
...~Happy Reading~...
"Sayang nya, Ayah. Kalian sedang apa? Jangan nakal yah, kasihan bunda. Tuh bunda nya lemes lagi kan gara gara muntah. Kita gagal main deh," gumam Raka sambil mengusap perut besar istri nya.
Kini, keduanya sudah berada di dalam kamar. Dan seperti biasa, saat menjelang tidur, pasti Raka akan berbicara dengan ketiga anak nya.
"Tadi siang udah Ka!" balas Ryana dengan cepat dengan sedikit kesal.
"Tadi siang cuma sebentar Sayang, itu cuma cemilan," rengek Raka memanyunkan bibir persis seperti anak kecil yang meminta permen ibu nya namun tidak di kasih.
"Cemilan apanya! Aku aja ampe beberapa kali gitu, kamu bilang cemilan. Kamu pikir gak capek apa!" saut Ryana dengan cepat.
"Ya kan kamu, Yank. Aku cuma sekali doang, gak adil kan?" kata Raka seketika membuat mata Ryana membola dan rasa ingin menghajar suaminya semakin besar.
"Kau keluar berkali kali, sana ke kamar mandi." cetus Ryana lalu ia seger berbalik dan memunggungi suami nya dengan perasaan yang semakin kesal.
Raka langsung menghela napas nya berat, "Kenapa malah kamu yang marah sih. Kan aku yang gak di kasih jatah," rengek Raka mencoba memeluk Ryana dari belakang.
__ADS_1
"Tau ah, kepala ku pusing Ka. Lagi gak mau bercanda apalagi debat, mood ku lagi gak bagus. Mending kamu tidur, besok kamu banyak pekerjaan!" ucap Ryana memejamkan mata.
Dirinya sedang berusaha untuk selalu berfikir positif. Dia tidak mau menyimpan luka terlalu jauh. Dan ia berfikir ini hanya sebuah kesalahpahaman. Hatinya masih terkejut dan belum siap untuk menerima serpaan angin dalam rumah tangga nya.
"Sayang... " panggil Raka, "Sayang, kamu udah tidur?" tanya Raka mencoba mengguncang badan Ryana dengan pelan, namun sudan tidak mendapatkan pergerakan atau perlawanan apapun.
"Cepet banget sih tidur nya? Kamu pasti capek ya? Maafin aku ya," bisik Raka pelan di telinga Ryana, lalu ia segera mengecup pipi, kening serta bibir Ryana dengan gemas.
Raka yang hendak ikut tidur, namun tidak bisa memejamkan mata. Akhirnya memutuskan untuk keluar guna membuat kopi sambil membawa ponsel nya ke bawah.
Sementara itu, Ryana yang memang beli tidur hanya pura pura memejamkan mata. Kini kembali membuka mata saat mendengar suara pintu kamar yang terbuka.
Perasaan nya sungguh sedang tidak baik baik saja. Dan ia sangat benci dengan perasaan nya sendiri.
Ryana sudah berusaha untuk bersikap normal, baik dan se biasa mungkin. Akan tetapi, mengapa rasanya begitu sulit? batin Ryana.
Apakah dirinya benar terlalu egois dan berlebihan? Tapi bagaimana caranya agar dirinya bisa melepaskan beban pikiran yang terus menghantui nya selama beberapa hari itu?
__ADS_1
Mengusap perut besar nya, Ryana berusaha bangun dan beranjak dari tempat tidur nya.
Ryana hendak menyusul Raka dan mengajak berbicara. Terlebih, ada sesuatu yang begitu mengganjal di hati nya, yang membuat nya selalu berfikiran negatif tentang laki laki tersebut.
'Hahaha! Kok bisa gitu sih?'
'Ya gak tau Mas, kan waktu itu Winda udah pernah sekali. Niatnya mau coba lagi, tapi kok malah yang kedua zonk!'
"Hahaha!'
Tubuh Ryana kembali di buat mematung saat hendak menuruni tangga. Ia mendengar suara gelak tawa dari suami dan pembantu nya yang sepertinya sedang asik bercerita di ruang keluarga.
Masih bisakah Ryana berfikir positif? Tidak, hatinya benar terasa sakit. Bahkan kini air mata nya sudah berlinang dan jatuh membasahi pipi nya.
Ryana terlalu lemah, manja dan juga cengeng. Dirinya tidak bisa melihat hal seperti ini, akan tetapi ia juga tidak tahu harus berbuat apa.
'Daddy, Ryana pengen nangis hiks hiks.' gumam wanita itu seraya menahan isak tangis nya.
__ADS_1
...~To be continue... ...