
"Bagus kan kalung gue?" ucap
Aurel.
Daren diam, mengalihkan pangannya. "Kalau Aurel udah pake kalung ini itu tandanya dia juga udah baca surat itu," batin
Daren.
"Lo dari mana?" tanya Daren
mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa Daren gak nanyain kalung ini? Kenapa malah ngalihin
pembicaraan," batin Aurel.
"Dari rumah Mama," jawab Aurel
masih menatap Daren.
"Lo gak mau ngomong sesuatu
gitu?" pancing Aurel
"Enggak ngomong apa?" ucap Daren seakan tidak perduli. Hal ini
membuat Aurel kesal.
"Minggir ah! Gue mau mandi, gerah!" Aurel menerobos masuk kedalam kamar. Lalu mengunci
pintu kamar.
"Sialan! Gue kira dia bakalan
notice, tapi ternyata enggak! Nyebelin banget sih!" gumam
Aurel dari balik pintu.
"Tapi kenapa Daren diam aja ya?
Apa dia lupa sama kalung ini? Ah
gak mungkin deh kalau dia lupa."
Dengan kesal, Aurel melangkah
menuju kamar mandi.
xx
"Siapa yang nelpon?" tanya Aldino begitu Daren mematikan
ponselnya.
"Daren, nanyain Aurel," jawab
Tissa sembari duduk di kursi meja
makan.
"Aurel kenapa? Dia baik-baik aja kan?" ucap Aldino. Tissa diam,
mengamati ekspresi wajah Aldino.
"Eum, Aurel belum pulang..."
jawab Tissa lirih.
"Dan Daren gak tahu Aurel pergi
kemana?" tanya Aldino lagi. Tissa mengangguk.
"Duh gimana sih, dia bisa gak sih jaga Aurel. Kalau Aurel di culik atau kenapa-napa gimana..." gumam Aldino. Namun Tissa
dapat mendengarnya dengan jelas.
Kekhawatiran Aldino kepada Aurel begitu membuat Tissa cemburu. Tissa tahu Aldino bukan siapa-siapanya. Dan Tissa sangat sadar dengan posisinya sekarang. Tapi bolehkan Tissa cemburu?
Dengan apa yang bukan haknya.
"Aldino... " ucap Tissa membuat Aldino menatapnya. "Lo serius sama gue gak? Lo ada perasaan kan sama gue?"
__ADS_1
Aldino diam menatap Tissa. Ia sendiri juga bingung dengan perasaannya.
"Al, jawab gue... gue juga butuh kejelasan tentang semua ini, " desak Tissa.
"Gue nyaman sama lo Tissa. Lo selalu ada buat gue," ucap Aldino.
"Cuma nyaman doang? Oh atau perasaan lo sebenarnya itu cuma karena kasihan sama gue? Iya?" ucap Tissa, entah kenapa saat
mengucapkannya dada Tissa terasa nyeri. Membayangkan jika semua itu benar.
"Bukan gitu, maksud gue Tissa... ' ucap Aldino tidak mampu berkata-kata.
"Terus apa? "
"Gue sayang sama lo. Kalau lo gak percaya kenapa gue rela bayar Steven 500.000.000 buat lo?"
Seketika Tissa diam.
"Kita pacaran?" ucap Tissa menatap Aldino. Aldino mengangguk.
"Aurel gimana? Nanti ngomong sama Aurel gimana?" ucap Tissa lagi.
"Biar gue yang ngomong ke Aurel. Aurel juga gak pernah ada waktu buat gue," ucap Aldino. Entah, Aldino juga tidak dapat menyimpulkan perasaannya kepada Aurel.
Ia sayang keduanya. Dan juga tidak mau kehilangan keduanya. Egois memang, tapi memang itu yang dirasakan oleh Aldino.
***
Suasana di meja makan apartemen Daren hening. Keduanya nampak canggung untuk sekedar mengobrol.
"Rel..."
"Ren..."
Mereka mengucapkanya secara bersamaan.
"Lo duluan deh," ucap Aurel. Menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Gak jadi... " ucap Daren. "Lo tadi mau ngomong apa?"
"Gak jadi juga," jawab Aurel. Aurel kecewa dengan jawaban Daren tadi.
"Yah jangan gitu dong," ucap Daren. "Ngomong aja lo mau
Daren diam. Hingga akhirnya ia
bisa mengatakannya.
"Kenapa lo pake kalung itu?" tanya Daren. Aurel diam, memengang
kalung tersebut.
"Kenapa emang? Gak boleh? Kan kalung ini buat gue," ucap Aurel
menatap Daren.
"Bukan gitu maksud gue. Kenapa baru sekarang pakenya?" ucap
Daren memperjelas ucapannya.
"Mungkin karena, gue baru maafin
lo," ucap Aurel lirih. Daren langsung paham dengan apa yang di ucapkan oleh Aurel. Aurel menatap Daren di depannya. Begitu juga Daren, mereka saling
pandang.
