MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
PERMINTAAN DAREN


__ADS_3

"Udah apaan? Gak udah banyak


cincong deh," ucap Aurel tidak


sabaran.


"Jadi istri gue sehari aja," ucap


Daren. Membuat Aurel diam


menggaruk belakang telinganya.


"Kan gue udah jadi istri lo," ucap


Aurel.


"lya emang, status kita suami istri.


Tapi, belum seutuhnya, " ucap


Daren. "Lo gak pernah ngelakuin


tugas lo sebagai istri gue." Aurel diam kini ia mulai paham


kearah mana pembicaraan Daren.


"Gimana?" ucap Daren.


"Ya udah," jawab Aurel acuh.


"Ya udah doang?" ucap Daren


menatap Aurel.


"Ya terus gue harus gimana?" ucap


Aurel.


"Lo tahu kan tugas seorang istri?"


tanya Daren.


Aurel menggelengkan kepalanya.


Daren menghela nafas, haruskah ia


menjelaskan kepada Aurel?"Oke, tugas lo harus masakin gue.


Nurutin kemauan gue, manjain


gue, dan....


Daren diam mengantungkan


ucapannya.


"Dan apa?!" ucap Aurel tidak


sabaran. Daren membisikkan


sesuatu di telinga Aurel.


"Melayani gue...


Seketika sekujur tubuh Aurel kaku


dan merinding mendengar ucapan


Daren.


"Lo bercanda nih.. " ucap Aurel


sembari tersenyum."Lo tahu kan arti kata dari


'melayani' yang gue maksud?"


tanya Daren.


"Gi... gituan?" ucap Aurel seketika


Daren berpikiran yang sama


dengan Aurel.


Sontak Daren tertawa mendengar


ucapan Aurel yang begitu


polosnya.


"Gak harus kayak gitu juga sih,


tapi kalau lo mau jadi istri yang


lebih sempurna gue siap. Siap


banget!" ucap Daren begitu


antusias.


"Mulai, mesumnya mulai!" sindir Aurel.


"Lo duluan ya, yang mancing,"


ucap Daren.


"Jadi gue harus gimana?" ucap


Aurel lebih serius.


"Browising coba, cari tahu


sendiri!" perintah Daren. Aurel


menuru, ia langsung mencari di


internet. Aurel menemukan


sebuah artikel.


"Melayani suami tidak hanya


kepuasan di ranjang. Tetap juga


ada beberapa hal lainnya. Seperti


contoh merawat wajah, rambut,


atau anggota badan lainnya. Selain itu juga, mencukur kumis atau


jenggot juga termasuk kedalam


melayani suami.


"Nah itu maksud gue. Gimana


udah paham kan?" ucap Daren.


Aurel mengangguk lesu. Karena


jujur ia sudah sangat lapar.


"Nanti aja ya mulainya gue mau


makan laper banget," ucap Aurel


menpuk perutnya.


"Kebetulan banget, lo mulai


sekarang. Lo layani gue, makan..


ucap Daren.


"Gak bisa nanti aja? Gue laper, mau makan duluan. Asam


lambung gue udah naik sampe


ubun-ubun nih," ucap Aurel


hiperbola.


"Ya udah ayo makanya makan!"


ujak Daren manarik Aurel keluar


ruangan. Alhasil, Aurel tidak jadi


pesan gofood.***


Kantin ramai, seperti biasanya


apalagi sekarang jam makan siang.


Aurel mendongak kanan dan kiri


melihat kondisi sekitar. Semua


karyawan menatap mereka. Daren


membawa Aurel duduk di sebuah


kursi kosong."Bu saya mau nasi kuning dua,


lauknya ayam, sate taichan, sama


orek tempe, minumnya es teh dua,


ucap Daren. Pemilik kantin


segera mencatat pesanan Daren.


"Ren mereka semua liatin kota


loh," ucap Aurel sedikit


menunduk. Agar tidak ada orang


yang mendengar.


"Kenapa emang? Biarin aja," jawa


Daren acuh. Aurel memejamkan


matanya sebentar ia lupa kalau ia


sedang berbicara dengan Daren, si


muka tebal.


Tidak butuh waktu lama, pelayan


kantin membawakan pesan Daren.


"Wah terima kasih Bu," ucap


Daren begitu ramah. Aurel


menatap nasi kuning di depannya


yang begitu mengguyurkan.


"Aurel mulai menyingkirkan

__ADS_1


sendoknya. Sebelumnya ia sudah


cuci tangan di wastafel depan


kantin. la memilih memakai


tangan, karena lebih nikmat.


"Khem... " Daren batuk, untuk


menggode Aurel.


