MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
MENEMUI DAREN


__ADS_3

"Kok lo bisa kepikiran buat pindah ke apartemen aja?" tanya Daren masih fokus dengan jalanan di depannya.


"Sayang kalau beli rumah. Kan pernikahan kita cuma 6 bulan," ucap Aurel dengan santainya. Hal ini tentu membuat Daren sedikit kaget.


"Jadi semua ini beneran? Setelah 6 bulan kita cerai?" batin Daren sembari mengetuk-ngetuk stir mobil.


"By the way, kamar apartemen lo berapa?" tanya Aurel membuyarkan lamunan Daren.


"Satu, kenapa?" ucap Daren mendongak kearah Aurel.


"Kok satu sih, nanti gimana tidurnya..."


"Ya tinggal mereka lah," jawab Daren.


"Ih! Bukan itu maksud gue. Kita harus pidah kamar," ucap Aurel.


"Kenapa gitu? Kan suami istri," ucap Daren.


"Ya walaupun suami istri. Gue gak mau lo ngapa-ngapain gue, ngerti?" ujar Aurel.


Daren diam, fokus menyetir. Banyak pikiran yang ada di kepalanya.


"Gimana caranya biar Aurel tetap stay sama gue?" batin Daren. Lama, Daren tenggelam dalam pikirannya. Hingga akhirnya...


"Daren!" teriak Aurel tiba-tiba membuat Daren mengerem mendadak.


"Apaan sih Rel? Bisa gak, gak teriak-teriak. Hampir aja nabrak orang," omel Daren.


"Lo yang apa-apaan! Kantor gue kelewatan njir! Ngelamun ya lo!" ucap Aurel. Seketika Daren sadar. Lelaki itu langsung memutar balik mobilnya.


"Untung aja gue sadar, kalau engga? Udah sampe Bandung kita," ucap Aurel. Daren menghentikan mobilnya.


Aurel melepas seat belt. Bersiap untuk tutun mobil.


Namun tiba-tiba Daren menahannya. Daren diam, hanya memandang wajah Aurel. Tentu saja hal ini membuat Aurel bingung. "Nanti gue jemput," ucap Daren.


"Gak usah gue bis..."


"Gak ada penolakan!" ucap Daren. Seketika Aurel terdiam.


"Ya udah!" ucap Aurel kesal.


"Tunggu apa lagi? Udah sana pergi!" ucap Daren.


"Lepasin dulu tangan gue!"


Secara reflek, Daren melepaskan tangan Aurel. Membuat Aurel segera menutup pintu mobil. Daren menatap kepergian Aurel. Lelaki itu langsung menyandarkan kepalanya.


"Gimana caranya buat lo Cinta sama gue, Rel?" ucap Daren.


***


Aurel memasuki ruangannya. Ia mengerutkan keningnya. Karena tumben Tissa belum berangkat.


"Tumben telat tuh anak, " gumam Aurel sembari meletakkan tasnya di atas meja.


Aurel mengambil kacamata. Lalu mulai fokus dengan layar monitor di depannya.


"Rel, keruangan Pak Gunawan sekarang," ucap Anjani yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan Aurel.


"Oke," jawab Aurel sembari menutup laptopnya.


Aurel membawa berkas kontrak yang sudah ia kerjakan. Ia membawanya ke Pak Gunawan.

__ADS_1


Tok... tok... tok...


"Masuk!" ucap Pak Gunawan. Aurel masuk kedalam ruangan.


"Permisi Pak, ini berkas yang bapak mau."


"Saya baca dulu ya... " ucap Pak Gunawan. Pak Gunawan membacanya dengan seksama.


Aurel menunggunya. Hingga akhirnya Pak Gunawan selesai membaca kontrak tersebut.


"Baiklah, ini sudah cukup Bagus. Sekarang tugas kamu kirimkan dokumen kontrak ini ke perusahaan client," ucap Pak Gunawan.


"Kamu bisa pake mobil kantor," sambung Pak Gunawan.


"Sa... saya Pak?" ucap Aurel menunjuk dirinya sendiri.


"Iya kamu. Terus siapa lagi?" ucap Pak Gunawan.


"Baik Pak, saya berangkat sekarang... " ucap Aurel.


Pak Gunawan mengangguk. Aurel segera keluar dari ruangan. Ia menutup pintu, lalu menghela nafas kasar."Kenapa harus gue? Ngeselin banget sih. Gue males ketemu Daren.


Di rumah udah ketemu Daren, masa di kerjaan juga ketemu Daren! Nyebelin banget asli!" Aurel mengomel sepanjang jalan menuju ruangannya.


Ia melihat Tissa yang sudah duduk di kursinya.


"Tissa!" ucap Aurel mengagetkan Tissa.


"Hai Rel... " sapa Tissa sembari tersenyum menatap Aurel.


"Wait, muka lo kenapa lebam gini?" tanya Aurel memegang pipi Tissa yang nampak lebam.


β€œIni? Tadi pagi kan gue kesiangan, terus buru dan nabrak pintu, jadi ya..."


Tissa terdiam sebentar.


