MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
MALAM PERTAMA


__ADS_3

Aurel telah selesai mandi. Perempuan itu menatap Daren yang tengah bermain ponsel. Terlihat begitu sibuk. Akhirnya Aurel memutuskan untuk berjalan mengendap-endap keluar kamar.


Tanpa sepengetahuan Daren tentunya. Aurel lega, begitu menutup pintu kamar. "Enak aja dia nyuruh gue pijitin dia. Emang dia siapa?"


"Kamar Mama sama Papa dimana, ya?" gumam Aurel.


Malam ini keluarganya menginap di sebuah hotel. Hotel yang sama dengan tempat acara tadi. Perempuan itu berjalan ke koridor hotel. Mencari-cari kamar kedua orang taunya.


"Loh Aurel? Kamu ngapain di sini?" tanya Alya yang kebetulan akan keluar kamar.


"Kak Mama sama Papa kamarnya yang mana?" tanya Aurel, ia sangat bersyukur bertemu dengan Alya.


"Itu." Alya menunjuk kamar di depannya.


"Kenapa emang? Kok kamu masih disini? Gak di kamarmu?" tanya Alya heran.


Aurel tidak mendengarkan ucapan Kakaknya. Ia malah mengetuk pintu kamar orang tuanya.


Clek....


Pintu terbuka, menampilkan sosok Vivi. "Loh Aurel? Kok disini?"


"Mama, malam ini aku tidur sama Mama sama Papa, ya?" ucap Aurel berharap Mamanya mengizinkan.


"Loh gak bisa gitu. Kamu kan udah punya suami sekarang. Ya harus tidur sama suami kamu," ucap Vivi.


Alya yang masih stay di depan pintu kamarnya hanya terkekeh geli. Mendengar ucapan Aurel.


"Rel, kamu itu bukan gadis lagi. Udah nikah ya kami tidur sama suamimu lah. Eh ini malam pertama loh," ucap Alya meledek Aurel.


"Ah Kak! Lo jangan gitu ah!" protes Aurel.


"Lah tanya Mama, kewajiban malam pertama apaan," kompor Alya.


"Sayang, bener kata Kakak kamu. Mending sekarang kamu balik ke kamar kamu," ucap Vivi akan menutup pintu kamarnya.


"Eh Ma, jangan dong. Mama kok jahat sih sama Aurel," ucap Aurel menahan pintu agar tidak di tutup.


"Bukannya jahat, tapi ya emang harus begitu, " ucap Vivi. "Udah ya, Mama mau istirahat. Kamu juga istirahat, kalau capek ngomong sama Daren 'mainnya' besok aja."


Alya tertawa keras mendengar ucapan Mamanya. Vivi menutup pintu kamar, pupus sudah harapan Aurel. Perempuan itu berbalik menatap Alya.


"Kak... " ucapnya sembari menyengir.


"Apa? "


"Gue tidur sama lo, ya... " ucap Aurel dengan wajah memelas mungkin.

__ADS_1


"Gak ada!" ucap Alya langsung menutup pintu kamarnya. Kedua bahu Aurel merosot. "Sial banget sih gue!" gumamnya.


"Oh jadi lo di sini?" ucap seseorang dari belakang Aurel. Aurel memutarkan badannya dan melihat Daren yang sudah ada di belakangnya.


"Ayo balik!" ucap Daren menarik tangan Aurel. "Lo harus pijitin gue."


"Gak mau!" bantah Aurel menepis tangan Daren.


"Aurel lo udah janji ya," ucap Daren.


Aurel mendengus kesal. Tanpa banyak bicara, Daren mengendong Aurel seperti karung beras.


"Daren! Turunin gue!" teriak Aurel di tengah koridor hotel. "Enggak, nanti lo kabur lagi."


"Daren!" teriak Aurel gadis itu memukul bahu Daren. Namun Daren enggan melepaskannya. Aurel pasrah, ketika Daren membawanya masuk kedalam kamar hotel.


Daren menghempaskan tubuh Aurel ke ranjang.


Karena tidak bisa mengimbangi dirinya, ia jadi terdorong kedepan. Jarak wajah mereka begitu dekat. Bahkan keduanya dapat merasakan hembusan nafas masing-masing.


Kedua mata Aurel melebar. Ketika melihat Daren didepan matanya. Dengan kekuatan ekstra, Aurel mendorong tubuh Daren hingga lelaki itu jatuh kelantai.


Brakk...


"Argh.... sakit banget," ucap Daren memegangi pinggangnya.


"Lo mesum anjir! " teriak Aurel.


