MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
SANG PENYELAMATAN


__ADS_3

Aurel dan Daren telah sampai di rumah. Keduanya langsung turun dari mobil. Ia melihat Sarah yang sedang membuat kue. Tidak di sangka, di sana juga ada Vivi yang sedang membantu Sarah.


"Mama!" ucap Aurel langsung memeluk Mamanya. "Mama kok kesini ga bilang-bilang? Untung Aurel pulang cepet."


"Kamu itu kenapa sih? Gak pernah main ke rumah? Jadi ya Mama yang datengin kamu," omel Vivi.


"Sorry... " ucap Aurel sembari tersenyum.


"Gimana kabarnya Ma? Sehat kan?" ucap Daren yang langsung mencium tangan Vivi.


"Alhamdulillah baik. Kalian akur kan?" tanya Vivi. Keduanya saling pandang.


"Gak pernah akur jeng, mereka berantem terus..." sahut Sarah yang sedang sibuk sendiri.


"Duh kalian ini benar-benar ya.." ucap Vivi.


Daren dan Aurel langsung menyengir mendengar ucapan Vivi.


"Mami sama Mama mau buat apa?" tanya Aurel mengalihkan pembicaraan.


"Ini, kita mau buat kue. Kamu bantuin juga ya," ucap Vivi. Aurel mengangguk.


"Eh gak bisa dong. Kan lo tadi pusing," sahut Daren.


"Pusing? Aurel kenapa?" tanya Vivi. Sarah juga menghentikan aktifitasnya gara-gara mendengar ucapan Daren.


"Tadi claustrophobia Aurel kumat, Ma. Jadi ya gitu," ucap Daren.


"Oh iya? Kok bisa?" tanya Vivi.


"Kita kejebak di lift," jawab Aurel.


"Tapi kamu udah gak kenapa-napa Rel?" tanya Sarah. "Istirahat aja ya, gak udah bantuin Mami sama Mama buat kue."


"Ah Mami, Aurel udah gak kenapa-napa kok. Udah sehat gini, kan?" ucap Aurel memutar tubuhnya.


"Duh kamu ini ada-ada aja. Ngomong-ngomong jeng Aurel ini suka banget buat kue. Makanya dia antusias kalau kita mau buat kue," ucap Vivi.


"Wah beneran? Kamu suka buat kue Rel?" tanya Sarah.


Aurel mengangguk. "Tunggu sebentar ya Ma, Mi, Aurel mau ganti baju dulu."


Perempuan itu langsung berlari menuju kamar untuk berganti pakaian.


"Mi, Daren gak suruh bantuin juga?" ucap Daren kepada Maminya.

__ADS_1


"Enggak! Kamu malah ngerusuhin nanti," ucap Sarah. Daren hanya tertawa lalu mendengar ucapan Maminya. .


***


Tissa berjalan mengendap-endap untuk masuk kedalam rumahnya.


Lalu ja mengambil kunci cadangan di bawah pot dan membuka rumahnya. Ia terdiam sebentar di depan ambang pintu.


Melihat betapa berserakannya rumahnya. Perempuan itu melangkahkan kakinya. Tissa yakin Steven sedang tidak di rumah. Karena memang biasanya jam-jam seperti ini abangnya itu sedang keluar.


Meski begitu, Tissa tetap memelankan langkah kakinya ia berjalan menuju kamar untuk mengambil barang-barangnya.


Tissa mengambil koper, menaruh semua baju kedalam kopernya.


Tidak hanya satu koper, tapi dua koper. Ada beberapa tas, sepatu hingga alat-alat make upnya yang harus ia bawa.


10 menit kemudian. Tissa selesai mengemasi barang-barangnya. Meski hatinya sangat berat meninggalkan kamar yang sejak kecil sudah ia tempati. Tapi bagaimana lagi, memang ini kan yang harus dilakukan? Agar hidupnya lebih baik bukan. Tissa menghela nafas, memandangi foto keluarganya. Ini harus ia bawa. Ia memasukan foto tersebut kedalam tas. Lalu berjalan keluar kamar. Ia harus segera pergi sebelum Steven datang dan melakukan hal yang tidak di inginkan.


Tissa kaget, ketika keluar kamar ia sudah di hadapkan oleh Steven dan teman-temannya.


"Adik manis mau kemana?" ucap Steven melirik koper yang di bawa Tissa.


"Minggir, Tissa mau pergi dari neraka ini," ucapnya.


