
"Gimana? Masih ada tikusnya? " tanya Daren ketika melihat Aurel berdiri di ambang pintu.
"Gak ada," jawab Aurel. Perempuan itu berjalan pincang masuk kedalam kamar. Daren mengikuti dari belakang.
"Kalau kaki lo belum sembuh banget, lo besok bisa gak masuk dulu gak pa-pa, " ucap Daren.
"Kan besok gue kerja di kantor lo. Lagian kan kerjanya duduk, " ucap Aurel. "Bosen kalau di apartemen sendiri tuh."
"Ya udah terserah lo deh, mau
lgimana," ucap Daren pasrah.
"By the way Ren, tadi Aldino telpon kan? Katanya gimana?" tanya Aurel. Daren mengerutkan keningnya. "Gimana apanya?"
"Ya dia ngomong apa?" tanya Aurel memperjelas pertanyaannya.
"Dia cuma nanya kita dimana, " jawab Daren.
"Ha? Cuma gitu doang? Lo kasih tahu kondisi gue gak?" tanya Aurel lagi. "Kasih tahu," jawab Daren.
"Dan dia enggak berekspresi apa-apa?" ucap Aurel. Daren menggelengkan kepalanya.
Bahu Aurel merosot. Seketika ia sudah berpikir yang tidak-tidak.
"Kenapa emang?" tanya Daren menatap Aurel heran. "Gak pa-pa," jawab Aurel.
"Apa bener, Tissa sama Aldino punya hubungan spesial di belakang gue?" batin Aurel. Ia
mengingat, malam itu dimana Tissa menasehatinya untuk memaafkan Aldino.
"Woy! Ngelamun lagi!" ucap Daren. Aurel kaget, ia langsung sadar.
"Apaan sih lo!" ucap Aurel sewot.
Daren tahu Aurel sedang bad mood. Jadi ia memilih keluar kamar meninggalkan Aurel sendiri. Aurel mengambil ponselnya mengecek notifikasi. Bahkan Aldino tidak menghubunginya.
"Oke, liat aja nanti!" ucap Aurel.
Daren keluar dari apartemen. Niatnya memang ingin membeli makan siang untuk dirinya dan Aurel namun tiba-tiba ia bertemu dengan Bu Retno di koridor apartemen. "Loh Mas Daren?" ucap Bu Retno.
"Eh siang Tan," ucap Daren sembari tersenyum.
"Mau kemana Mas? Tumben kok istrinya gak di ajak," ucap Bu Retno.
"Mau beli makan Bu. Kebetulan kaki Aurel terkilir jadi gak bisa jalan," ucap Daren.
"Oh begitu, kebetulan Tante masak banyak. Yuk ke rumah Tante aja, " ajak Daren.
"Maaf Tante, gak usah ngerepotin.
__ADS_1
"Gak pa-pa. Tante itu suka masak, tapi gak ada yang makan, mau ya... "ucap Bu Retno memaksa.
Daren tidak enak, karena terus menolak makanan dari Bu Retno. Akhirnya Daren mengiyakan ucapan Bu Retno. Keduanya berjalan masuk kedalam apartemen Bu Retno.
Apartemennya bersih, dan barang-barang juga tertata rapih. Daren melihat sebuah foto besar yang terpampang di sana. Salah satu foto ia melihat ada Bu Retno.
"Tante tinggal sendiri?" tanya Daren mendongak menatap Bu Retno yang sedang menaruh makanan di rantang.
"Iya, suami dan anak Tante sudah meninggal 2017 lalu karena kecelakaan," ucap Bu Retno.
Daren terdiam, merasa kasihan dengan Bu Retno. Di sisa umurnya, beliau hanya tinggalsendiri.
"Ini makanannya," ucap Bu Retno sembari tersenyum.
"Wah, makasih ya Tan, " ucap Daren.
"Iya sama-sama Tante seneng kalau ada yang mau makan masakan Tante," ucap Bu Retno.
"Kalau begitu Daren pulang dulu ya Tan, " ucap Daren berpamitan.
"Iya titip salam buat Aurel ya. Cepat sembuh... " ucap Bu Retno.
Daren mengangguk, ia segera keluar dari apartemen Bu Retno. Dan kembali ke apartemennya. Daren segera menganti rantang dengan piring. Setelah menyiapkan semuanya, barulah ia memanggil Aurel.
Daren membuka pintu kamar, melihat Aurel yang duduk di balkon kamar. Padahal siang ini begitu terik. Tapi Aurel nekat duduk di balkon.
"Rel, ayo makan siang, " ajak Daren.
