
Drett... drettt... drettt...
Daren mendesah kesal. Ketika ia sudah mau menempelkan bibirnya dengan bibir Aurel malah terdengar suara ponsel yang berdering. Ia menjauhkan wajahnya. Begitu juga Aurel yang langsung canggung. Aurel langsung kabur masuk kedalam kamar.
"Ck, Sella ngapain sih? Ganggu aja!" gumam Daren. Namun meski begitu ia tetap mengangkat telpon dari Sella.
"Halo? Kenapa? Bisa gak sih nelpon-nya nanti aja!" ucap Daren meluapkan kekesalannya.
"Eh maaf Pak, saya cuma mau mengingatkan kalau besok ada jadwal meeting pagi," ucap Sella di seberang sana.
"Iya. Kamu kirim aja jadwalnya ke saya!" ucap Daren sewot.
"L..iya Pak," ucap Sella gugup.
"Udah kan? Saya tutup telponnya,' ucap Daren.
"Eh tunggu sebentar, Pak!" cegah Sella. "Bapak masih sakit? Kalau masih saya punya rekomendasi Dokter Pak. Beliau sudah lama menangani ambien dan
sebagainya." "Ambien?" ucap Daren.
"Iya kata Bu Aurel bapak sakit ambien," ucap Sella. Tidak banyak kata, Daren langsung mematikan telpon Sella secara sepihak.
"Aurel, kenapa lo bilang kalau gue punya ambien sih!" teriak Daren dari ruang tengah. Daren bangkit dan berjalan menuju kamarnya. Namun siapa sangka jika Aurel mengunci pintu kamarnya.
Tok... tok... tok...
"Rel... buka dong... " ucap Daren sembari mengetuk-ngetuk pintu kamar.
"Lo kan tidur di luar!" jawab Aurel dari dalam kamar.
"Yah masa gak boleh tidur di dalam sih," ucap Daren menaruh kepalanya di depan pintu. "Padahal mau ngelanjutin yang tadi."
"Udah kapan-kapan aja!" ucap Aurel sedikit berteriak. Daren berjalan lemas menuju sofa. Ia duduk menatap Dora yang sedang sibuk mencari petanya.
Sementara itu, Aurel menghela nafas. Sembari mengusap dadanya.
"Untung gak jadi tadi... " gumam Aurel. Ia benar-benar tidak bisa membayangkan jika semua itu terjadi.
Aurel berjalan menatap cermin di meja rias. Ia membayangkan jika Daren menciumnya. Seketika ia bergidik ngeri.
"Duh gue gak bisa... " gumam Aurel. Ia memilih untuk tidur dari pada memikirkan hal yang menyeramkan.
***
Pagi hari, Aurel bangun karena mendengar suara alarm. Perempuan itu mengucek matanya. Lalu bangkit berjalan menuju dapur. Aurel melihat Daren yang masih tertidur pulas. Ja memutuskan untuk berjalan mendekat kearah Daren. Mengusap keningnya lembut.
"Gue sama sekali gak nyangka kalau gue nikah sama lo," ucap Aurel lirih sangat lirih. Karena ia tidak mau Daren mendengarnya.
Aurel membenarkan letak selimut Daren. Namun tiba-tiba Daren membuka matanya dan langsung menarik Aurel.
"Selamat pagi..." ucap Daren dengan suara khas bangun tidur.
__ADS_1
"Daren, lepasin. Gue mau bikin sarapan," ucap Aurel.
"Bentar, dulu... " ucap Daren masih terus memejamkan kedua matanya. Aurel diam, tidak bergerak sama sekali.
"Udah siang nanti lo telat kan ada meeting pagi," ucap Aurel mengingatkan. Daren segera melepaskan Aurel dari dekapannya.
"Bisa gak sih? Gak kerja sehari aja. Pengen banget berduaan sama lo... "ucap Daren. Ia telah mengubah posisinya menjadi duduk. Bahkan sekarang lelaki itu menyandarkan kepalanya di bahu Aurel.
"Bisa sih. Lo juga gak akan bangkrut kalau gak kerja sehari," ucap Aurel mencoba melepaskan diri.
Daren mengalah, ia memilih melepaskan pelukannya lagi.
"Rel..." "Apa?"
"Morning kiss... " ucap Daren memonyongkan bibirnya bersiap untuk mencium Aurel.
Aurel langsung menangkap bibir Daren dengan tangannya. "Bau Sikap! Sikat gigi dulu sana!"
Seketika kedua mata Daren yang mengantuk kembali segar mendengar ucapan Aurel.
"Berarti kalau udah gosok gigi mau nih morning kiss?" ucap Daren. Aurel kaget, ia baru menyadari ucapannya.
Seketika perempuan itu menggelengkan kepalanya cepat. Kedua bahu Daren turun, melihat sikap Aurel.
"Udah sana cepat mandi!" ucap Aurel.
"Cium dulu... " ucap Daren menyodorkan pipinya.
"Iyalah, lo kan gak mau kalau cium bibir. Tapi kalau mau ya udah cium bibir gue aja nih," ucap Daren.
