MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
DEMAM


__ADS_3

Aurel tidak bisa bergerak. Karena Daren memeluknya begitu erat. Entah sudah berapa lama ia berada di posisi ini.


"Daren lepasin gue. Gue gak bisa nafas," ucap Aurel. Namun tetap, Daren tidak merubah posisi


tubuhnya. Aurel menghela nafas, ja mulai capek. Tanpa sengaja, ia memegang kening Daren.


Dan ternyata, keningnya panas. Apa mungkin lelaki ini demam? Tapi kenapa bisa demam? Bahkan mereka tidak kehujanan sama Sekali. "Daren, lo demam?" ucap Aurel.


Daren hanya bergumam. Ia menyembunyikan wajahnya di tubuh Aurel.


"Duh gue harus gimana?" gumam Aurel. Aurel mencoba membangunkan Daren lagi.


"Daren pindah keatas. Lo demam anjir, ya kali tidur di bawah gini. Ayo bangun!" ucap Aurel.


Daren menuruti perintah Aurel. Lelaki itu pindah keatas ranjang.


"Bentar, biar gue ambil kompresan," ucap Aurel.


Aurel keluar kamar. Ia berjalan menuju dapur untuk mengambil kompresan.


"Jangan lama-lama... " ucap Daren begitu manja.


Aurel keluar dari kamar. Ia melihat Ibu mertuanya sedang menonton TV.


"Loh tadi bukannya udah tidur Rel?" ucap Sarah.


"Ah iya Mi, tapi tadi kebangun," jawab Aurel. "Oh iya, makasih ya Mi, karena udah gantiin baju Aurel."


Sarah tersenyum."Iya sama-sama. Tadi Daren nyuruh Mami buat gantiin baju kamu. Padahal Mami yang nyuruh dia gantiin baju kamu. Dia malah gak mau."


Aurel tersenyum mendengar. Ia merasa bersalah karena tadi sudah menuduh Daren.


"Rel.... " panggil Sarah membuat Aurel mendongak menatap Ibu mertuanya. "Kalian belum pernah 'gituan' ya?" Aurel sedikit kaget, mendengar pertanyaan dari Sarah.


"Gituan?" ucap Aurel mengulangi ucapan Sarah, seakan meminta kejelasan.


β€” "Hubungan suami istri." jelas Sarah.


Aurel tersenyum tipis sembari menggelengkan kepalanya.


"Duh pantesan. Daren keliatan ragu gitu tadi," ucap Sarah. "Mami tahu kok kalian pasti butuh waktu buat hal-hal kek gitu." Lagi, Aurel hanya tersenyum tipis.


"Kalau gitu Aurel ke dapur dulu, Mi... " ucap Aurel.


"Iya silakan... " jawab Sarah sembari tersenyum. Aurel masuk kedalam dapur. Sementara Sarah menatap kepergian Aurel.


"Apa mereka malu ya? Gak enak sama aku sama Mas Wardana. Apa harus mereka tinggal sendiri? Biar lebih mengenal satu sama lain?" gumam Sarah.


***


Aurel menghela nafas, ia melihat jam dinding pukul 1 dini hari. Dan dia belum juga tidur menjaga Daren yang sedang demam. Perempuan itu menatap Daren, wajahnya lumayan pucat. Keningnya berkerut, seperti tidak tenang.

__ADS_1


Tangan Aurel terulur untuk mengusap bagu lelaki itu. Membuat Daren sedikit tenang.


Aurel semakin lekat menatap wajah Daren. Ia sadar wajahnya tidak pernah berubah. Aurel tersenyum tipis, mengingat awal mereka kenal.


Aurel menatap plang SMA 27, hari ini adalah hari pertama ia masuk sekolah. Meski baru saja pindah, Aurel tetap percaya diri untuk masuk kedalam lingkungan sekolah sendiri.


Brakk...


Tanpa sengaja ia menabrak seseorang.


"Ah sorry, gue gak sengaja." Aurel membantu siswa itu membereskan daun-daun dan memasukkannya kedalam tong sampah.


"Lo gak punya mata?" ucap siswa itu dengan judesnya.


"Kan gue udah minta maaf," ucap Aurel menatap siswa itu.


"Maaf aja emang cukup?" ucapnya.


"Kan gue udah bantuin lo? Kurang juga?" ucap Aurel mulai terpancing emosinya.


Siswa itu diam, memandang Aurel. Aurel merasakan debaran di dadanya. Karena siswa itu memandangnya begitu lekat. Beberapa detik kemudian, ia menyodorkan sapu yang ada di tangannya.


