
"Rel, ini gak seperti yang lo liat.
Gue gak ada hubungan apa-apa
sama Aldino," ucap Tissa kepada
Aurel. la segera menjelaskannya,
agar Aurel tidak salah paham.
"Rel lo percaya sama gue kan? Gue
gak mungkin...
"Bohong, gue sama Tissa ada
hubungan," ucap Aldino
memotong ucapan Tissa. Sontak
Tissa langsung mendongak kearah
Aldino.
"AI!" ucap Tissa. Aldino tidak memperdulikan ucapan Tissa.
Sementara itu, Aurel melihat
keduanya dengan mata yang
berkaca-kaca.
"Kamu selingkuh? Sama sahabat
aku sendiri? Gak punya otak ya?"
ucap Aurel lirih, suaranya hampir
hilang. Dadanya begitu sesak.
"Rel... " ucap Tissa memegang
tangan Aurel. Aurel menepis
tangan tersebut.
"Lo tega mengorbankan
persahabatan kita Tissa," ucap
Aurel menatap Tissa. Tissa merasa
bersalah, ketika melihat Aurel yang
menangis di depannya."Aku selingkuh karena kamnu gak
pernah ada waktu buat aku. Beda
sama Tissa, dia setiap saat ada
waktu buat aku," ucap Aldino.
Aurel tersenyum sinis
mendengarnya. "Harusnya aku gak
pernah percaya sama kamu!"
"Kita putus!" ucap Aurel langsung
pergi dari hadapan Tissa dan
Aldino.
"Rel... Aurel... " panggil Tissa.
Tissa akan mengejar Aurel namun
Aldino mencegahnya.
Aldino menggelengkan kepalanya.
"Bukan waktu yang tepat." Tissa menurut dan akhirnya mereka masuk kedalam
apartemen.
Aurel memilih untuk pulang, ia
duduk di kuris meja makan.
Menumpukan kedua tangannya
dan mulai menangis. Sebenarnya
sakitnya memang tak seberapa saat
putus dengan Aldino. Tapi yang
sangat ia sayangkan adalah
persahabatannya dengan Tissa
hancur begitu saja.
Mereka sudah lama persahabatan.
Bayangkan saja, ia dan Tissa sudah
sahabatan sejak awal masuk
sekolah sampai sekarang. Dan Sekarang persahabatan itu kandas hanya karena seorang lelaki.
Aurel mendengar pintu apartemen
terbuka. Ia juga mendengar suara
langkah kaki.
"Dor!" Daren mengagetkannya.
Namun Daren heran kenapa Aurel
tetap diam dengan posisi yang
tidak berubah?
"Kok gak kaget sih?" ucap Daren
merasa kesal. Daren diam, ketika
mendengar suara isak tangis Aurel.
"Rel? Lo nangis?" ucap Daren
menggoyangkan bahu Aurel.
Daren berjongkok, ia memalkasa
Aurel untuk melihat kearahnya."Aurel...." ucap Daren. Aurel
menatap Daren dengan kedua pipi
yang sudah basah. Dan mata yang
sembab.
Sontak Daren langsung memeluk
Aurel dengan erat. Hal ini
membuat tangis Aurel semakin
kencang.
"Lo kenapa? Ada yang sakit? Oh
atau ada yang nyakin lo? Siapa?
Mau gue hajar tuh orang, ha?"
ucap Daren sembari
mengusap-usap kepala Aurel.
"Tenang ya, tenang.... Semua akan
baik-baik aja..." ucap Daren lagi.
Aurel mulai berhenti, entah
kenapa berada didalam dekapan Daren sangat nyaman.
Mungkin karena indera
penciumannya mencium bau
parfum di campur keringat
membuatnya sedikit lega dan
tenang. Daren mengendong Aurel
yang masih dalamn dekapannya.
Membawa gadis itu masuk
kedalam kamar. Karena Daren
pikir Aurel ketiduran. Namun
ternyata salah. Ketika Daren
melepaskan pelukannya Aurel
menahan Daren.
"Mau kemana?" ucap Aurel dengan
__ADS_1
suara yang serak.
"Mau ganti baju. Gue kira lo tidur," ucap Daren. Aurel
menggelengkan kepalanya.