"Siapa yang nyuruh lo pergi? Ha?" bentak Steven. Tissa terdiam, menunduk takut.


"Bang, gue udah ikhlas ninggalin semua ini. Jadi tolong izinkan gue buat pergi," ucap Tissa memohon kepada Steven.


"Enggak! Masuk!" ucap Steven mendorong tubuh Tissa untuk masuk kedalam kamarnya.


Tissa jatuh, di lantai. Dengan cepat Steven mengunci pintu kamar Tissa...


. Dok... dok.... dok...


"Bang! Buka!" teriak Tissa dari dalam kamarnya.


"Gue gak akan biarin lo pergi!" ucap Steven. Tissa terduduk lemas. Ia tidak tahu harus bagaimana.


Apalagi Aldino sedang menunggunya di luar. Apa mungkin Tissa harus minta tolong lagi kepada Aldino?


Tissa mengambil ponselnya. Lalu mencoba untuk menghubungi Aldino.


"Halo Al," ucap Tissa.


"Tissa lo dimana? Kok lama banget?" tanya Aldino.

__ADS_1


"Gue di kunciin di kamar sama Abang gue. Sekarang gini, lebih baik lo pulang aja. Gue gak pa-pa di sini," ucap Tissa sembari menangis.


Tadinya Tissa ingin meminta tolong kepada Aldino. Tapi ia tahu bahwa ia sudah sangat merepotkan Aldino. Jadi ia mengurungkan niatnya.


"Tissa gak usah boong lo gak mungkin baik-baik aja. Gue masuk ya... "ucap Aldino nampak panik.


"Gak usah Al, jangan. Di sini bukan cuma ada Abang gue. Tapi temen-temennya. Gue takut lo kenapa-napa," ucap Tissa. "Sebisa mungkin gue akan jaga diri gue."


"Gak... gak... gue masuk sekarang!" ucap Aldino.


"Al... Aldino!" teriak Tissa, tapi terlambat Aldino sudah mematikan sambungan telpon.


Sekarang Tissa tidak tahu apa yang akan di lakukan Steven dan teman-temannya terhadap Aldino. Apakah setelah ini akan ada berita di semua media kalah seorang CEO Maheswari grup meninggal mengenaskan di rumah seorang gadis? Entahlah, Tissa berharap semua hal yang ada di kepalanya tidak terjadi.


***


Aldino keluar dari mobil. Ia langsung masuk kedalam rumah Tissa. Sementara itu Steven dan ketiga temannya kaget, karena melihat ada Aldino.


"Dimana Tissa?" ucap Aldino.


"Siapa lo? " ucap Steven sembari berdiri menghampiri Aldino.


"Bukan urusan lo. Tissa mana?" ucap Aldino.


"Tis... Tissa... " Aldino juga berteriak memanggil nama Tissa.


"Oh gue inget dia yang kemarin bawa Tissa Stev," ucap salah satu teman Steven.


"Oh jadi lo udah bawa kabur adik gue?" ucap Steven menatap Aldino dari atas hingga bawah. "Ada hubungan apa lo sama si ****** itu?"


Bugh!


Aldino langsung memberi tinjuan di sudut bibir Steven. Steven terjatuh, di tolong oleh ketiga temannya. Ketiga temannya langsung mengeroyok Aldino. Aldino melawan mereka semua. Memang tidak ada yang tahu jika Aldino merupakan pemegang sabuk hitam karate. Jadi Aldino bisa menghadapi semuanya sendiri.


Ketiga teman Steven kalah. Mereka semua jatuh di lantai. Steven bangkit, ia mengeluarkan sebuah pisau dari saku jaketnya. Ialangsung menyerang Aldino.


Aldino berhasil menghindar dari tusukan pisau. Meski tangannya sedikit tergores akibat menahan pisau. Tapi dengan mudah, ia bisa menaklukkan Steven. Hingga membuat lelaki itu pingsan.


Aldino segera naik ke kamar Tissa dan membuka pintunya. Ia melihat Tissa yang tengah menangi. Tissa langsung berlari dan memeluk Aldino.


"Udah gak perlu takut. Gue ada di sini," ucap Aldino menangkan Tissa.


"Ya ampun Al, tangan lo..." ucap Tissa kaget melihat tangan Aldino bercucuran darah.


"Udah gak pa-pa ini dikit doang," ucap Aldino. "Mending pergi dari sini yuk."

__ADS_1


Aldino menarik kedua koper Tissa lalu berjalan keluar rumah.


__ADS_2