MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
PRNGHIYANATAN


__ADS_3

"Rel, ini gak seperti yang lo liat.


Gue gak ada hubungan apa-apa


sama Aldino," ucap Tissa kepada


Aurel. la segera menjelaskannya,


agar Aurel tidak salah paham.


"Rel lo percaya sama gue kan? Gue


gak mungkin...


"Bohong, gue sama Tissa ada


hubungan," ucap Aldino


memotong ucapan Tissa. Sontak


Tissa langsung mendongak kearah


Aldino.


"AI!" ucap Tissa. Aldino tidak memperdulikan ucapan Tissa.


Sementara itu, Aurel melihat


keduanya dengan mata yang


berkaca-kaca.


"Kamu selingkuh? Sama sahabat


aku sendiri? Gak punya otak ya?"


ucap Aurel lirih, suaranya hampir


hilang. Dadanya begitu sesak.


"Rel... " ucap Tissa memegang


tangan Aurel. Aurel menepis


tangan tersebut.


"Lo tega mengorbankan


persahabatan kita Tissa," ucap


Aurel menatap Tissa. Tissa merasa


bersalah, ketika melihat Aurel yang


menangis di depannya."Aku selingkuh karena kamnu gak


pernah ada waktu buat aku. Beda


sama Tissa, dia setiap saat ada


waktu buat aku," ucap Aldino.


Aurel tersenyum sinis


mendengarnya. "Harusnya aku gak


pernah percaya sama kamu!"


"Kita putus!" ucap Aurel langsung


pergi dari hadapan Tissa dan


Aldino.


"Rel... Aurel... " panggil Tissa.


Tissa akan mengejar Aurel namun


Aldino mencegahnya.


Aldino menggelengkan kepalanya.


"Bukan waktu yang tepat." Tissa menurut dan akhirnya mereka masuk kedalam


apartemen.


Aurel memilih untuk pulang, ia


duduk di kuris meja makan.


Menumpukan kedua tangannya


dan mulai menangis. Sebenarnya


sakitnya memang tak seberapa saat


putus dengan Aldino. Tapi yang


sangat ia sayangkan adalah


persahabatannya dengan Tissa


hancur begitu saja.


Mereka sudah lama persahabatan.


Bayangkan saja, ia dan Tissa sudah


sahabatan sejak awal masuk


sekolah sampai sekarang. Dan Sekarang persahabatan itu kandas hanya karena seorang lelaki.


Aurel mendengar pintu apartemen


terbuka. Ia juga mendengar suara


langkah kaki.


"Dor!" Daren mengagetkannya.


Namun Daren heran kenapa Aurel


tetap diam dengan posisi yang


tidak berubah?


"Kok gak kaget sih?" ucap Daren


merasa kesal. Daren diam, ketika


mendengar suara isak tangis Aurel.


"Rel? Lo nangis?" ucap Daren


menggoyangkan bahu Aurel.


Daren berjongkok, ia memalkasa


Aurel untuk melihat kearahnya."Aurel...." ucap Daren. Aurel


menatap Daren dengan kedua pipi


yang sudah basah. Dan mata yang


sembab.


Sontak Daren langsung memeluk


Aurel dengan erat. Hal ini


membuat tangis Aurel semakin


kencang.


"Lo kenapa? Ada yang sakit? Oh


atau ada yang nyakin lo? Siapa?


Mau gue hajar tuh orang, ha?"


ucap Daren sembari


mengusap-usap kepala Aurel.


"Tenang ya, tenang.... Semua akan


baik-baik aja..." ucap Daren lagi.


Aurel mulai berhenti, entah


kenapa berada didalam dekapan Daren sangat nyaman.


Mungkin karena indera


penciumannya mencium bau


parfum di campur keringat


membuatnya sedikit lega dan


tenang. Daren mengendong Aurel


yang masih dalamn dekapannya.


Membawa gadis itu masuk


kedalam kamar. Karena Daren


pikir Aurel ketiduran. Namun


ternyata salah. Ketika Daren


melepaskan pelukannya Aurel


menahan Daren.


"Mau kemana?" ucap Aurel dengan

__ADS_1


suara yang serak.


"Mau ganti baju. Gue kira lo tidur," ucap Daren. Aurel


menggelengkan kepalanya.


