
"Lo udah gak pa-pa?" tanya Daren. Aurel menggelengkan kepalanya.
"Nih lo minum dulu." Daren menyodorkan sebotol air mineral. Aurel menerimanya, lalu meminum air tersebut.
"Makasih Ren, " ujar Aurel sembari menutup botol air mineral.
"Gak perlu ke rumah sakit nih?" ucap Daren memastikan.
"Gak usah. Gue udah gak pa-pa," ucap Aurel. Daren mengangguk.
Mereka masih duduk di kantin kantor. Tiba-tiba Aurel menyandarkan kepalanya di bahu Daren. Entah, keduanya tidak saling mengatakan apapun. Hanya diam, menikmati susana siang itu.
Daren tahu Aurel memiliki claustrophobia sejak dulu. Awal mulai ia tahu adalah waktu kejadian di sekolah, dulu.
"Lo ingat gak? Waktu gue kunciin lo di toilet sekolah?" ucap Daren tiba-tiba.
Aurel terdiam, namun diam-diam memutar kembali memori itu.
"Lojahat banget," sambung Aurel.
Daren terdiam, "Iya. Gue dulu jahat banget ya sama lo."
"Cuma gara-gara gue telat. Lo ngehukumnya sampe segitunya," balas Aurel.
"Ya udah gue minta maaf," ucap Daren.
"Telat! Itu kejadian udah 9 tahun yang lalu. Masa baru sekarang minta maafnya," ucap Aurel.
Daren tersenyum mendengar ucapan Aurel.
"Gimana ya, kita kan setelah lulus gak pernah ketemu," ucap Daren.
Memang benar, setelah lulus sekolah Daren kuliah di luar negri. Sementara Aurel pindah ke Bandung.
Keduanya kembali hening. Aurel mengingat ucapan karyawan Daren di lift tadi. Tiba-tiba Aurel ingin sekali menyakan hal itu.
"Daren...." panggil Aurel.
"Hm..."
"Lo gay?" tanya Aurel tanpa.basa-basi. Seketika keduanya saling pandang.
"Enak aja ngatain gue gay," ucap Daren.
"Bukan gue."
"Terus siapa? Jelas-jelas lo yang nanya hal itu ke gue," ujar Daren.
"Kata karyawan lo. Katanya lo gay karena gak pernah pacaran," jelas Aurel.
"Enak aja. Gue pernah pacaran kali," ucap Daren menyangkal ucapan Aurel.
"Sama Sofia?" ucap Aurel ia mengingat mantan pacar Daren waktu SMA.
"Setelah sama Sofia juga pernah pacaran," jawab Daren.
"Siapa?"
"Nessa."
"Nessa siapa?" tanya Aurel semakin kepo.
"Teman gue waktu kuliah di Amrik."
"Kenapa putus? Pacaran berapa lama?"
"Lo udah kayak wartawan tahu gak! Bawel banget!" ucap Daren.
"Ya emang salah? Kalau gue pengen tahu?" ucap Aurel.
__ADS_1
"Kenapa lo pengen tahu tentang mantan gue?" ucap Daren menatap Aurel menhelidik. Aurel terdiam.
"Atau jangan-jangan lo..." Bugh... Aurel menimpuk lengan Daren sebelum lelaki itu melanjutkan ucapannya.
"Aw sakit anjir! Demen banget mukul," ucap Daren.
"Lagian lo mikirnya udah aneh-aneh. Please deh, jangan mikir gue masih suka sama lo," ucap Aurel sembari mengalihkan pandangannya.
"Jadi udah enggak?" ucap Daren.
"Apa?"
"Lo udah gak suka sama gue?" ucap Daren memperjelas ucapannya.
Aurel terdiam sebentar. Mengingat suatu peristiwa di masalalu.
Seorang gadis berseragam SMA menangis di pinggir jalan. Meratabi nasibnya yang begitu ia benci. Aurel, tidak dapat menyembunyikan perasaannya. Ketika mengetahui Daren lelaki yang ia cintai memiliki seorang kekasih.
Rasanya begitu hancur, ia menangis di sebuah kedai bakso milik Pak Edi. Sendiri, di tengah derasnya hujan yang mengguyur siang itu.
"Non kenapa nangis?" tanya Pak Edi.
Aurel menghapus air matanya sembari menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.
"Ya udah mau bakso gak Non? Siapa tahu bisa buat Non Aurel sedikit tenang," ucap Pak Edi.
"Boleh Pak," ucap Aurel. Aurel menatap derasnya hujan.
Di tangah jalan ia melihat Daren lewat bersama Sofia. Membuat dirinya merasa cemburu bukannya itu rasanya sangat hancur. Aurel menangis lagi, membuat Pak Edi semakin bertanya-tanya.
"Pak Edi pernah gak ngerasain cinta bertepuk sebelah tangan?" tanya Aurel.
"Oh Non Aurel sedang patah hati to?" tebak Pak Edi. Aurel hanya tersenyum.
"Cinta itu nyakitin ya Pak? Tapi kenapa orang-orang pada memujanya?" ucap Aurel.
