MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
SEMAKIN DALEM


__ADS_3

"Tissa! Buka gak!" ucap Steven masih menggedor-gedor pintu kamar Tissa


. Clek...


Clek...


Steven mencoba untuk memainkan knop pintu. Hal ini membuat Tissa bertambah panik.


"Ya Tuhan.... selamatkan lah aku... "ucap Tissa yang sudah menangis. Tiba-tiba Tissa mendengar suara ketukan dari arah pintu balkon.


Tok.... tok... tok...


"Tissa, ini gue Aldino... " ucap Aldino masih dengan mengetuk kaca pintu balkon Tissa.


Tissa bangkit, dan langsung membuka pintu balkon. Secara reflek, Tissa langsung memeluk Aldino begitu erat. Perempuan itu menangis dalam dekapan Aldino.


"Gue mau di jual sama Abang gue..." ucapnya di sela isak tangisnya.


"Kalau lo gak buka pintunya, gue akan dobrak pintu kamar lo!" teriak Steven dari luar kamar. Tissa bertambah panik mendengarnya.


"Al, gue harus gimana? Gue gak mau Al... tolongin gue... " rengek Tissa.


"Lo tenang dulu. Gue bakalan nolongin lo pergi dari sini," ucap Aldino. Tangis Tissa berhenti. Aldino melihat tangga yang ia pakai tadi.


"Lo bisa kan? Turun dari sini?" ucap Aldino menunjuk tangga yang menjulang tinggi. Tissa mengangguk ragu.


"Lo turun duluan. Biar gue jaga di sini. Ingat, kalau di bawah lo ketemu sama teman abang lo. Lo langsung lari, ke mobil gue..." Tissa mengangguk.


Dengan hati-hati perempuan itu menuruni satu persatu anak tangga tersebut. Meski dengan ketakutan yang luar biasa. Tapi Tissa bisa turun dari balkon kamarnya.


Setelah memastikan Tissa sudah turun. Kini giliran Aldino yang turun dari situ.


"Woy lo!" teriak Steven dari balkon kamar Tissa.


Aldino turun dengan selamat. Lalu ia segera menarik Tissa untuk masuk kedalam mobilnya. Dan pergi meninggalkan kompleks perumahan Tissa.


Tissa menghela nafas lega. Meski ja tidak tahu setelah ini harus kemana. Yang jelas, sekarang ia merasa jauh lebih aman.


"Nih pake jaket gue.. " ucap Aldino memberikan jaketnya kepada Tissa.


Tissa menerimanya, sembari menatap kearah Aldino. Bagaimana mungkin perasaan ini tidak semakin dalam? Aldino saja selalu ada untuknya.


"Setelah ini lo mau kemana?"


Pertanyaan Aldino membuyarkan lamunan Tissa.


"Gue.... gue gak tahu... " jawab Tissa.


Aldino diam, seketika hening di dalam mobil. Mobil Aldino masuk kesebuah parkiran apartemen.


"Untuk sementara, lo bisa tinggal di apartemen gue," ucap Aldino sembari membuka seat beltnya.


"Makasih Aldino," gumam Tissa. Keduanya turun dari mobil.


Dan segera menuju lift. Ting...


Pintu lift terbuka.


Tissa mengikuti langkah kaki Aldino di depannya. Menatap punggung tegap Aldino.

__ADS_1


Antara sadar dan tidak sadar. Aldino adalah pacar sahabatnya sendiri. Dan Tissa juga mengakui ketidak tauan dirinya atas semua ini.


Ia juga semakin jauh, mengidam-idamkan Aldino.


"Hidup lo beruntung banget, Rel... " batin Tissa, ada secercah rasa iri yang tumbuh di hatinya.


Aldino membuka pintu apartemennya.


"AYO masuk... " ucap Aldino.


"Makasih ya Al, lo baik banget sama GUE "ucap Tissa.


"Gue gah tahu harus dengan apa membalas kebaikan lo."


"Its okey, lo jangan pikirin ini semua. Gue care sama lo, karena lo sahabatnya Aurel," ujar Aldino. "Gue gak mungkin biarin lo di saat susah gini, kan?"


"Apapun itu, makasih buat semuanya..." ucap Tissa menerima ucapan Aldino. Aldino mengangguk.


"By the way, di lemari ada baju kakak gue. Lo bisa pake aja gak pa-pa. Buat keperluan ngantor lo besok juga gak pa-pa kok," ucap Aldino."Iya makasih ya Al. Gue udah pikirin baik-baik. Kalau gue bakalan keluar dari rumah. Gue udah gak kuat kalau begini terus. Untung aja ada lo yang nolongin gue. Gue gak tahu harus gimana kalau gak ada lo sekarang."


"Ya walupun gue tahu, kalau Steven bakalan jual rumah itu," sambungnya. Dengan air mata yang menetes.


"Tissa, keputusan lo udah bener. Yang terpenting sekarang adalah keselamatan lo. Lo harus bebas dari Abang lo yang syco itu... " balas Aldino. Tissa mengangguk.


"Gue pulang dulu ya. Anggap aja rumah sendiri," ucap Aldino menepuk bahu Tissa beberapa kali. Bahkan lelaki itu juga memamerkan senyuman manis untuknya.


Tissa terpaku. Jantungnya berdetak lebih kencang sekarang. Perasaannya semakin dalam kepada Aldino.


"L... iya... hati-hati... " ucap Tissa.


