MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
LUNCH WITH ALDINO


__ADS_3

Aurel sudah siap dengan dandanannya. Ia akan berangkat ke kantor pagi ini. Ia keluar kamar, melihat Daren yang duduk di sofa sembari menunggunya.


"Ngapain lo? Gue kira udah berangkat," ucap Aurel sembari mengambil heels-nya. "Udah?" tanya Daren. "Ha?" Aurel semakin bingung.


"Gue dari tadi nungguin lo kali!" ucap Daren yang beranjak dari duduknya.


"Suruh siapa. Kan gue gak nyuruh," ucap Aurel.


"Terus gue biarin lo berangkat sendiri?" ujar Daren menatap Aurel.


"Iya kan emang gue biasa berangkat sendiri. Lagian kita gak searah kan?" balas Aurel. Seketika Daren terdiam.


"Gak pa-pa. Gue mau nganterin lo kok," ucap Daren.


"Idih!" Aurel berjalan keluar apartemen begitu juga dengan Daren yang mengikutinya dari belakang.


Mereka masuk kedalam lift, tidak hanya mereka ada seorang perempuan paruh baya di dalamnya.


"Gue bisa berangkat sendiri, lo gak perlu anterin gue," ucap Aurel.


"Kan gue suami lo. Gak pa-pa dong nganterin lo," ucap Daren tidak mau kalah.


"Terserah lo deh," ucap Aurel pada akhirnya.


"Kalian ini pasangan baru di unit apartemen ini, ya?" ucap ibu paruh baya tersebut.


"Iya Tante, baru pindah semalam," jawab Daren begitu ramah.


"Wah kenalin, nama saya Retno, saya tinggal di unit 1235. Kalau boleh tahu kalian tinggal di unit berapa?" tanya Ibu Retno.


"1238, " jawab Daren. "Eum kenalkan ini istri saya Aurel." Aurel hanya tersenyum sopan.


"Pasangan yang sangat serasi. Wajah kalian mirip, pantes jodoh," ucap Bu Retno.


Seketika Daren dan Aurel saling tatap, lalu keduanya bergidik ngeri.


"Kalau boleh tahu kalian ini udah nikah berapa lama?" tanya Bu Retno.


"Kita masih baru kok Tan, sekitar 2 minggu," jawab Daren.


"Oh pengantin baru to? Semoga langgeng ya pernikahannya. Dan semoga cepat di beri momongan,"


lucap Bu Retno.


"Aamiin, makasih ya Tan," ucap Daren.


Ting....


Pintu lift terbuka, mereka telah


sampai di parkiran bawah.


"Kita pamit duluan Tan, mau pergi kerja," ucap Daren berpamitan dengan sopan.


"Iya kapan-kapan main ke unit saya ya," ucap Ibu Retno.


Keduanya hanya mengiyakan sebelum akhirnya masuk kedalam mobil Daren.


Aurel menghela nafas, sembari memasang seat belt-nya.


"Kenapa lo? Perasaan gue mulu yang jawab lo diem aja, tapi keliatannya lo yang capek," ujar Daren yang menghidupkan mesin mobilnya.


"Gue yakin deh, mantu sama anak Ibu tadi pasti orang kuat-kuat," ucap Aurel.


"Kok gitu?" ucap Daren melajukan mobilnya.


"Lo liat aja dia nyerocos mulu. Banyak tanya," jawab Aurel.


"Stt, gak boleh gitu. Namanya juga orang tua. Wajarlah, lagian kita baru kenalkan jadi ya wajar beliau nanya tentang background, kita... ' ucap Daren.

__ADS_1


Aurel hanya diam, membiarkan suasana hening di dalam mobil.


***


Sampai di kantor, Aurel langsung bersiap untuk turun.


"Nanti gak usah jemput gue. Oh iya, gue pulangnya telat karena mau jalan sama Tissa," ucap Aurel sembari melepas seat beltnya.


"Oh gitu? Oke... " ucap Daren.


Aurel turun dari mobil Daren dan langsung berjalan masuk kedalam kantornya.


Ia sudah melihat Tissa yang akan masuk kedalam kantor. Aurel mengamati Tissa yang belum menyadari keberadaannya.


"Tissa," ucap Aurel.


"Ah lo ngagetin gue aja," ucap Tissa.


"Lo ngelamun?" tanya Aurel.


Tissa menggelengkan kepalanya cepat.


"Enggak kok, cuma ya bisa gue rada ngantuk pagi ini, " ucap Tissa. Aurel mengangguk paham.


"Eh tahu gak! Gara-gara saran lo kemarin gue udah baikan sama Aldino," ucap Aurel begitu antusias.


Seketika langkah kaki Tissa terhenti.


Aurel menatap Tissa bingung. "Lo kenapa?" tanya Aurel sembari menghentikan langkah kaki.


"Eh enggak, " ucap Tissa sembari terus senyum. "Terus gimana?"


"Ya gitu, nanti siang kita udah janjian mau lunch bareng," ucap Aurel.


"Bagus deh kalau gitu, " ucap Tissa. Tissa berjalan lebih dulu. Membuat Aurel mengerutkan keningnya bingung.


"Tissa kenapa sih?" gumam Aurel. Ia langsung menyusul Tissa.


"Tissa lo ada masalah ya?" tanya Aurel.


"Eum, enggak kok. Gue lagi gak enak badan aja," jawab Tissa sembari tersenyum tipis. Entahlah, Tissa tidak bisa mengekspresikan dirinya sendiri saat ini.


"Lo sakit? Sakit apa? Ke rumah sakit aja yuk," ucap Aurel khawatir.


