
...~Happy Reading~...
Dua hari sejak perdebatan antara Raka dan Ryana. Hingga kini, Winda masih tetap bekerja di rumah Raka. Bukan berarti Raka membohongi Ryana. Hanya saja, Winda meminta tiga hari lagi untuk bisa bekerja di sana.
Karena saat ini, mbok Si masih berada di luar kota bersama dengan mama Naura dan Arga. Jadilah Winda masih harus di sana, menunggu di jemput oleh ibu nya.
Ryana juga tidak mempermasalahkan nya, Raka sudah mau mendengarkan dirinya saja, bagi Ryana cukup. Ia juga masih punya perasaan untuk bersikap kasihan kepada Winda. Hanya saja jika terlalu lama dirinya juga tidak akan sanggup, akan tetapi jika hanya beberapa hari, its not.
Tok... tok.. tok...
"Non Ryana, ada tamu," ucap Winda saat mengetuk pintu kamar Ryana.
Cklek!
"Siapa Win?" tanya Ryana saat sudah membuka pintu kamar nya.
Untuk beberapa saat, Winda terdiam. Ia menatap Ryana dengan tatapan yang sulit di mengerti. Ia melihat Ryana dari atas hingga bawah, membuat dahi Ryana langsung berkerut karena heran.
"Win," tegur Ryana lagi, dan kini entah mengapa ia merasa sedikit risih saat di tatap seperti itu
__ADS_1
"Hemm saya tidak tahu Non. Katanya mau bertemu sama Non Ryana, kalau begitu saja turun duluan ya Non, mau buat minum," ujar Winda menunduk sopan, lalu segera pergi meninggalkan Ryana.
"Siapa sih?" gumam Ryana pelan. Sebelum ia turun, ia kembali terlebih dulu ke dalam kamar untuk mengambil ponsel.
Sepanjang jalan menuju ruang tamu, Ryana masih terus berpikir kira kira siapa tamu yang datang untuk menemui nya siang siang seperti ini. Karena jika kedua sahabat nya itu tidak mungkin, mereka sedang kuliah.
Sreettr!
Brukkk!
"Aaaaaaaaaa!!!" Teriakan Ryana begitu melengking saat dengan tiba tiba kaki nya terpleset di tengah tangga. Membuat nya berguling dan berseluncur bebas hingga lantai satu.
"Windaaaaa!" teriak Ryana sekuat tenaga sambil menahan rasa sakit di perut nya.
"Winda tolongg!" teriak Ryana lagi namun gadis itu sama sekali tidak terlihat atau segera menghampiri nya.
"Daddy hiks hiks hik, tolong Ryana, hiks!" Dengan sekuat tenaga, Ryana berusaha untuk meraih ponsel nya. Tapi ternyata begitu sulit dan terasa sangat jauh.
Rasa sakit yang ia rasakan sudah tidak bisa lagi untuk di tahan. Namun ia masih berusaha dan berusaha hingga pada akhirnya ia berhasil meraih ponsel tersebut.
__ADS_1
Ia menghubungi nomor Raka, hingga beberapa kali, namun tidak terjawab. Hingga saat dirinya hampir kehilangan ke sadaran, Raka baru mengangkat panggilan telfon nya.
"Halo Sayang, aku baru selesai meeting. Ma—"
"R—Raka hiks s—selamatkan anak anak,"
Deg!!
Mendengar suara rintihan yang begitu lirih dari istrinya, seketika membuat tubuh Raka langsung menegang.
"Halo, Sayang kamu dimana? Kamu kenapa?" tanya Raka yang langsung bergegas lari menuju ruangan kerja nya untuk mengambil kunci mobil.
"T—tolong hiks hiks, anak kita aaarrrrkkkkkkhhhh!" teriakan Ryana di akhir membuat perasaan Raka semakin kacau dan tak terkendali.
"Sayang! Ryana! Ryana plis kamu kenapa?" tanya Raka setengah berteriak sambil berlari.
"Raka, kamu mau kemana?" tanya papa Kenzo yang ternyata sudah berada di dalam lift hendak turun.
"R—Ryana Pa, Ryana... Raka harus pulang!" ujar Raka dengan tubuh bergetar dan mata berkaca kaca.
__ADS_1
"Biar Papa antar!" Papa Kenzo segera mengambil kunci mobil di tangan anak nya untuk ia setir, karena ia khawatir saat melihat Raka panik dan khawatir seperti itu, maka akan bahaya nanti nya. Walau sebenarnya, ia sendiri juga tidak tahu dengan apa yang terjadi kepada menantu nya.
...~To be continue......