
Setelah barang-barang mereka di masukan kedalam mobil. Kini Aurel dan Daren yang masuk kedalam mobil mereka. Aurel duduk, sembari memainkan ponselnya.
Ia benar-benar mengabaikan pesan dari Aldino. Ada pulan miss call dan juga pesan yang di kirimkan oleh Aldino sejak tadi. Tapi tetap, Aurel tidak menggubrisnya.
"Kenapa? Masih marah sama gue?" tanya Daren sembari melirik Aurel. Aurel menggelengkan kepalanya.
"Gak pa-pa. Kepo banget sih! " ucap Aurel.
"Oh iya lo yakin gak mau bawa Momo sama kiko?" tanya Daren.
"Emang boleh di bawa?" tanya Aurel.
"Siapa yang gak ngebolehin?" tanya Daren.
"Gue kira lo gak izinin, " ucap Aurel.
"Ya boleh lah. Kenapa enggak, itu kan ikan lo. Tugas gue cuma ngerawat aja," ucap Daren masih tetap fokus menyetir.
"Nanti di ambil ya?" ucap Aurel memegangi lengan Daren. Daren melirik sekilas, lalu tersenyum tipis.
"Oke," jawab Daren. Mampu membuat Aurel bersorak gembira.
Akhirnya mereka telah sampai di parkiran apartemen Daren. Keduanya berjalan menaiki lift yang sudah tersedia sembari membawa barang-barang mereka.
Aurel masih nampak takut-takut masuk kedalam lift. Mungkin ia masih trauma dengan keadaaan kemarin.
"Kenapa berdiri di situ? Ayo masuk," ajak Daren sembari menarik tangan Aurel.
"Ini beneran gak pa-pa kan? Gak akan kek kemarin kan?" ucap Aurel sudah panik duluan.
โEnggak percaya sama gue. Kan ada gue yang selalu jagain lo," ucap Daren tersenyum manis. Membuat Aurel melangkahkan kakinya masuk kedalam lift.
"Gak mungkin dong kalau mau naik tangga darurat. Orang ada di lantai 12," ucap Daren.
Aurel hanya diam, berdiri menghimpit Daren. Tanpa sadar, perempuan itu menggenggam erat tangan Daren ia terus memejamkan kedua matanya.
Ting...
Suara pintu lift terbuka. Membuat Aurel membuka kedua matanya.
"Ayo turun, udah sampe... " ucap Daren mengangkat lagi kardusnya. Begitu juga Aurel. Mereka berjalan di koridor apartemen. Sampai akhirnya, ia berdiri di sebuah pintu. Aurel melihat Daren yang memasukan pin apartemen.
"Loh? Tanggal lahir gue?" ucap Aurel begitu kaget. Tidak hanya Aurel, Daren pun sama kagetnya.
"Bukan," ucap Daren ke baru panik. Ia bingung harus menjawab apa.
"Iya bener kok, 14 November..."
ucap Aurel. Aurel menghentikan langkahnya membuat Daren juga menghentikan langkahnya. Ia menatap Daren menyelidik.
"Atau jangan-jangan... lo... "
__ADS_1
"Apa? Orang itu tanggal lahirnya mantan gue. Gue lupa buat ganti," ucap Daren beralibi. Padahal memang itu tanggal lahirnya Aurel.
"Nessa?" tanya Aurel.
Daren mengangguk, meletakkan kardus itu di atas meja.
"Tapi beneran tanggalnya 14 November. Lo ngarang kali, itu beneran tanggal lahir gue kan?" ucap Aurel lagi.
"Bener, itu tanggal lahirnya Nessa. Ngapain sih gue boong," ucap Daren.
Aurel terdiam sebentar, ia melihat sebuah foto perempuan cantik yang masih terpajang di ruang tamu. Perempuan itu melangkah, dan langsung mengambil foto tersebut.
"Oh jadi ini? Yang namanya Nessa?" ucap Aurel menatap figuran foto di tangannya.
"Iya. Udah gue bilang, di sini terlalu banyak kenangan gue sama Nessa. Dan belum gue beresin semuanya," ucap Daren mengambil alih foto itu.
Daren menatapnya. Dulu ia menyimpan foto Nessa di ruang tamu agar ia selalu mengingat Nessa bukan Aurel.
"Sekarang dia ada dimana?" tanya Aurel membuat lamunan Daren buyar.
"Gue gak tahu," jawab Daren. Menyimpan foto itu di atas meja.
"Yuk beres-beres yuk. Udah jam 7 malam nih," ucap Daren kepada Aurel.
Aurel membongkar kardus-kardus. Sementara Daren mengambil vacum cleaner untuk membersihkan ruangan.
Daren mengambil paku, untuk meletakkan foto pernikahan mereka. Sementara itu Aurel menghentikan aktifitasnya. Ia menatap Daren yang tengah memasang foto mereka.
