MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
GUNTING BATU KERTAS


__ADS_3

Daren tidak fokus dengan client di


depannya. Pikirannya melayang


jauh entah kemana. la terus


memikirkan Aurel yang sedang


bertemu Aldino. Dari mana Daren


tahu? Ia tahu karena tadi sewaktu


di toilet, ia melihat Aurel pergi dari ruangannya.


Daren mengikuti Aurel dan


akhirnya melihat Aurel bersama


Aldino di kantin. Dan ini adalah


sumber pikirannya sekarang.


Semua terpusat kepada Aurel.


"Bagaimana pak Daren?"ucap Tuan Baharuddin.


Daren masih diam melamun


belum sadar dengan pertanyaaan


Tuan Baharuddin. Sella yang


duduk di sebelah Daren pun


menyenggol lengan Daren untuk


menyadarkan lamunannya.


"Eh maaf, saya tidak fokus. Sella


kamu pimpin meeting, saya ada


urusan sebentar," ucap Daren


langsung pergi meninggalkan


ruang meeting.


Karena bagimana pun Aurel lebih


penting dari apapun.


***


Aldino mencium dirinya sendiri. Lalu menatap Aurel.


"Ya kan aku sama Tissa sering bareng."


"Oh iya?" ucap Aurel Aldino mengangguk.


"Terus kamu ngapain kesini?tanya Aurel.


"Sengaja, nemuin kamu," ucap Aldino.


Aurel menatap jam di pergelangan tangannya.


"Aku gak bisa lama-lama deh. Soalnya ini kerja."


"Baru sebentar," ucap Aldino menahan lengan Aurel yang akan pergi akhirnya aurel duduk lagidi tempat semula.di tempat semula.


"Wah halo guys, lagi pada ngapain?" ucap Daren yang barudatang. Daren duduk menyempildi tengah antara Aurel dan Daren.


"Gak baik berduaan nanti yang ketiganya setan," ucap Daren.


"Busaya mau jus jeruk dua. Yang satuekstra gula ya!"


"Lo dong setan," ucap Aldinomelirik Daren kesal.


"Gak ada setan seganteng gue,"balas Daren begitu percaya diri.


Aldino mendengus kesal. Mendengar ucapan Daren. Sementara Aurel sudah tertawa.


"Lo bukannya lah meeting," ucap


Aurel sadar jika Daren sedang


meeting tadi.


"Enggak. Seperti kata lo, gue gak


kerja sehari juga gak akan


bangkrut, " ucap Daren.


Meskipun berkata demikian. Aurel


masih tetap merasa aneh.


Bagimana bisa Daren tahu kalau ia


sedang ada di kantin bersama


Aldino?


Pesanan Daren datang, "Silakan


Pak. Yang ini pake ekstra gula."


Seorang pelayan datang


membawakan pesanan Daren.


"Yang ini buat istri aku tercinta."


Aurel kaget, dengan apa yang di


ucapkan oleh Daren. Namun ia


tetap meminum jus jeruk ekstra


gula.


"Lo gak gerah bro? Mau jus jeruk


juga enggak?" ucap Daren kepada


Aldino.


"Enggak makasih. " Aldino


menjawabnya dengan nada sewot.


"Ah seger banget. Apalagi liat istri


aku yang cantik banget! Jus jeruk


yang asem aja jadi manis," ucap


Daren sembari menatap Aurel


Daren juga sengaja memanasi Aldino.


Aldino membuang muka,engganmelihat keduanya.melihat keduanya.


"Rel, aku pergi dulu ya... " ucap


Aldino setelah benar-benar tidak


tahan dengan semua ini.


Aurel diam, menatap kepergian


Aldino. Tawa Daren pecah setelah


melihat Aldino pergi dari hadapan


mereka.


"Gitu aja udah panas," ucap Daredisela tawanya.


"Lo bener-bener ya malah bolos


meeting!" ucap Aurel mencubitperut Daren.


