
Aurel masuk kedalam ruang. Ia kaget melihat Daren yang sedang bermain PS dengan seorang anak laki-laki. Padahal tadi resepsionis di depan mengatakan kalau Daren sedang sibuk tidak bisa di ganggu.
"Iya sebelah kiri... " ucap Daren belum menyadari keberadaan Aurel di belakangnya.
Aurel melipat tangannya di dada. Dan sedikit batuk, agar Daren menyadari keberadaanya.
"Hm!"
Namun tetap saja Daren tidak
menyadari keberadaanya.
"Oh jadi gini kerjaan CEO Wardana grup?" sindir Aurel. Barulah Daren mendongak menatap kearahnya.
"Kok lo di sini?" ujar Daren mengerutkan keningnya.
Aurel tidak menjawab. Perempuan itu mengambil map dan pulpen lalu menyodorkannya kepada Daren.
"Nih cepet tanda tangan! Setelah ini gue gak akan ganggu lo!" ucap Aurel.
Daren menerima map itu, ternyata surat kontrak kerja sama antar perusahaan.
"Temanin gue makan siang dulu," ucap Daren menutup lagi map itu.
"Dih, gak mau gue!" tolak Aurel secara terang-terangan.
"Ya udah, gue tinggal batalin aja kerja samanya. Dengan alasan lo gak sopan masuk sembarangan ke ruang gue. Dan gak mau menuruti perintah gue," ancam Daren secara halus.
Aurel menghela nafas berat. Memang Daren tidak pernah berubah. Ia masih sama, pemaksa, dan suka mengancam.
"Oke, gue temani lo makan siang," ucap Aurel akhirnya. Daren tersenyum manis.
"Kevin, nanti kita main lagi ya. Om mau makan siang dulu, kamu sama Mama dulu," ucap Daren kepada Kevin. "Iya Om," jawab Kevin.
Aurel mengamati anak kecil yang masih berseragam TK itu. Merasa aneh, karena ini kantor kenapa ada anak kecil disini?
"Dia Kevin, anaknya Sella. Emang kalau pulang sekolah suka kesini. Karena dirumah gak ada yang jagain," jelas Daren seakan tahu maksud Aurel. Aurel mengangguk paham.
"Udah ayo, gue udah laper," ujar Daren. Aurel berjalan mengekor di belakang Daren.
"Sella kamu temani Kevin di dalam ya,"ucap Daren setelah membuka pintu ruangannya.
"Baik Pak... " jawab Sella. Sella permisi untuk masuk kedalam ruangan Daren.
"Gue kira Sella belum nikah," ujar Aurel setelah Sella masuk kedalam ruangannya.
"Ya emang belum," jawab Daren sembari berjalan.
"Lah kata lo tadi Kevin anaknya Sella," ucap Aurel kebingungan. "Ah jangan-jangan Kevin itu sebenarnya anak kandung lo terus lo titipin ke Sella. Agar orang-orang gak tahu kalah Kevin anak lo."
"Ngarang!" jawab Daren sembari masuk kedalam lift. Di ikuti oleh Aurel.
"Terus gimana?"
"Kevin emang anaknya Sella. Tapi anak di luar nikah. Sella di hamili sama pacarnya. Pacarnya gak mau tanggung jawab, jadi ya gitu," ucap Daren.
__ADS_1
Aurel terdiam sejenak mendengar cerita Daren.
"Berarti Kevin gak pernah ngerasain kasih sayang seorang Ayah?" ucap Aurel. Daren mengangguk.
"Pantes, dia keliatan deket sama lo," ucap Aurel.
"Ya gimana tiap hari main PS sama gue," balas Daren. "Keknya lucu deh, kalau suatu saat punya anak cowok. Bisa di ajak main PS everytime."
Daren tersenyum membayangkannya.
"Bayangin punya anak sama siapa lo?" ucap Aurel yang sedari tadi memperhatikan ekspresi wajah Daren. Daren menatap Aurel yang meminta kejelasan.
"Sama...."
Daren menggantungkan ucapannya.
"Sama lo Rel," batin Daren. Ia hanya bisa mengatakannya didalam hati. Terlalu gengsi untuk mengutarakannya secara langsung.
Bruk...
Tiba-tiba lift berhenti, sementara mereka masih di lantai 5.
"1... ini liftnya mati ya?" ucap Aurel mulai panik.
"Huh iya deh keknya," ucap Daren. Daren segera meminta bantuan.
"Tolong saya Daren Kusuma Wardana terjebak di lift berhenti di lantai 5," ucap Daren kepada pengeras suara.
Daren berbalik menatap Aurel di pojok lift. Perempuan itu nampak ketakutan, keringat dingin sudah menyerang tubuhnya. Nafasnya tersengal, membuat Daren berjalan kearah Aurel.
"Da.... dada gue sesek..." ucap Aurel kesusahan.
