MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
ALEX


__ADS_3

Aurel keluar kamar, ia melihat


Sarah yang sedang memasak. la


pun berinisiatif untuk membantu


Sarah memasak.


"Aurel bantuin, ya Mi... " ucap


Aurel.


"Kamu ambil telur di kulkas," ucap


Sarah. Aurel menurut.


"Mami lihat kalian udah mulai akur ? "Ucap sarah memulai obrolan. obrolan. Aurel tersenyum


mendengarnya.


"Ya lumayan lah Mi. Walau kadang


Daren masih suka buat kesal,"


jawab Aurel.


"Daren tuh emang gitu. Bukan


cuma kamu yang jadi korban


jahilnya, kadang Mami sama Ruby


juga iya. Gak tahu deh, kenapa dia


bisa sejahil itu," ucap Sarah yang


sedang menumis bumbu.


"Udah dong, pagi-pagi ghibah aja,"


ucap Daren dari belakang mereka. Daren memeluk Aurel. Meletakkan


kepalanya di bahu Aurel.


"Daren malu sama Mami... " bisik


Aurel.


"Lah emang kenapa? Gak pa-pa


kan Mi?" ucap Sarah. Daren


memang benar-benar tidak tahu


diri.


"Gak pa-pa dong. Kan suami istri,


malah Mami seneng liat kalian


akur begini, " ucap Sarah


tersenyum antusias. Meskipun


begitu tetap saja Aurel tidak enak Dengan sarah."Ah iya Mami lupa mau ngasih


tahu kalian. Kalau nanti malam


ada arisan keluarga di rumah


Tante Indri. Kalian ikut, ya...


ucap Sarah.


"Tante Indri yang mana?" tanya


Aurel. Karena jujur ia belum


mengenal lebih jauh keluarga Daren.


"Yang kemarin paling hedon


gayanya," jawab Daren. "Yang


udah kayak toko mas berjalan."


Aurel mengangguk, ia


mengingatnya. "Lo mandi sana!


Biar gue bisa bantuin Mami


masak. "


"Gak mau... " ucap Daren begitu


manja.


Sarah hanya menggelengkan kepalanya melihat Daren yang


begitu manja dengan Aurel.


"Mi boleh gak sih? Menantunya di


suruh buat mandiin anaknya aja.


Jangan di suruh masak," ucap


Daren. Aurel syok mendengar


ucapan Daren. la pun mencubit


perut Daren agar lelaki itu tidak salah berbicara.


"Gawur banget sih bilangnya!"


ucap Aurel. Daren tersenyum,


pagi-pagi melihat wajah kesal


Aurel sangat menyenangkan."Boleh kan Mi?" ucap Daren


meminta persetujuan Maminya.


"Boleh," ucap Sarah sembari


tersenyum.


"Tuh kan boleh, ayo lah gas, " ucap


Daren menarik Aurel.


"Gak mau!" ucap Aurel menepis


tangan Daren.


"Sayang ih... "


"Mandi sendiri sana!" ucap Aurel.


"Ya udah biarin aja gue bakalan ngambek sama lo!" ancam Aurel.


Daren menghela nafas kesal. la


pun langsung pergi meninggalkan


dapur. "Nasib-nasib... "


Sarah tertawa melihat


pertengkaran mereka pagi ini.


"Tuh kan Mi salah satu sifat Daren


yang paling nyebelin,

__ADS_1


ucap Aurel


"


gemas sendiri.


"Iya. Daren emang gitu orangnya.


Tapi Mami liat dia mulai manja sama kamu. Dan dia gak biasa


manja sih sebenarnya. Itu


tandanya dia beneran sayang sama


kamu," ucap Sarah.


Aurel mengangguk paham. Tapi ia


juga merasakannya. Setelah Daren


confess kemarin lelaki itu menjadi


manja kepadanya.


"Eh Rel tolong potongin cabe ya,


ucap Sarah membuyarkan


lamunan Aurel. Aurel hanya


mengangguk, dan menuruti


kemauan Sarah untuk memotong cabe.***


Daren menatap Aurel yang tengah


memakai lipstik. la mengerutkan


keningnya heran.


"Kenapa lipstik cewek lebih dari


satu?" tanya Daren. Ini tidak


penting. Tetapi ia sangat


penasaran.


"Terus juga kemarin gue liat salah


satu lipstik lo ada yang rasa coklat. Emang bener?" ucapnya lagi.


Aurel melirik Daren di kaca meja


riasnya. Entah kenapa selain jahil


Daren juga sangat bawel dan kepo.


"Iya emang rasa coklat," jawalb


Aurel yang sebenarnya malas


meladeni Daren.


"Cobain dong!" ucap Daren


mengedipkan matanya.


"Oh lo mau? Ya sini gue lipstikin


lo," ucap Aurel mengambil lipstiknya.


"Bukan lipstiknya. Tapi bibirnya,


kan baru make lipstik rasa coklat.


