MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
DOUBLE DATE


__ADS_3

"Hai bro! Lo kesini juga?" ucap Daren.


Aurel masih mengamati tangan keduanya. Tissa yang sadar akan hal itu langsung melepaskan tangan Aldino.


"Eh iya, gue mau ngajak lo tapi takut lo gak bisa, " ujar Aldino, Aldino duduk di depan Daren.


"Hai Rel, " sapa Tissa. Tissa juga duduk di sebelah Aldino.


"Makan dulu Tiss, buburnya enak loh, " ucap Aurel terlihat santai. Ia memakan bubur ayam itu.


"Lo aja, gue udah makan kok tadi, "jawab Tissa.


"Lo juga Al, gak sekalian mesen nih bubur. Mumpung masih ada di sini," ujar Daren.


โ€œEnggak deh bro, gue juga udah makan," jawab Aldino.


"Wah jangan-jangan kalian makan bareng ya?" ucap Daren, seketika Aurel tersedak mendengar ucapan Daren.


Aldino dan Daren malah langsung memberikan minum kepada Aurel. Hal ini membuat keduanya saling tatap.


Aldino memilih menarik tangannya. Membiarkan Aurel menerima botol minum dari Daren. Yah bagaimana pun juga, Aldino disini menghormati Daren.


"Udah gak pa-pa?" tanya Daren.


Aurel menggelengkan kepalanya. "Kalian udah lama?" tanya Aldino.


"Lumayan. Tadi lagi lari 3 puteran, nih anak udah ngerengek minta udahan. Kan masih 3 puteran, biasanya kalau kita kan sampai 10 puteran ya, Al, " ucap Daren panjang lebar.


"Beda lah bro, cewek kan emang malas olahraga," ujar Aldino.


"Gak semua cewek. Buktinya Tissa waktu sekolah jadi atlit lari," jawab Aurel. Sontak Daren dan Aldino menatap Tissa.


"Wah iya gue inget! Tissa kan dulu atlit lari di sekolah," sahut Daren.


"Kok gak pernah cerita Tiss?" ucap Aldino. Seketika Tissa bingung mau jawab apa.


"By the way, kalian lagi deket ya? Eh atau malah udah pacaran?" ucap Daren.


"Eh enggak! Kita cuma teman biasa kok," jawab Tissa.


"Iya bro, cuma teman biasa," jelas Aldino.


Meskipun mendengar pernyataan yang sama, entah kenapa Aurel nampak merasakan hal aneh.


"Jadian juga gak pa-pa kok. Kan sama-sama single," ucap Daren mengkompori keduanya.


Aurel sudah tidak mood. Ia tidak


memakan bubur ayamnya lagi. Sekarang yang di lakukan Aurel adalah memainkan ponselnya.


Aldino dan Daren tetap mengobrol. Tida dengan Tissa dan Aurel. Tiba-tiba ponsel Aldino berbunyi ada sebuah pesan yang masuk. Aldino melihat pesan itu, lalu ia melirik kearah Aurel.


Sayangku.


Jadi, selama gak sama aku. Kamu sama Tissa? Sedekat apa kalian?


Aldino membacanya dari dalam hati. Ia segera membalas pesan Aurel.


Sayang, gak gitu. Nanti aku jelasin semuanya ya. Ini salah paham.

__ADS_1


Aurel tahu, Aldino telah membalas pesannya. Tapi dia lebih memilih untuk tidak membuka pesan itu.


"Rel, kok bubur lo gak di habisin? Kan tadi katanya laper," ucap Daren.


"Gak tahu tiba-tiba kenyang," jawab Aurel.


"Lari lagi aja yuk!" Daren mengerutkan keningnya sembari menatap Aurel.


"Gue gak salah denger kan?" tanya Daren.


"Enggak! Mau enggak?" ucap Aurel.


"Iya-iya mau!" Daren segera bangkit.


"Gimana kalau kita duoble date." Seketika mereka semua saling pandang. "Duoble date?" ucap Tissa.


"Iya lo sama Aldino, gue sama Aurel. Kita lomba lari gimana. Lombanya sambil pegangan tangan tapi, " ucap Daren.


"Eum enggak deh, gue lagi males. Panas soalnya," tolak Tissa. Ia tidak enak dengan Aurel.


"Ayolah Tiss, sesekali gak pa-pa kan?" bujuk Daren.


"Iya Tiss, ikut aja gak pa-pa," sahut Aurel.


Tissa masih diam, menimang ucapan keduanya.


"Oke, lo diam berarti lo setuju," ucap Daren menyimpulkan.


Tissa tidak mampu berkata-kata ia hanya pasrah. Mereka mulai berlari, Aurel tidak fokus pikirannya entah kemana. Yang jelas ia semakin cemburu melihat Aldino dan Tissa.


