MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
DRAMA LARI PAGI


__ADS_3

Aurel membuka matanya. Ketika sinar matahari menyinari wajahnya. Hari ini hari minggu jadi, dia libur untuk ke kantor. Saat akan bangkit, ia merasakan


sesuatu yang ada di pinggangnya. Aurel menghela nafas. Ia melepaskan tangan Daren dari pinggangnya.


"Daren, lepasin udah pagi," ucap Aurel melepaskan tangan Daren dari pinggangnya.


Daren merenggangkan tubuhnya. Aurel mengubah posisi semula menjadi duduk. Perempuan itu merenggangkan tubuhnya juga. Ia menguap begitu lebar, karena masih mengantuk. Jujur dari semalam Aurel tidak tidur. Karena masih merasa syok mendengar ucapan Daren semalam.


Ucapan itu benar-benar terngiang-ngiang di dalam kepalanya. Maksudnya apa? Kenapa Daren berbicara seperti itu? Seolah-olah ia sangat menginginkan Aurel.


"Lo gak ada niatan mau kasih morning kiss?" ucap Daren menatap Aurel. Lamunan Aurel buyar seketika. Ekspresi wajahnya berubah jadi garang.


Aurel berjongkok, mengambil bantal yang jatuh.


"Nih morning kiss!" Aurel menekan bantal ke wajah Daren. Setelah itu ia meninggalkan Daren yang masih di rebahan di sofa.


Daren hanya tertawa menanggapinya. Aurel masuk kedalam kamar, lalu berteriak begitu kencang. Ia keluar dari kamar, dengan mimik wajah yang ketakutan.


"Lo kenapa? " tanya Daren sembari tertawa.


"Daren! Itu gimana tikusnya! Masa tadi nonggol lagi! Mana gede banget lagi!" ucap Aurel memegangi ganggangan pintu.


"Ya udah nanti gue telpon orang buat beresin kamar," ucap Daren.


"Bener ya? Gue gak mau tidur sama lo lagi!" ucap Aurel. Kini gadis itu duduk di kursi meja makan. Ia menuang air kedalam gelas lalu meminumnya.


"Iya. Lo tenang aja, nanti gue telpon," ucap Daren.


"By the way, ini kan hari minggu. Lari pagi yuk."


"Ha? Lari pagi?" ucap Aurel. Aurel menggelengkan kepalanya.


"Enggak terima kasih!"


"Kok gitu sih," ucap Daren. "Ayolah mau ya. Temanin gue, ?udah buncit nih perut gue." Daren membuka perutnya.


"Dih apaan! Masih kotak-kotak gitu," ucap Aurel.


"Oke, kalau lo gak mau. Gue gak akan nelpon orang buat beresin kamar," acam Daren. Aurel lupa jika k


kebiasaan buruk Daren adalah mengancam.


"Eh jangan dong. Iya deh iya gue ganti baju dulu," ucap Aurel.


Untung saja ada baju di ruang laundry kemarin. Daren tersenyum, menatap Aurel yang masuk kedalam kamar mandi. Lelaki itu juga sedang memilih pakaian di ruang laundry.


***


Aldino membuka mata, kedua hidungnya mencium sesuatu yang enak. Ia bangun, dan melihat Tissa yang sedang sibuk di dapur. Aldino mengucek-ngucek kedua matanya. Ia baru sadar jika sekarang ia masih berada di apartemennya.


Lelaki itu bangkit, masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah itu mengambil minum yang ada di dalam kulkas.

__ADS_1


"Kenapa lo semalam gak bangunin gue buat pulang?" tanya Daren yang duduk di kursi meja makan.


"Lo semalam tidurnya pules banget. Gak tega baguninnya," jawab Tissa tanpa menatap Aldino karena memang ia sedang fokus memasak.


Tissa mengambil piring. Dan menyajikan dua piring nasi goreng. Saat berbalik menatap Aldino ia kaget. Pasalnya, Aldino terlihat sangat seksi, dengan rambut berantakan, dan dua kancing kemeja yang di biarkan terbuka.


"Lo juga yang kasih selimut ke gue?" tanya Aldino menatap Tissa. Jantung Tissa tidak mampu di kendalikan di tatap seperti itu oleh Aldino.


"Ha?" ucap Tissa meletakkan piring di atas meja.


"L.... iya... sambung Tissa gugup.


Tissa buru-buru menunduk. Ia benar-benar tidak bisa mengontrol perasaanya.


"Ini buat gue?" tanya Aldino menarik salah satu piring.


"Iya, makan aja, " jawab Tissa.


Tissa mencoba fokus untuk memakan nasi gorengnya. Satu suapan masuk kedalam mulut Aldino.