"Rel lo kenapa?" tanya Daren ikut panik.
"Claustrophobia... " gumam Daren mengingat sesuatu. Aurel memiliki claustrophobia, atau phobia dalam ruangan sempit. Ia akan merasa cemas dan takut saat berada di ruangan sempit.
"Rel, lo tenang. Kita gak akan kenapa-napa. Ada gue disini. Gue akan jagain lo Rel," ucap Daren mencoba menenangkan Aurel.
Lelaki itu mendekap erat tubuh Aurel. Ia merasakan betapa dinginnya tubuh Aurel.
"Tenang ya... tenang... " ucap Daren lagi. Mendekap lebih erat tubuh Aurel.
"Duh nih teknis pada kemana sih? Kenapa belum dateng juga," ucap Daren ikutan panik. Daren memencet lagi pengeras suara.
"Saya minta secepatnya keluarkan saya dari sini. Saya gak mau tahu! Secepatnya!" ucap Daren.
"Maaf Pak, kami sedang memanggil Teknisi... " balas seseorang.
"Suruh cepat! Nyawa istri saya terancam! Kalau dalam waktu 10 menit kalian tidak bisa mengeluarkan saya dan istri saya, saya akan memecat kalian semua!"
Kesabaran Daren benar-benar sudah habis. Ia tidak ingin Aurel kenapa-napa.
"Rel, lo masih bisa denger gue kan?" ucap Daren. Aurel mengangguk, ia menatap Daren sayu.
"It's okey, gue akan selalu jagain lo..." ucap Daren begitu lembut. Lelaki itu mengecup kening Aurel. Menyalurkan kehangatan dari bibirnya.
__ADS_1
Sementara itu di luar lift tim teknisi sedang berusaha untuk membuka pintu lift. Dan beberapa karyawan yang sedang bergosip. Karena mendengar ucapan Daren tadi.
"Heh katanya Pak Daren kejebak lift sama istrinya!" ucap salah satu karyawan.
"Ha? Serius lo? Pak Daren udah nikah?" ucap karyawan yang lain.
"Gila plot twist banget! Gue kira selama ini Pak Daren gay. Kalian tahu sendiri kan gimana susahnya deketin Pak Daren."
"Huh jadi penasaran siapa yang berhasil buat Pak Daren luluh."
Pintu lift akhirnya terbuka. Mereka semua kaget, karena melihat Daren yang tengah mendekap seseorang. Mereka berbisik-bisik. Karena sebelumnya belum pernah melihat Aurel.
"Kenapa kalian disini? Cepat balik kerja!" ucap Daren. Mereka buru-buru kembali ke ruangannya.
"Rel, lo gak kenapa-napa?" tanya Daren.
"Tubuh gue lemes Ren," jawab Aurel lirih.
"Kita kerumah sakit ya..." ucap Daren langsung membopong tubuh Aurel.
***
Tissa melepas kacamatanya. Perempuan itu memijat keningnya yang terasa pusing. Tiba-tiba ada sebuah telpon masuk. Ia mengerutkan kening. Karena Aldino yang menelponnya.
"Iya Al, kenapa?" tanya Tissa tanpa basa-basi.
"Tis Aurel kemana ya? Gue telponin dari tadi gak di jawab-jawab. Di ada di sebelah lo kan?" tanya Aldino.
"Lah, bukannya Aurel ke kantor lo ya. Buat ngasih dokumen kontrak kemarin," ucap Tissa terheran-heran.
"Oh iya? Sejak kapan dia berangkat?" tanya Aldino.
"Sejam yang lalu sih," jawab Tissa. "Ah apa jangan-jangan dia ke kantor Daren dulu, baru ke kantor lo."
"Oke makasih infonya," ucap Aldino.
"Iya sama-sama," ucap Tissa tersenyum tipis.
"Eh Tis, nanti sore gue bisa temani lo ambil barang-barang lo," ucap Aldino.
"Gue bisa ambil sendiri Al. Gue gak mau ngerepotin lo lagi," ucap Tissa.
"Tapi gue takut lo kenapa-napa," ucap Aldino.
Seketika jantung Tissa berdetak lebih kencang.
"Aldino takut gue kenapa-napa? Kenapa rasanya seneng banget!" batin Tissa berteriak. "Tapi gue..."
"Gak ada tapi-tapian. Pokoknya harus sama gue," ucap Aldino.
"Oke, kalau lo maksa." Tissa tersenyum gembira.
"Ya udah gue tutup dulu ya. Mau cari Aurel dulu," ucap Aldino. Membuat senyum Tissa kembali pudar.
"L.. iya..." ucap Tissa. Aldino mematikan sambungan telpon. Tissa memukul kepalanya sendiri. "Ayo sadar Tissa! Aldino pacar Aurel, sahabat lo sendiri!"
__ADS_1