MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
RENCANA


__ADS_3

H-2 pernikahan Ruby dan Ali. Persiapan sudah 970. Kedua keluarga semakin sibuk dengan persiapan masing-masing. Kali ini, Aurel terlihat sedang duduk santai. Di tengah aktifitas yang ada di rumahnya. Perempuan itu memainkan kakinya yang menggantung.


Ia menguap, bukan tanpa alasan dia duduk santai. Tapi semalam dia tidur karena membantu pekerjaan di rumah.


"Aurel? Ini Aurel kan?"Seketika mata ngantuk Aurel terbuka lebar. Melihat Uwa-nya yang baru datang dari kampung.


"Uwa Jamilah," ucap Aurel sembari mencium tangan Uwa-nya.


"Bagus atuh masih inget sama Uwa.


Aurel tersenyum mendengarnya. Bagaimana dia bisa lupa? Dengan Uwa Jamilah yang terkenal dengan mulut pedas di keluarga besarnya.


"Atuh kamu teh gimana, kok bisa gitu keduluan adiknya." Aurel tersenyum terpaksa. Feeling


Aurel apa benar bukan jikaUwa-nya pasti akan menanyakan hal-hal sensitif seperti ini.


"Kan Ali lebih dulu dapet jodohnya, Wa.. " jawab Aurel seadanya.


"Gimana kalau di jodohin sama Asep."


"Asep siapa, Wa?"


"Orang terkaya di kampung, iyakan Bah?" ucap Uwa Jamilah meminta persetujuan suaminya.


"Kenapa Mah?"


"Si Asep di jodohin sama Aurel aja," ucap Uwa Jamilah."Eum Aurel udah ada pacar kok Wa," jawab Aurel sembari tersenyum. Untuk menghindari hal yang tidak di inginkan tentunya.


"Yah atuh, besok kenalin ke Uwa, ya..." ucap Uwa Jamilah. Aurel mengangguk ragu.


"Mampus! Mau ngenalin siapa gue?" batin Aurel.


**"


Ruby memandang Ali di depannya. Lagi, mereka bertemu diam-diam. Di tempat biasanya.


"Kamu udah siap nanggung semua resikonya?" tanya Ali kepada Ruby.


Ruby mengangguk. Tekatnya sudah bulat. Ia sudah memikirkannya dengan matang beberapa hari ini.


"Oke, nanti malam jam 1 pagi aku ke rumah kamu. Kita pergi dari sini. Aku juga udah pesan tiket pesawat ke Australia," ujar Ali.


Ruby tersenyum senang. Ia memeluk Ali dengan erat.


"Makasih ya sayang. Kamu selalu


ngertiin aku." Ali membalas pelukan Ruby. Rencananya mereka akan melanjutkan pendidikan S2 di Australia. Meski ini sangat berat untuk keduanya. Bagaimana tidak, pernikahan sudah di depan mata. Namun malah mereka memutuskan untuk membatalkannya.


***


"Daren, bisa bantu Mami?" ucap Sarah kepada anak sulungnya. Daren meletakkan ponselnya. Dan berjalan kearah sang Mami. "Bantu apa Mi?"


"Ini kamu ke rumah Ali ya. Ada sedikit oleh-oleh dari Budhe Lia dari kampung, buat keluar Ali.""Oke, ambil kunci mobil dulu," ucap Daren.

__ADS_1


"Eh mobil kamu kan di bawa sama Papi," ucap Sarah mengingatkan. "Ah iya. Daren lupa."


"Udah sana minjem motornya Pakdemu," saran Sarah. Daren mengangguk, ia pun mengambil kunci motor dan langsung menuju rumah Ali.


Jarak rumah keduanya jika menggunakan mobil sekitar 20 menit. Namun kali ini lebih cepat. Karena Daren menggunakan motor. sampai di depan rumah Ali.


Ia turun, menyapa beberapa orangyang la kenal.


Sampai akhirnya ia masuk kedalam rumah bertemu dengan Vivi dan Aurel yang sedang berdebat.


"Siang Tante," ujar Daren membuat keduanya mendongak kearah Daren.


"Loh Daren, ada apa?" tanya Vivi begitu ramah.


"Ini tadi ada oleh-oleh dari Budhe Lia. Buat calon besan katanya," ujar Daren memberikan bingkisan plastik kepada Vivi.


"Wah makasih banget," ucap Vivi. "Ah iya kebetulan banget, Nak Daren di sini. Bisa minta tolong, Nak?" "Tolong apa Tan?"


"Antarkan Aurel ke tempat catering, ya. Soalnya ada beberapa tambahan menu, sama revisi masakan," ucap Vivi.


"Ma, kok sama Daren sih. Aurel bisa kok kesana sendiri, " bantah Aurel.


"Ini udah mau magrib sayang. Gak baik kalau anak perempuan sendirian di luar, iyakan Nak Daren?"


