MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
PENGANTIN DAKAKAN


__ADS_3

Sarah pingsan, mendengar surat yang di bacakan oleh Daren. Wardana langsung membawa Sarah pindah keatas ranjang Ruby.


"Daren, kamu hubungi keluarga Ali. Apakah Ali pergi bersama Ruby!" perintah Wardana. Daren mengangguk. Lelaki itu kembali ke kamarnya untuk mengambil ponsel.


Daren menghubungi Aurel. Sekali tidak di angkat, dua kali pun juga sama. Namun Daren tetap menghubungi Aurel.


"Woy! Masih pagi! Ganggu orang tidur lo!" omel Aurel kepada Daren.


"Kondisi gak tepat buat dengerin lo ngomel," balas Daren.


"Kenapa sih? Kangen kan lo sama gue? Sampai pagi-pagi begini nelpon gue!"


Daren menghela nafas, mencoba untuk sabar menghadapi Aurel. "Rel, dari pada lo ngomel buat telinga gue sakit. Mending lo ke kamar Ali dan cek apakah Ali ada di kamarnya." Di sana, Aurel menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


"Kenapa sih emang? Ya jelas ada di rumah lah."


"Ruby kabur dia ninggalin surat yang isinya bilang kalau dia kabur sama Ali. Makanya lo cek sekarang!" ucap Daren.


Seketika kedua mata Aurel yang mengantuk terbuka sempurna mendengar ucapan Daren. "Heh upil! Lo gak sembarangan kan ngomongnya? Lo gak lagi ngerjain gue kan?"


"Buat apa gue ngerjain lo. Ini bener-bener genting Aurel!" ucap Daren.


Di seberang sana, Daren dapat mendengar suara langkah kaki Aurel.


"Li! Ali..." teriak Aurel.


"Kenapa sih Rel pagi-pagi teriak-teriak," ucap Vivi.


Aurel tidak menjawab, perempuan itu membuka kamar Ali. Dan masuk kedalam.


"Daren! Sumpah demi apa! Ali juga gak ada njir!"


"Ma Ali kabur sama Ruby!" terdengar teriakan Aurel. Daren langsung mematikan sambungan telponnya. Dan berjalan kearah Mami dan Papinya. Sarah sudah sadar, dan kini masih menangis.


"Mi, Pi, benar Ruby kabur sama Ali," ucap Daren. Tangis Sarah semakin pecah.


"Mami gak habis pikir sama mereka. Kalau belum siap menikah, kenapa kemarin minta nikah? Dan sekarang gimana? Besok mereka menikah loh! Kenapa jadi seperti ini ya Allah."


"Sayang sabar ya..." ucap Wardana mencoba menenangkan Sarah. Pria itu mengusap punggung belakang Sarah.


"Gimana aku harus sabar? Persiapan pernikahan sudah hampir 10000 dan mereka besok menikah Mas. Gak mungkin kita batalkan begitu saja," ucap Sarah.


Daren menyandarkan kepalanya di daun pintu. Tidak tega melihat Mamanya seperti ini. Daren pun berinisiatif untuk menelpon Ruby.


Namun sayang, nomor Ruby tidak aktif.


"Ruby, kenapa harus pergi seperti ini sih, Dek?" batin Daren.


***


"Cie bentar lagi nikah... " ucap Tissa menggoda Aurel. Aurel diam, wajahnya sama sekali tidak senyum, hanya datar begitu saja.

__ADS_1


"Heh, calon pengantin gak boleh cemberut gitu. Pamali tahu!" ucap Tissa lagi. Aurel menutup resletingkopernya.


"Tissa! Tampar gue sekarang!" ucap Aurel kepada Tissa. Tissa kaget dengan perintah Aurel.


"Maksud lo?"


"Cepet tampar gue!"


Plak....


Tissa menampar Aurel.


"Aw, sakit... " gumam Aurel. Memengangi pipinya.


"Ya iyalah! Orang lo minta gue buat nampar lo," kata Tissa sedikit tertawa.


"Gue gak mimpi nih?" ucap Aurel memastikannya.


"Enggak, besok lo bakalan nikah sama Daren," jelas Tissa.


"Huaa.... gak mau nikah sama dia,' ucap Aurel terduduk lemas.


"Udah jodoh kayaknya, Rel," timpal Tissa.


"Enggak! Ini semua gara-gara Ali. Awas ya tuh bocah! Kalau sampai di pulang! Gue gebukin!" ucap Aurel berapi-api.