"Nanti dulu aja," ucap Aurel.


Daren menurut. la duduk di


sebelah Aurel. Siapa tahu


perempuan ini sudah mau


bercerita.


"Jadi kenapa?" ucap Daren


sembari mengusap kepala Aurel.


"Aldino sama Tissa selingkuh... "


ucap Aurel sembari menangis lagi.


Pedih hatinya begitu mengingat


pengkhianatan mereka.


Daren diam, belum mengeluarkan


reaksi apapun."Terus gimana?" Ucap Daren.beberapa saat kemudian.


"Gue putusin Aldino, dan gue gak


nyangka kenapa Tissa melakukan


hal itu ke gue," ucap Aurel.


"Jadi dari tadi nangisin Aldino?"


ucap Daren.


"Enggak juga, nangisin Tissa


juga... "bantah Aurel.


Daren memeluk Aurel lagi.


"Pengkhianat emang cocoknya


sama pengkhianat. Nah lo


cocoknya sama gue."


Ucap Daren sembari tertawa.


Niatnya memang mau membuat


Aurel tertawa. Namun bukannya Tertawa Aurel malah menangis lebih kencang.


"Lah kok nambah kenceng sih,"


ucap Daren.


"Masa gue sama lo," ucap Aurel


disela isak tangisnya.


"Lah emang kenapa? Gue


ganteng!" ucap Daren dengan


percaya dirinya.


"Tapi bau.. " ucap Aurel. Seketika


Daren mencium tubuhnya sendiri.


"Enggak gak bau."


Aurel memeluk Daren kali ini


menarik kemeja Daren untuk


mengusap ingusnya."Astaga, kemeja gue mahal kena


ingus lo," ucap Daren.


"Oh lebih sayang kemeja lo dari


pada gue nih?" ucap Aurel mulai


merajuk.


"Enggak gitu. Sayang sama lo kok,


gak pa-pa nih pake kemeja gue


buat lap ingus lo deh," ucap Daren


mulai pasrah dari pada Aurel


Dan benar saja, setelah


mengucapkan kalimat itu, Aurel


langsung mengelap ingusnya


dengan kemeja Daren.


"Terserah deh yang penting lo Senang ".ucap Daren mrngusap kepala Aurel.**"


Pukul 12 malam. Daren baru


selesai mandi. la menatap Aurel


yang tengah tertidur dengan pulas.


Aurel baru melepas dirinya setelah


ia tidur pulas. Daren duduk di tepi


ranjang, mengusap kepala Aurel


yang mengeluarkan keringat.


Meski tidak tega melihat Aurel di


sakiti. Daren justru senang karena


ini peluang besar untuknya. Siapa


tahu dengan putusnya hubungan


Aurel dan Aldino. Aurel bisa


belajar mencintainya lagi.


Daren mendekatkan wajahnya.Lalu mencium kening Aurel.


Cup


"Gue sayang banget sama lo, Rel...


ucap Daren lirih. Daren beranjak,


namun Aurel menahannya.


"Mau kemana?" tanya Aurel.


"Loh kok bangun?" ucap Daren.


"Gue ganggu lo tidur ya?" Daren


merasa tidak enak.


"Enggak kok. Gue bangun sendiri,


ucap Aurel.


"Dari tadi?" tanya Daren, Aurel


mengangguk.


"Jadi Aurel denger dengan apa yang gue bilang tadi. Dan kenapa


dia gak nolak ketika gue cium dia?"


batin Daren.


"Tidur di sini aja," ucap Aurel.


Daren menatap Aurel tidak


percaya. "Beneran?" ucapnya


memastikan.


Aurel mengangguk sekali lagi.


Perempuan itu menggeser


tubuhnya memberi ruang agar


Daren bisa tidur di sampingnya.


"Peluk gue kayak tadi ya," ucap


Aurel.


Daren tersenyum, dengan senang


hati ia merentangkan kedua Tangan untuk memeluk Aurel.***Tissa menghela nafas. Perasaannya


tidak tenang. la terus saja


kepikiran Aurel. Tissa mencoba

__ADS_1


mengirimkan pesan untuk Aurel


agar besok Aurel bisa


membacanya.


