
...~Happy Reading~...
"Raka, kamu sudah sadar Nak?" tanya mama Naura saat melihat putra nya mulai membuka mata nya dengan perlahan.
"Ma, Ryana mana?" gumam Raka begitu lirih bahkan nyaris tak terdengar.
"Sayang, ... sudah ya Nak. Ikhlaskan," mama Naura menggenggam tangan anak nya, mencoba untuk memberikan kekuatan agar bisa lebih ikhlas menerima takdir nya.
"Gak Ma! Raka gak mungkin ikhlasin istri Raka!" seru nya, lalu ia segera beranjak bangun dan kembali menuju ruangan istri nya.
"Raka, tunggu dulu! Raka!" pekik mama Naura juga ikut berlari menyusul anak nya.
Brakk!
Raka mendorong pintu ruangan itu dengan begitu keras. Mata nya sukses membola saat melihat beberapa perawat hendak memindahkan istrinya ke ruang jenazah.
"Mau kalian bawa kemana istri ku, hah!" bentak Raka mendorong semua perawat itu hingga terjatuh ke lantai.
"Ka!" tegur Ryan menggelengkan kepala nya.
__ADS_1
"Apa?" tantang Raka, gak ada yang boleh bawa Ryana pergi dari sini!" ucap nya menatap tajam pada semua orang.
"Sadar Ka, Ryana udah gak ada.. Kita harus segera memakamkan nya bersama anak anak kalian," ujar Ryan mencoba memberikan pengertian.
"Ryana belum meninggal! Gila kamu mau ngubur adik kamu sendiri hah! Otak kamu dimana Yan!" bentak Raka tak Terima mendengar ucapan dari saudara ipar nya.
"Sayang, bangun yuk. Udah cukup bobo nya, sekarang bangun yuk. Kamu gak boleh ninggalin aku, plis wake up," bisik Raka begitu lirih di telinga Ryana.
Sementara itu, beberapa orang yang melihat dan mendengar racauan dari Raka, hanya bisa menghela napas nya dengan berat.
Tidak ada yang tidak kehilangan. Semuanya kehilangan sosok Ryana. Terlebih Mom Nasya, yang hingga kini masih belum sadarkan diri. Sama seperti Raka tadi, mom Nasya juga langsung pingsan saat melihat tubuh putri nya sudah terbaring tak berdaya dengan tertutup kain putih.
Sejak tadi, laki laki itu tak henti memeluk dan bahkan menciumi wajah istri nya, "Apapun permintaan kamu, aku janji akan memenuhi nya. Aku janji gak akan ingkar lagi, plis Sayang, bangun lah... "
"Kamu mau kita tinggal di rumah Daddy, oke gapapa. Kita pulang ke rumah Daddy, aku gak akan larang apapun lagi. Tapi plis, jangan tinggalin aku hiks hiks."
"Nantiโ" ucapan Raka seketika langsung terhenti saat ia merasakan sesuatu, ia segera bangun dan berdiri di samping istri nya.
Mengamati setiap inci dari tubuh istri nya yang terlihat pucat, "Ryan... " panggil Raka pelan.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Ryan ikut menghampiri Raka, sambil mengerutkan dahi nya.
"Yan, panggil om Kiano. Cepetannn!" pekik Raka begitu melengking, hingga membuat Ryan pun reflek langsung berlari keluar untuk mencari dokter Kiano.
"Sayang, terimakasih... Terimakasih, .. " Raka kembali memeluk istri nya dengan begitu erat, mencium bahkan juga menggenggam tangan istri nya dengan begitu lembut.
Tak berapa lama setelah kepergian Ryan, kini laki laki itu sudah kembali bersama seorang dokter yang tak lain adalah Kiano, paman dari Raka.
Raka mengatakan bahwa tadi dirinya merasakan pergerakan dari tangan Ryana. Membuat Kiano dengan cepat kembali mengecek nadi dan denyut jantung dari wanita tersebut.
"Kalian berdua keluarlah," usir om Kiano tanpa menatap kedua laki laki remaja tersebut.
"Tapi Omโ"
"Keluar!" perintah om Kiano dengan begitu tega, membuat kedua nya mau tak mau langsung keluar dari ruangan.
"Yan, Ryana pasti kembali kan?" tanya Raka menatap Ryan dengan tatapan yang begitu sayu dan sendu. Mata yang terlihat begitu sembab, dengan wajah yang sudah memerah bak tomat, serta penampilan yang sangat amburadul membuat Ryan sebenarnya tidak tega.
"Aku berharap begitu," balas Ryan memejamkan mata nya, tak lupa ia juga mengambil ponsel nya dan berusaha menghubungi ayah nya agar segera kembali ke ruangan sebelumnya.
__ADS_1
...~To be continue... ...