"Enak aja dia yang mau nikah dengan enaknya batalin pernikahan dan gue di suruh gantiin dia, astaga! Drama macam apa ini?" Aurel mengomel dengan satu kali tarikan nafas.


"Tis, gue kabur juga kali ya? Gue gak mau nikah sama Daren..." rengek Aurel.


"Ets, tidak bisa! Gue di suruh Tante Vivi dan Tante Sarah buat jagain lo," ucap Tissa.


"Lo tega sama gue? Gue nikah loh ini sama musuh bebuyutan gue! Bayangin Tis, mau jadi apa rumah tangga gue! Kalau gue nikah sama dia!"


"Udah Rel, mending sekarang kita kerumah Daren. Karena lo kan harus tinggal di sana. Lagian muka melas lo gak berlaku di depan gue," ucap Tissa menggiring Aurel pergi dari kamarnya.


"Ah Tissa jahat! Gak mau pergi!" ujar Aurel malah memeluk erat pintu kamarnya.


"Aurel, udah di tungguin sama Tante Sarah tuh di depan," ucap Vivi, Mama Aurel. Tissa tersenyum, dan langsung membawa Aurel kedepan.


Aurel menunduk, dengan bibir yang mengerucut kedepan.


"Baiklah, kalau begitu jeng Vivi saya akan membawa Aurel ke rumah untuk melaksanakan siraman. Dan sampai besok, Aurel akan tinggal di rumah saya. Sementara Daren akan tinggal di rumah kalian," ucap Sarah. Vivi mengangguk.


"Tolong jaga Aurel. Dia memang sedikit keras kepala dan menyebalkan. Tolong di maklumi, "ucap Vivi.


"Iya jeng pasti," ucap Sarah.


"Ayo sayang, masuk kedalam mobil. "


Sebelumnya Aurel sudah berpamitan kepada kedua orang tuanya. Ia masuk kedalam mobil keluarga Daren. Jadi mulai malam ini ia harus menginap di rumah Daren, seakan dirinya adalah Ruby.

__ADS_1


***


"Aurel, kamu bisa tidur di sini. Ini kamarnya Ruby," ucap Sara saat mengantarkan Aurel ke kamar Ruby. Aurel menatap kamar Ruby, berdecak kagum karena begitu luas.


"Maaf ya sayang, gara-gara Ruby kamu dan Daren harus menggantikan mereka menikah. "


"Ini bukan salah Ruby aja kok, Tan. Tapi salah Ali. Adik saya juga," ucap Aurel. Tidak, ini hanya sebuah akting yang sudah di modifikasi oleh Aurel sendiri. Agar terlihat tegar, dan menerima keadaan.


"Ya sudah, kamu istirahat dulu. Nanti jam satu siang, kita mula siraman," ucap Sarah. Aurel mengangguk, Sarah langsung keluar kamar dan menutup pintunya.


"Ah sial! Kenapa gue harus terjebak di sini? Dan apa lagi gue harus nikah sama Daren! Ya Tuhan! Daren! Musuh gue..." ucap Aurel benar-benar tidak menyangka semua ini akan terjadi.


Aurel duduk di tepi ranjang. Menatap foto keluarga Ruby. Ia mengamati wajah Daren.


"Mana makin benci gue sama dia."


"Terus, Aldino gimana? Ah gue harus chat dia."


Namun, saat membuka ponsel ternyata banyak miss call dan pesan dari Aldino. Aurel membuka


pesan dari Aldino.


Aldino


Lo mau nikah sama Daren? Aurel merebahkan tubuhnya. Dan langsung menghubungi Aldino.


"Halo, Al? " ucap Aurel.


"Hm."


Aldino hanya bergumam.


"Maaf Al, gue nikah sama Daren. Karena Ruby dan Ali kabur," ucap Aurel.


"Gue udah denger. Semoga bahagia. Gue..."


Aldino menghentikan ucapannya. Membuat Aurel menunggu kalimat apa yang akan di ucapakan Aldino.


"Lo kenapa? "


"Gue sayang sama lo, Rel. Tapi gak mungkinkan. Lo mau nikah sama Daren, sepupu gue sendiri." Tiba-tiba air mata Aurel menetes keluar.


. "Gue... gue juga sayang sama lo, Al. Gue malah nunggu momen lo nembak gue."


"Lo sayang sama Daren?" tanya Aldino tiba-tiba.


"Enggak, gue gak sayang sama Daren, " jawab Aurel.


"Gue ada ide. Biar kita bisa sama-sama," ucap Aldino.


"Apa?"

__ADS_1


__ADS_2