MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
GARA-GARA JAMU(2)


__ADS_3

"Stop! Jangan deket-deket gue!" ucap Aurel menatap Daren, perempuan itu mundur beberapa langkah. "Ini gimana?" ucap Daren.


"Lo sih, kenapa di minum. Gue gak mau tanggung jawab ya!" ucap Aurel lagi, ia benar-benar waspada. Takut Daren tiba-tiba kelepasan.


"Lo juga kenapa naro jamu begituan sembarangan! Kan gue ngira kalau itu jamu gue," ucap Daren yang juga menyalahkan Aurel.


"Lah, harusnya lo gak asal minum lah! Gimana kalau tadi itu


minuman beracun. Lo aja asal minum," balas Aurel.


Daren terdiam, ia bingung harus gimana.


"Rel, nambah bangun..." ucap Daren beberapa menit kemudian.


"Bodo amat! Pokoknya lo jangan deket-deket gue!" ucap Aurel semakin menjauh dari Daren. "Rel..." ucap Daren.


"Mending lo masuk kamar gue kunciin dari luar. Lo mau ngapain kek, nonton film dewasa atau gimana gitu, cepet!" ucap Aurel. Aurel mendorong Daren masuk kedalam kamar lalu mengunci pintunya.


"Lah kan gue harus ke kantor!" ucap Daren dari dalam kamarnya.


"Hari ini gak usah. Gue nanti ngomong sama Sella kalau lo sakit!" balas Aurel.


Aurel masih berdiri di depan pintu kamar Daren. Daren tidak menyahut ucapannya. Sedang apa lelaki itu? Aurel pun menempelkan telinganya di daun pintu. Karena


saking penasarannya.


Tok... tok... tok....


"Daren... " Aurel mengetuk pintu kamar.


"Ah.. Rel..."


Aurel melebarkan matanya ketika mendengar suara itu.


"Daren! Lo jangan bayangin gue! Gila ya lo!" teriak Aurel murka.


***


"Lo kenapa?" tanya Tissa yang memberikan sebuah berkas kepada Aldino. "Oh maaf maksud saya, Pak Aldino kenapa?"


"Gak usah kaku gitu kali," ucap Aldino sembari tersenyum. Aldino melihat sebuah map yang di berikan oleh Tissa.


"Ya kan lo sekarang bos gue," jawab Tissa.


"Gini aja kalau ada karyawan lain lo panggil gue formal biasa. Kalau cuma berdua kayak biasanya aja," ucap Aldino. Tissa mengangguk setuju.


"Oh ini daftar harga yang di rekomendasikan dari PT Gunawan ya?" ucap Aldino setelah membaca isi map tersebut.


Tissa mengangguk.


"Lo beneran gak pa-pa?" tanya Tissa.


Seketika Aldino terdiam. Menatap Tissa.


"AL..."


"Gue lagi marahan sama Aurel. Gara-gara kemarin gak ngabarin dia, apalagi dia tahu kan kemarin


kita jalan bareng," ucap Aldino.


"Nanti gue coba buat ngomong deh ke Aurel. Tentang kita, biar dia gak salah paham," ucap Tissa.


"Iya bantuin ya Tiss," ucap Aldino. Tissa mengangguk. "Nih udah gue tanda tangan."


"Oke, makasih Pak Aldino..."


Tissa langsung pamit pergi dari hadapan Aldino. Tidak lama dari itu, ponsel Aldino berbunyi. Aldino menerima sebuah panggilan dari nomor yang tidak ia kenal. Aldino ingin mengabaikannya. Namun pada akhirnya Aldino mengangkat telpon tersebut.


"Halo? Dengan siapa?" ucap


Aldino membuka pembicaraan.

__ADS_1


"Gue tahu, lo pengusaha muda yang sangat sukses! Apa lo mau karir lo hancur?"


Aldino mengerutkan keningnya.


"Lo siapa?"


"Balikin Tissa sekarang, atau gue , h | ti” hancurin perusahaan lo! ancamnya.


Aldino tersenyum miring, mendengar ucapan seseorang di dalam telpon tersebut.


"Steven? Lo pikir menghancurkan gue semudah itu?" ucap Aldino.


Setelah itu ia mematikan sambungan telponnya.


***


Aurel menyeruput es teh yang baru saja ia pesan. Perempuan itu duduk di sebuah restoran yang tidak jauh dari apartemennya. pada di apartemen membuatnya gila, lebih baik ia di sini kan.


Aurel melihat seseorang yang sangat ia kenal sedang duduk memainkan ponselnya.


"Oh iya, gue kan harus mencari kejelasan soal ucapan Sofi waktu itu," ucap Aurel. Aurel memutuskan untuk berjalan kearah Sofi. "Hai Sof.. " sapa Aurel.


"Loh Rel, eh kita ketemu lagi," ucap Sofi sembari tersenyum.


"Hehe iya, by the way lo ngapain disini?" tanya Aurel.


"Eh ini gue lagi nungguin sepupu gue. Dia kan baru pulang dari luar negri, dan kita janjian disini," ucap Sofi.


Aurel mengangguk paham. "Lo gak sama Daren?" tanya Sofi.


"Enggak Daren lagi sakit. Ini gue lagi take a way makanan buat dia," ucap Aurel. Padahal Aurel kesini untuk menghindari Daren.


"Oh gitu, salamin ya buat Daren. Semoga cepat sembuh... " ucap Sofi.


"Iya nanti gue salamin. Sof, gue mau minta kejelasan soal ucapan lo waktu itu," ucap Aurel.


"Ucapan yang mana?" tanya Sofi, sepertinya lupa.


"Lo beneran gak ngerasa Daren suka sama lo dari dulu?" ucap Sofi. Aurel menggelengkan kepalanya.


