MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
HARI KESIALAN


__ADS_3

Aurel menatap wajahnya di cermin. Ia menambahkan sedikit polesan pada wajahnya. Disisi lain, Daren baru saja keluar dari kamarmandi. Ia menatap Aurel bingung.


"Lo mau kemana?" tanya Daren sembari menggosokkan handuk di rambutnya.


"Kerja," jawab Aurel melihat Daren dari kaca besar dikamar itu.


"Bukannya masih cuti?" ucap Daren sembari duduk di tepi ranjang.


"Emang. Tapi gue pengen masuk hari ini. Males aja gitu kalau harus seharian sama lo," ucap Aurel benar-benar jujur. Daren tertawa kecil mendengarnya. Lelaki itu bangkit dan berjalan menuju lemari. Ja mengambil setelan jas yang biasa ia gunakan.


"Lo mau kerja juga?" tanya Aurel berbalik menatap Daren.


"Menurut lo?" ucap Daren sembari membuka bajunya.


"Buset, gak disini juga kali gantinya!" ucap Aurel. Daren tidak perduli dengan ucapan Aurel.


"Lo bareng sama gue!" ucap Daren.


"Gak! Enak aja, gue bisa berangkat sendiri," tolak Aurel.


"Gak ada penolakan. Lo harus berangkat bareng gue," ucap Daren merapihkan kemejanya.


"Daren kantor lo sama kantor gue kan beda arah. Dari pada lo telat ngater gue, mending berangkat sendiri, kan?" ucap Aurel masih mencoba menolak penawaran Daren.


"Gak masalah, kan gue bosnya. Jadi bisa berangkat kapan aja," ucap Daren.


Aurel menghela nafas. "Tapi kan


bos harus sembari contoh yang baik kepada bawahannya. Contohnya dengan datang gak terlambat."


"Bawel deh, ayo berangkat," ucap Daren langsung menarik Aurel yang sudah siap sedari tadi.


"Eh woy! Lepasin!" ucap Aurel


memberontak.


Daren melepaskan tangannya. Membuat Aurel merasa lega. Ia menatap Daren kesel. Lalu tiba-tiba Aurel menatap fokus ke satu titik di tubuh Daren.


Daren mengerutkan kening. Menatap Aurel aneh. "Kenapa lo?" tanya Daren.


Aurel maju selangkah. Perempuan itu sedikit berjinjit, ia menarik dari yang di pakai oleh Daren. Membenarkan letak dasi tersebut.


Daren menahan nafas, merasakan jantungnya berdetak lebih kencang. Jarak wajahnya begitu dekat dengan wajah Aurel. Lelaki itu merekam setiap ekspresi yang di keluarkan oleh Aurel. Menyimpannya dengan baik.


"Udah selesai... " ucap Aurel melepaskan dasi itu dari tangannya. Perempuan itu mundur, menatap penuh kesenangan karena karyanya patut di banggakan.


Daren tersadar dari lamunannya. Lelaki itu mengedipkan beberapa kali matanya. Mencoba untuk menormalkan detak jantung yang masih berpacu dengan cepat.

__ADS_1


"Lo jadi nganterin gue gak? Udah telat nih!" ucap Aurel bahkan mampu mengembalikan separuh nyawa Daren yang baru sajmelayang.


"Ya jadi lah. Ayo... " ucap Daren memimpin perjalanan.


Di bawah mereka bertemu dengan Sarah dan Wardana. Kedua pasangan suami istri itu tengah mengoborol serius.


"Lo kalian mau kemana? Udah rapih gini," ucap Sarah menatap keduanya dengan heran.


"Mau kerja Mi, bosen di rumah terus," jawab Aurel sembari tersenyum.


"Padahal kalian masih penganten baru loh. Gak pa-pa gak kerja," balas Sarah.


"Iya, Papi udah atur jadwal cuti kalian. Biar kalian bisa lebih mengenal, " sahut Wardana. "Kita udah saling mengenal kok Pi. Tiga tahun malah," ucap Daren secara spontan.


"Ya udah deh, terserah kalian. Hati-hati di jalan ya. Daren kamu antar dan jemput istri kamu nanti," ucap Sarah.


"Iya Mi," ucap Daren. Daren dan Aurel mencium kedua tangan Wardana dan Sarah. Merekalangsung keluar rumah. Aurel masuk kedalam mobil Daren. Begitu juga dengan Daren. Setelah itu mobil melaju dengan kecepatan sedang.


***


Beberapa menit, mobil Daren sudah ada di depan kantor Aurel.


