
Daren tidak fokus dengan client di
depannya. Pikirannya melayang
jauh entah kemana. la terus
memikirkan Aurel yang sedang
bertemu Aldino. Dari mana Daren
tahu? Ia tahu karena tadi sewaktu
di toilet, ia melihat Aurel pergi dari ruangannya.
Daren mengikuti Aurel dan
akhirnya melihat Aurel bersama
Aldino di kantin. Dan ini adalah
sumber pikirannya sekarang.
Semua terpusat kepada Aurel.
"Bagaimana pak Daren?"ucap Tuan Baharuddin.
Daren masih diam melamun
belum sadar dengan pertanyaaan
Tuan Baharuddin. Sella yang
duduk di sebelah Daren pun
menyenggol lengan Daren untuk
menyadarkan lamunannya.
"Eh maaf, saya tidak fokus. Sella
kamu pimpin meeting, saya ada
urusan sebentar," ucap Daren
langsung pergi meninggalkan
ruang meeting.
Karena bagimana pun Aurel lebih
penting dari apapun.
***
Aldino mencium dirinya sendiri. Lalu menatap Aurel.
"Ya kan aku sama Tissa sering bareng."
"Oh iya?" ucap Aurel Aldino mengangguk.
"Terus kamu ngapain kesini?tanya Aurel.
"Sengaja, nemuin kamu," ucap Aldino.
Aurel menatap jam di pergelangan tangannya.
"Aku gak bisa lama-lama deh. Soalnya ini kerja."
"Baru sebentar," ucap Aldino menahan lengan Aurel yang akan pergi akhirnya aurel duduk lagidi tempat semula.di tempat semula.
"Wah halo guys, lagi pada ngapain?" ucap Daren yang barudatang. Daren duduk menyempildi tengah antara Aurel dan Daren.
"Gak baik berduaan nanti yang ketiganya setan," ucap Daren.
"Busaya mau jus jeruk dua. Yang satuekstra gula ya!"
"Lo dong setan," ucap Aldinomelirik Daren kesal.
"Gak ada setan seganteng gue,"balas Daren begitu percaya diri.
Aldino mendengus kesal. Mendengar ucapan Daren. Sementara Aurel sudah tertawa.
"Lo bukannya lah meeting," ucap
Aurel sadar jika Daren sedang
meeting tadi.
"Enggak. Seperti kata lo, gue gak
kerja sehari juga gak akan
bangkrut, " ucap Daren.
Meskipun berkata demikian. Aurel
masih tetap merasa aneh.
Bagimana bisa Daren tahu kalau ia
sedang ada di kantin bersama
Aldino?
Pesanan Daren datang, "Silakan
Pak. Yang ini pake ekstra gula."
Seorang pelayan datang
membawakan pesanan Daren.
"Yang ini buat istri aku tercinta."
Aurel kaget, dengan apa yang di
ucapkan oleh Daren. Namun ia
tetap meminum jus jeruk ekstra
gula.
"Lo gak gerah bro? Mau jus jeruk
juga enggak?" ucap Daren kepada
Aldino.
"Enggak makasih. " Aldino
menjawabnya dengan nada sewot.
"Ah seger banget. Apalagi liat istri
aku yang cantik banget! Jus jeruk
yang asem aja jadi manis," ucap
Daren sembari menatap Aurel
Daren juga sengaja memanasi Aldino.
Aldino membuang muka,engganmelihat keduanya.melihat keduanya.
"Rel, aku pergi dulu ya... " ucap
Aldino setelah benar-benar tidak
tahan dengan semua ini.
Aurel diam, menatap kepergian
Aldino. Tawa Daren pecah setelah
melihat Aldino pergi dari hadapan
mereka.
"Gitu aja udah panas," ucap Daredisela tawanya.
"Lo bener-bener ya malah bolos
meeting!" ucap Aurel mencubitperut Daren.
