MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
HARI KESIALAN (2)


__ADS_3

Gunawan mengantarkan kedua client-nya keluar dari ruangan meeting. "Sekali lagi, terima kasih untuk kesempatan kerjasamanya."


"Baik Pak, segera saya tunggu kontraknya," ucap Daren.


"Iya Pak, kami akan segera memberikan kontrak."


"Kalau begitu saya permisi," ucap Aurel. Aurel pergi, Daren menatap kepergian Aurel.


"Rel langsung ke kantin yuk! Laper nih gue," ucap Tissa. Aurel hanya mengangguk menuruti kemauan Tissa.


Aurel dan Tissa duduk di meja kantin. "Lo mau makan apa?"


"Mie ayam pangsit deh," jawab Aurel.


"Pak Diman, mie ayam pangsitnya dua, es teh dua ya pak!" ucap Tissa memesankan makanan mereka.


"Rel, lo tadi gak gugup? Secara satu ruangan sama suami dan pacar lo," ucap Tissa dengan suara yang lebih pelan.


"Keknya mereka sengaja deh," ucap Aurel.


"Sengaja gimana maksud lo?" tanya Tissa. "Ya sengaja.....


Aure tidak melanjutkan ucapannya. Karena tiba-tiba ia melihat Daren dan Anjani masuk kedalam kantin.


Tissa menyenggol lengan Aurel. Agar Aurel melihat kearah Daren dan Anjani. "Gila Anjani gatel banget sama laki lo." Aurel diam, tidak menyahut ucapan Tissa.


"Silakan duduk, Pak. Mau di pesenkan apa? Biar saya pesankan," ucap Anjani dengan


senyum manisnya. Daren masih diam, menatap Aurel yang duduk tidak jauh dari tempat duduknya.


Aurel membuang muka, tidak mau Daren melihat kearahnya. Tanpa disangka, tiba-tiba Aldino duduk di meja Aurel dan Tissa.


"Apa aja..." jawab Daren. Anjani langsung pergi, memesankan makanan untuk Daren. Daren bangkit, dan berjalan menuju meja Aurel.


Lelaki itu langsung duduk di depan Aurel. "Balik ke maja Io! Nanti ada yang liat gimana?" ucap Aurel mengusir Daren.


"Gak mau, gue pengen duduk di Sini," jawab Daren. "Lagian Aldino boleh duduk di sini. Masa gue enggak."


Aurel mendengus kesal. Ia melirik Aldino yang duduk di sebelah Daren. Jadia dua laki-laki itu duduk berhadapan dengan Aurel dan Tissa.


"Kalian ngapain sih disini? Kenapa gak pulang aja?" ucap Aurel menatap keduanya.


"Gak mau," jawab mereka bersamaan.


"Permisi, ini pesanannya," ucap Pak Diman membawa mie ayam


pangsit pesanan Tissa dan Aurel. "Makasih, Pak," ucap Tissa.


"Pak Daren sama Pak Aldino gak makan?" ucap Tissa menatap tidak enak kearah keduanya.


"Udah Tis, anggap aja mereka gak ada," ucap Aurel. Aurel mengambil sambal lalu memakan mie ayamnya.


"Permisi Pak, kenapa pindah kesini ya?" ucap Anjani yang membawa nampan berisikan makanan.


"Iya, saya mau makan di sini," ucap Daren. Anjani pun


lmeletakkan nampan tersebut.


"Pak Aldino mau pesan apa?" tanya Anjani.


"Minum aja, es teh... " jawab Aldino. Semua menatap kearah Aldino.


"Gile CEO satu ini mau pesen es teh," bisik Tissa kepada Aurel. Anjani pergi memesankan es teh untuk Aldino.


Aurel menatap kearah Aldino yang tengah mengamatinya. Perempuan itu tersenyum tipis. Namun tiba-tiba Aurel di kagetkan dengan suara Daren.

__ADS_1


"Rel, gue mau pangsit lo dong!" ucap Daren langsung mengambil pangsit dari piring Aurel.


"Yah Daren, itukan kesukaan gue," ucap Aurel menatap Daren sebal. "Lagian kenapa gak beli sendiri sih? Gak mampu ya?"


"Rel, lo ngomong apa sih? Kenapa ngomong gitu. Dia client kita loh. Yang sopan," ucap Anjani yang baru datang.


Daren tersenyum menatap Aurel. Ekspresi wajah Aurel sangat mengemaskan jika seperti ini.


"Pak mau saya pesankan pangsit?" ucap Anjani.


"Caper tuh," bisik Tissa."Udah biarin aja," ucap Aurel.


"Gak usah," jawab Daren. Anjani pun mengambil kursi. Untuk ia duduki. Perempuan itu mengamati Daren makan. Membuat Aurel juga mengamati keduanya


"Maaf Pak, ujung bibirnya ada sisa saos," ucap Anjani. Anjani mengambil tisu untuk mengelap sudut bibir Daren.


"Saya bisa sendiri, kamu jangan dekat-dekat saya. Nanti istri saya cemburu," ucap Daren. Seketika Aurel tersedak mendengar ucapan Daren.


"Is... istri? Pak Daren sudah punya istri?" ucap Anjani kaget.


"Sudah. Istri saya sangat galak," ucap Daren melirik Aurel yang tengah menatapnya.


"Maaf Pak, saya gak tahu kalau Pak Daren punya istri," ucap Anjani.


"Tapi kayaknya kamu harus minta maaf ke istri saya," ucap Daren menatap Aurel. Aurel melebarkan matanya. Takut Daren akan mengatakan kalau dirinya adalah istri Daren.