"Apaan sih? Ini enak banget,


kenapa gak bilang dari tadi?" ucap


Aurel yang asik dengan makannya sendiri.


"Rel... " rengek Daren. Membuat


Aurel mendongak kearahnya.


"A... " Daren membuka mulutnya


lebar-lebar.


"Ha? Malkan sendiri lah! Tangan lo


utuh, gak cacat," ucap Aurel


sembari mengunyah makannya.


"Belum ada satu jam, udah lupa


sama yang tadi," ucap Daren.


Seketika Aurel paham maksud


Daren. Dengan berat hati, Aurel


mengambil nasi untuk menyuapi


Daren. Daren mengunyahnya penuh


penghayatan, sangat suka momen


seperti ini. Dimana Aurel


menyuapinya.


"Cie Pak Daren, sekarang udah


yang nyuapin, udah ada yang


nemenin tidur... " ucap beberapa


karyawan yang sedari tadi


memperhatikan mereka. "Asoy! Kita sangat iri pak!" sorak


beberapa karyawan lainnya.


Jujur Aurel malu, ia tidak tahu


harus bagaimana sekarang. Aurel


menyuapi Daren lagi.


"Eum, enak banget sayang..." ucap


"Woh iya dong! Kalian iri ya?"


balas Daren sembari tertawa. Jika


kalian pikir Daren adalah sosok


CEO yang cool, cuek, dan galak.


Kalian salah besar, Daren adalah


CEO yang sangat ramah, dan dekat


dengan karyawannya.Bahkan tukang sapu pinggir jalan


yang setiap pagi menyapu di depan


kantor pun Daren kenal.


"Asoy! Kita sangat iri pak!" sorak


beberapa karyawan lainnya.


Jujur Aurel malu, ia tidak tahu


harus bagaimana sekarang. Aurel


menyuapi Daren lagi.


"Eum, enak banget sayang..." Daren sembari tersenyum.


"Lo emang akrab gini ya sama


karyawan? Mereka gak ngerasa


segan sama lo?" ucap Aurel namun


lirih.


Daren menggelengkan kepalanya.


"Gak pa-pa. Lagian ini di luar jam


kerja."


Aurel mengangguk paham. la pun


menyuapi bayi besar.***


Aurel kira, setelah menyuapi


Daren semuanya akan selesai. Tapi


ternyata tidak. Seperti saat ini, ia Tengah menemani Daren bermain PS dengan Kelvin. Lelaki itu


merebahkan tubuhnya dengan


pangkuan Aurel sebagai bantalan.


Aurel juga harus mengusap-usap


kepala Daren, atau sekedar


memainkan rambut Daren. Aurel


mulai bosan. Sebenarnya ia di


tugaskan ke kantor ini untuk apa


sih? Untuk melayani Daren? Atau


untuk bekerja?


"Daren udah ya, gue mau kerja...


ucap Aurel, entah sudah berapa


puluh kalimat yang ia lontrakan


dengan kalimat yang sama.


"Ngapain sih, udah sini aja,


jawab Daren tetap sama tidak berubah sama sekali."Tapi kan...


"Stt, sayang yang nurut ya," ucap


Daren mengecup tangan Aurel.


Tentu saja hal ini membuat Aurel


kaget. Siapa yang tidak kaget jika


di perlakukan seperti ini.


"Permisi Pak, ini ada berkas yang


harus di tanda tangani," ucap


Sella.


"Taro situ aja, nanti saya tanda


tangan, " ucap Daren. Sella


menurut. Sella berjalan kearah


Kelvin anaknya.


"Kelvin, pulang yuk. Kan udah di


tungguin. Oma," ucap Sella."Kevin mau pulang? " Tanya Daren."Iya Pak, kebetulan orang tua saya


lagi ada di sini," ucap Sella.


"Tapi Ma, Kelvin mau main lagi


sama Onm Daren," ucap Kelvin


menaruh stik PS dan menatap sella iba.


"Sayang, kan Oma sama Opa gak


setiap hari nemuin Kelvin.


Sementara Kelvin bisa main PS


tiap hari sama Om Daren," ucap


Sella begitu lembut.


Aurel memperhatilkan Sella,


bagaimana perempuan itu


berinteraksi dengan anaknya.


Seketika ia tersenyum,


membayangkan jika ia bisa Menjadi ibu yang baik kelak."Cie senyum-senyum kenapa?


Pengen punya anak ya? Udah yuk


gas kita langsung bikin 3," ucap


Daren.


Plak


Aurel menampar muka Daren.


"Kalau ngomong gak di saring,


masih ada Sella. Kan malu," ucap

__ADS_1


Aurel.