Apalagi keduanya sedang tertawa bersama. Karena tidak fokus, Aurel menginjak tali sepatunya sendiri. Membuat perempuan itu jatuh di tengah aspal.


"Arghh... " Aurel meringis kesakitan.


"Rel gimana sih kok bisa jatuh," ucap Daren yang juga meringis kesakitan.


"Kaki gue..." ucap Aurel. Kakinya sangat sakit di gerakkan.


"Terkilir pasti," ujar Daren. Daren mencoba memegang kaki Aurel yang sakit.


"Argh! Jangan di pagang!" ucap Aurel.


"Duh makanya kalau jalan itu yang fokus dong, " omel Daren. Tanpa banyak basa-basi. Daren langsung menggendong tubuh Aurel menuju mobil.


Mereka meninggalkan Tissa dan Aldino. Karena Daren juga tidak nampak kehadiran mereka


. "Sakit banget," ucap Aurel.


"Kita ke tempat pijit waktu itu ya. Takutnya nanti bengkak, " ucap Daren. Aurel hanya mengangguk. Daren segera melajukan mobilnya.


***


"Aldino bentar deh," ucap Tissa. Membuat lari mereka terhenti.


"Kenapa Tiss? " tanya Aldino keheranan.


"Kok Aurel sama Daren gak ada di belakang kita. Mereka kemana?" ucap Tissa. Aldino baru menyadarinya.


"Lah iya, gue juga gak tahu," ucap Aldino. "Gue telpon Daren deh. " Aldino langsung menelpon Daren.

__ADS_1


"Ren lo sama Aurel ada dimana?" tanya Aldino.


".... "


"Oh gitu, tapi Aurel gak kenapa-napa, kan?" ucap Aldino


nampak khawatir.


".... "


"Lo bawa dia kemana? Gue samaTissa kesna ya," ucap Aldino.


"..... "


"Oke, jagain Aurel...." ucap Aldino lalu mematikan sambungan telponnya.


"Mereka dimana? Aurel kenapa Al?" tanya Tissa panik.


"Kaki Aurel terkilir. Mereka mau ke tukang pijiat," jawab Aldino.


"Astaga, ada-ada aja tuh anak..." gumam Tissa.


"AI, gue beneran gak enak sama Aurel. Gue takut dia mikir macam-macam ke kita," ucap Tissa mengungkapkan perasaannya.


"Santai Tiss, kalau kita udah jujur yang sebenarnya juga pasti Aurel gak akan marah," ujar Aldino.


Namun tetap saja, Tissa tidak bisa tenang. Ia terus kepikiran. Apalagi mengingat perubahan ekspresi wajah Tissa tadi. Semakin membuat Tissa over thinking.


***


"Arghh sakit.." teriak Aurel. Daren juga meringis, karena Aurel mencengkram tangannya. Dan kebetulan saja kuku-kuku Aurel panjang. Jadi itu sangat menyakitkan baginya.


Sampai akhirnya Aurel selesai di pijit. Ia merasakan kakinya lumayan enak di gerakkan.


"Gimana? Udah lumayan kan?" ucap Daren.


Aurel mengangguk. "Iya, gak sesakit tadi."


"Makasih ya Bu, " ucap Daren. Daren berpamitan untuk pergi.


"Neng itu pacarnya diobatin. Takut infeksi, tadi Non cakarnya keras banget. Kasihan," ucap Ibu tukang pijit.


Sontak Aurel melihat kearah lengan Daren. "Oh, iya bu makasih udah di ingetin."


Keduanya langsung pergi, Daren menuntun Aurel menuju mobil. Saat di dalam mobil, Aurel mencari kotak P3K.


"Cari apa?" tanya Daren yang baru masuk kedalam mobil. Lelaki itu memasang seat belt sembari


mmemperhatikan Aurel.


"P3K, mana?" tanya Aurel. Daren mengambilnya, dan memberikan P3K kepada Aurel.


Aurel menarik lengan Daren. "Duh kenapa bisa gini sih? Lo kenapa gak bilang kalau gue nyakar lo tadi!"


Aurel mengomeli Daren. Mimik wajahnya terlihat sangat panik, dan Daren sangat menyukai itu. Aurel meniup-niup lengan tangan Daren. Meski perih di rasakan Daren, tapi ia tetap menikmatinya.


"Sorry banget gue gak bermaksud buat nyakitin lo gini," ujar Aurel masih merasa bersalah.


"Gak pa-pa, luka sedikit kok," jawab Daren.

__ADS_1


Aurel tertap khawatir. Dan sepertinya Daren sangat senang membuat Aurel khawatir.


__ADS_2