitu. Tadi gue kira lo
masih di luar," ucap Aurel. "Udah
sana keluar dulu. Gue mau pake
baju.
"Gak mau. Lo pake di sini aja. Di
depan gue," ucap Daren sembari
tersenyum.
"Mana bisa begitu gue kan...."
Ucapan Aurel terpotong. Ketika
Daren menarik tubuhnya keranjang. Daren langsung menimpa Aurel. la menatap Aurel yang juga
menatapnya.
"Kayaknya harus sekarang," ucap
Daren. Daren mencium bibir
Aurel. Aurel masih tetap
mengenggam handuk agar tidak
lepas dari tubuhnya.
Ciuman Daren turun. Ke leher
jenjang Aurel. Dan saat Daren
akan membuka handuk Aurel.
Aurel menahannya.
"Kok gak boleh?" tanya Daren."gak bisa, jangan sekarang. "Ucap Aurel menatap Daren.
"Kenapa?" ucap Daren gusar.
"Kan gue lagi halangan," ucap
Aurel.
Seketika Daren diam. Kenapa
tidak ada pengganggu malah Aurel
pas halangan? Tanpa
mengucapkan sepatah kata pun.
Daren masuk ke kamar mandi,
untuk menjernihkan pikirannya.
__ADS_1