
"Udah apaan? Gak udah banyak
cincong deh," ucap Aurel tidak
sabaran.
"Jadi istri gue sehari aja," ucap
Daren. Membuat Aurel diam
menggaruk belakang telinganya.
"Kan gue udah jadi istri lo," ucap
Aurel.
"lya emang, status kita suami istri.
Tapi, belum seutuhnya, " ucap
Daren. "Lo gak pernah ngelakuin
tugas lo sebagai istri gue." Aurel diam kini ia mulai paham
kearah mana pembicaraan Daren.
"Gimana?" ucap Daren.
"Ya udah," jawab Aurel acuh.
"Ya udah doang?" ucap Daren
menatap Aurel.
"Ya terus gue harus gimana?" ucap
Aurel.
"Lo tahu kan tugas seorang istri?"
tanya Daren.
Aurel menggelengkan kepalanya.
Daren menghela nafas, haruskah ia
menjelaskan kepada Aurel?"Oke, tugas lo harus masakin gue.
Nurutin kemauan gue, manjain
gue, dan....
Daren diam mengantungkan
ucapannya.
"Dan apa?!" ucap Aurel tidak
sabaran. Daren membisikkan
sesuatu di telinga Aurel.
"Melayani gue...
Seketika sekujur tubuh Aurel kaku
dan merinding mendengar ucapan
Daren.
"Lo bercanda nih.. " ucap Aurel
sembari tersenyum."Lo tahu kan arti kata dari
'melayani' yang gue maksud?"
tanya Daren.
"Gi... gituan?" ucap Aurel seketika
Daren berpikiran yang sama
dengan Aurel.
Sontak Daren tertawa mendengar
ucapan Aurel yang begitu
polosnya.
"Gak harus kayak gitu juga sih,
tapi kalau lo mau jadi istri yang
lebih sempurna gue siap. Siap
banget!" ucap Daren begitu
antusias.
"Mulai, mesumnya mulai!" sindir Aurel.
"Lo duluan ya, yang mancing,"
ucap Daren.
"Jadi gue harus gimana?" ucap
Aurel lebih serius.
"Browising coba, cari tahu
sendiri!" perintah Daren. Aurel
menuru, ia langsung mencari di
internet. Aurel menemukan
sebuah artikel.
"Melayani suami tidak hanya
kepuasan di ranjang. Tetap juga
ada beberapa hal lainnya. Seperti
contoh merawat wajah, rambut,
atau anggota badan lainnya. Selain itu juga, mencukur kumis atau
jenggot juga termasuk kedalam
melayani suami.
"Nah itu maksud gue. Gimana
udah paham kan?" ucap Daren.
Aurel mengangguk lesu. Karena
jujur ia sudah sangat lapar.
"Nanti aja ya mulainya gue mau
makan laper banget," ucap Aurel
menpuk perutnya.
"Kebetulan banget, lo mulai
sekarang. Lo layani gue, makan..
ucap Daren.
"Gak bisa nanti aja? Gue laper, mau makan duluan. Asam
lambung gue udah naik sampe
ubun-ubun nih," ucap Aurel
hiperbola.
"Ya udah ayo makanya makan!"
ujak Daren manarik Aurel keluar
ruangan. Alhasil, Aurel tidak jadi
pesan gofood.***
Kantin ramai, seperti biasanya
apalagi sekarang jam makan siang.
Aurel mendongak kanan dan kiri
melihat kondisi sekitar. Semua
karyawan menatap mereka. Daren
membawa Aurel duduk di sebuah
kursi kosong."Bu saya mau nasi kuning dua,
lauknya ayam, sate taichan, sama
orek tempe, minumnya es teh dua,
ucap Daren. Pemilik kantin
segera mencatat pesanan Daren.
"Ren mereka semua liatin kota
loh," ucap Aurel sedikit
menunduk. Agar tidak ada orang
yang mendengar.
"Kenapa emang? Biarin aja," jawa
Daren acuh. Aurel memejamkan
matanya sebentar ia lupa kalau ia
sedang berbicara dengan Daren, si
muka tebal.
Tidak butuh waktu lama, pelayan
kantin membawakan pesan Daren.
"Wah terima kasih Bu," ucap
Daren begitu ramah. Aurel
menatap nasi kuning di depannya
yang begitu mengguyurkan.
"Aurel mulai menyingkirkan
__ADS_1
sendoknya. Sebelumnya ia sudah
cuci tangan di wastafel depan
kantin. la memilih memakai
tangan, karena lebih nikmat.
"Khem... " Daren batuk, untuk
menggode Aurel.
