
Aurel keluar kamar, ia melihat
Sarah yang sedang memasak. la
pun berinisiatif untuk membantu
Sarah memasak.
"Aurel bantuin, ya Mi... " ucap
Aurel.
"Kamu ambil telur di kulkas," ucap
Sarah. Aurel menurut.
"Mami lihat kalian udah mulai akur ? "Ucap sarah memulai obrolan. obrolan. Aurel tersenyum
mendengarnya.
"Ya lumayan lah Mi. Walau kadang
Daren masih suka buat kesal,"
jawab Aurel.
"Daren tuh emang gitu. Bukan
cuma kamu yang jadi korban
jahilnya, kadang Mami sama Ruby
juga iya. Gak tahu deh, kenapa dia
bisa sejahil itu," ucap Sarah yang
sedang menumis bumbu.
"Udah dong, pagi-pagi ghibah aja,"
ucap Daren dari belakang mereka. Daren memeluk Aurel. Meletakkan
kepalanya di bahu Aurel.
"Daren malu sama Mami... " bisik
Aurel.
"Lah emang kenapa? Gak pa-pa
kan Mi?" ucap Sarah. Daren
memang benar-benar tidak tahu
diri.
"Gak pa-pa dong. Kan suami istri,
malah Mami seneng liat kalian
akur begini, " ucap Sarah
tersenyum antusias. Meskipun
begitu tetap saja Aurel tidak enak Dengan sarah."Ah iya Mami lupa mau ngasih
tahu kalian. Kalau nanti malam
ada arisan keluarga di rumah
Tante Indri. Kalian ikut, ya...
ucap Sarah.
"Tante Indri yang mana?" tanya
Aurel. Karena jujur ia belum
mengenal lebih jauh keluarga Daren.
"Yang kemarin paling hedon
gayanya," jawab Daren. "Yang
udah kayak toko mas berjalan."
Aurel mengangguk, ia
mengingatnya. "Lo mandi sana!
Biar gue bisa bantuin Mami
masak. "
"Gak mau... " ucap Daren begitu
manja.
Sarah hanya menggelengkan kepalanya melihat Daren yang
begitu manja dengan Aurel.
"Mi boleh gak sih? Menantunya di
suruh buat mandiin anaknya aja.
Jangan di suruh masak," ucap
Daren. Aurel syok mendengar
ucapan Daren. la pun mencubit
perut Daren agar lelaki itu tidak salah berbicara.
"Gawur banget sih bilangnya!"
ucap Aurel. Daren tersenyum,
pagi-pagi melihat wajah kesal
Aurel sangat menyenangkan."Boleh kan Mi?" ucap Daren
meminta persetujuan Maminya.
"Boleh," ucap Sarah sembari
tersenyum.
"Tuh kan boleh, ayo lah gas, " ucap
Daren menarik Aurel.
"Gak mau!" ucap Aurel menepis
tangan Daren.
"Sayang ih... "
"Mandi sendiri sana!" ucap Aurel.
"Ya udah biarin aja gue bakalan ngambek sama lo!" ancam Aurel.
Daren menghela nafas kesal. la
pun langsung pergi meninggalkan
dapur. "Nasib-nasib... "
Sarah tertawa melihat
pertengkaran mereka pagi ini.
"Tuh kan Mi salah satu sifat Daren
yang paling nyebelin,
__ADS_1
ucap Aurel
"
gemas sendiri.
"Iya. Daren emang gitu orangnya.
Tapi Mami liat dia mulai manja sama kamu. Dan dia gak biasa
manja sih sebenarnya. Itu
tandanya dia beneran sayang sama
kamu," ucap Sarah.
Aurel mengangguk paham. Tapi ia
juga merasakannya. Setelah Daren
confess kemarin lelaki itu menjadi
manja kepadanya.
"Eh Rel tolong potongin cabe ya,
ucap Sarah membuyarkan
lamunan Aurel. Aurel hanya
mengangguk, dan menuruti
kemauan Sarah untuk memotong cabe.***
Daren menatap Aurel yang tengah
memakai lipstik. la mengerutkan
keningnya heran.
"Kenapa lipstik cewek lebih dari
satu?" tanya Daren. Ini tidak
penting. Tetapi ia sangat
penasaran.
"Terus juga kemarin gue liat salah
satu lipstik lo ada yang rasa coklat. Emang bener?" ucapnya lagi.
Aurel melirik Daren di kaca meja
riasnya. Entah kenapa selain jahil
Daren juga sangat bawel dan kepo.
"Iya emang rasa coklat," jawalb
Aurel yang sebenarnya malas
meladeni Daren.
"Cobain dong!" ucap Daren
mengedipkan matanya.
"Oh lo mau? Ya sini gue lipstikin
lo," ucap Aurel mengambil lipstiknya.
"Bukan lipstiknya. Tapi bibirnya,
kan baru make lipstik rasa coklat.