"Steven ngapain lo lagi?" ucap Aurel seakan tahu apa yang terjadi.


Tissa masih diam, belum mau menjawab ucapan Aurel.


"Tuh orang bener-bener ya! Gak punya hati nurani. Lo kan adik kandungnya! Kenapa seperti ini sih," ucap Aurel. Aurel melihat lagi wajah Tissa.


"Ini udah lo obatin?"


"Udah kok. Udah gak pa-pa," ucap Tissa.


Aurel menghela nafas mencoba meredam emosinya.


"Eh lo dari mana?" tanya Tissa mengalihkan pembicaraan.


"Gue dari ruangan Pak Gunawan. Sekarang harus ke kantornya Daren sama Aldino buat ngasih surat kontrak ini," ucap Aurel menunjuk map yang ada di tangannya.


Tissa mengangguk paham.


"Ya udah sana lo pergi. Sebelum jam makan siang. Nanti malah macet lagi," saran Tissa.


Aurel melirik jam di pergelangan tangannya. "Iya sih udah jam segini. " Aurel membereskan tasnya. Tidak lupa juga membawa map tadi.


"Gue cabut duluan ya! Bye!" ucap Aurel. Aurel keluar dari ruangan meninggalkan Tissa sendirian.


"Udah gue bilang Rel, hidup lo begitu beruntung... " gumam Tissa menatap kepergian Aurel.


***

__ADS_1


"Gimana kalau gue anterin dokumen ini ke kantor Daren dulu. Setelah itu baru ke kantor Aldino. Biar gue bisa jalan sama dia... " gumam Aurel di tengah kemacetan.


Untunglah macet siang itu tidak panjang. Jadi tidak terlalu menguras waktu. Aurel menikmati perjalanannya. Hingga akhirnya ia sampai di kantor Daren.


Aurel memarkirkan mobilnya. Lalu segera turun dari mobil. Ia menatap gedung tinggi yang menjulang langit. Ini adalah kali pertama ia main ke kantor Daren. Aurel segera masuk kedalam lobi.


Ia ingat kantor Daren berada di lantai 11 dan 12. Jadi ia harus segera menaiki lift.


Tidak hanya Aurel ada beberapa karyawan yang masuk kedalam lift.


"Eh tahu kan? Bos kita? Pak Daren!" ucap seorang perempuan berambut ikal. Aurel diam, hanya menguping pembicaraan mereka.


"Gosipnya dia gay loh!" sambungnya.


"Gay? Bisa jadi juga sih selama ini dia gay," batin Aurel.


"Loh kata Mbak Sella udah nikah Pak Daren.. " ucap rekannya.


"Sella? Sekertaris Daren kan? Yang waktu itu datang ke pernikahan gue sama Daren," batin Aurel.


"Duh jangan sampe orang-orang tahu kalau gue istrinya Daren!" Aurel mencoba menghela nafas. Dan menenangkan dirinya.


"Sama Mbak Nesa?"


"Nesa siapa njir!" batin Aurel. Ting...


Pintu lift terbuka di lantai 12 Aurel langsung keluar, dan berjalan menuju ruangan Daren.


"Selamat siang ada yang bisa di bantu?" ucap seorang resepsionis.


"Eum saya Aurel dari PT Gunawan Sejahtera mau bertemu dengan Bapak Daren Kusuma Wardana... ' ucap Aurel.


"Mohon maaf, apakah sebelumnya sudah ada janji dengan beliau?" Aurel menghela nafas sembari memejamkan matanya.


"Belum ada. Tapi saya mau memberikan surat kontrak untuk segera di tanda tangani oleh beliau," jawab Aurel.


"Eum kalau belum ada janji. Silakan atur ulang jadwalnya. Soalnya beliau sedang sangat sibuk, tidak bisa di ganggu..." ucap resepsionis.


"Tapi Mbak... saya..."


"Saya hanya menjalankan perintah..." potong resepsionis tersebut.


Aurel menghela nafas kesal. Ia mencoba untuk menghubungi Daren. Namun tidak ada jawab juga.


"Loh Bu Aurel... " ucap seseorang dari belakang. Aurel membalikkan tubuhnya.


"Ini saya Sella, sekertaris Pak Daren... " ucapnyamemperkenalkan diri.


"Ah iya saya ingat... " ucap Aurel sembari tersenyum. Sella membalas senyuman Aurel.


"Bu kenapa gak masuk?" tanya Sella.


"Gak di bolehin sama resepsionis... "jawab Aurel.


"Loh Dev kenapa gak boleh? Ini orang penting loh. Bu Aurel kan Is... Aurel segera menarik Sella.


"Bu kenapa saya di tarik?" ucap Sella.


"Sella, saya minta kamu jangan bilang ya kalau saya istrinya Daren... " ucap Aurel


. "Lo kenapa Bu?"


"Pokoknya saya gak mau ada yang tahu kalau saya istrinya Daren," ucap Aurel.

__ADS_1


"Baik Bu, kalau begitu mari saya antar ke ruangan Pak Daren..." ucap Sella. Aurel mengangguk. Aurel mengikuti Sella dari belakang.


__ADS_2