"Saya gak kenal sama istri bapak. Boleh saya kirim salam ke istri bapak? Sampaikan permintaan maaf saya," ucap Anjani.


"Saya permisi Pak..." Anjani langsung pergi.


Daren menatap Aurel sembari tersenyum. Aurel mengusap dadanya lega. Karena Daren tidak membeberkan semuanya.


"Kenapa? Takut gue beberin semuanya ya?" ujar Daren setelah Anjani pergi.


Aurel menendang tulang kering Daren. Daren menunduk, mengusap kakinya yang sakit.


"Awas aja kalau lo berani beberin semuanya!" ancam Aurel dengan tatapan tajamnya.


"Shhh... kira-kira dong lo kalau nendang gue. Sakit anjir!" ucap Daren tidak mengubah posisinya.


"Bodo amat! Udah cabut yuk Tiss," ajak Aurel. Keduanya pergi meninggalkan Aurel dan Aldino.


"Al bantuin gue dong, sakit banget nih," ucap Daren kepada Aldino.


"Gak bisa. Gue harus langsung kerja. Lagian manja banget sih lo, gitu aja gak bisa jalan," ucap Aldino.


***


"Gila keliatan kesiksa banget Daren sama lo," ucap Tissa setelah keduanya jauh dari kantin.


Aurel tersenyum sinis menanggapi ucapan Tissa.


"Tapi kenapa sih Rel, kalau orang-orang tahu pernikahan lo sama Daren?" ujarnya.


Aure menghentikan langkahnya. Menatap Tissa sebentar. Tissa yanh sedari tadi berjalan beriringan dengan Aurel pun sama. Kini menghentikan langkah kakinya juga.


"Kalau semua orang tahu gue nikah sama Daren, gue gak akan bisa deket-deket sama Aldino, Tis. mejanya.


"Tissa!" panggil Anjani.


"Eh iya Jan, kenapa?" tanya Tissa. "Aurel mana?"


"Eum, lagi di toilet."


"Oke makasih."

__ADS_1


Anjani langsung pergi. Tissa segera mengejar Anjani.


"Eh Jan lo mau kemana? " tanya Tissa.


"Nyusul Aurel. Ada hal penting nih, " ucap Anjani.


"Mampus Aurel kan pergi sama Aldino," batin Tissa.


"Eh biar gue aja sekalian gue juga mau ke toilet," ucap Tissa.


"Tapi nanti suruh keruangan kesehatan ya nemuin gue."


"Iya-iya beres," ucap Tissa mengacungkan jempolnya.


Anjani pergi, Tissa lega melihatnya. "Anjir, gue harus cari Aurel kemana ya?"


Tissa berjalan untuk mencari Aurel. Ia melewati sebuah taman dan melihat Aurel yang tengah berpelukan dengan Aldino. Kedua bibirnya tersenyum tipis.


"Kok nyesek ya, liatnya," gumam Tissa. "Walaupun gue gak ada hak buat mencintai Aldino. Tapi kenapa ini sesek banget."


Tissa berjongkok, menepuk dadanya sendiri. Karena merasakan sesak yang luar biasa di dadanya.


"Ayo Tissa, lo gak boleh kayak gini. Hilangin perasaan lo ke Aldino. Aldino itu pacar sahabat lo. Lo gak boleh ngerusak semuanya, " ucap Tissa kepada dirinya sendiri.


Tissa menghela nafas, mencoba untuk menangkan dirinya. Perempuan itu berdiri. Dan langsung memanggil Aurel.


"Rel!" teriak Tissa. Aurel segera melepaskan pelukannya. Dan mendongak menatap Tissa.


"Kenapa?" tanya Aurel, ketika Tissa berdiri di depannya.


"Lo di cariin Anjani. Lo disuruh keruangan kesehatan."


"Ha? Ruang kesehatan? Ngapain?" ucap Aurel begitu kaget.


Tissa menaikkan bahunya. Ia benar-benar tidak tahu mengapa Anjani memanggil Aurel keruang kesehatan.


"Ya udah deh gue kesana dulu," ucap Aurel. "Sayang, aku nemuin Anjani dulu ya." Aldino memasang wajah kesalnya.


"Padahal baru 10 menit," ucap Aldino melihat jam tangan di pergelangan tangannya.


"Iya maaf, nanti kapan-kapan kita pacaran lagi," ucap Aurel.


"Janji ya..." ucap Aldino.


Aurel mengangguk, tiba-tiba Aldino mencium pipi Aurel membuat Aurel bersemu merah. Namun tidak dengan Tissa perempuan itu merasakan betapa sesak dadanya melihat semua ini.


"Ayo Tis," ucap Aurel. Tissa dan Aurel berjalan menuju ruang kesehatan meninggalkan Aldino di taman.


***


Tok... tok... tok...


"Permisi... " ucap Aurel sembari membuka pintu. Aurel kaget, karena melihat ada Daren di sana.


"Aurel kamu anterin Pak Daren kerumah sakit ya, " ujar Anjani.


"Ha? Emang Pak Daren kenapa Bu?" tanya Aurel.


"Kakinya terkilir, kamu antarkan ya. Saya ada urusan," ucap Anjani.


"Kalau begitu saya permisi Pak." Anjani keluar dari ruangan. Aurel memincingkan matanya.


"Lo ngerjain gue ya?" Daren mengangkat bahunya.


"Ini hari kesialan gue ya?" batin Aurel dengan emosi yang hampir meledak.

__ADS_1


__ADS_2