"Nanti dulu aja," ucap Aurel.
Daren menurut. la duduk di
sebelah Aurel. Siapa tahu
perempuan ini sudah mau
bercerita.
"Jadi kenapa?" ucap Daren
sembari mengusap kepala Aurel.
"Aldino sama Tissa selingkuh... "
ucap Aurel sembari menangis lagi.
Pedih hatinya begitu mengingat
pengkhianatan mereka.
Daren diam, belum mengeluarkan
reaksi apapun."Terus gimana?" Ucap Daren.beberapa saat kemudian.
"Gue putusin Aldino, dan gue gak
nyangka kenapa Tissa melakukan
hal itu ke gue," ucap Aurel.
"Jadi dari tadi nangisin Aldino?"
ucap Daren.
"Enggak juga, nangisin Tissa
juga... "bantah Aurel.
Daren memeluk Aurel lagi.
"Pengkhianat emang cocoknya
sama pengkhianat. Nah lo
cocoknya sama gue."
Ucap Daren sembari tertawa.
Niatnya memang mau membuat
Aurel tertawa. Namun bukannya Tertawa Aurel malah menangis lebih kencang.
"Lah kok nambah kenceng sih,"
ucap Daren.
"Masa gue sama lo," ucap Aurel
disela isak tangisnya.
"Lah emang kenapa? Gue
ganteng!" ucap Daren dengan
percaya dirinya.
"Tapi bau.. " ucap Aurel. Seketika
Daren mencium tubuhnya sendiri.
"Enggak gak bau."
Aurel memeluk Daren kali ini
menarik kemeja Daren untuk
mengusap ingusnya."Astaga, kemeja gue mahal kena
ingus lo," ucap Daren.
"Oh lebih sayang kemeja lo dari
pada gue nih?" ucap Aurel mulai
merajuk.
"Enggak gitu. Sayang sama lo kok,
gak pa-pa nih pake kemeja gue
buat lap ingus lo deh," ucap Daren
mulai pasrah dari pada Aurel
Dan benar saja, setelah
mengucapkan kalimat itu, Aurel
langsung mengelap ingusnya
dengan kemeja Daren.
"Terserah deh yang penting lo Senang ".ucap Daren mrngusap kepala Aurel.**"
Pukul 12 malam. Daren baru
selesai mandi. la menatap Aurel
yang tengah tertidur dengan pulas.
Aurel baru melepas dirinya setelah
ia tidur pulas. Daren duduk di tepi
ranjang, mengusap kepala Aurel
yang mengeluarkan keringat.
Meski tidak tega melihat Aurel di
sakiti. Daren justru senang karena
ini peluang besar untuknya. Siapa
tahu dengan putusnya hubungan
Aurel dan Aldino. Aurel bisa
belajar mencintainya lagi.
Daren mendekatkan wajahnya.Lalu mencium kening Aurel.
Cup
"Gue sayang banget sama lo, Rel...
ucap Daren lirih. Daren beranjak,
namun Aurel menahannya.
"Mau kemana?" tanya Aurel.
"Loh kok bangun?" ucap Daren.
"Gue ganggu lo tidur ya?" Daren
merasa tidak enak.
"Enggak kok. Gue bangun sendiri,
ucap Aurel.
"Dari tadi?" tanya Daren, Aurel
mengangguk.
"Jadi Aurel denger dengan apa yang gue bilang tadi. Dan kenapa
dia gak nolak ketika gue cium dia?"
batin Daren.
"Tidur di sini aja," ucap Aurel.
Daren menatap Aurel tidak
percaya. "Beneran?" ucapnya
memastikan.
Aurel mengangguk sekali lagi.
Perempuan itu menggeser
tubuhnya memberi ruang agar
Daren bisa tidur di sampingnya.
"Peluk gue kayak tadi ya," ucap
Aurel.
Daren tersenyum, dengan senang
hati ia merentangkan kedua Tangan untuk memeluk Aurel.***Tissa menghela nafas. Perasaannya
tidak tenang. la terus saja
kepikiran Aurel. Tissa mencoba
__ADS_1
mengirimkan pesan untuk Aurel
agar besok Aurel bisa
membacanya.
Setelah itu ia melihat Aldino yang
sedang fokus dengan laptop
didepannya.
