MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
MIMPI


__ADS_3

"Jadi lo selingkuh sama Aldino? Sejak kapan? Kenapa lo tega sama gue Tissa. Lo udah mengorbankan persahabatan kita yang udah lama ini," ucap Aurel dengan air mata yang menetes.


"Rel.... gue bisa jelasin... " ucap Tissa kepada Aurel.


"Apalagi Tissa, semua udah jelas. Jelas banget kalau lo! Mengkhianati gue!" ucap Aurel dengan nada bicara yang jauh lebih tinggi.


"Rel, kamu dengerin penjelasan kita dulu ya," ucap Aldino menengahi Tissa dan Aurel. Aurel


mendongak menatap Aldino.


"Lo juga Al! Lo udah kecewain gue! Kalian semua menyakiti gue!" ucap Aurel menangis


sejadi-jadinya.


"Gue salah apa sih Tiss sama lo? Kenapa lo ambil Aldino dari gue?" gumam Aurel lirih.


"Rel...."


"Gue benci kalian berdua! Gue rasa cukup, persahabatan kita cukup sampai di sini! Dan lo Aldino, hubungan kita udah berakhir. Jangan cari gue lagi!" ucap Aurel langsung pergi meninggalkan keduanya. "Aurel! Dengerin penjelasan gue!"


Tissa terlambat, karena Aurel telah pergi. Tissa menangis menatap


kepergian Aurel.


"Tissa, udah ya kan masih ada aku, "ucap Aldino menenangkan Tissa. Apakah persahabatan yang sudah lama terjalin ini akan hancur begitu saja?


"Aurel jangan pergi..."


Aldino mengerutkan keningnya ketika mendengar suara itu. Ia berjalan masuk ke kamar Tissa. Dan melihat perempuan itu tengah


mengigau.


"Tiss, Tissa... " ucap Aldino membangunkan Tissa.


Tissa membuka kedua matanya. Wajahnya sudah basah dengan keringat. Mimpi itu begitu buruk, lebih buruk dari bertemu hantu atau lainnya. "Lo mimpi?" ujar Aldino.


Tissa belum menjawab, ia masih syok. Aldino paham, lelaki itu mengambilkan air dan meminta


Tissa untuk minum terlebih dahulu.


"Nih minum dulu," ucap Aldino.


Tissa menerimanya sembari meminum air tersebut.


"Gimana udah lega? Lo mau cerita?" ucap Aldino.


"Gu... gue mimpi buruk," ucap Tissa.


"Tenang, itu semua cuma mimpi. Mimpi itu bunga tidur," ucap Aldino menenangkan Tissa.


โ€œTapi kalau beneran gimana?" ucap Tissa mulai panik.


"Percaya sama gue mimpi itu gak akan jadi nyata," ucap Aldino. Tissa menatap Aldino lekat.


"Memang benar Al, kita gak


mungkin bersama," batin Tissa.


"Emang lo mimpi apa? Soalnya gue denger tadi lo manggil-manggil Aurel," ucap Aldino.


"Gue..."


"Apa gue jujur aja? Kalau gue mimpi kita selingkuh dan Aurel marah, " batin Tissa lagi.


"Tissa... " ucap Aldino menggoyangkan lengan Aldino.

__ADS_1


"Oke, kalau lo gak mau cerita. Lo tidur lagi gih. Gue mau pulang," ucap Aldino.


"Iya, makasih ya Al," ucap Tissa. Aldino menyelimuti Tissa sampai menutupi tubuhnya. Saat akan melangkah, tiba-tiba lampu apartemen mati. Membuat Tissa menahan tangan Aldino.


"Gu... gue takut gelap... " gumam Tissa.


Aldino merasakan tangan Tissa yang panas dingin.


Aldino mundur, dan langsung duduk di tepi ranjang.


"Jangan.... jangan pergi dulu,"ucap Tissa gugup.


"Iya, gue bakalan di sini nemenin lo," ucap Aldino ia menggenggam erat tangan Tissa. Tissa menggeser tubuhnya. Membuat Aldino merebahkan tubuhnya di samping Tissa.


Apakah mimpi Tissa akan menjadi kenyataan?


***


"Yah, kok mati lampu sih," gumam Aurel yang sedang asik menonton TV. Aurel mengambil ponselnya. Daren sedang mandi, jadi hanya dia sendiri di ruang TV.


Aurel menghidupkan senter yang ada di ponselnya. Lalu ia berjalan masuk kedalam kamar.


"Daren..." panggil Aurel.


Ia melihat sebuah bayangan di belakangnya. Begitu berbalik Aurel kaget melihat wajah Daren yang putih semua.


"Argh! Gur kira setan anjir!" ucap Aurel setelah kaget.


"Sembarangan kalau ngomong," jawab Daren.


"Bentar, lo pake masker? Tumben banget," ucap Aurel melihat Daren.


"Biar tambah ganteng," jawab Daren.


