
...~Happy Reading~...
"Ryana!"
"Aku gak mau Ka, pokoknya aku gak mau ada dia disini!" ucap Ryana dengan begitu tegas dan yakin.
"Kamu itu kenapa sih? Kamu gak kasihan sama dia, udah jauh jauh dari kampung niat kerja malah kamu cemburuin gak jelas begini. Kamu tau Yank, perjuangan dia untuk bisa kesini tidak semudah kamu ingin jalan jalan keluar negeri. Plis lah, buang ego kamu, kasihan dia." ujar Raka mencoba menjelaskan, "Bukankah kamu juga sudah tahu tentang masalah dia? Apa kamu tidak bisa berempati sedikit saja. Ini baru beberapa hari loh Yank, setidaknya tunggu sampai beberapa bulan. Kalau kamu memang gak cocok sama dia, baru kita ganti."
"Iya, tunggu sampai beberapa bulan. Sampai kamu menaruh hati sama dia!" seru Ryana dengan berlinang air mata, "Segitu dekat kah kalian?" tanya Ryana dengan tersenyum getir, "Sampai kamu tahu semua hal tentang dia."
"Yank, bukan gitu!"
"Kalau kamu mau, ceraikan aku. Kamu bisa memperistri dia. Gak perlu kamu sibuk pencari pembantu atau tukang masak, semua sudah bisa ia lakukan ke kamu, mas Raka!" ucap Ryana dengan menekankan kata akhiran nya.
"Kenapa kamu semakin egois begini sih?" keluh Raka menarik napas nya panjang.
...ππππ...
__ADS_1
Pagi hari nya, masih seperti biasa. Kedua pasutri itu menikmati sarapan pagi nya dengan roti. Ryana masih diam seribu bahasa, sedangkan Raka hari ini terlihat juga sedikit diam, namun tidak dengan Winda yang selalu terus memancing untuk berbicara dengan Raka, hingga membuat Ryana semakin muak.
"Non mau saya buatkan susu?" tanya Winda saat setelah mengantarkan minuman untuk Raka.
"Tidak!" jawab Ryana datar dan dingin.
"Sayang!" gumam Raka pelan menatap istrinya dengan tatapan yang sulit di mengerti.
"Aku akan kembali ke kamar!" ucap Ryana lalu pergi, hatinya masih sangat kacau dan dirinya belum bisa menerima kehadiran Winda di rumah itu.
"Sayang!" panggil Raka langsung mengejar istri ny ke dalam kamar.
"Bukan nya kamu ada meeting penting pagi ini? Pergilah, aku akan diam di dalam kamar!" ucap Ryana saat melihat suami nya memasuki kamar.
"Kamu bener bener yakin mau. memecat Winda?" tanya Raka pelan.
"Menurut kamu?"
__ADS_1
"Astaga Yank, apa tidak ada cara lain? Sungguh, aku makin gak. ngerti sama kamu. Kenapa kamu bisa setega ini sama dia. Kalian juga sama sama cewek loh, dia butuh pekerjaan ini dan dia butuh lari dari tempat tinggal nya di kampung. Kenapaβ"
"Oh bagus!" seru Ryana dengan cepat memotong pembicaraan Raka, "Kasihan terus sama dia, gak usah kasihan sama aku! Dia memang lebih berhak disini, kalau begituβ"
"Jangan katakan apapun!" ucap Raka dengan cepat memotong ucapan Ryana, karena ia kata apa yang akan di ucapkan selanjutnya oleh Ryana.
Grepp!
Tidak ingin bertengkar dan membuat istrinya down, Raka langsung memeluk Ryana dengan begitu erat, tidak perduli walaupun wanita itu meronta dan memberontak berusaha melepaskan diri. Raka tetap memeluk nya dengan begitu erat.
"Maafin aku, maaf. Aku salah, udah ya jangan di terusin lagi. Aku gak mau kamu nangis," tutur Raka dengan begitu lembut di telinga Ryana, membuat wanita itu langsung terisak dan membalas pelukan dari suami nya.
"Jangan berantem lagi. Nanti aku bicara dulu sama Mama, biar mbok Si aja yang disini, gimana? Kamu mau kalau mbok Si?" tanya Raka kini melepaskan pelukan nya sambil menghapus air mata istri nya.
Ryana hanya mampu menganggukkan kepala nya. Ini yang dia tunggu sejak semalam, mengapa harus ada drama dulu baru suami nya mengerti? batin nya.
...~To be continue... ...
__ADS_1