MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
MENIKAH (2)


__ADS_3

Hari ini adalah Hari yang tidak di harapkan oleh Aurel. Perempuan itu melipat bibirnya kesal. Ia menatap cermin di depannya.


"Duh ini deg-degan ya? Calon pengantinnya? Kenapa gak mau senyum? Pamali loh Neng," ucap Mbak Asri, tukang make up. "Coba senyum dulu atuh Neng."


Dengan terpaksa Aurel menarik kedua sudut bibirnya.


"Duh meni geulis pisan euy," ucap Mbak Asri.


"Aurel!" ucap seseorang dari belakang Aurel.


"Tissa!" ucap Aurel kaget karena menemukan Tissa yang sudah berdiri di belakangnya.


"Lo cantik banget njir," puji Tissa.


"Iya kan Teh, cantik pisan, " sambung Mbak Asri. Keduanya tersenyum menatap Mbak Asri. "Ini udah selesai. Saya mau kedepan dulu."


"Terima kasih Mbak Asri," ucap Aurel. Tinggalah mereka bedua di ruangan ini.


"Eh kenapa lo semalam gue hubungin gak bisa? Lo sahabat gue bukan sih Tis? Masa gak mau nemenin gue. Kan ini hari pernikahan gue," omel Aurel.


"Hehehe, sorry ya Rel. Semalam gue lembur. Biar bisa cuti hari ini. Lo tahu lah gimana bos kita, kan?" ucap Tissa penuh alasan.


"Alasan!" cibir Aurel. Tissa membalasnya dengan senyuman.


"Eh tapi tunggu, kenapa lo biasa aja?" tanya Tissa menatap Aurel aneh.


"Terus gue harus ngapain? Koprol sambil bilang wow gitu?" ucap Aurel. Tissa tertawa mendengarnya.


"Bukan. Maksud gue, kenapa lo gak heboh kayak kemarin? Ini bentar lagi lo bakalan nikah loh Rel! Nikah! Sama Daren lagi musuh bebuyutan lo," ucap Tissa serius.


Aurel menghela nafas, mendengar -ucapan Tissa.


"Ya udah sih."


"Ya udah sih?" gumam Tissa benar-benar tidak habis pikir dengan Aurel.


"Gue kenal lo bukan sebulan dua bulan. Lo aneh, ada


apa? Kenapa gak minta ke gue buat bantuin lo kabur dari sini?"


"Emang kalau gue minta lo bantuin gue buat kabur dari sini lo bakalan mau?" tanya Aurel sembari melihat kuku-kukunya yang sudah cantik.


Sontak Tissa menggelengkan kepalanya. Dengan seenaknya Aurel mencubit pipi Tissa.


"Aw sakit!" ucap Tissa melepaskan tangan Aurel.


"Gemes gue lama-lama sama lo. Eh mau tau cerita gak?" ucap Aurel. Aurel tersenyum menatap Tissa.


"Cerita apa? " Aurel membisikkan sesuat kepada Tissa.


"Anjir! Gila ya lo!" ucap Tissa benar-benar berteriak. Karena mendengar ucapan Tissa.


"Ya jangan teriak juga kali!" tegur Aurel.


"Eh maaf, lo gila apa Rel? Kenapa harus ngelakuin itu?" ucap Tissa memelankan suaranya.

__ADS_1


"Ya gimana, ini kan pernikahan yang gak pernah gue inginkan. Lo tahu itu, kan Tis? " ucap Aurel. Tissa terdiam mendengar penjelasan Aurel.


"Terus gimana? Daren udah tahu?" Aurel menggelengkan kepalanya.


"Nanti gue bakalan kasih kontraknya ke dia."


"Jadi lo udah jadian sama Aldino?" tanya Tissa mimik wajahnya terlihat serius.


Aurel tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Sementara Tissa tidak mampu berkata-kata lagi. Karena memang Aurel pantas mendapatkan Aldino.


"Mulai sekarang, gue harus hapus perasaan ini. Gue gak mau merusak persahabatan gue samaAurel," batin Tissa. Meski di dalam hatinya sangat mencintai Aldino.


Tissa bisa apa? Tidak mungkin ia merusak persahabatan yang sudah dijalin bertahun-tahun bukan?


Clek....


Pintu kamar terbuka, menampilkan Sarah dan Vivi.


"Mama!" ucap Aurel. Vivi langsung memeluk Aurel. Vivi menangis di bahu Aurel.


"Mama kok nangis?" tanya Aurel.


"Mama bahagia liat kamu bisa menikah. Meski bukan sama orang yang kamu cintai. Tapi Mama yakin, Daren akan menjaga kamu dengan baik," ucap Vivi menghapus air matanya.