"Ah iya Tan," jawab Daren seadanya. Aurel menatap Darenkesal. Kenapa lagi dan lagi ia harus bersama Daren? Tahu sendiri Daren adalah pemicu hipertensi di hidupnya.


"Tuh kan. Ayo cepat kalian berangkat. Takut hujan di luar," ucap Vivi. Mau tidak mau Aurel harus menuruti perintah Mamanya.


Keduanya berjalan keluar rumah. "Lo ambil helm gih. Gue bawa motor soalnya."


"Udah siap?"Aurel hanya bergumam. Namun tiba-tiba ia teringat sesuatu.


"Lo udah bisa naik motor?" tanya Aurel mendekatkan mulutnya dengan telinga Daren.


"Bisalah. Menurut lo? Masih meragukan gue? " ujar Daren.


"Heh! Terakhir kali gue di bonceng sama lo nyerungsuk di got ya! Lupa lo!" ujar Aurel. Daren tertawa, mendengar ucapan Aurel. Gara-gara ucapan Aurel juga, ia jadi ingat momen itu.


Dulu ketika mereka masih SMA. Aurel sakit di sekolah. Karena Daren ketua kelas, jadi ia harus mengantarkan Aurel. Waktu itu memang Daren tidak bisa mengendarai motor. Tapi dia harus membawa motor Aurel. Alhasil malah mereka jatuh ke got.


"Ketawa teros lo! Setan!" ujar Aurel.


Mendengar hal itu malah Daren menambah kecepatan motornya.


"Woy! Bisa gak pelan-pelan?! Gue masih pengen nikah ya!" teriak Aurel.


"Lo masih meragukan gue, kan?"


Daren melirik Aurel dari kaca spion.


Aurel tidak menjawab. Daren tersenyum, menarik gas sampi membuat Aurel kaget. Karena reflek, Aurel memeluk pinggang Daren sembari berteriak kesal, menyumpahi Daren.


Tida terasa mereka sampai di rumah tukang catering.

__ADS_1


"Gila lo ngajak mati anjing!" ucap Aurel melepaskan helm di kepalanya.


"Tapi kita gak nyerungsuk di got lagi kan?" ucap Daren. Plak! Aurel menampar pelan pipi Daren.


"Sakit Rel!" ujar Daren. PadahalDaren cuma berakting.


"Gue yang bawa motornya nanti waktu pulang!" ucap Aurel. Perempuan itu segera masuk kedalam rumah pemilik katering.


**


Tissa berada di sebuah pusat perbelanjaan. Perempuan itu tengah mencari-cari sebuah barang yang lumayan langka. Karena terlalu fokus. Ia menabrak seseorang.


"Aduh maaf gak sengaja," ucap Tissa membantu seseorang itu mengemasi barang-barangnya.


Tissa mendongak menatap orangyang baru saja ia tabrak.


"Loh? Dia bukannya Aldino?" batin Tissa.


"Permisi... " ucap Aldino. Secara reflek Tissa langsung memberikan barang yang ada di tangannya.


"Sekali lagi maaf ya. Tadi gak sengaja," ujar Tissa.


Aldino hanya mengangguk. Lelaki ini terlihat sangat cool.


"Pantes Aurel suka. Orang Aldino aslinya lebih ganteng dari pada di foto," batin Tissa lagi.


Aldino pergi dari hadapan Tissa. Seketika Tissa memegangi jantungnya yang berdetak lebih kencang.


"Anjir gue kenapa? Ya kali gue suka sama Aldino? Dia kan gebetannya Aurel, sahabat gue


sendiri."


"Sadar Tissa sadar..."


***


Aurel mengambil alih motor Daren. Sementara Daren membiarkan Aurel membawa motornya.


"Lo mau balas dendamnya?" tebak Daren.


"Enggak ngapain? Males banget," jawab Aurel.


Langit sore itu begitu mendung, membuat Aurel terus memacu laju motornya. Sampai tidak di duga. Hujan begitu deras jatuh dari atas. Aurel membelokkan motornya kesebuah emperan toko yang tutup.


"Duh kenapa harus hujan sih?" gumam Aurel. Ia melirik Daren sebal.


"Ngapain liat gue kek gitu?"


"Baju lo basah tuh," ucap Daren. Sontak Aurel melihat bajunya sendiri. Dengan reflek, Aurel menutupi dadanya. Darenmelepaskan jaketnya.


"Nih pake jaket gue," ucap Daren. "Gak mau!" ucap Aurel.


"Astaga, batu banget sih? Dari pada lo gue apa-apain!" ancam Daren. Kedua mata Aurel melebar mendengarnya.

__ADS_1


"Gue tonjok lo ngapa-ngapain gue!" balas Aurel mengepalakan tangannya. Namun dengan begitu Aurel mau mengambil jaket Daren untuk menutupi tubuhnya.


Keduanya duduk, menatap hujan. Larut dalam pikiran masing-masing.


__ADS_2