Pasti rasanya juga coklat," ucap


Daren. Sekarang Aurel paham.


menggodanya.


"Gue lagi make yang rasa stroberi,"


jawab Aurel.


"Asem dong?"


"Iya emang asem. Gak usah nyoba makanya," jawab Aurel.


Aurel berjalan kearah Daren untuk


memasangkan dasi lelaki itu.


"Lo kapan selesai haidnya?" tan


Daren. Aurel melirik Daren sekilas


lalu fokus dengan dasi di yang


sedang ia buat.


"Kenapa emangnya?"


"Pengen itu... " ucap Daren.


Berharap Aurel mengerti. Ya


bagaimana pun Daren seorang lelaki dewasa.


"5 atau 6 hari lagi lah," jawab


Aurel.


"Lama banget sih," ucap Daren. la


sebal jika harus nmenunggu selama


itu.


"Ya gimana kan emang gitu.


Biasanya juga 8-7 hari," jawab


Aurel. Aurel selesai memasangkan


dasi di leher Daren. la sedikit


menyisir rambut Daren dengan


jarinya."Udah," ucap Aurel. Aurel dan


Daren menatap tubuh mereka di


cermin besar.


"Yuk berangkat. Udah jam berapa


ini," ucap Aurel.


Mereka memutuskan untuk


berangkat ke kantor. Sebelumnya


tadi mereka sudah sarapan


bersama dengan Sarah dan


Wardana.


"Ingat ya Daren, Aurel, nanti


jangan pulang malam-malam. Kan ada arisan kelurga di rumah Tante


Indri," ucap Sarah mengingatkan

__ADS_1


lagi.


"Iva Mi beres. Daren sama Aurel


pergi dulu ya, " ucap Daren


mencium tangan Sarah di ikuti


oleh Aurel dibelakangnya.


Mereka berjalan keluar rumah.


"Lihat Pi, mereka udah akur. Mami


seneng iatnya. Dengan gitu kan.


Bentar lagi kita akan segera


nimang cucu," ucap Sarah antusias.


"Iya semoga segera ya Mi," ucap


Wardana juga penuh harapan.***


Aurel dan Daren saat ini berada


didalam mobil. Daren duduk


menyetir sementara Aurel sibuk


dengan ponselnya.


"Oh iya, nanti malam kan ada


acara. Lo gak mau beli baju?" ucap


Daren melirik Aurel yang sedang bermain ponsel.


"Beli baju? Emang harus?" ucap


Aurel.


"Engga sih. Siapa tahu lo mau kan


gue cuma nawarin," ucap Daren.


Daren mengambil sesuatu dari dompetnya.


"Nih atm gue, pake aja. Sepuas lo!


Limitnya juga banyak," ucap


Daren menyerahkan kartu Atm


miliknya."Wah beneran? Gue bisa beli i


crime banyak-banyak!" ucap Aurel


girang.


"Aneh, bukannya beli baju, tas


atau apa gitu ini malah yang di


pengenin cuma ice crime," ucap


Daren menatap Aurel aneh.


"Ya gimana, kalau baju, tas gue


udah punya. Tapi ice crime kan


gak punya," jawab Aurel.


"Kalau ice crime punya gue mau


gak?" tanya Daren. Aurel mengerutkan keningnya


heran. "Lo punya ice crime?


Kenapa gak pernah dibagi ke gue?


Pelit banget sih."


"Tuh ice crime mau?" ucap Daren


melirik sesuatu di balik celananya.


Aurel membulatkan matanya. Dan


langsung menapar lengan Daren


keras.


Plak...


"Sayang ih mainnya gampar-gamparan!" ucap Daren


mengusap lengannya yang terasa


sakit.


"Lagian mesum sih!" ucap Aurel


tidak terima.


"Kan cuma nawarin. Tadi nyalahin


gak di tawarin," ucap Daren.


"Ya ga gitu juga!" ucap Aurel.


Aurel sebal dengan Daren. la


memilih diam saja.


"Lagian ice crime gue enak. Limited edition, lagi," ucap Daren


masih saja mempromosikan ice crimenya


"Limited edition pala lu!" ucap


Aurel.


"Jadi mau gak?" ucap Daren.


"Gak Daren! Gue gak suka ice


crime lo!" ucap Aurel penuh


penolakan.


"Yah sayang banget si Alex di


tolak," ucap Daren."Alex?" ucap Aurel.


"Iya mereknya Alex, Bagus kan?


Gagah berani seperti bentuknya!"


Ucap Daren.


Plak..


Aurel menampar Daren lagi.


"Istighfar lo! "


"Beneran sayang," ucap Daren. la


suka menggoda Aurel seperti ini.


"Jadi mau gak yang?"


"Enggak!" teriak Aurel hingga orang di luar mobil mampu

__ADS_1


mendengarnya.


__ADS_2