Setelah itu ia melihat Aldino yang


sedang fokus dengan laptop


didepannya.


"Sayang kenapa sih? Gelisah


begitu?" tanya Aldino masih terus


fokus.


"Kamu gak ngerasa bersalah sama


Aurel?" ucap Tissa kepada Aldino."Ya merasa lah, besok ataukapan-kapan kalau dia udah


baik-baik aja kita minta maaf deh


sama dia," ucap Aldin0.


"Masalah Aurel gak gampang


maafin kesalahan orang. Aku


sahabatnya dia dari dulu. Hafal


dengan sifat dia," ucap Tissa mulai


panik.


"Sini kamu duduk dulu. Atau


kamu mau tidur? Kamu kecapean


pasti. Mikirnya udah aneh-aneh,"


ucap Aldino. Tissa menurut. Gadis


itu merebahkan tubuhnya


disebelah Aldino dengan kedua


paha Aldino sebagai bantalannya.


"Udah ya, tidur, istirahat, besok


kita pikirin lagi," ucap Aldino. Tissa menurut, meskipun


perasaanya tidak karuan sekarang.***


Pagi hari, Aurel memnbuka kedua


matanya. Melihat jam pukul


setengah7 pagi. Kepalanya terasa


pusing, mungkin efek dari


menangis semalam.


la melirik Daren yang masih


memeluknya begitu erat. Aurel


tersenyum, melihat Daren.


Wajahnya begitu teduh. Lalu


kedua matanya menatap bibir yang


sedikit terbuka itu. Entah


dorongan dari mana. Aurel berani


menciunm bibir Daren. Hanya Mencium karena selebihnya ia tidak tahu harus gimana.


Aurel menarik kepalanya lalu kaget


karena tiba-tiba Daren membuka


mata. Aurel malu, sangat malu.


"Kok cuma di tempelin aja sih?


Kenapa gak di cium? Hm?"


"Ng.... gak sengaja.. " ucap Aurel


gugup.


"Gak sengaja apa gak bisa?" ucap


Daren. Aurel terkejut dengan


ucapan Daren.


"Sini! Gue ajarin!" ucap Daren


menarik Aurel lebih dekat


dengannya. Aurel memejamkan


mata sembari menahan nafas Untuk mencium Bibir Aurel.Daren melumati bibir Aurel begitu


lembut dan pelan. Ini first kiss


Aurel ia tidak ingin membuat


momen seperti rusak.


Tiba-tiba ponsel Daren berdering.


Secara reflek Aurel mendorong


tubuh Daren. Membuat lelaki itu


jatuh dari ranjang.


Bruk....


"Argh, sakit... " ucap Daren


memegang pinggangnya sembari


meringis kesakitan.


"Sorry, kaget ada telpon," ucap


Aurel. Aurel membantu Daren


untuk bangkit."Ambil ponsel, gue? " Ucap Daren. Aurel mengambil ponsel Daren.


"Mami nelpon," ucap Aurel.


"Halo Mi? Kenapa sih? Ada aja


yang gangguin," ucap Daren kesal.


Aurel mencubit Daren. "Kok


ngomong gitu sih. Nanti Mami


mikirnya kita aneh-aneh. "


"Stt.. udah gak pa-pa," ucap


Daren.


"Emang kalian lagi ngapain sih?"


ucap Sarah diseberang sana.


Aurel mengambil alih ponsel Daren. "Lagi bagun tidur Mi," ucap Aurel


buru-buru sebelum Daren asal bicara.


"Oh gitu. Ini Mami mau bilang


nanti pulang kantor kalian mampir


ya," ucap Sarah.


"Iya Mi beres, udah ya Daren mau


ngelanjutin yang tadi," ucap Daren


buru-buru mematikan sambungan


telpon.


"Udah gak ada gangguan gimana


kalau kita lanjutin aja," ucap


Daren kepada Aurel.


"Gak liat jam?" ucap Aurel, sontak


Daren melihat jam di dinding.


"Gue mandi duluan ya!"Sayang mandi bareng dong!"


teriak Daren. Terlambat, Aurel


sudah menutup dan mengunci


pintu kamar mandi.


Sekarang Daren paham bahwa


benar adanya ketika berduaan

__ADS_1


selalu ada setan yang menganggu.


__ADS_2