"Makasih, nanti gak usah jemput gue. Gue bisa pulang sendiri," ucap Aurel sembari membuka pintu mobil Daren. Aurel turun di ikuti oleh Daren.


Lelaki itu berjalan mengekor di belakang Daren. Aurel menghentikan langkahnya. Berbalik menatap Daren.


"Lo ngapain ngikutin gue?" ucap Aurel menatap tidak bersahabat kearah Daren.


"Pak Daren sudah di tunggu oleh


Pak Gunawan... " ucap sekertaris Pak Gunawan, Anjani.


Daren tersenyum melewati Aurel. Kini Aurel yang berjalan mengekor di belakang Daren. Mereka masuk kedalam satu lift. Daren, Aurel, dan Anjani. Anjani tersenyum manis seakan menggoda Daren.


"Dih apaan si Anjani? Genit banget njir," batin Aurel. Aurel membuang muka, ketika tidak sengaja kontak mata dengan


Daren. Ting....


Pintu lift terbuka. Aurel segera keluar dari lift. Ia langsung berjalan menuju ruangannya.


Sementara itu, Daren menatap kepergian Aurel.


"Mari Pak, biar saya antar ke ruangan meeting," ucap Anjani. Daren berjalan mengikuti Anjani.


Aurel mendongak kebelakang. Perempuan itu mendengus kesal. "Anjani gatel banget sih!


"Woy! Penganti baru, kok udah masuk?" ucap Tissa mengagetkan. Karena kesal Aurel mencubit lengan Tissa dengan gemas.

__ADS_1


"Aw... kok gue di cubit sih... " ucap Tissa mengusap lengannya.


"Mulut lo gak bisa di saring apa?" omel Aurel. Tissa tersenyum tanpa dosa.


"Hehehe sorry, Rel... " ucap Tissa. Aurel memandang Tissa kesal. Perempuan itu duduk di kursinya.


"Gimana? Malam pertamanya? Daren gak salah masukin kan?" ucap Tissa.


Pletak!


Aurel menjitak Tissa. "Otak lo ngeres banget anjir!"


Tissa menyengir mendengar ucapan Aurel. "Bercanda gue..."


"By the way, lo hari ini gantiin Melinda ya," ucap Tissa. Aurel mendongak kearah Tissa sembari mengerutkan keningnya.


"15 menit lagi kita meeting. Ini materi lo," ucap Tissa menyerahkan sebuah map kepada Aurel.


"Eh gila ya lo? Gue belajar 15 menit nih?" ucap Aurel membuka map itu. "Mana banyak gini."


"Udah mending lo baca dulu. Dari pada Pak Gunawan ngamuk kan? Suruh siapa lo hari ini berangkat, kan lo masih cuti bego!"


Aurel mendengus kesal, menatap map yang berisikan banyak huruf abjad. Rasanya benar-benar malas membaca hurufi-hurut 1in1.


15 menit berlalu, Aurel dan Tissa bersiap untuk masuk kedalam ruangan meeting. Tissa membuka pintu, Aurel yang berdiri di depan pintu kaget. Melihat ada Daren, juga Aldino di dalam.


"Jadi bener? Daren ada urusan sama Pak Gunawan? Terus kenapa ada Aldino di sini?" batin Aurel. Tissa menyadarkan lamunan Aurel, dengan menarik Aurel masuk.


"Loh Aurel, kamu sudah masuk?" tanya Pak Gunawan.


"Iya Pak," jawab Aurel dengan


gugup. Sementara itu, Daren dan Aldino terus menatap kearah Aurel.


Memang, pernikahan kemarin tidak ada yang mengetahui. Hanya rekan bisnis dari keluarga Wardana dan Adicipta yang tahu. Presentasi pun di mulai.


***


"Baiklah, terima kasih Aurel, silakan duduk... " ucap Gunawan. "Saya berharap, Pak Daren dan Pak Aldino bisa mempertimbangkan semuanya dan mau bekerjasama dengan perusahaan kami."


"Gaya MAU... "ucap Aldino dan Daren secara bersamaan.


"Wah sungguh kesempatan yang sangat Bagus. Akhirnya saya biaa bekerjasama dengan kedua perusahaan terbesar di Asia."


Aldino dan Daren saling tatap. Keduanya adalah sepupu, tapi entah kenapa hari ini seperti musuh.


"Saya mau Aurel yang mengurus kontraknya," ucap Daren. Aurel terdiam.

__ADS_1


โ€œsaya juga," ucap Aldino tidak May kal ah dengan Daren.


"Mampus gue... " batin Aurel.


__ADS_2