"Gak usah Rel. Ini cuma pusing biasa. Kan tahu sendiri akhir-akhir ini kita sering lembur. Jadi ya gitu," ucap Tissa.


Aurel mengangguk paham. "Lo kalau ada apa-apa cerita sama gue. "


"Iya pasti gue cerita kok," jawab Tissa.


"Jangan sungkan! Gue ini bestie lo! Ingat ya Tiss, bestie lo!"


"Haha iya-iya gue selalu ingat itu," jawab Tissa.


"Apa gue bisa jadi sahabat yang baik buat lo Rel? Dengar lo janjian lunch sama Aldino aja buat hati gue sakit, " batin Tissa.


***


Jam makan siang telah tiba, Aurel bersiap untuk bertemu dengan Aldino di tempat mereka janjian. Ia berjalan masuk ke sebuah restoran. Di sana ia melihat Aldino yang sudah lebih dulu menunggunya.


"Kamu udah lama?" tanya Aurel.


"Enggak kok. Baru aja dateng," jawab Aldino. "Kamu mau pesen apa? Biar aku pesenin?"


"Apa ya samain aja kayak kamu," jawab Aurel. Aldino hanya mengangguk ja memanggil pelayan untuk memesan makanan.


"Kamu kenapa sih? Gak mau aku jemput di kantor kamu aja?" tanya Aldino.


"Nanti ada orang yang tahu dong. Kalau kita punya hubungan," jawab Aurel.

__ADS_1


"Ya bagus dong. Kalau orang-orang pada tahu kalau kamu milik aku," ucap Aldino dengan prosesifnya.


"Jangan, nanti mereka mikir macam-macam. Apalagi sebagian orang-orang juga tahu kalau aku udah nikah sama Daren," ucap Aurel membuat Aldino menghela nafas.


"Sampai kapan sih seperti ini? Aku pengen tahu kita pacaran kayak orang pada umumnya. Bukan sembunyi-sembunyi gini," ucap Aldino.


"Sayang, kamu sabar dulu ya. Aku yakin suatu saat kita gak akan berada di posisi seperti ini lagi," ucap Aurel.


"Terus Daren tahu kan? Kalau kita pacaran?" tanya Aldino.


Aurel menggelengkan kepalanya ia sama sekali belum memberi tahu Aldino.


"Kok gitu sih? Kenapa gak di kasih tahu?" ucap Aldino menatap Aurel kesal.


"Aku belum cari moment yang pas buat ngasih tahu ke Daren," jawab Aurel. "Maaf ya, sementara ini aja kita backstreet dulu."


"Iya aku ngerti, tapi cinta kamu cuma buat aku kan?" ucap Aldino.


Aurel mengangguk. "Iya aku janji cinta aku cuma buat kamu."


"Kamu duduknya sini dong, jauh banget," ucap Aldino, Aurel berganti posis menjadi duduk di sebelah Aldino.


Keduanya bak remaja yang di mabuk asmara. Seperti saat ini Aurel nampak malu-malu duduk di sebelah Aldino.


Tiba-tiba senyum Aurel pudar. Begitu melihat seseorang yang akan masuk kedalam restoran. Kedua matanya membulat.


"Al ada Daren!" ucap Aurel. Keduanya panik, Aurel langsung bersembunyi di bawah meja.


"Duh ngapain sih Daren kesini?" batin Aurel.


Disisi lain, Daren memang ada janjian dengan client-nya. Ia menatap kesetiao ruangan, belum melihat clientnya datang.


Namun ia melihat sosok yang ia kenal duduk sendirian. Daren berjalan kearah Aldino.


"AI? Sendirian lo?" sapa Daren. Daren duduk di salah satu kursi.


"Anjir! Kenapa pake segala nyamperin Aldino sih!" batin Aurel. Kakinya sudah pegal karena sudah berjongkok.


"Eh hai bro, iya gue sendirian," jawab Aldino. "By the way, lo juga sendiri?"


"Gue lagi nunggu client, biasa ada meeting dadakan. Jadi ya gitu, kita ketemuan di resto ini," ucap Daren. Aldino mengangguk paham.


"Bodo amat anjir! Kenapa harus di restoran ini sih?" sahut Aurel dari dalam hatinya.


Tiba-tiba pelayan datang membawa pesanan Aldino.


"Silakan di nikmati, Pak."


"Buset, banyak banget lo pesennya? Katanya tadi sendiri," ucap Daren.


"Iya jadi tadinya gue mau janjian sama temen malah teman gue gak jadi. Ada urusan mendadak, jadi ya gini," ucap Aldino.


"Oh gitu, " ucap Daren.


Daren melihat client yang ia tunggu sudah datang.


"Eh gue duluan ya. Mau meeting dulu," ucap Daren.


Aldino mengangguk. "Good luck bro!"


Sementara Daren hanya mengacungkan jempolnya.


Setelah memastikan bahwa Daren sudah pergi, Aldino menyuruh Aurel untuk keluar dari persembunyiannya.


"Badan gue encok..." gumam Aurel memegangi pinggangnya.


"Duh kamu aneh-aneh aja ngumpet di bawah meja," ucap Aldino.


"Ya gimana? Kalau Daren tahu gimana?" ucap Aurel.

__ADS_1


"Sebenarnya gak pa-pa sih kalau Daren tahu. Kan kamu sama dia cuma nikah kontrak, " ucap Aldino.


Seketika Aurel diam, entah kenapa jauh dari relung hatinya terdalam ia tidak ingin Daren mengetahui semua ini.


__ADS_2