"Lo yakin mau masang foto itu di Situ?" tanya Aurel menatap foto pernikahan mereka.
"Iya kenapa? Miring ya fotonya?' ucap Daren menajamkan penglihatannya lagi.
"Jijik banget gue liatnya," ujar Aurel sembari bergidik jijik. Daren tertawa, "Biar orang tahu kita udah nikah."
Aure beranjak, dan langsung masuk kedalam kamar utama. Kamar terlihat begitu bersih. Namun meski begitu, Aurel memutuskan untuk mengganti sprei kamar .
"Daren, ada sprei bersih gak?" tanya Aurel dari dalam kamar.
"Ada, di lemar!" teriak Daren. Aurel berjalan menuju kemari. Ia membuka lemari dan Aurel sangat terkejut dengan apa yang ia temukan malam ini.
Aurel mengambilnya, lalu berjalankeluar kamar.
"Daren!" ucap Aurel. Daren kaget karena suara Aurel begitu kencang.
"Duh kenapa sih Rel? Untung aja jini ruangan kedap suara. Kalau engga? Udah di tegur sama tentangga kita," ucap Daren.
"Bodo amat!" ucap Aurel dengan raut wajah kesal. "Ini lingerie siapa anjir!"
Seketika Daren terdiam, melihat Aurel menunjukan sebuah lingerie berwarna merah terang.
"Itu punya..."
__ADS_1
"Nessa? Mantan lo itu? Kalian ngapain aja di aparteman ini ha?" ucap Aurel.
Daren semakin diam. Karena terpojokkan.
"Gila ya lo emang dasar mesum!" ucap Daren. Aurel melempar lingerie itu kewajah Daren. Ia masuk kedalam kamar dan mengunci pintu kamar.
"Duh baru aja baikan. Udah gini lagi ya Allah," ucap Daren.
"Rel, jangan marah lagi dong. Biar gue jelasin dulu," ucap Daren mengetuk-ngetuk pintu kamar. Namun Aurel tetap diam.
"Rel, gue ngantuk mau tidur. Buka pintunya dong," ucap Daren lagi. Segala macam cara dilakukan agar Aurel tidak marah lagi kepadanya. Tapi nyatanya, Aurel tidak kunjung membuka pintu kamar.
"Duh nasib-nasib... " gumam Daren di depan pintu kamar.
***
Tissa menghela nafas, ia menatap Aldino yang sedang fokus dengan laptop di depannya. Tissamenuangkan air panas. Lalu mengaduk teh yang sudah ia buatkan.
Ia berjalan menuju Aldino. "Nih lo minum dulu." Aldino melirik Tissa.
"Makasih.. "
"Aurel belum bisa di hubungi?" tanya Tissa.
Aldino menggelengkan kepalanya. "Kayaknya dia beneran marah sama gue."
Aldino menyeruput teh yang di buatkan oleh Tissa.
"Nanti coba gue telpon Aurel deh," ucap Tissa. "By the way Al, besok gue pergi dari sini. Gue udah putusin buat cari kos aja."
"kenapa?" ucap Aldino.
"Gue gak enak sama lo. Gue selalu ngerepotin lo," ucap Tissa.
"Tissa, kalau lo ngekos nanti ketemu sama Steven atau gak temen-temennya Steven gimana?" ucap Aldino. "Gue gak ngerasa di repotin kok. Lagian juga apartemen ini gak ada yang huni. Jadi gak pa-pa pake aja."
"Gue takut, kalau suatu hari Aurel tahu dia jadi salah paham sama kita Al," ucap Tissa mengungkapkan keresahannya.
"Gue yakin, Aurel akan ngerti dengan keadaan lo sekarang.
Bukan kah kalian itu sahabatan udah lama, kan?" ucap Aldino. Tissa mengangguk kan kepalanya.
"Jadi lo gak perlu khawatir. Aurel orangnya baik kok. Lo juga yang lebih kenal dia kan?" ucap Aldino.
"Eh gue pulang dulu ya. Lo gak usah ngerasa gak nyaman gitu. Pake aja semua fasilitas di sini, anggap kayak rumah sendiri," ucap Aldino sembari berdiri. Aldino mengambil jasnya. Lalu berjalan keluar apartemen.
"Aurel... Aurel... 1o beruntung banget. Punya pacar sebaik Aldino," gumam Tissa menatap kepergian Aldino.
"Dan gue di sini berperan sebagai teman yang gak tahu diri. Karena diam-diam perasaan gue semakin besar ke Aldino, maafin gue ya Rel..."
"Lo tenang aja, gue akan ngalah. Gue gak akan ganggu hubungan kalian," ucap Tissa lagi. Ia cukup sadar diri, karena sejatinya ia hanya benalu di hubungan Aurel dan Aldino.
__ADS_1