"Aw... ya dari pada pikiran gue gak fokus mikirin lo yang lagi ketemu sama Aldino, " UcapDaren mengusap perutnya yangtadi dicubit oleh Aurel. mengusap perutnya yangtadi dicubit oleh Aurel.
Aurel menghela nafas mendengarucapan Aurel.
"Ya gak usah di pikirin lah. Kan kita juga gak ngapa-ngapain,"
jawab Aurel sembarimengaduk-aduk jus jeruknya.
"Ya gimana. Gue gak bisa sehariaja gak mikirin lo,"ucap Daren
Aurel menatap Daren yang sedangtersenyum didepannya.
"Nih yasimulasinya. Jidat gue lintasanlari, nah lo lagi lomba lari disitu."
__ADS_1
"Pasti gue kalah. Kan gue males lari," ujar Aurel.
"Kata siapa? Lo selalu menang,"
balas Daren.
"Bahkan lo lomba lari
di antara masalah hidup, dan
pekerjaan gue lo tetap menang. Lo
tetap prioritas gue, kan."
Aurel tertegun mendengan ucapan
Daren.
Sedikit salah tingkah.
Apalagi Daren menatapnya begitu
intens. Daren mendekatkan
wajahnya dengan wajah Aurel.
Sontak Aurel memejamkan kedua
matanya. Entah apa yang ada di
pikiran Aurel saat itu.
Pikirannya semakin liar, saat
merasakan ia hembusan nafas
Daren yang menerpa permukaan
kulitnya.
"Cie ngarep di cium, ya!" goda
Daren Aurel masih diam, berada di
bawah alam sadarnya. la belum
sadar dengan ucapan Daren,
namun sedetik kemudian Aurel
sadar. Hal ini tentu saja membuat
Aurel mengamuk tidak terima.
"Daren lo nyebelin banget
sumpah!" teriak Aurel. Sementara
Daren yang sedang berlari tertawa
mendengar teriakan Aurel.
Aurel mengejarnya, tidak terima
diperlakukan seperti itu. Layaknya
seorang anak kecil yang bermain
kejar-kejaran di koridor sekolah.
Bedanya mereka sekarang berada
di kantor. Dan menjadi tontonan orang-orang sekitar.
Aurel terus berlari mengejar
Daren. Sampai akhirnya Aurel
dapat menarik ujung jas Daren.
Dan Daren menghentikan
langkahnya.
"Nyebelin banget sih!" Keduanya
belum sadar kalau menjadi pusat
perhatian.
jawab Daren. Aurel melepaskan
tangannya dari jas Daren.
Keduanya mulai sadar, akan
puluhan pasang nata yang tengah
menatap mereka.
Seketika Aurel ingin menghilang
dari bumi sekarang juga. la
menepuk-nepuk tangan Daren.
Lalu manarik Daren pergi dari
ruangan karyawan itu.
"Kenapa sih?" ucap Daren setelah
mereka menjauh dari ruang
karyawan.
"Lo gak malu apa? Kita di liatin
gitu sama mereka?" ucap Aurel.
"Ngapain malu," jawab Daren
dengan santinya. Mendengar
jawab Daren, Aurel tidak habis
pikir.
"Udah sana balik ke ruang
meeting!" ucap Aurel mengusir
Daren.
"Gak mau, maunya sama lo," Rengek Daren bak anak kecil yangtidak mau di tunggal ibunya.tidak mau di tunggal ibunya.
"Kerja!" ucap Aurel lebih tegas.
Daren menghela nafas. "Janji gak
ketemuan sama Aldino lagi kan?"
Kini Aurel yang menghela nafas
panjang.
"Iya janji sana balik ke
ruang meeting sana!"
Daren tersenyum nendengarnya.
Dengan jurus seribu bayangan
lelaki itu mencuri satu ciuman di
pipi Aurel. Lalu ia lari, sebelum
Aurel menyadarinya.
"Daren!" teriak Aurel setelah
menyadarinya. Daren tertawa,
teriakan Aurel begitu merdu di telinganya.