"Enak, gue suka masakan lo."


Duar!!


Mendengar ucapan Aldino Tissa merasakan seperti ada bom yang meledak di dalam hatinya.


"Gue gak salah denger? Aldino suka masakan gue! Argh! Gue seneng banget dengarnya!" batin Tissa belum sorak gembira.


"Hari ini lo mau kemana?" tanya Aldino.


"Gak tahu, di apartemen aja kayaknya," jawab Tissa.


"Lari pagi yuk," ajak Aldino.


"Boleh," jawab Tissa.


"Soalnya biasanya gue lari sama Daren. Kalau sendiri kurang seru," ujar Aldino.


"Ya udah, nanti gue temanin," ucap Tissa. Lalu mereka melanjutkan sarapannya.


***


"Daren udah dong! Capek nih, " ucap Aurel sembari duduk di trotoar.


"Lo ngapain sih? Duduk di situ kayak anak ilang aja," ucap Daren menarik Aurel agar berdiri.


Aurel melipat bibirnya kesal. Meski begitu ia tetap berdiri tegap di depan Daren.


"Capek..." rengek Aurel.


"Baru satu putaran. Masa gak kuat sih?" ujar Daren. "Pasti gak pernah olahraga kan lo?!" "Tahu aja, " jawab Aurel.

__ADS_1


Aurel mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. "Nah gimana kalau lo lanjut lari. Gue nunggu lo di sana, sambil makan bubur ayam. " Pletak! Daren menjitak kepala Aurel.


"Tadi tujuannya kesini apa? Temanin gue lari kan? Bukan makan," ucap Daren.


"Gue laper. Kan belum sarapan! Lemes nih," ucap Aurel melemaskan tubuhnya.


"Udah ayo lari! Gak usah akting!" ucap Daren sembari menarik Aurel. Mau tidak mau, Aurel menuruti kemauan Darel berlari lagi dengannya.


"Daren! Jangan kenceng-kenceng larinya!" teriak Aurel.


Hingga akhirnya mereka sudah hampir 3 putaran. Aurel menyerah, ia melepaskan tangan Daren. Dan langsung duduk di tengah jalan.


Nafasnya terengah-engah, keringat sudah membasahi tubuhnya.


"Kok duduk lagi!"


"Lo gak kira-kira anjir!" ucap Aurel. Kali ini Daren mengalah, lelaki itu mencoba untuk duduk di sebelah Aurel. Ia juga sama sedang mengatur nafasnya.


"Gue mau makan bubur ayam. Kalau lo masih tetap mau lari silakan. Gue udah gak kuat," ucap Aurel.


"Iya deh, iya, gue ngalah... " ucap Daren akhirnya.


"Fiks ya! Kita makan bubur ayam!" ucap Aurel antusias. " Iya ! "


***


Sementara itu, Aldino dan Tissa baru turun dari mobil. Mereka mengamati keramaian sekitar. Wajar jika ramai, karena kan sekarang sedang weekend.


"Kita mulainya dari mana?" tanya Tissa.


"Sebelah sana yuk," ajak Aldino. Tanpa sadar, Aldino menarik tangan Tissa. Hal ini tentu saja membuat Tissa kaget.


Mereka mulai berlari, di iringi dengan canda dan tawa. Di sisi lain, Aurel menuang kecap kedalam bubur ayamnya. Lalu ja melihat ada anak kucing yang berjalan kearajnya.


"Daren!" ucap Aurel mulai panik.


"Anak kucing! Gue takut!" ucap Aurel mulai bersembunyi di balik Daren.


Hal ini tentu saja membuat para pengunjung menatap kearah Aurel.


Daren tersenyum, ia segera menjauhkan anak kucing tersebut dari Aurel. Aurel duduk lagi di tempatnya.


"Maaf ya pak, bu, istri saya memang suka rusuh. Takut banget sama anak kucing," ucap Daren. Aurel tidak memeperdulikan itu. Yang ada di otaknya hanya makan, karena perutnya sudah sangat lapar.


Daren mengerutkan keningnya. Ketika melihat seseorang yang sangat ia kenal.


"Loh itu bukannya Aldino sama Tissa?" ucap Aurel. Sontak Aurel mendongak ke arah yang di tunjuk oleh Daren.


"Aldino! Tissa!" teriak Daren.


Aldino dan Tissa melihat kearah Daren dan Aurel. Lalu mereka berjalan kearah Daren dan Aurel.

__ADS_1


Aurel terdiam, apalagi setelah melihat Aldino yang menggenggam tangan Tissa. Sedekat apa hubungan apa mereka sebenarnya?


__ADS_2