"Lo sih mesum. Mau cium gue kan lo?" ucap Aurel dengan sewotnya.


"Ngarang!" balas Daren.


"Udah cepat pijitin gue!"


"Gue gak bisa mijitin orang," ucap Aurel dengan seribu alasan. "Masa gak bisa? Coba dulu!"


"Ih dibilangin gak bisa," ucap Aurel begitu kekeh.


"Oke kalau lo gak mau. Balikin baju gue!" ucap Daren merebut paksa baju yang sedang di pakai oleh Aurel.


"Eh gila ya lo!" ucap Aurel


mempertahankan bajunya. "Ya udah kalau gitu pijitin gue!"


Aurel mendengus kesal. "Ya udah cepet tengkurap!"


Daren tersenyum, lelaki itu membuka bajunya.

__ADS_1


"Kok lo buka baju sih!" protes Aurel.


"Ya kan mau dipijitin. Biar lebih afdol!" balas Daren.


Daren mengubah posisinya menjadi tengkurap. Aurel mulai memijjati tubuh Daren.


"Nah sebelah kiri, Rel, itu sakit banget," ucap Daren.


"Udah diem aja bawel!"


"Arghh.... Sakit! Jangan kenceng-kenceng!" ucap Daren berteriak kesakitan. Aurel tersenyum, tipis.


"Gue tahu harus ngelakuin apa buat balas dendam," batin Aurel. Aurel menekan bagian tubuh Daren yang sakit. Membuat lelaki itu menjerit kesakitan. Aurel hanya tertawa melihatnya.


***


Sarah menatap pemandangan di luar kamar. Wanita paruh baya itu tida perduli jika angin malam menyejukkan badannya. Seseorang berjalan kearahnya. Sembari memeluk dari samping.


"Mi, kok di luar? Masuk yuk, udaranya dingin banget. Gak bagus buat kesehatan," ucap Wardana.


"Aku tuh lagi mikirin. Ruby tuh kemana. Dan kenapa dia kabur, kan yang repot jadi kita. Daren harus menikah sama orang yang gak dia cintai," ucap Sarah mengeluarkan semua perasaannya.


"Kamu tenang, ya. Aku akan cari terus keberadaan Ruby, anak kita."


"Pi, kalau di pikir-pikir. Kisah ini kayak kisah kita dulu ya. Bedanya, yang kabur dari pernikahan Mbak Santi, yang mau nikah sama kamu." Wardana tersenyum tipis mendengarnya.


"Dulu aku gak bisa bedain antara kamu sama Santi. Jadi ya mau-mau aja waktu nikah sama kamu."


Sarah tertawa mendengar. Putaran memori usang begitu jelas di otaknya. "Aku berharap, Daren sama Aurel bisa kayak kita. Saling mencintai seiring berjalannya waktu."


"Aku yakin mereka bisa kok," ucap Wardana. Sarah memeluk Wardana. Ada sedikit beban yang keluar dari dirinya. Tentang semua masalah yang dia alami.


***


Kedua mata Aurel sudah mengantuk, namun tangannya masih bekerja untuk memjjati Daren. Daren sendiri sudah tertidur pulas.


"Daren, udah ya. Mata gue udah lima watt nih. Gak kuat lagi, ngantuk banget, " ucap Aurel sembari menguap. Aurel menjatuhkan tubuhnya di sebelah


Daren. Dengan tangan yang melingkar di pinggang Daren.


Beberapa jam kemudian, Daren membuka matanya. Merasakan ada sesuatu yang memeluknya. Lelaki itu membalikkan tubuhnya. Dan menatap Aurel yanh sudah tertidur pulas.


Kedua sudut bibirnya tertarik. Menatap wajah cantik Aurel. Meski ada anak sungai yang membentuk di sudut bibir. Aurel juga mendengkur, mungkin karena kecepakean.


"Berulang kali gue meyakinkan diri gue kalau semua ini hanya mimpi. Tapi, lagi dan lagi keadaan yang menyadarkan gue kalau semua ini bukan mimpi. Gue bahagia bisa menikah sama orang yang selama ini gue cintai."


"Dan orang itu lo, Rel. Dari dulu perasaan gue gak pernah berubah. Bahkan ketika gue menjalin kisah dengan orang lain tetap lo yang berhasil memenuhi otak gue."

__ADS_1


Daren menarik tubuh Aurel lebih dekat dengannya. Tanpa ragu, ia mengecup kening Aurel lama.


"Gue janji, gue akan buat lo jatuh cinta lagi sama gue. Gue janji!"


__ADS_2