"Hehe gak pa-pa Bu," ucap Sella.


"Tuh kan, udah biasa aja. Gak


perlu anggap ada Sella." Lagi,


Daren asal bicara.


"Yuk pamitan dulu sama Om


Daren, dan Tante Aurel, " ucap Sella.


"Om, Kelvin pulang dulu ya. Besok


kita main PS lagi, " ucap Kelvin.


"Siap! Pinter banget jagoan Om.


Tos dulu dong!" ucap Daren


dengan antusias Kelvin menepuk


tangan Daren.


"Pinter... " ucap Daren mengusap


kepala Kelvin.


Aurel tersenyum lagi melihat


kedekatan Kelvin dan Daren.


Seperti seorang ayah dan anak.


"Daren udah pantes banget jadi


seorang Ayah," batin Aurel.


Tiba-tiba ia membayangkan memiliki seorang putra dengan Daren. Bukan kah beberapa hari


lalu Aurel menolak punya anak


dengan Daren?


Aurel sadar, ia menggelengkan


kepalanya.


"Enggak-enggak! Eror nih otak


gue," gumam Aurel.


"Apa yang eror?" tanya Daren.


"Eum, enggak bukan apa-apa,


jawab Aurel sembari tersenyum.


"Oh iya, kan kita janji sama Tante


Retno buat bantuin beliau."


"Mau pulang sekarang?" ucap


Daren mrlirik jam, sekarang pukul 03:00 sore. "Baru jam 3, kan pulang kantor


jam 5," ucap Aurel.


"Ya gak pa-pa lah, kan gue bosnya,


ucap Daren.


"Ya udah deh yuk. Gak enak juga


kalau gak bantuin kan tadi udah


janji, " ucap Aurel.


Mereka bersiap untuk pulang. **"


Tok... tok... tok..


Aurel mengetuk pintu unit


apartemen Bu Retno.


Clek...Pintu terbuka, menampilkan sosok Bu Retno.


"Wah akhirnya kalian datang juga.


Ayo masuk... " ucap Bu Retno


menyambutnya dengan sangat


hangat.


Aurel melangkah masuk, ini


adalah kali pertama ia masuk ke


apartemen Bu Retno.


Apartemennya begitu bersih dan


rapih.


Aurel langsung membantu Bu


Retno yang sedang memasak.


Sementara Daren ia bingung harus


melakukan apa.


"Gimana rasanya? Enak gak? Udah


pas belum?" tanya Bu Retno yang menyuruh Aurel menyicipi makannya.


"Enak banget Tan," ucap Aurel. la


tidak berbohong, memang


makanan Bu Retno seenak itu.


"Tan, gimana kalau kita kerja sama


buat restoran," ucap Daren yang


duduk di kursi meja makan.


"Ah yang bener aja kamu, Tante


belum percaya diri, kalau sampai


buka restoran," ucap Bu Retno.


"Ih kenapa gak percaya diri.


Masakan Tante enak banget! Iya


kan, Ren? " ucap Aurel meminta


persetujuan Daren. Daren mengangguk"Nanti deh Tante pikir-pikir dulu,"


ucap Bu Retno.


Mereka selesai masak, sekarang


tengah memasukan makanan


kedalam wadah untuk dibagikan


ke apartemen tetangga.


Aurel dengan senang hati,


membantu untuk membagikan


makanan tersebut. Aurel


memencet bel, lalu keluar seorang


wanita muda.


"Ada apa ya Mbak?" ucapnya.


"Ini saya bantu Tante Retno unit


apartemen nomor 1235 untuk


membagikan makanan," ucap


Aurel begitu ramah."Makasih ya Mbak, Mbak orang


baru ya?" ucapnya.


"Iya saya dari unit 1238," jawab


Aurel.


Wanita itu mengangguk, "Salam


kenal saya Silvi."


"Saya Aurel," ucap Aurel. "Kalau


gitu saya mau lanjut bagikan ke


yang lain juga."


"Baik Mbak silakan."


Aurel menatap unit 1237


tetangganya. la mulai


membunyikan bel, namun tidak


ada jawaban. Sekali lagi, Aurel


membunyikan bel. Dan ia melihat knop pintu yang


mulai berputar.


"Siapa ya.....


"Loh Tissa?" ucap Aurel kaget.


"A... Aurel?" ucap Tissa tak kalah


kaget.


"Sayang? Siapa?" ucap seseorang


dari belalkang. la berjalan


menghampiri keduanya.


"AI... Aldino? " ucap Aurel


bertambah syok, setelah

__ADS_1


mendengar Aldino memanggil


Tissa dengan panggilan sayang.


__ADS_2