"Ha? Apa? Gue cemburu? Dih najis banget!" ucap Aurel. Daren tertawa melihat wajah Daren. Perempuan itu duduk di tepi rajang. Sementara Daren masih berdiri di tempatnya.


"Eh by the way, ini kenapa mati sih. Nyusahin banget!" ucap Aurel.


"Lagi eror kali," jawab Daren tapi tidak begitu jelas di telinga Aurel. Karena Daren mengucapkannya dengan bergumam. Mungkin karena efek dari masker wajah yang di pakai oleh Daren.


"Ha? Apa? Lo ngomong apa sih?" ucap Aurel.


Daren diam, lelaki itu memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan masker di wajahnya.


Aurel memainkan ponselnya. Sinyal di ponselnya juga ikut hilang.


"Duh sinyalnya ilang lagi! Nambah dah kegabutan gue!" ucap Aurel melepar ponselnya asal ke rajang.


Daren keluar kamar mandi ia berjalan menghampiri Aurel.


"Sebel banget mati gini sinyal ponsel ikut mati. Sinyal lo mati gak?" tanya Aurel kepada Daren. Daren mengecek ponselnya. Ia langsung menunjukkan layar ponselnya kepada Aurel.


"Sama aja anjir!" ucap Aurel. "Mau tidur belum ngantuk."


"Gimana kalau kita buat anak aja?" usul Daren.


Plak!


Aurel menampar lengan Daren kuat.


"Sakit ya Allah, lo mah sukanya main kekerasan," ucap Daren mengusap lengannya.


"Mulut lo minta di lakban anjir!" ucap Aurel sewot.


"Kan cuma usul aja. Lagian udah sah ini," ucap Daren.

__ADS_1


"Lo mau gue tuntut!" ucap Aurel.


"Lo mau dosa lo nambah karena nolak permintaan suami?" balas Daren.


Aurel terdiam, masih sebal dengan ucapan Daren.


"Udah sana lo! Balik ke ruang tengah! Lo kan tidur di sana," usir Aurel.


"Gak mau ah, gue maunya tidur di sini," ucap Daren langsung merebahkan tubuhnya di ranjang.


Aurel berdiri menarik tubuh Daren agar pergi dari ranjangnya.


"Ah gue gak mau! Nanti kalau lo perkosa gue gimana anjir!" ucap Aurel menarik-narik tubuh Daren.


Namun sayang Daren sangat berat dan susah untuk di tarik.


Bukannya Daren yang pergi, malah Aurel terpleset dan membuatnya jatuh menimpa tubuh Daren.


Keduanya saling pandang, karena sinar rembulan tepat menyinari keduanya. Aurel masih terpaku, ini adalah kali pertama ia bisa sedekat ini dengan Daren.


Nafas Daren begitu dekat dan sangat terasa di wajahnya. Secara reflek juga Daren melingkarkan tangannya di pinggang Aurel. Saat akan meraih bibir Aurel dengan bibirnya. Aurel langsung mengalihkan pandangannya.


Aurel berdiri, karena kesadarannya sudah kembali.


"Cie, yang katanya gak mau tapi malah nimpah-nimpah," goda Daren.


"Apaan sih! Gak sengaja!" ucap Aurel. Aurel mendorong tubuh


Daren.


"Minggir! Gue juga mau tidur!" ucap Aurel. Aurel mengambil semua bantal, lalu menyusunnya di tengah.


"Lah kita gak pake bantal?" tanya Daren.


"Enggak! Ini demi menjaga keamanan!" ucap Aurel. Ia tersenyum batanl sudah di tumpuk di tengah.


"Lo jangan sampai hancurin benteng ini," ucap Aurel. Aurel merebahkan tubuhnya.


"Ah lo mah gak seru," ucap Daren. Daren juga sama. Sampai akhirnya, keduanya tertidur.


Menyelam ke dunia mimpi.


***


"Oe... oe... oe..."


"Sayang jangan nangis lagi ya," ucap Aurel menimang-nimang bayi dalam gendongannya.


"Huaa Mama... Abang nakal..." teriak seorang gadis kecil berumur 3 tahun.


"Abang! Jangan nakal, masa adiknya di gituin sih," ucap Aurel memisahkan keduanya.


"Hahaha... " ucap si Abang berlari sembari tertawa meledek adiknya.


"Huaa Mama.. " ucap anak kedua memeluk Aurel.


Tiba-tiba bayi dalam gendongan Aurel menangis.


"De.. oe... oe..."


Membuat Aurel bertambah pusing karena kedua anaknya menangis.


"Duh kalian jangan nangis dong," ucap Aurel menangkan mereka. Aurel kira mereka akan berhenti menangis. Tapi tidak, tangisan mereka malah bertambah keras.


"Argh Daren kenapa lo buntingin gue sih!" teriak Aurel frustasi.

__ADS_1


__ADS_2