"Maafin adik kamu, ya.. " sambung Vivi.


"Iya Aurel, maafin Ruby juga ya... sahut Sarah. Aurel mengangguk.


"Acara sebentar lagi akan di mulai. Makanya kami kesini buat kasih tahu kamu," ucap Vivi. "Tissa kamu temani Aurel dulu ya. Nanti Tante akan kasih kode, kalau semuanya udah siap."


"Baik Tante," jawab Tissa.


"Daren udah siap?" tanya Wardana.


"Papi, insyaallah Daren siap," ucap Wardana.


"Papi tahu, meski pernikahan ini bukan hal yang kamu inginkan. Kamu harus tetap memperlakukan Aurel dengan baik. Cinta akan bertumbuh dengan seiring waktu. Tumbuhkanlah Cinta itu diantara kalian."


"Kamu paham kan? Maksud Papi?"


Daren mengangguk. "Iya Pi, Daren paham."


"Baiklah, ayo acara akan segera di mulai."


***


30 menit yang lalu, Aurel sudah sah menjadi istri Daren. Perempuan itu nampak cemberut, tidak bisa senyum. Apalagi sekarang mereka sedang mengadakan sesi foto.


"Teh senyum atuh Teh," ucap Photografer.


"Lo senyum dong," bisik Daren.


"Gak mau!" jawab Aurel, ia hanya melirik sepintas Daren. Daren menghela nafas. Mereka melanjutkan sesi foto, tapi kali ini berbeda. Daren menjahili Aurel.


Membuat kedua pipi Aurel memerah karena kesal. Daren hanya tertawa melihatnya.

__ADS_1


"Duh liat jeng, aku gak yakin kalau mereka bakalan akur," ucap Sarah kepada Vivi. Keduanya sedari tadi


memperhatikan Aurel dan Daren.


"Iya mereka emang gak pernah akur, " balas Vivi. "Tapi kalau aku lihat Daren keliatan sangat sayang sama Aurel. kemarin aja rela hujan-hujanan sama Aurel. Sampe demam kan Daren?"


"Iya. Pantes dia demam tapi senyum-senyum. Ternyata karena hujan-hujanannya sama Aurel?" ujar Sarah. Keduanya terkikik geli.


Wardana dan Adicipta menghampiri istri-istri mereka.


"Pi gimana? Udah nemuin kemana Ruby sama Ali kabur?" tanya Sarah


."Belum, mereka belum berhasil menemukan Ruby dan Ali," jawab Wardana.


"Semoga aja keduanya gak kenapa-napa," ucap Vivi. Mereka berharap, Ruby dan Ali sedang baik-baik saja sekarang.


***


"Ini, aku udah pisahin kacangnya.' Ali menyerahkan bungkusan plastik itu kepada Ruby. Ruby tersenyum tipis, wajahnya terlihat begitu pucat.


"Kamu sakit?" tanya Ali setelah beberapa saat mengamati wajah Ruby.


Ruby menggelengkan kepalanya. "Aku gak pa-pa kok. Cuma kangen sama Mami, sama Papi, Bang Daren juga."


Ali mengangguk maklum. Lelaki itu mengusap bahu Ruby mencoba menenangkannya.


"Ini pilihan kita. Jadi kita memang harus terima konsekuensinya," ujar Ali. Ruby mengangguk.


"Udah gih dimakan." Ruby membuka bungkusan plastik itu. Dan langsung memakannya.


***


Aurel merenggangkan tubuhnya.


Tubuhnya terasa begitu sakit. Perempuan itu menatap ranjang pengantin yang penuh dengan kelopak mawar merah.


"Siapa sih yang naro kelopak bunga mawar di sini? Kurang kerjaan banget!" gumamnya.


Clek...


Pintu kamar terbuka. Karena kaget, Aurel menyiapkan kuda-kuda untuk menyerang siapa pun yang masuk kedalam kamar itu.


"Est! Ini gue suami lo," ucap Daren.


"Najis!" balas Aurel. Aurel mengubah posisinya.


"Lah kan emang bener gue suami lo," ujar Daren.


Aurel menatap Daren tajam. "Awas lo macam-macam sama gue!"


"Kenapa emang? Kan udah sah," balas Daren. Aurel semakin geram mendengarnya. Perempuan itu mengambil sesuatu dari laci kamarnya.


Sebuah map yang langsung ia sodorkan ke Daren. Daren menatap Aurel bingung.


"Map apa ini?"

__ADS_1


Aurel tidak menjawab. Daren segera membukanya karena sudah sangat penasaran.


"Surat perjanjian pernikahan?"


__ADS_2