"Apaan sih? Ini enak banget,
kenapa gak bilang dari tadi?" ucap
Aurel yang asik dengan makannya sendiri.
"Rel... " rengek Daren. Membuat
Aurel mendongak kearahnya.
"A... " Daren membuka mulutnya
lebar-lebar.
"Ha? Malkan sendiri lah! Tangan lo
utuh, gak cacat," ucap Aurel
sembari mengunyah makannya.
"Belum ada satu jam, udah lupa
sama yang tadi," ucap Daren.
Seketika Aurel paham maksud
Daren. Dengan berat hati, Aurel
mengambil nasi untuk menyuapi
Daren. Daren mengunyahnya penuh
penghayatan, sangat suka momen
seperti ini. Dimana Aurel
menyuapinya.
"Cie Pak Daren, sekarang udah
yang nyuapin, udah ada yang
nemenin tidur... " ucap beberapa
karyawan yang sedari tadi
memperhatikan mereka. "Asoy! Kita sangat iri pak!" sorak
beberapa karyawan lainnya.
Jujur Aurel malu, ia tidak tahu
harus bagaimana sekarang. Aurel
menyuapi Daren lagi.
"Eum, enak banget sayang..." ucap
"Woh iya dong! Kalian iri ya?"
balas Daren sembari tertawa. Jika
kalian pikir Daren adalah sosok
CEO yang cool, cuek, dan galak.
Kalian salah besar, Daren adalah
CEO yang sangat ramah, dan dekat
dengan karyawannya.Bahkan tukang sapu pinggir jalan
yang setiap pagi menyapu di depan
kantor pun Daren kenal.
"Asoy! Kita sangat iri pak!" sorak
beberapa karyawan lainnya.
Jujur Aurel malu, ia tidak tahu
harus bagaimana sekarang. Aurel
menyuapi Daren lagi.
"Eum, enak banget sayang..." Daren sembari tersenyum.
"Lo emang akrab gini ya sama
karyawan? Mereka gak ngerasa
segan sama lo?" ucap Aurel namun
lirih.
Daren menggelengkan kepalanya.
"Gak pa-pa. Lagian ini di luar jam
kerja."
Aurel mengangguk paham. la pun
menyuapi bayi besar.***
Aurel kira, setelah menyuapi
Daren semuanya akan selesai. Tapi
ternyata tidak. Seperti saat ini, ia Tengah menemani Daren bermain PS dengan Kelvin. Lelaki itu
merebahkan tubuhnya dengan
pangkuan Aurel sebagai bantalan.
Aurel juga harus mengusap-usap
kepala Daren, atau sekedar
memainkan rambut Daren. Aurel
mulai bosan. Sebenarnya ia di
tugaskan ke kantor ini untuk apa
sih? Untuk melayani Daren? Atau
untuk bekerja?
"Daren udah ya, gue mau kerja...
ucap Aurel, entah sudah berapa
puluh kalimat yang ia lontrakan
dengan kalimat yang sama.
"Ngapain sih, udah sini aja,
jawab Daren tetap sama tidak berubah sama sekali."Tapi kan...
"Stt, sayang yang nurut ya," ucap
Daren mengecup tangan Aurel.
Tentu saja hal ini membuat Aurel
kaget. Siapa yang tidak kaget jika
di perlakukan seperti ini.
"Permisi Pak, ini ada berkas yang
harus di tanda tangani," ucap
Sella.
"Taro situ aja, nanti saya tanda
tangan, " ucap Daren. Sella
menurut. Sella berjalan kearah
Kelvin anaknya.
"Kelvin, pulang yuk. Kan udah di
tungguin. Oma," ucap Sella."Kevin mau pulang? " Tanya Daren."Iya Pak, kebetulan orang tua saya
lagi ada di sini," ucap Sella.
"Tapi Ma, Kelvin mau main lagi
sama Onm Daren," ucap Kelvin
menaruh stik PS dan menatap sella iba.
"Sayang, kan Oma sama Opa gak
setiap hari nemuin Kelvin.
Sementara Kelvin bisa main PS
tiap hari sama Om Daren," ucap
Sella begitu lembut.
Aurel memperhatilkan Sella,
bagaimana perempuan itu
berinteraksi dengan anaknya.
Seketika ia tersenyum,
membayangkan jika ia bisa Menjadi ibu yang baik kelak."Cie senyum-senyum kenapa?
Pengen punya anak ya? Udah yuk
gas kita langsung bikin 3," ucap
Daren.
Plak
Aurel menampar muka Daren.
"Kalau ngomong gak di saring,
masih ada Sella. Kan malu," ucap
__ADS_1
Aurel.