Daren terdiam sebentar, mendengar ucapan Aurel. Lelaki itu berbalik meninggalkan Aurel sendiri.
Aurel membalikkan tubuhnya. Dan melihat Daren yang berjalan keluar kamar.
"Gue kira, dia bakalan bujuk gue. Tahunya, enggak! Emang ya! Cowok tuh semuanya sama!" ucap Aurel merasa kesal. Aurel menikmati semilir angin lagi. Tiba-tiba tanpa di duga, Daren datang membawa piring berisikan makanan.
"Ayo makan! Gue tahu lo laper. Tadi aja buburnya gak di habisin!" ucap Daren yang sudah duduk di sebelah Aurel.
"A!"
Daren menyuruh Aurel untuk membuka mulutnya lebar. Aurel menurut, ia benar-benar terhipnotis dengan sikap Daren.
"Nah makan yang banyak lo," ucap Daren.
Aurel mengunyahnya, rasa makanannya begitu enak.
"Lo beli dimana? Makanannya? Enak banget," ucap Aurel masih mengunyah namun tetap bertanya. "Gak beli," jawab Daren.
"Gak mungkin sih kalau ini lo yang masak. Lo mau boongin gue? Kayak kemarin, sok-sokan nyiapin breakfast, padahal tetep nasi gorengnya beli," sindir Aurel.
"Kan gue juga gak bilang kalau ini gue yang masak," ucap Daren. Seketika Aurel terdiam, memang benar sih. Daren tidak mengatakan jika dia yang memasak makanan ini.
__ADS_1
"Terus dari siapa?"
"Bu Retno," ucap Daren.
"Tentangga kita itu?" ucap Aurel. Daren mengangguk.
"Gue tadi ketemu sama dia, dia ngasih makanan. Dan katanya nitip salam buat lo. Semoga cepet sembuh, " ucap Daren.
"Baik banget ya beliau, " sambung Daren. Aurel mengangguk setuju.
"Gue speechless denger kalau beliau tinggal sendiri. Anak sama suaminya sudah meninggal lama,' ucap Daren bercerita. Aurel diam menyimak cerita Daren.
"Gak kebayang gimana di masa tua harus sendirian," sambung Daren. Daren menatap Aurel.
"Dan gimana, kalau suatu saat lo ninggalin gue Rel. Apakah masa tua gue akan seperti itu?" batin Daren.
"Lagi dong makannya!" ucap Aurel membuyarkan lamunan Daren. Aurel membuka mulutnya. Daren langsung menyuapi Aurel.
"Enak banget!" ucap Aurel mengunyahnya dengan penuh ekspresi. Daren tersenyum, melihat mood Aurel yang sudah berubah menjadi lebih baik.
"Lo gak makan?" tanya Aurel kepada Daren. "Udah nyobain belum? Ini enak banget loh!"
Aurel mengambil alih sendok di tangan Daren. Dan langsung menyuapi Daren.
"A... ayo buka mulut lo! Gantian lo harus ngerasain betapa enaknya masakan Tante Retno," ucap Aurel. Daren menurut, karena Aurel terus memaksanya.
"Gimana? Enak banget kan?" ucap Aurel meminta pendapat Daren.
"Iya enak... "jawab Daren sedikit grogi, entah karena apa. Yang jelas Daren tidak pernah merasakan
hidupnya sebahagia ini.
***
Aldino cemas, ponselnya lowbat sejak tadi. Padahal ia belum sempat menghubungi Aurel untuk menanyakan keadaanya. Tissa terdiam, sadari tadi ia mengamati
Daren yang seperti kebingungan. "Kenapa Al? " tanya Tissa.
"Ponsel gue lowbat padahal gue mau nelpon Aurel buat nanya keadaannya," ucap Aldino mengungkapkan perasaannya.
"Pake ponsel gue aja," ucap Tissa memberikan ponselnya.
"Jangan, kayaknya Aurel cemburu deh liat kita," ucap Aldino.
Tissa terdiam, memang benar jika dilihat Aurel cemburu dengan kedekatan keduanya. .
"Terus gimana? Gue jauhin lo aja ya," ucap Tissa.
"Ya gak gitu juga kali Tiss, mungkin kalau di depan Aurel kita harus kebih jaga jarak," ucap Aldino.
__ADS_1
Tissa terdiam mendengar ucapan Aldino. Apakah mungkin secara tidak langsung mereka sekarang sedang berselingkuh? Bukankah kedekataan mereka sudah di katakan sebagai perselingkuhan?
"Gimana caranya lepas dari lo Al? Gue takut lambat laun Aurel akan tahu semuanya. Dan persahabatan gue sama Aurel hancur karena ini," batin Tissa.