"Mau bantuin gue kan?" ucap siswa itu. Aurel masih diam terpesona dengan siswa di depannya.


Seperti terhipnotis, Aurel mengangguk menerima sapu yang disodorkan oleh siswa di depannya. Siswa itu tersenyum, ia duduk di bawah pohon. Membiarkan Aurel menyapu.


Hampir selesai, namun Aurel belum sadar dengan apa yang ialakukan. Hingga seorang berteriak kearah siswa tersebut.


"Eh iya Bu, lagi istirahat," ucap Daren. Guru BK itu mendongak menatap Aurel.


"Loh kamu siapa? Kenapa gak masuk kelas? " ucap guru BK.


"Saya..."


"Dia juga telat Bu..." sahut Daren. Aurel mendongak menatap Daren. Padahal Aurel murid baru di sekolah ini.


"Oh begitu, ya sudah lanjutkan hukuman kalian," ucap guru BK.


Guru BK pergi meninggalkan keduanya.


"Heh! Kok lo bilang gitu sih? Gue kan gak telat. Lagian ini baru pertama kali gue masuk sekolah,"


protes Aurel. "Oh anak baru... " ucap Daren. Aurel terdiam, ia baru sadar apa yang ia lakukan.


"Tadi lo ngerjain gue ya!" ucap Aurel.


"Lo baru ngerasa?" ucap Daren tersenyum jahil.


"Sialan! Lo bener-bener ya!" ucap Aurel kesal. Aurel akan memukul Daren dengan sapunya. Namun Daren segera menghindar.


"Gak kena wle... " ucap Daren menjulurkan lidahnya meledek Aurel.

__ADS_1


Aurel tersenyum, mengingat masa-masa dulu. Dimana ia mulai bertemu dengan Daren. Baru kenal saja Daren sudah mengerjainya. Memang Daren tidak pernah absen untuk menganggu hidupnya.


Aurel mengusap kening Daren. Mengingat dulu ia pernah menaruh rasa dengan Daren.


"Apa perasaan itu masih ada?" ucap Aurel lirih. "Kayaknya, perasaan gue ke lo udah tertimbun dengan rasa kesal gue sejak dulu."


***


Tissa termenung, duduk di pinggir kolam renang keluarganya. Meski sudah malam ia belum mau masuk kedalam. Ia memilih untuk duduk dan merenung. Hidupnya begitu berat, tepatnya 2 tahun lalu.


Kedua orang tuanya meninggal. Dan keadaan pun merubah sifat Steven Kakaknya.


Kantuk mulai menyerang. Tissa beranjak dari duduknya. Ia masuk kedalam rumah. Melihat ada beberapa teman Steven yang tengah mabuk di ruang tengah.


Tissa segera berlari, menuju kamarnya.


Namun tiba-tiba ia di tarik oleh seseorang.


"Malam Tissa... " ucap seseorang dengan suara yang begitu parau.


Seseorang itu berbisik. Membuat bulu kuduk Tissa berdiri.


"Gue udah booking lo malam ini ke Steven. Ayo layanin gue..." ucapnya.


"Enggak! Gue gak mau! Gue bukan ******!" ucap Tissa memberontak.


Untunglah, lelaki itu setengah mabuk. Jadi Tissa lebih mudah untuk melepaskan diri. Tissa masuk kedalam kamar. Mengunci pintu dengan rapat.


Perempuan itu menghela nafas. Merasa lega, namun perasaan itu hanya sebentar. Karen tiba-tiba Steven Kakaknya menggedor-gedor pintu kamarnya.


"Tissa buka pintunya!" ucap Steven.


Tissa hanya mampu menangis di balik pintu. Perempuan itu menghubungi seseorang siapa saja yang bisa membantunya.


"Ha... lo..." ucap Tissa dengan gugup karena ketakutan.


"To... tolongin gue. Siapapun, tolongin gue...


Tit... tit... tit...


Ponselnya lowbat Tissa mengambil charger untuk mengechas ponselnya.


"Semoga dia datang nyelamatin gue..." ucap Tissa.


***


Daren membuka kedua matanya, ja memegang sesuatu di keningnya. Ada sebuah handuk basah. Lalu ia melihat Aurel yang sudah tertidur di sampingnya.


Kedua sudut bibirnya tertarik. Ketika melihat Aurel yang tertidur dengan posisi duduk. Tangan Daren mengusap kepala Aurel. "Gue tahu lo perduli sama gue..." ucap Daren.


"Makasih udah perduli sama gue Rel.. gue sayang banget sama lo. Perasaan ini gak akan berubah, sejak dulu. Gue akan selalu sayang sama lo."

__ADS_1


__ADS_2