"Hehe gak pa-pa Bu," ucap Sella.
"Tuh kan, udah biasa aja. Gak
perlu anggap ada Sella." Lagi,
Daren asal bicara.
"Yuk pamitan dulu sama Om
Daren, dan Tante Aurel, " ucap Sella.
"Om, Kelvin pulang dulu ya. Besok
kita main PS lagi, " ucap Kelvin.
"Siap! Pinter banget jagoan Om.
Tos dulu dong!" ucap Daren
dengan antusias Kelvin menepuk
tangan Daren.
"Pinter... " ucap Daren mengusap
kepala Kelvin.
Aurel tersenyum lagi melihat
kedekatan Kelvin dan Daren.
Seperti seorang ayah dan anak.
"Daren udah pantes banget jadi
seorang Ayah," batin Aurel.
Tiba-tiba ia membayangkan memiliki seorang putra dengan Daren. Bukan kah beberapa hari
lalu Aurel menolak punya anak
dengan Daren?
Aurel sadar, ia menggelengkan
kepalanya.
"Enggak-enggak! Eror nih otak
gue," gumam Aurel.
"Apa yang eror?" tanya Daren.
"Eum, enggak bukan apa-apa,
jawab Aurel sembari tersenyum.
"Oh iya, kan kita janji sama Tante
Retno buat bantuin beliau."
"Mau pulang sekarang?" ucap
Daren mrlirik jam, sekarang pukul 03:00 sore. "Baru jam 3, kan pulang kantor
jam 5," ucap Aurel.
"Ya gak pa-pa lah, kan gue bosnya,
ucap Daren.
"Ya udah deh yuk. Gak enak juga
kalau gak bantuin kan tadi udah
janji, " ucap Aurel.
Mereka bersiap untuk pulang. **"
Tok... tok... tok..
Aurel mengetuk pintu unit
apartemen Bu Retno.
Clek...Pintu terbuka, menampilkan sosok Bu Retno.
"Wah akhirnya kalian datang juga.
Ayo masuk... " ucap Bu Retno
menyambutnya dengan sangat
hangat.
Aurel melangkah masuk, ini
adalah kali pertama ia masuk ke
apartemen Bu Retno.
Apartemennya begitu bersih dan
rapih.
Aurel langsung membantu Bu
Retno yang sedang memasak.
Sementara Daren ia bingung harus
melakukan apa.
"Gimana rasanya? Enak gak? Udah
pas belum?" tanya Bu Retno yang menyuruh Aurel menyicipi makannya.
"Enak banget Tan," ucap Aurel. la
tidak berbohong, memang
makanan Bu Retno seenak itu.
"Tan, gimana kalau kita kerja sama
buat restoran," ucap Daren yang
duduk di kursi meja makan.
"Ah yang bener aja kamu, Tante
belum percaya diri, kalau sampai
buka restoran," ucap Bu Retno.
"Ih kenapa gak percaya diri.
Masakan Tante enak banget! Iya
kan, Ren? " ucap Aurel meminta
persetujuan Daren. Daren mengangguk"Nanti deh Tante pikir-pikir dulu,"
ucap Bu Retno.
Mereka selesai masak, sekarang
tengah memasukan makanan
kedalam wadah untuk dibagikan
ke apartemen tetangga.
Aurel dengan senang hati,
membantu untuk membagikan
makanan tersebut. Aurel
memencet bel, lalu keluar seorang
wanita muda.
"Ada apa ya Mbak?" ucapnya.
"Ini saya bantu Tante Retno unit
apartemen nomor 1235 untuk
membagikan makanan," ucap
Aurel begitu ramah."Makasih ya Mbak, Mbak orang
baru ya?" ucapnya.
"Iya saya dari unit 1238," jawab
Aurel.
Wanita itu mengangguk, "Salam
kenal saya Silvi."
"Saya Aurel," ucap Aurel. "Kalau
gitu saya mau lanjut bagikan ke
yang lain juga."
"Baik Mbak silakan."
Aurel menatap unit 1237
tetangganya. la mulai
membunyikan bel, namun tidak
ada jawaban. Sekali lagi, Aurel
membunyikan bel. Dan ia melihat knop pintu yang
mulai berputar.
"Siapa ya.....
"Loh Tissa?" ucap Aurel kaget.
"A... Aurel?" ucap Tissa tak kalah
kaget.
"Sayang? Siapa?" ucap seseorang
dari belalkang. la berjalan
menghampiri keduanya.
"AI... Aldino? " ucap Aurel
bertambah syok, setelah
__ADS_1
mendengar Aldino memanggil
Tissa dengan panggilan sayang.