"Non, titik tertinggi dari mencintai adalah mengikhlaskan. Kalau jodoh, suatu saat akan menjadi milik kita. Gimana pun caranya,
Aurel masih ingat betul ucapan Pak Edi waktu itu.
"Kenapa lo diam?" tanya Daren.
Aurel menggelengkan kepalanya. "Mungkin rasa cinta gue dulu udah tertimbun sama rasa benci gue ke lo."
Daren terdiam, bukan salah Aurel jika perempuan di sampingnya ini membencinya. Mungkin sekarang hanya sisa penyesalan yang ada di dalam diri Daren.
***
Disisi lain, Aldino berjalan keluar mobil. Ia sekarang berada di kantor Daren. Guna mencari keberadaan Aurel. Aldino
melangkah masuk kedalam lift. Bersama dengan beberapa karyawan.
"Wah gak nyangka banget Pak Daren udah nikah," ucap seseorang.
Aldino mengerutkan keningnya.
Membatin dari mana mereka semua tahu?
"Iya gila sih gak nyangka juga. Mana istrinya cantik lagi.
Dengar-dengar dia karyawan swasta juga di perusahaan sebelah.
" Ting...
Daren keluar lift. Dan langsung berjalan menuju ruangan Daren.
"Selamat siang Pak Aldino? Bisa saya bantu?" ucap Sella.
"Daren sama Aurel? Kan?" tanya Aldino.
__ADS_1
"Iya Pak, Pak Daren dan Bu Aurel sekarang sedang makan siang," ucap Sella.
"Makan siang?" ucap Aldino.
"Iya Pak makan siang..." ucap Sella.
Aldino pergi, ia langsung berjalan keluar ruangan. Laki-laki itu mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Aurel.
"Halo? Al? Maaf ya tadi aku..."
"Terusin aja. Makan siangnya," ucap Aldino.
"Al aku gak..."
"Kamu kenapa sih? Jarang ada waktu buat aku? Sebenarnya tuh kamu serius gak sih?" ucap Aldino memotong ucapan Aurel.
"Bukan gitu, Al aku sayang banget sama kamu. Aku serius," ucap Aurel.
"Terus sekarang kamu malam makan siang sama Daren? Kenapa semua orang tahu kalau kamu istrinya Daren? " omel Aldino. "Oh aku tahu semua ini karena kamu udah mulai suka kan sama Daren?"
"AI, cukup! Kamu tahu gak sih? Aku hampir mati di lift tadi? Aku juga gak mau kalau semua orang tahu kalau aku istrinya Daren."
Aurel terdiam sebentar mencoba untuk mengatur nafasnya. Sementara Aldino juga diam.
"Rel..."
"Kamu emang gak pernah ngertiin aku..." ucap Aurel lalu mematikan ponselnya.
Aldino terdiam, ia merasa bersalah telah menuduh Aurel seperti tadi.
Sementara itu, Aurel menghapus air matanya. Ia menatap cermin toilet. Memastikan kedua matanya tidak sembab. Setelah itu ia keluar dari toilet. Berjalan menghampiri Daren.
"Daren, gue nitip ini nanti kasiin ke Aldino ya. Gue mau pulang, kepala gue sakit," ucap Aurel.
"Rel gue anterin ya," ucap Daren.
Aurel terdiam sebentar. "Gue bawa mobil kantor."
"Ya makanya, nanti mobil kantor biar di bawa sama supir. Yang penting gue anterin lo. Takut lo kenapa-napa kan lagi pusing kepalanya," ucap Daren.
Aurel mengangguk, keduanya langsung pergi meninggalkan kantin.
***
Jam pulang kantor, Tissa bergegas pulang. Karena ia sudah ada janji dengan Aldino untuk mengambil barang-barangnya. Tissa juga
sudah berpikir bawah ia akan menyewa sebuah kontrakan untuk tempat ia tinggal. Ia berjalan ke parkiran. Dan benar, mobil Aldino sudah ada di sana.
Aldino membuka kaca mobilnya. Dan menatap Tissa.
"AI? Udah lama?" tanya Tissa.
"Enggak kok. Baru aja, ayo masuk," ucap Aldino. Tissa menurut, gadis itu masuk kedalam mobil Aldino.
"Udah ada kabar soal Aurel?" tanya Tissa.
Aldino mengangguk sembari menjalankan mobilnya.
"Kenapa?" ucap Tissa seakan tahu perubahan wajah Aldino.
"Salah paham sedikit," jawab Aldino. "Gue tadi denger Aurel sama Daren kejebak di lift."
"ha? Serius lo?" tanya Tissa. Aldiano mengangguk.
"Tapi Aurel gak kenapa-napa kan?" "Gue gak tahu."
"Al, Aurel tuh punya claustrophobia. Phobia terhadap ruang sempit. Gue yakin dia kenapa-napa."
Tissa mengambil ponselnya untuk menelpon Aurel.
__ADS_1
"Lo serius?" tanya Aldino.
"Iyalah. Ngapain gue boong," ucap Tissa. Aldino diam, merutuki kebodohannya.