MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
Rasa sedih


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Ryana memutuskan untuk pulang ke rumah mertua nya. Entah mengapa, sejak dirinya hamil, ia selalu ingin berada di dekat sang mama mertua. Terlebih saat hatinya sedang kacau seperti sekarang, Ryana sangat ingin memeluk mama mertua nya.


Jadilah, Ryana menaiki taksi untuk menuju rumah mertua. Namun, dirinya harus menelan kepahitan saat ternyata pembantu di sana mengatakan bahwa semua orang sedang pergi.


"Kapan pergi nya, Bi?" tanya Ryana sedikit sedih.


"Baru saja Non. Belum lama, Ibu sama Bapak kayaknya juga lagi buru buru. Bahkan Ibu nangis nangis," ujar pembantu di sana membuat Ryana seketika langsung diam.


"Kalau Arga?" tanya Ryana lagi.


"Den Arga dari semalam nginep di rumah utama Non," jawab Bibi lagi, membuat Ryana hanya bisa menganggukkan kepala nya dengan pasrah.

__ADS_1


Jika seperti ini, lantas ia mau apa dan kemana? Ia ingin mencurahkan keluh kesah nya kepada mama mertua, namun tidak ada. Dirinya sangat kesepian, suaminya tidak ada. Kakak nya juga tidak ada, karena tadi Ryana lihat sendiri bahwa Ryan mengikuti mobil ambulan yang membawa Bintang ke rumah sakit.


Ryana benar benar kesepian, ia tidak tahu lagi mesti kemana. Pulang ke rumah, pasti juga sama saja dirinya akan sendiri. Karena pagi tadi, orang tua nya baru saja pergi ke luar kota untuk mengunjungi Olin.


Bahkan Arga juga sedang berada di rumah Oma Kiara. Jadilah Ryana dengan terpaksa pulang ke apartemen.


'Nasib gue gini amat ya,' gumam Ryana dalam hati.


"Non gak mau masuk dulu?" tanya Bibi menawarkan.


Sepanjang jalan, Ryana sudah menahan rasa sesak di hati nya. Ia benar benar merasa sendiri hari ini, entah dirinya yang terlalu berlebihan, atau memang takdir sedang memberikan nya cobaan.


Semua orang sibuk di saat dirinya butuh perhatian. Dari Raka yang tidak menghampiri nya, tidak memberikan nya kabar. Orang tua nya yang pergi keluar kota. Kakak nya yang lebih mengutamakan kekasih nya. Dan kini, mertuanya uang sedang pergi mendadak entah kemana.

__ADS_1


Sesampainya di apartemen, Ryana langsung merebahkan tubuh nya di atas tempat tidur. Ia membuka Gorden agar bisa melihat pemandangan kota dari tempat tidur nya.


Tes!


Setetes air mata tiba tiba turun membasahi pipi Ryana. Ia ingin menangis, namun ia tidak mau menangis. Perasaan nya sedang tidak baik baik saja, dan mungkin itu karena hormon kehamilan nya.


'Andai saja bunda punya obat yang bisa mempercepat kalian lahir. Bunda pasti akan langsung meminum nya.. Agar kalian bisa menemani Bunda di saat bunda sendiri begini, hiks hiks hiks.' gumam Ryana terisak sambil mengudap perut nya yang kini sudah mulai terlihat sedikit berisi dari biasanya.


'Apakah menurut kalian, bunda terlalu cengeng? Hihihi maaf ya, tapi bunda berharap, kelak kalian tidak akan se cengeng bunda. Ssshhht,β€”" Ryana menghentikan ocehan nya saat tiba tiba ia merasakan perut nya sedikit kram.


Ryana memekakkan mata, menarik napas dengan cukup dalam lalu ia hembuskan perlahan.


'Ryana, tidak boleh stres. Harus rileks. Jangan pikirkan hal yang tidak penting. Calm down oke!' gumam Ryana lagi sedikit meringis, 'Kamu harus ingat, Na.. Ada tiga nyawa yang kamu bawa. Harus bisa kuat dan jangan terlalu cengeng!'

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita makan saja yuk, mungkin kalian lapar ya," imbuh Ryana lalu ia berusaha bangkit dan mencari makanan yang bisa ia makan di dapur, dengan sesekali masih meringis menahan rasa sakit yang tiba tiba ia rasakan.


...~To be continue. . . ...


__ADS_2