Untung saja koridorkantor sepi, tidak ada yang melihat
mereka.
***
Aldino kesal, karena Daren yang
tadi memanasinya. la menghela
nafas, merasakan perubahaan
__ADS_1
Aurel yang sudah pesat. Lalu
apakah Aurel sudah tidak
mencintainya? Dan berbalik
mencintai Daren?
Aldino menghala nafas. Apakah ia
bisa terima kenyataan kalau pada
akhirnya Aurel memilih Daren?
Dia juga sebenarnya bingung
dengan dirinya sendiri. Kenapa bisa mencintai dua orang sekaligus. Aldino tidak ingin kehilangan Aurel, juga Tissa.
la merasa dirinya begitu jahat.
Karena telah menghancurkan
persahabatan keduanya. Jika ada
yang harus disalahkan memang
Aldino lah yang harus di salahkan.
Bukan Tissa ataupun Aurel.
"Gue salah, udah mempermainkan
mereka. Lebih baik gue harus
segera memilih siapa yang
sebenarnya gue inginkan. Sebelum
gue kehilangan keduanya," ucap
Aldino kepada dirinya sendiri.
***
Jam makan siang di kantor Daren untuk pertama kalinya. Ah bukan,harusnya ini yang kedua. Tapi
waktu itu kan gagal, gara Aurel
dan Daren terjebak di lift.
Aurel lapar, tapi dia malu untuk
keluar ruangan. Akibat
perbuatannya dengan Daren tadi.
"Gue pesen gofood aja kali ya?"
gumam Aurel. Aurel mengambil
ponselnya.
"Sayang!" ucap Daren yang
menyelong masuk kedalam
ruangan Aurel. Aurel. Memutar
kursinya nmenghadap ke tembok. la
masih kesal dengan Daren.
"Ayo makan siang, nanti lo sakit.Lo kan punya asam lambung,"ucap Daren. Daren masih ingat
betul akan hal itu.
Aurel masih diam, Daren merasa
di cueki. Lelaki itu memutar kursi
Aurel 18o derajat. Agar Aurel
melihat kearahnya.
"Rel, ayo makan di kantin ada nasi
kuning yang enak banget," ucap
Daren.
"Males, gue malu mau keluar,"
jawab Aurel tanpa melihat Daren.
"Loh, kenapa malu?" ucap Daren.
"Aurel ayolah...
"Gak mau!" ucap Aurel masih teguh dengan pendiriannya."Ayolah. Laper, nih si ayang gak
mau di ajak makan! Kalau aku
mati gimana? Nanti ayang gak bisa
hidup tanpa aku," ucap Daren sok
dramatis.
Kalimat itu begitu alay ditelinga
Aurel.
"Ayang... " ucap Daren.
"Udah! Jijik gue dengernya!" ucap
Aurel.
"Ya udah gini aja. Kita main
gunting, batu, kertas kaya dulu.
Yang kalah harus nurutin
kemauan yang menang, ucapDaren.
Aurel diam sebentar" Oke, guesetuju!"setuju!"
Aurel begitu percaya diri untuk
memainkannya. Karena dulu
mereka selalu memainkan
permainan ini, dan dia selalu
menang. Jadi Aurel tidak perlu
khawatir untuk kalah.
"Gunting batu kertas!" Aurel
memasang gunting, sementara
Daren kertas. Jelas menang Aurel.
"Lagi kan harus tiga kali," ucap
Daren. Aurel menurut.
"Gunting batu kertas!" Aurel
memasang kertas sementara daren
batu. Jadi Daren pemenangnya.
"Imbang, sekali lagi ya... "
"Gunting batu kertas...
Aurel memasang gunting,
sementara Daren batu. Jadi
pemenangnya adalah Daren.
"Yes! Gue manang!" ucap Daren
bersorak gembira.
"Oke apa permintaan lo. Jangan
aneh-aneh ya!" ucap Aurel. Kesal
karena tidak biasanya ia kalah.
"Permintaan gue...
__ADS_1