"Rel, bahkan gue yang pacarnya Daren ngerasain itu," ucap Sofi lagi.


"Kenapa lo bisa yakin? Sementara gue sama Daren aja selalu berantem, Sof. Dia selalu nyebelin.


Gak pernah nunjukkin perasaannya. Malah semakin buat gue benci sama dia," ucap Aurel mengeluarkan isi hatinya.


"Kalau lo kurang yakin soal ini kenapa lo nikah sama Daren?" ucap Sofi.


Seketika Aurel terdiam. Ia menunduk lalu menatap Sofi.


"Sebenarnya kita nikah karena terpaksa. Dan lebih parahnya lagi hari-hari gue sama dia cuma berantem, gak pernah akur," ucap Aurel jujur.


"Makanya, gue kaget ketika lo bilang kalau Daren suka sama gue dari dulu. Kayak gak mungkin gitu," sambung Aurel. Aurel menopang dagunya dengan tangan menatap lurus kedepan.


Sofi juga ikut diam, masih syok dengan cerita Aurel.


"Tapi gue ingat sesuatu Rel, gue yakin ini bisa jadi bukti kalau Daren beneran cinta sama lo," ucap Sofi.


"Dulu, gue pernah nemu liontin yang sangat cantik. Gue nemu itu di tasnya Daren. Kata Daren itu buat kado ulang tahun lo 18 tahun. Dan saat itu gue iri banget sama lo waktu itu," ucap Sofi.


"Tapi gue gak pernah ngerasa dapet kalung di hari itu," ucap Aurel.


"Kok gitu? Bukannya Daren datangkan?" ucap Sofi. Aurel mengangguk ia mencoba mengingat peristiwa itu.


Beberapa menit kemudian. Aurel mengingatnya.


"Gue ingat!" ucap Aurel antusias. "Sof gue pulang dulu ya. Makasih buat semuanya," ucap Aurel. Aurel langsung pergi meninggalkan Sofi. Entah mau kemana perempuan itu.


***


"Bye! Gue duluan ya Tiss!" ucap seseorang kepada Tissa.

__ADS_1


"Iya hati-hati Ina!" jawab Tissa. Tissa berjalan melipir di halte bus. Ia sudah memesan taksi online.


Karena cuaca sore itu hujan jadi ia memilih untuk berteduh di halte bus.


"Tissa! Ayo pulang!" ucap seseorang mengagetkan Tissa.


"A... Abang?" ucap Tissa kaget. Ia mundur beberapa langkah. "Tissa gak mau pulang!"


"Gue bilang pulang! Lo mau gue bunuh dia? Ha?" gertak Steven.


"Bang jangan sakitin Aldino!" ucap Tissa panik.


"Ya lo harus nurutin permintaan gue buat pulang," ucap Steven.


"Aku bakalan pulang kalau Abang berubah! Gak kayak gini! Aku udah gak kenal sama Abang lagi! Abang sekarang jahat! Kasar sama Tissa, dan..." "Halah bacot!"


Plak...


Steven menampar wajah Tissa.


"Sini lo harus ikut gue!" Steven menyeret Tissa untuk ikut bersamanya.


"Bang lepasin! Tissa gak mau!


Tolong... tolong.. "


Namun tetap saja, Steven menarik Tissa menuju mobilnya. Aldino yang melihat itu langsung menolong Tissa. Ia menahan lengan Tissa. "Aldino?"


"Lepasin cewek gue!" ucap Aldino, membuat Tissa kaget. Kenapa Aldino mengakui kalau mereka pacaran.


"Oh jadi udah pacaran?" ucap Steven dengan senyum sinisnya.


Steven melepaskan tangan Tissa. Tissa segera berjalan di belakang Aldino.


"Berapa juta yang lo mau? Asal jangan ganggu hidup Tissa!" ucap Aldino, lagi Tissa kaget dengan ucapan Aldino.


"AL."


Aldino meminta Tissa untuk diam.


"Ternyata lo jauh lebih sayang sama adik gue dari pada uang lo ya?" ucap Steven tersenyum


menang.


Aldino diam, begitu juga dengan Tissa.


"500.000.000"


"Oke, asal ada hitam di atas putih. Lo gak akan ganggu Tissa lagi!" ucap Aldino menyetujui ucapan Steven.


"Gimana gue gak berharap sama lo Al? Sementara sikap lo yang selalu buat gue untuk terus berharap," batin Tissa.


Aldino mengenggam tangan Tissa erat. Lelaki itu langsung membawa


Tissa masuk kedalam mobilnya.


"Udah gak pa-pa," ucap Aldino memeluk Tissa, ia mengusap pipi Tissa yang lumayan lebam.


"Kenapa lo baik banget sama gue, Al?" ucap Tissa menatap Aldino.


"Karena lo saha-"


"Stop! Jangan bilang karena gue sahabatnya Aurel. Gue makin bingung kenapa semuanya jadi seperti ini. Gue udah gak bisa nahan perasaan gue. Gue harus jujur kalau sebenarnya selama ini gue ada rasa sama lo... " ucap Tissa menatap kedua mata Aldino.


Aldino diam, membalas tatapan Tissa.


"Gue tahu ini terlalu lancang. Tapi gue udah terlalu jauh mencintai lo Al. Gue gak bisa mengkontrol semuanya," ucap Tissa lagi.


Aldino mendekatkan wajahnya ke wajah Tissa. Membuat jantung Tissa berdegup dengan kencang. Lelaki itu mencium bibir Tissa, melumatinya dengan lembut dengan tangan yang ia letakkan di belakang kepala Tissa untuk memperdalam ciumannya.


Lalu apakah Aldino mempunyai rasa yang sama dengan Tissa?

__ADS_1


__ADS_2