MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
Pertengkaran


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Ryana sudah selesai memasak sebuah mie instan yang ia temukan di kulkas. Ya, karena apartemen itu sudah cukup lama tidak di tempati. Jadilah hanya ada sisa makanan instan saja yang menjadi penghuni kulkas.


Karena memang Ryana sudah merasa lapar, jadi ia segera memasak mie itu dan hendak memakan nya.


Namun, baru saja ia merasakan satu suapan mie instan itu, tiba tiba ia mendengar suara pintu yang di buka dengan cukup kasar dari arah luar.


Uhukkk hukkk uhukkk!


Ryana langsung mengambil air minum dan meminum nya. Kemudian ia menatap kesal pada sosok laki laki yang datang tiba tiba seperti jailangkung itu.


"Bisa pelan gak sih!" seru Ryana dengan kesal.


Laki laki itu tidak menjawab. Ia menatap kesal dan marah kepada istrinya. Bagaimana tidak kesal dan marah, sejak tadi dirinya mencari keberadaan Ryana namun tidak ia temui. Berulang kali juga ia menghubungi nomor Ryana namun di riject dan terakhir nomor itu tidak aktif.


Raka mencari dari rumah mertua nya, dan rumah orang tuanya, yang berakhir ada di apartemen. Napas nya masih memburu karena panik dan khawatir, sedangkan istrinya justru malah enak enakan makan mie instan di apartemen tanpa rasa bersalah sedikit pun.

__ADS_1


Tunggu! Mie instan? Seketika itu mata Raka langsung membola. Laki laki itu segera merebut mangkuk mie instan yang hendak di suapkan kembali ke mulut Ryana.


"Raka!" bentak Ryana semakin marah.


"Apa duit yang aku kasih udah habis? Kenapa kamu harus makan mie instan sih Na! Inget kandungan kamu! Inget kesehatan kamu! Memang nya kamu mau bikin anak kita jadi generasi micin!" sungut Raka menatap tajam pada istri nya.


"What! Generasi apa tadi? Micin? Aku gak tau lagi dimana kamu bisa dapat pemikiran kaya gitu! Yang jelas aku laper, dan aku mau makan?" cetus Ryana kembali merebut mie nya dan hendak memakan nya.


Namun lagi lagi, Raka merampas mangkuk itu dan membuang nya ke dalam wastafel.


Ya, Ryana sudah tidak mampu membendung air matanya lagi. Hatinya sudah sakit karena seharian ini sendiri. Dari istirahat, Raka tidak menghampiri nya. Saat pulang juga Raka tidak memberikan nya kabar. Hingga ttiba tiba laki laki itu malah marah marah dan menyalahkan nya begitu saja.


Hati Ryana begitu sakit, rasanya sangat sesak dan ia tidak sanggup lagi untuk menahan tangisan nya.


"Kamu tau gak sih, dari tadi aku coba telfon kamu. Berulang kali, tapi kamu reject! Aku cari kamu ke rumah Daddy gak ada, ke rumah Papa gak ada juga. Kenapa kamu gak ngabarin aku kalau kamu pulang kesini hah!" bentak Raka tiba tiba membuat tangisan Ryana berhenti seketika.


Benarkah Raka membentak nya? batin Ryana dalam hati.

__ADS_1


Ryana menatap nanar pada laki laki di depan nya yang terlihat sangat marah dan emosi. Entah apa yang membuat laki laki itu marah, hingga harus di lampiaskan kepada dirinya.


Bukankah seharusnya Raka meminta maaf, karena sudah mengabaikan dirinya hampir seharian ini. Lantas kenapa justru laki laki itu menyalahkan dirinya?


"Kamu tau gak sih, aku khawatir sama kamu. Aku panik, aku takut kamu dan bayi kita kenapa kenapa!" imbuh Raka dengan napas yang masih memburu hebat.


Ya, sebenarnya Raka sendiri juga sedang kalut. Ia khawatir dengan keadaan adik nya yang baru saja kecelakaan. Dan kini ia juga khawatir dengan keberadaan istrinya yang tiba tiba menghilang tanpa memberikan nya kabar.


"Bulshit lo khawatir sama gue!" seru Ryana tiba tiba langsung menepis kasar tangan Raka, "Kalau lo khawatir sama gue, lo gak bakal abai sama gue. Setidaknya hubungi gue, kabarin gue kalau emang lo gak bisa datang ke kelas gue atau anter gue pulang."


"Gue tau lo sibuk sama cewek itu. Gue tahu dia lebih penting buat lo, dan gue tahu kalau gue gak ada artinya apa apa buat lo. Tapi bukan kaya gini cara lo! Lo yang mengabaikan gue, tapi lo juga yang marah sama gue hiks hiks hiks."


Dan saat itu juga tangis Ryana langsung pecah, wanita itu langsung duduk berjongkok di depan Raka dan menutup wajah nya dengan tangan. Sedangkan Raka, ia terdiam dan kembali mencerna perkataan Ryana yang memang ada benar nya.


Dirinya yang salah, namun dirinya juga yang menyalahkan. Tapi, dirinya seperti itu karena ia khawatir dan panik.


...~To be continue......

__ADS_1


__ADS_2