
...~Happy Reading~...
Sesuai dengan permintaan Ryana. Sejak hari itu, Raka benar benar sudah tidak menemui istrinya. Ryana pulang ke rumah nya, sedangkan Raka yang juga pulang ke apartemen.
Ryana selalu mengurung diri di dalam kamar nya karena memang di haruskan bed rest. Dirinya juga menolak untuk bertemu dengan siapapun, bahkan dengan semua keluarga dari suami nya sekalipun, termasuk mertua nya.
Sedangkan itu, Raka juga setiap hari hanya fokus sekolah dan mengurung diri di dalam apartemen. Ia tidak pulang ke rumah orang tua nya, karena ia benar benar ingin merenungkan kesalahan yang sudah ia lakukan pada Ryana.
"Mommm! Sakitttt!" rintih Ryana sejak tadi terus menggeliat kan badan di atas tempat tidur nya.
Rasa sakit yang ia rasakan di bagian perut bawah nya, hingga kini masih sering ia rasakan sesekali setiap hari nya. Beruntung, mom Nasya benar benar merawat Ryana dengan sangat baik.
Wanita paruh baya itu dengan telaten terus mengusap perut putrinya, memberikan ketenangan dan sesekali mencoba untuk menghibur nya.
"Sabar ya Sayang. Atau kamu mau kita ke rumah sakit lagi?" tanya mom Nasya sambil mengusap perut putri nya.
__ADS_1
"Gak mau Mom! Ryana gak mau di infus lagi, apalagi di pasang kateter, sakit!" ringis nya menggelengkan kepala dengan pelan.
Mom Nasya hanya mampu menghela napas nya dengan berat. Ia tidak bisa memaksa Ryana untuk kembali di bawa ke rumah sakit. Karena dalam satu bulan ini, dirinya sudah bolak balik ke rumah sakit hingga lebih dari tiga kali.
Dan meskipun Ryana di rumah, namun dokter Farah atau yang biasa di panggil tante Farah selalu rutin mengecek kondisi Ryana di rumah. Wanita yang bergelar sebagai dokter kandungan itu dua hari sekali akan datang dan mengontrol perkembangan Ryana.
Dan, ya sudah hampir satu bulan Ryana tidak bisa masuk sekolah. Jadilah ia sudah tertinggal pelajaran cukup banyak, namun itu semua tidak menjadi masalah bagi Ryana maupun keluarga nya. Karena yang terpenting adalah kesehatan dirinya dan juga kandungan nya.
"Ada apa lagi, Sayang?" tanya daddy Adnan ikut masuk ke dalam kamar Putri nya.
"Sakit lagi," jawab mom Nasya sedikit menghela nafas nya dengan berat.
Mom Nasya nampak menganggukkan kepala nya, "Mommy keluar dulu ya Sayang, cup!"
Setelah kepergian mom Nasya, daddy Adnan mengajak Ryana untuk bercerita. Mencoba untuk menenangkan pikiran putri nya agar tidak terlalu stres.
__ADS_1
Menurut dokter Farah, Ryana sedikit mengalami tertekan dan syok yang cukup hebat. Sehingga membuat nya selalu merasakan kontraksi dan kram pada perut nya.
Perubahan perasaan seorang ibu hamil sangat berpengaruh besar bagi janin nya. Maka dari itu, dokter Farah menyarankan agar Ryana bisa rileks dan mencoba melupakan semua beban masalah nya.
Namun, bukan Ryana jika ia bisa melupakan semuanya dengan begitu mudah. Ia selalu merasa bersalah ketika mengingat ucapan yang pernah ia katakan dulu tentang Bintang.
Rasa kecewa dan marah nya kepada sang suami dan mertua nya, yang menutup sebuah rahasia sebesar itu hingga membuat nya merasa cemburu buta. Tidak semudah itu untuk ia lupakan begitu saja.
Dan itulah yang selalu membuat Ryana stres dan tertekan.
"Besok, Daddy akan menjemput Olin. Katanya dia kangen sama cucu kesayangan nya," ujar daddy Adnan mencubit hidung putrinya dengan gemas.
"Benarkah? Tapi, bukankah Olin masih sakit? Kasihan dia kalau harus ke Jakarta Dad," ucap Ryana lirih.
"Alhamdulillah Olin sudah sembuh Sayang. Maka dari itu, besok Daddy yang akan menjemput Olin, jadi besok kamu di rumah sama Ryan dan Mommy gapapa kan? Karena Raihan dan Rayyan akan ikut Daddy," ujar daddy Adnan lagi panjang lebar.
__ADS_1
"Andai Ryana gak sakit, pasti Ryana juga pengen ke sana." gumam Ryana pelan, "Di sana enak, tenang dan juga segar. Tidak seperti disini, sangat sumpek dan rusuh!" imbuh nya, lalu ia kembali memeluk lengan ayah nya berharap bisa tidur walau hanya sebentar di pelukan sang ayah.
...~To be continue... ...