"Aw... ya dari pada pikiran gue gak fokus mikirin lo yang lagi ketemu sama Aldino, " UcapDaren mengusap perutnya yangtadi dicubit oleh Aurel. mengusap perutnya yangtadi dicubit oleh Aurel.


Aurel menghela nafas mendengarucapan Aurel.


"Ya gak usah di pikirin lah. Kan kita juga gak ngapa-ngapain,"


jawab Aurel sembarimengaduk-aduk jus jeruknya.


"Ya gimana. Gue gak bisa sehariaja gak mikirin lo,"ucap Daren


Aurel menatap Daren yang sedangtersenyum didepannya.


"Nih yasimulasinya. Jidat gue lintasanlari, nah lo lagi lomba lari disitu."

__ADS_1


"Pasti gue kalah. Kan gue males lari," ujar Aurel.


"Kata siapa? Lo selalu menang,"


balas Daren.


"Bahkan lo lomba lari


di antara masalah hidup, dan


pekerjaan gue lo tetap menang. Lo


tetap prioritas gue, kan."


Aurel tertegun mendengan ucapan


Daren.


Sedikit salah tingkah.


Apalagi Daren menatapnya begitu


intens. Daren mendekatkan


wajahnya dengan wajah Aurel.


Sontak Aurel memejamkan kedua


matanya. Entah apa yang ada di


pikiran Aurel saat itu.


Pikirannya semakin liar, saat


merasakan ia hembusan nafas


Daren yang menerpa permukaan


kulitnya.


"Cie ngarep di cium, ya!" goda


Daren Aurel masih diam, berada di


bawah alam sadarnya. la belum


sadar dengan ucapan Daren,


namun sedetik kemudian Aurel


sadar. Hal ini tentu saja membuat


Aurel mengamuk tidak terima.


"Daren lo nyebelin banget


sumpah!" teriak Aurel. Sementara


Daren yang sedang berlari tertawa


mendengar teriakan Aurel.


Aurel mengejarnya, tidak terima


diperlakukan seperti itu. Layaknya


seorang anak kecil yang bermain


kejar-kejaran di koridor sekolah.


Bedanya mereka sekarang berada


di kantor. Dan menjadi tontonan orang-orang sekitar.


Aurel terus berlari mengejar


Daren. Sampai akhirnya Aurel


dapat menarik ujung jas Daren.


Dan Daren menghentikan


langkahnya.


"Nyebelin banget sih!" Keduanya


belum sadar kalau menjadi pusat


perhatian.


jawab Daren. Aurel melepaskan


tangannya dari jas Daren.


Keduanya mulai sadar, akan


puluhan pasang nata yang tengah


menatap mereka.


Seketika Aurel ingin menghilang


dari bumi sekarang juga. la


menepuk-nepuk tangan Daren.


Lalu manarik Daren pergi dari


ruangan karyawan itu.


"Kenapa sih?" ucap Daren setelah


mereka menjauh dari ruang


karyawan.


"Lo gak malu apa? Kita di liatin


gitu sama mereka?" ucap Aurel.


"Ngapain malu," jawab Daren


dengan santinya. Mendengar


jawab Daren, Aurel tidak habis


pikir.


"Udah sana balik ke ruang


meeting!" ucap Aurel mengusir


Daren.


"Gak mau, maunya sama lo," Rengek Daren bak anak kecil yangtidak mau di tunggal ibunya.tidak mau di tunggal ibunya.


"Kerja!" ucap Aurel lebih tegas.


Daren menghela nafas. "Janji gak


ketemuan sama Aldino lagi kan?"


Kini Aurel yang menghela nafas


panjang.


"Iya janji sana balik ke


ruang meeting sana!"


Daren tersenyum nendengarnya.


Dengan jurus seribu bayangan


lelaki itu mencuri satu ciuman di


pipi Aurel. Lalu ia lari, sebelum


Aurel menyadarinya.


"Daren!" teriak Aurel setelah


menyadarinya. Daren tertawa,


teriakan Aurel begitu merdu di telinganya.