"Oh iya, pin apartemennya nanti gue chat aja ya..." ucap Aldino.


"Good night..."


"Good night Aldino.. " balas Tissa begitu lirih. Aldino menutup pintu apartemennya.


Tissa memegang dadanya yang masih berdebar menatap kepergian Aldino.


***


Aurel merenggangkan tubuhnya. Ia terbangun karena sinar matahari yang menyinari wajahnya. Aurel menatap ranjang yang sudah kosong. Kemana Daren? Apa dia sudah sembuhdemamnya?


Clek....


Pintu kamar mandi terbuka.


Menampilkan Daren yang hanya mengenakan handuk di pinggangnya. Tentu saja hal ini membuat Aurel syok.


"Heh anjir! Lo bisa gak sih? Make baju di kamar mandi?" omel Aurel.


"Gue kira lo masih tidur," jawab Daren dengan santainya.


"Apapun itu alasannya, gak boleh kek gini setan!" ucap Aurel. "Udah cepet pake baju!"


Aurel memilih membersihkan ranjang. Dari pada melihat Daren memakai baju. Setelah selesai, ia segera masuk kedalam kamar mandi.


***


Aurel dan Daren balapan sampai ke bawah. Membuat keduanya berdesak-desakan di tangga. Tingkahnya seperti anak kecil. Membuat Sarah dan Wardana menatap keduanya heran.

__ADS_1


"Kalian kok lari-larian gitu sih? Kayak bocah banget," ucap Sarah.


"Ini Mi, aku sama Aurel tuh tadi balapan yanh menang harus nyetir pagi ini. Dan aku yang menang!" ucap Daren besorak gembira.


"Mana ada? Lo tadi dorong gue kan?" ucap Aurel tidak terima.


"Itu trik, bukan sebuah kecurangan," ucap Daren dengan seribu alasan. "Kalau kalah ya kalah aja."


Wardana dan Sarah saling tatap. Tidak habis pikir dengan sifat keduanya yang masih seperti anak-anak.


"Udah... udah... Aurel Daren ayo duduk sarapan dulu," ucap Sarah melerai keduanya. Sarah menyiapkan sarapan untuk keduanya.


"Eum, sebenarnya Mami sama Papi mau ngomong sesuatu sama kalian," ucap Sarah membuka obrolan.


"Tentang apa Mi?" tanya Daren, sembari menikmati sarapannya.


"Menurut Mami sama Papi, kalian butuh waktu berdua biar saing dekat dan saling mengenal. Jadi gimana kalau kalian beli rumah sendiri?" ucap Sarah.


Entah kenapa Aurel dan Daren komopak tersedak.


"Duh ini bukan maksud Mama buat ngusir kalian dari rumah loh," ucap Sarah merasa tidak enak.


"Iya kok Mi, kita paham maksud Mami," ucap Daren sembari melirik Aurel."Siapa tahu dengan tinggal sendiri kalian bisa lebih dekat, bisa menjalin kemistri dengan baik. Kita sangat mengidamkan hal itu," sahut Wardana.


"Kita juga sangat menunggu cucu-cucu yang mengemaskan dari kalian," sambung Sarah.


Aurel malu mendengarnya, kedua pipinya sudah bersemu merah.


"Duh gimana nih? Nyokap bokapnya Daren minta cucu. Kan pernikahan ini cuma 6 bulan," batin Aurel.


"Jadi gimana? Kalian setuju kan? Dengan usulan dari Mami dan Papi?" ucap Sarah. Sarah mengambil sesuatu.


"Ini kemarin teman Mami kasih brosur rumah. Siapa tahu kalian berminat, iyakan Pi?" ucap Sarah meminta persetujuan dari suaminya.


"Eum, maaf Mi Pi, Aurel boleh bicara gak?" ucap Aurel takut-takut.


"Boleh sayang, silakan jangan sungkan gitu," ucap Sarah.


"Jadi gini gimana kalau misalkan aku sama Daren tinggal di apartemen dulu. Karena kalau rumah terlalu besar buat kita," ucap Aurel.


Sarah dan Wardana saling pandang.


"Boleh sih kalau kalian mau tinggal di apartemen dulu. Ah iya, bukannya apartemen Daren nganggurkan? Udah gak di sewain?" ucap Sarah.


"Bulan kemarin kan kontraknya habis. Jadi bulan ini kosong apartemenya," ucap Daren.


"Ya udah gak pa-pa kalau kalian mau tinggal di apartemen. Pokoknya Mami sama Papi pengen kalian itu saling mengenal satu sama lain dulu," ujar Sarah. Aurel dan Daren mengangguk.


Daren melirik jam di tangannya.


"Mi Pi, kita pamit ke kantor dulu ya. Soalnya udah jam segini," ucap Daren.


"Iya hati-hati di jalan," ucap Sarah.


Daren dan Aurel mencium tangan Sarah dan Wardan.


"Ah iya Daren! Kamu yang nyetir! Jangan sampe Mami liat Aurel yang nyetir ya!" teriak Sarah dari dalam rumah.


"Tuh kan! Lo dengar sendiri! Wle! " Aurel menjukurkan lidahnya kearah Daren. Lalu masuk kedalam mobil.

__ADS_1


"Hey! Gak bisa gitu dong!" ucap Daren. Akhirnya Daren mengalah, membiarkan Aurel duduk di kursi penumpang.


__ADS_2