
...~Happy Reading~...
Raka memejamkan matanya, menarik napas panjang nya dengan begitu panjang saat tangan kekar nya menggenggam tanah yang ia ambil dari gundukkan makam di depan nya.
Air mata yang sejak tadi ia tahan, kini sudah tidak bisa ia bendung lagi. Dada nya sudah kian terasa begitu sesak.
Bayangan demi bayangan, saat dimana dirinya menggendong ketiga bayi nya saat baru lahir. Jari jemari mungil yang begitu dingin dan pucat, membuat hatinya kian terasa hancur.
Wajah nya sangat mirip dengan nya dan Ryana. Rambut yang cukup lebat dengan mata terpejam, persis seperti seorang bayi yang sedang tertidur. Membuat Raka sangat ingin kembali memeluk nya.
Namun, kini ia tidak bisa lagi. Mereka sudah tidur dalam kedamaian di dalam bawah gundukan tanah yang saat ini ia genggam.
Sebenarnya, Raka masih belum bisa ikhlas dan rela kehilangan bayi bayi nya. Terlebih, saat ia harus melihat ketiga jasad bayi yang harus di kubur dan di timbun tanah, dengan hanya terbalut kain kafan. Membuat hatinya begitu perih dan sangat sesak.
"Maafkan Ayah, maafkan Ayah yang belum bisa menjaga kalian hiks hiks hiks." Raka terus bergumam dan meracau seorang diri di depan tiga makam anak anak nya.
__ADS_1
Dua bayi laki laki dan satu bayi perempuan, seharusnya bisa menjadi anak anak yang cantik dan tampan yang akan melengkapi hidup dan rumah tangga Raka dan Ryana.
Namun, apa boleh buat, jika takdir Tuhan tidak mengizinkan mereka hidup bersama dengan kedua orang tua nya.
"Ka, ikhlaskan!" ucap Farhan yang sejak tadi masih setia menunggu sahabat nya di pemakaman.
Semua keluarga sudah pulang dan ada yang kembali ke rumah sakit. Dan kini, hanya tersisa kedua sahabat Raka yang menemani nya.
"Ikhlas? Tidak semudah itu!" ucap Raka semakin terisak, "Mereka masih terlalu kecil, mereka sangat kecil, bahkan belum sempat melihat dunia ini. Tapiβhiks hiks!" pekik Raka tertahan.
"Gue bodoh banget, sumpah gue manusia paling bodoh di dunia ini hiks hiks hiks." gumam Raka dengan suara yang begitu serak dan parau, "Seandainya waktu itu gue dengerin Ryana. Tentu saja hal ini gak bakal terjadi, iya kan? Ryana gak akan koma, dan anak anak gue hiks hiks. Mereka gak akan jadi korban? Ini salah gue, ini salah gue Aarrkkkhhhh!!!" pekik nya langsung menjambak rambut dengan begitu kuat untuk melampiaskan rasa amarah pada dirinya sendiri.
"Gilang bener Ka, lo sama Ryana masih muda. Gue yakin, kalian pasti akan dapat ganti yang lebih baik lagi." sambung Farhan, "Mending sekarang kita kembali ke rumah sakit. Ryana juga butuh elo Ka." imbuh nya mencoba membujuk agar Raka mau di ajak pulang.
Pasal nya, mereka sudah berada di pemakaman hampir tiga jam saat semua orang pulang. Bukan Farhan dan Gilang tidak mau menemani Raka atau tidak setia kawan. Namun, ia juga memikirkan kesehatan Raka yang sejak pagi atau bahkan kemarin siang belum terisi makanan.
__ADS_1
Sementara itu, Raka yang mendengar nama Ryana... seolah tersadar bahwa ia masih memiliki Ryana. Seketika itu juga Raka langsung beranjak dan bergegas pergi begitu saja tanpa mengajak kedua sahabat yang sudah menemani nya sejak tadi.
...~To be continue......
Raka : Mom
Mommy : Iya Ka, ada apa? #senyum lembut
Raka : Ini mimpi kan Mom? Ayo Mom, bangunin aku π₯Ί
Mommy : Coba kamu berdiri di tengah jalan Ka, tunggu ada truk lewat. kalau kamu ngerasa sakit berarti ini gak mimpi
Raka : Bunuh aku aja Mom kalau gitu π€§ππ
Mommy : Maafkan Mommy Ka. Mommy bukan malaikat pencabut nyawa. Jadi Mom gak bisa
__ADS_1
Raka : Nyatanya Mommy udah nyabut nyawa ketiga anak ku Mom!
Mommy : ππππ