"Enggak... enggak... udah pipi aja," ucap Aurel. Daren tersenyum mendengarnya ia langsung menyodorkan pipinya.
Dengan ragu Aurel mencium pipi Daren.
"Lagi dong lagi... iri nih yang sebelahnya," ucap Daren yang juga menyodorkan pipinya. Aurel menurut. Setelah itu dia langsung kabur ke dapur. Karena takut kalau Daren meminta yang aneh-aneh lagi.
***
Pukul setengah delapan. Keduanya sudah siap untuk berangkat kekantor. Aurel nampak buru-buru padahal sangat terlihat jelas jika Daren biasa saja.
"Jangan cepet-cepet dong jalannya!" ucap Daren. Menarik tangan Aurel untuk berjalan di sampingnya. "Udah telat... " ucap Aurel panik.
"Lo lupa? Kan gue bosnya, suami lo..." ucap Daren. Seketika Aurel diam. Mereka masuk kedalam lift. Lagi entah kebetulan atau gimana mereka satu lift dengan Bu Retno.
"Pagi Tante..." sapa Aurel tidak enak. Karena tahu sendiri betapa baiknya Bu Retno dengan Aurel. Aurel melihat Bu Retno yang sudah sangat rapih menenteng kerenjang belanjaannya.
"Pagi Nak Aurel dan Nak Daren..." ucap Bu Retno.
"Tante mau kemana?" tanya Daren ramah.
"Ini mau ke supermarket. Oh iya hari ini hari ulang tahun suami Tante. Tante mau buat makanan buat di bagiin ke tentangga. Aurel bisa bantuin Tante?" ucap Bu Retno.
__ADS_1
"Bisa kok Tan, tapi Aurel kerja dulu gak pa-pa, kan Tan?"
"Gak pa-pa," jawab Bu Retno. "Oh iya jamunya gimana? Udah Diminum?"
Seketika Aurel dan Daren saling melirik. Daren mengangguk ragu, sementara Aurel pura-pura tidak melihat.
"Syukurlah kalau begitu. Mau Tante buatin lagi?" ucap Bu Retno menawarkan. Seketika keduanya menggelengkan kepala masing-masing cepat.
"Gak usah Tante takut ngerepotin," ucap Aurel.
"Eh gak pa-pa. Gak ngerepotin kok. Biar Nak Aurel cepet isi, " ucap Bu Retno. Ting...
Syukurlah pintu lift terbuka, mereka langsung pamit kepada Bu Retno untuk berangkat kerja.
"Gak usah Tante. Kami pamit dulu," ucap Aurel segera menarik tangan Daren untuk pergi dari
hadapan Bu Retno.
***
Aurel dan Daren sudah sampai di kantor. Mereka masuk, telihat Sella yang sudah menunggu keduanya.
"Selamat pagi Pak, client kita Tuan Baharuddin sudah menunggu di ruang meeting," ucap Sella.
"Ya udah saya segera kesana," ucap Daren. "Oh iya Sella, kamu antarkan Aurel ke ruangannya. "
"Baik Pak, mari Bu Aurel saya antarkan... " ucap Sella. Aurel hanya berjalan dibelakang Sella.
Aurel dan Sella berhenti di sebuah ruangan. Ruangan yang cukup nyaman untuk Aurel.
"Terima kasih Bu Sella," ucap Aurel. Sella mengangguk. "Saya permisi dulu Bu."
Sella pergi meninggalkan Aurel. Aurel mengamati ruang kerjanya yang baru. Ia duduk di kursinya. Langsung menyalakan laptop.
Tiba-tiba ada sebuah pesan masuk dari seseorang. Aurel melihatnya ternyata Aldino yang mengirimkan pesan kepadanya. Pesan itu berbunyi, Aku lagi di kantor Daren. Bisa ketemu? Di kantin kantor sekarang.
Aurel menghela nafas, sebentar lalu membalas pesan tersebut. Setelah itu, Aurel berjalan kearah kantin kantor. Aurel sudah tahu letak kantin kantor. Karena waktu itu Daren mangajaknya kesana. Sampai disana, Aurel melihat Daren yang tengah duduk sendirian menikmati kopi. Aurel mendongak kanan kiri. Layaknya sekolah, kantin ini sepi sewaktu jam kerja.
Aurel langsung menghampiri Aldino.
"Sayang... " ucap Aldino akan memeluk Aurel. Namun Aurel menolaknya.
"Jangan sekarang, ini kantornya Daren. Takut ada yang liat," ucap Aurel. Aldino terseyum maklum mendengar penolakan Aurel.
"Ya udah duduk dong," ucap Aldino. Aurel duduk disebelah Aldino. "Aku kangen banget tahu sama kamu. "
Aurel masih diam tidak menjawab ucapan Aldino. Ia merasa tidak aman. Karena sedar tadi ia mendongak kanan kiri takut ada yang melihat mereka berdua.
"Kamu kenapa sih?" ucap Aldino mulai sebal.
"Enggak. Gak pa-pa..." ucap Aurel menatap Aldino. Aurel sedikit mengendus jas Aldino.
__ADS_1
"Kok kamu bau parfum Tissa?" ucap Aurel membuat Aldino kaget.