Pasti rasanya juga coklat," ucap
Daren. Sekarang Aurel paham.
menggodanya.
"Gue lagi make yang rasa stroberi,"
jawab Aurel.
"Asem dong?"
"Iya emang asem. Gak usah nyoba makanya," jawab Aurel.
Aurel berjalan kearah Daren untuk
memasangkan dasi lelaki itu.
"Lo kapan selesai haidnya?" tan
Daren. Aurel melirik Daren sekilas
lalu fokus dengan dasi di yang
sedang ia buat.
"Kenapa emangnya?"
"Pengen itu... " ucap Daren.
Berharap Aurel mengerti. Ya
bagaimana pun Daren seorang lelaki dewasa.
"5 atau 6 hari lagi lah," jawab
Aurel.
"Lama banget sih," ucap Daren. la
sebal jika harus nmenunggu selama
itu.
"Ya gimana kan emang gitu.
Biasanya juga 8-7 hari," jawab
Aurel. Aurel selesai memasangkan
dasi di leher Daren. la sedikit
menyisir rambut Daren dengan
jarinya."Udah," ucap Aurel. Aurel dan
Daren menatap tubuh mereka di
cermin besar.
"Yuk berangkat. Udah jam berapa
ini," ucap Aurel.
Mereka memutuskan untuk
berangkat ke kantor. Sebelumnya
tadi mereka sudah sarapan
bersama dengan Sarah dan
Wardana.
"Ingat ya Daren, Aurel, nanti
jangan pulang malam-malam. Kan ada arisan kelurga di rumah Tante
Indri," ucap Sarah mengingatkan
__ADS_1
lagi.
"Iva Mi beres. Daren sama Aurel
pergi dulu ya, " ucap Daren
mencium tangan Sarah di ikuti
oleh Aurel dibelakangnya.
Mereka berjalan keluar rumah.
"Lihat Pi, mereka udah akur. Mami
seneng iatnya. Dengan gitu kan.
Bentar lagi kita akan segera
nimang cucu," ucap Sarah antusias.
"Iya semoga segera ya Mi," ucap
Wardana juga penuh harapan.***
Aurel dan Daren saat ini berada
didalam mobil. Daren duduk
menyetir sementara Aurel sibuk
dengan ponselnya.
"Oh iya, nanti malam kan ada
acara. Lo gak mau beli baju?" ucap
Daren melirik Aurel yang sedang bermain ponsel.
"Beli baju? Emang harus?" ucap
Aurel.
"Engga sih. Siapa tahu lo mau kan
gue cuma nawarin," ucap Daren.
Daren mengambil sesuatu dari dompetnya.
"Nih atm gue, pake aja. Sepuas lo!
Limitnya juga banyak," ucap
Daren menyerahkan kartu Atm
miliknya."Wah beneran? Gue bisa beli i
crime banyak-banyak!" ucap Aurel
girang.
"Aneh, bukannya beli baju, tas
atau apa gitu ini malah yang di
pengenin cuma ice crime," ucap
Daren menatap Aurel aneh.
"Ya gimana, kalau baju, tas gue
udah punya. Tapi ice crime kan
gak punya," jawab Aurel.
"Kalau ice crime punya gue mau
gak?" tanya Daren. Aurel mengerutkan keningnya
heran. "Lo punya ice crime?
Kenapa gak pernah dibagi ke gue?
Pelit banget sih."
"Tuh ice crime mau?" ucap Daren
melirik sesuatu di balik celananya.
Aurel membulatkan matanya. Dan
langsung menapar lengan Daren
keras.
Plak...
"Sayang ih mainnya gampar-gamparan!" ucap Daren
mengusap lengannya yang terasa
sakit.
"Lagian mesum sih!" ucap Aurel
tidak terima.
"Kan cuma nawarin. Tadi nyalahin
gak di tawarin," ucap Daren.
"Ya ga gitu juga!" ucap Aurel.
Aurel sebal dengan Daren. la
memilih diam saja.
"Lagian ice crime gue enak. Limited edition, lagi," ucap Daren
masih saja mempromosikan ice crimenya
"Limited edition pala lu!" ucap
Aurel.
"Jadi mau gak?" ucap Daren.
"Gak Daren! Gue gak suka ice
crime lo!" ucap Aurel penuh
penolakan.
"Yah sayang banget si Alex di
tolak," ucap Daren."Alex?" ucap Aurel.
"Iya mereknya Alex, Bagus kan?
Gagah berani seperti bentuknya!"
Ucap Daren.
Plak..
Aurel menampar Daren lagi.
"Istighfar lo! "
"Beneran sayang," ucap Daren. la
suka menggoda Aurel seperti ini.
"Jadi mau gak yang?"
"Enggak!" teriak Aurel hingga orang di luar mobil mampu
__ADS_1
mendengarnya.