Untung saja koridorkantor sepi, tidak ada yang melihat


mereka.


***


Aldino kesal, karena Daren yang


tadi memanasinya. la menghela


nafas, merasakan perubahaan

__ADS_1


Aurel yang sudah pesat. Lalu


apakah Aurel sudah tidak


mencintainya? Dan berbalik


mencintai Daren?


Aldino menghala nafas. Apakah ia


bisa terima kenyataan kalau pada


akhirnya Aurel memilih Daren?


Dia juga sebenarnya bingung


dengan dirinya sendiri. Kenapa bisa mencintai dua orang sekaligus. Aldino tidak ingin kehilangan Aurel, juga Tissa.


la merasa dirinya begitu jahat.


Karena telah menghancurkan


persahabatan keduanya. Jika ada


yang harus disalahkan memang


Aldino lah yang harus di salahkan.


Bukan Tissa ataupun Aurel.


"Gue salah, udah mempermainkan


mereka. Lebih baik gue harus


segera memilih siapa yang


sebenarnya gue inginkan. Sebelum


gue kehilangan keduanya," ucap


Aldino kepada dirinya sendiri.


***


Jam makan siang di kantor Daren untuk pertama kalinya. Ah bukan,harusnya ini yang kedua. Tapi


waktu itu kan gagal, gara Aurel


dan Daren terjebak di lift.


Aurel lapar, tapi dia malu untuk


keluar ruangan. Akibat


perbuatannya dengan Daren tadi.


"Gue pesen gofood aja kali ya?"


gumam Aurel. Aurel mengambil


ponselnya.


"Sayang!" ucap Daren yang


menyelong masuk kedalam


ruangan Aurel. Aurel. Memutar


kursinya nmenghadap ke tembok. la


masih kesal dengan Daren.


"Ayo makan siang, nanti lo sakit.Lo kan punya asam lambung,"ucap Daren. Daren masih ingat


betul akan hal itu.


Aurel masih diam, Daren merasa


di cueki. Lelaki itu memutar kursi


Aurel 18o derajat. Agar Aurel


melihat kearahnya.


"Rel, ayo makan di kantin ada nasi


kuning yang enak banget," ucap


Daren.


"Males, gue malu mau keluar,"


jawab Aurel tanpa melihat Daren.


"Loh, kenapa malu?" ucap Daren.


"Aurel ayolah...


"Gak mau!" ucap Aurel masih teguh dengan pendiriannya."Ayolah. Laper, nih si ayang gak


mau di ajak makan! Kalau aku


mati gimana? Nanti ayang gak bisa


hidup tanpa aku," ucap Daren sok


dramatis.


Kalimat itu begitu alay ditelinga


Aurel.


"Ayang... " ucap Daren.


"Udah! Jijik gue dengernya!" ucap


Aurel.


"Ya udah gini aja. Kita main


gunting, batu, kertas kaya dulu.


Yang kalah harus nurutin


kemauan yang menang, ucapDaren.


Aurel diam sebentar" Oke, guesetuju!"setuju!"


Aurel begitu percaya diri untuk


memainkannya. Karena dulu


mereka selalu memainkan


permainan ini, dan dia selalu


menang. Jadi Aurel tidak perlu


khawatir untuk kalah.


"Gunting batu kertas!" Aurel


memasang gunting, sementara


Daren kertas. Jelas menang Aurel.


"Lagi kan harus tiga kali," ucap


Daren. Aurel menurut.


"Gunting batu kertas!" Aurel


memasang kertas sementara daren


batu. Jadi Daren pemenangnya.


"Imbang, sekali lagi ya... "


"Gunting batu kertas...


Aurel memasang gunting,


sementara Daren batu. Jadi


pemenangnya adalah Daren.


"Yes! Gue manang!" ucap Daren


bersorak gembira.


"Oke apa permintaan lo. Jangan


aneh-aneh ya!" ucap Aurel. Kesal


karena tidak biasanya ia kalah.


"Permintaan gue...

__ADS_1


__ADS_2