"Maafin gue, gue udah buat bad memori di kehidupan lo," ucap
Daren begitu tulus.
"Gue udah lupain semuanya," ucap Aurel. "Malam itu lo datang ke taman? Sebenarnya apa yang mau
lo katakan malam itu di taman?"
"Lo udah baca semua isi suratnya? "tanya Daren. Aurel mengangguk. "Iya, malam itu gue datang ke
taman. Nunggu lo, tapi lo gak
datang juga. "
Daren tertawa miris.
__ADS_1
"Jujur, gue tahu kalung ini dari Sofi. Dia yang ngasih tahu dan tadi gue nyari kado yang sempat gue
buang," ucap Aurel. "Buang? "
Aurel mengangguk, "Gue benci banget sama lo waktu itu. Gue nyuruh Bi Darmi buat buang kado
itu. Eh taunya masih di simpen
sama Bi Darami."
"Lo mau tahu apa yang gue mau
omongin waktu itu?" ucap Daren.
Aurel menunggu Daren untuk
cerita semuanya.
"Gue mau jujur tentang perasaan gue ke lo," ucap Daren akhirnya ia
mampu mengatakannya.
"Perasaan?"
"Gue cinta sama lo Rel... " ucap
Daren menatap Aurel begitu lekat.
Aurel diam sebentar, lalu tiba-tiba ia tertawa mendengar pengakuan dari Daren. "Oke lo gak mungkin cinta sama gue, kan? Lo pasti lagi siapin rencana buat nge-prank gue
lagi..."
"Ini lucu banget sumpah,"
Msambung Aurel masih tertawa.
"Gue gak bercanda Rel, gue beneran. Oke memang keliatannya ini kayak bercanda di lo kan? Tapi apa lo tahu? Selama hampir 10 tahun gue pendam perasaan ini?"
Seketika Aurel menghentikan tawanya.
"Lo serius?" ucap Aurel menatap Daren lebih dekat.
"Kan gue bilang gue gak bercanda," ucapnya.
"Suka sama gue? Sejak 10 tahun lalu? " ucap Aurel memperjelas semuanya.
"Iya, gak percaya?"
Aurel menggelengkan kepalanya cepat. "Mau bukti apa?" ucap Daren.
"Kenapa lo nyebelin? Kenapa lo suka buat gue kesal? Kenapa lo gak pernah nunjukin kalau lo suka sama gue? Dan kenapa lo nolak gue waktu itu?" cerca Aurel
dengan beberapa pertanyaan.
"Buset semua di tanyain, satu-satu kali... " ucap Daren kaget dengan pertanyaan Aurel.
"Jawaban untuk pertanyaan pertama, karena mungkin sifat asli gue emang jahil jadi di mata lo gue nampak begitu menyebalkan.Terus pertanyaan kedua kepada suka buat kesal, ya karena liat lo kesal itu buat gue senang. Kayak lo bakalan nambah cantik kalau kesal."
"Mana ada kayak gitu?" ucap Aurel sewot.
"Tuh kan kalau kesal, cantik banget!"
Ucapan Daren membuat Aurel salting (salah tingkah). "Next... " ucap Aurel.
"Gue sebenarnya udah nunjukin perasaan gue. Lo tahu kan Rel, setiap orang punya cara masing-masing buat mencintai seseorang. Dan mungin cara gue dengan jahil dan buat lo kesal," ucap Daren.
Lagi, Aurel di buat salting dengan sikap Daren. Aurel ingat betul, bagaimana dengan Daren yang selalu ada untuknya. Salah satu hal yang ia ingat adalah ketika Aurel tidak membawa buku PR dia harus di hukum menghadap tiang bendera. Namun ia tidak sendiri, ia bersama Daren.
Waktu itu Aurel tahu kalau Daren membawa buku PR. tapi entah kenapa ia tidak mengumpulkan buku tersebut. Dan malah ikut berjemur bersamanya.
"Dan untuk yang terakhir, kenapa gue nolak lo. Itu karena, gue gak mau lo confess duluan ke gue. Lo cewek, jujur gue ngerasa malu. Karena lo berani mengakui perasan lo sementara gue enggak."
Aurel mengedipkan matanya beberapa kali. Masih tidak menyangka bahwa Daren ternyata menyukainya.
Daren mengambil tangan Aurel lalu menggenggamnya.
"Rel, rasa itu utuh.... sampai sekarang... " ucap Daren.
Aurel diam, belum menjawab ucapan Daren.
"Gue paham lo masih syok dan kaget. Tapi ini yang mau gue katakan malam itu," ucap Daren lagi mencoba mengerti Aurel. "Dan gue harap, perasaan lo masih sama kayak dulu. Lo masih ada rasa sama gue kan? "
__ADS_1
Aurel diam, tidak tahu harus menjawab apa.