"Sayang kenapa sih? Gelisah
begitu?" tanya Aldino masih terus
fokus.
"Kamu gak ngerasa bersalah sama
Aurel?" ucap Tissa kepada Aldino."Ya merasa lah, besok ataukapan-kapan kalau dia udah
baik-baik aja kita minta maaf deh
sama dia," ucap Aldin0.
"Masalah Aurel gak gampang
maafin kesalahan orang. Aku
sahabatnya dia dari dulu. Hafal
dengan sifat dia," ucap Tissa mulai
panik.
"Sini kamu duduk dulu. Atau
kamu mau tidur? Kamu kecapean
pasti. Mikirnya udah aneh-aneh,"
ucap Aldino. Tissa menurut. Gadis
itu merebahkan tubuhnya
disebelah Aldino dengan kedua
paha Aldino sebagai bantalannya.
"Udah ya, tidur, istirahat, besok
kita pikirin lagi," ucap Aldino. Tissa menurut, meskipun
perasaanya tidak karuan sekarang.***
Pagi hari, Aurel memnbuka kedua
matanya. Melihat jam pukul
setengah7 pagi. Kepalanya terasa
pusing, mungkin efek dari
menangis semalam.
la melirik Daren yang masih
memeluknya begitu erat. Aurel
tersenyum, melihat Daren.
Wajahnya begitu teduh. Lalu
kedua matanya menatap bibir yang
sedikit terbuka itu. Entah
dorongan dari mana. Aurel berani
menciunm bibir Daren. Hanya Mencium karena selebihnya ia tidak tahu harus gimana.
Aurel menarik kepalanya lalu kaget
karena tiba-tiba Daren membuka
mata. Aurel malu, sangat malu.
"Kok cuma di tempelin aja sih?
Kenapa gak di cium? Hm?"
"Ng.... gak sengaja.. " ucap Aurel
gugup.
"Gak sengaja apa gak bisa?" ucap
Daren. Aurel terkejut dengan
ucapan Daren.
"Sini! Gue ajarin!" ucap Daren
menarik Aurel lebih dekat
dengannya. Aurel memejamkan
mata sembari menahan nafas Untuk mencium Bibir Aurel.Daren melumati bibir Aurel begitu
lembut dan pelan. Ini first kiss
Aurel ia tidak ingin membuat
momen seperti rusak.
Tiba-tiba ponsel Daren berdering.
Secara reflek Aurel mendorong
tubuh Daren. Membuat lelaki itu
jatuh dari ranjang.
Bruk....
"Argh, sakit... " ucap Daren
memegang pinggangnya sembari
meringis kesakitan.
"Sorry, kaget ada telpon," ucap
Aurel. Aurel membantu Daren
untuk bangkit."Ambil ponsel, gue? " Ucap Daren. Aurel mengambil ponsel Daren.
"Mami nelpon," ucap Aurel.
"Halo Mi? Kenapa sih? Ada aja
yang gangguin," ucap Daren kesal.
Aurel mencubit Daren. "Kok
ngomong gitu sih. Nanti Mami
mikirnya kita aneh-aneh. "
"Stt.. udah gak pa-pa," ucap
Daren.
"Emang kalian lagi ngapain sih?"
ucap Sarah diseberang sana.
Aurel mengambil alih ponsel Daren. "Lagi bagun tidur Mi," ucap Aurel
buru-buru sebelum Daren asal bicara.
"Oh gitu. Ini Mami mau bilang
nanti pulang kantor kalian mampir
ya," ucap Sarah.
"Iya Mi beres, udah ya Daren mau
ngelanjutin yang tadi," ucap Daren
buru-buru mematikan sambungan
telpon.
"Udah gak ada gangguan gimana
kalau kita lanjutin aja," ucap
Daren kepada Aurel.
"Gak liat jam?" ucap Aurel, sontak
Daren melihat jam di dinding.
"Gue mandi duluan ya!"Sayang mandi bareng dong!"
teriak Daren. Terlambat, Aurel
sudah menutup dan mengunci
pintu kamar mandi.
Sekarang Daren paham bahwa
benar adanya ketika berduaan
__ADS_1
selalu ada setan yang menganggu.