MUSUH TAPI MENIKAH

MUSUH TAPI MENIKAH
TIDAK PERNAH AKUR


__ADS_3

"Lo beneran gak bisa jalan sendiri? Berat tahu gak!" ucap Aurel yang sedang memapah tubuh Daren.


"Gak bisa. Kan ini semua gara-gara lo. Gue udah bilang kaki gue gak sakit. Dan ketika di pijit, malah nambah sakit!" ucap Daren.


Aurel memajukan bibirnya sebal. Ia membuka pintu mobil. Dan langsung membantu Daren untuk duduk.


"Pasangin juga dong... " ujar Daren menunjuk seat belt dengan dagunya.


"Heh yang sakit itu kaki lo. Tangan lo masih sehat walafiat, jangan ngadi-ngadi deh," omel Aurel. Secara reflek, Daren menutup telinganya.


"Mulut mercon, duh kalau ngomel. Berisik banget," sindir Daren.


Aurel tidak menghiraukan Daren. Perempuan itu segera berjalan menuju pintu pengemudi.


"Kita mau kemana?" tanya Daren saat Aurel menghidupkan mesin mobilnya.


"Menurut lo? Ya pulang lah. Ogah gue berduaan terus sama Io," ujar Aurel begitu jujur.


"Makan dulu yuk, gue laper nih," ucap Daren menepuk perutnya.


"Masakan Mami lebih enak," ucap Aurel masih fokus dengan jalanan di depannya. Sore itu, terlihat gerimis rintik-rintik yang sangat syahdu.


Daren menyandarkan kepalanya di jendela mobil. Melihat jalanan yang tidak asing untuknya. Hingga matanya melihat sebuah makanan pinggir jalan.


"Rel berhenti!" ucap Daren. Seketika Aurel mengerem mendadak.


"Apaan sih? Lo gak tahu bahaya ya?" ucap Aurel sebal.


"Lo ingat baksonya Pak Edi gak? Yang dulu kita sering berantem di tukang bakso itu. Itu buka, mampir yuk. Udah lama gak makan bakso itu," ucap Daren dengan tatapan memohon.


Aurel menatap sebuah tenda bakso di luar sana. Otaknya memutar memori saat-saat ja masih sekolah.


"Rel, mau ya... sekali aja," ucap Daren memohon lagi. Aurel menghela nafas. Perempuan itu mengangguk, dan langsung mencari parkiran untuk mobilnya.


"Yes!" ucap Daren bersorak gembira.


Setelah berhasil memarkirkan mobilnya. Aurel dan Daren turun dari mobil.


"Lah kok lo udah bisa jalan?" ujar Aurel bingung.


"Kan tadi gue pura-pura..." ucap Daren sembari tersenyum menyebalkan.


Bug...


Aurel memukul Daren dengan tas yang ia bawa.


"Aw, sakit Rel," ucap Daren sembari mengusap lengan tangannya. "Lo nyebelin anjir."


"April mop," ucap Daren sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"April mop? Woy ini bulan Agustus!" kata Aurel menahan emosinya.

__ADS_1


Daren hanya menyengir, keduanya berjalan menuju kedai pak Edi. "Permisi Pak, " ucap Daren.


Lelaki paru baya yang tengah mencuci piring itu mendongak menatap Aurel dan Daren. Kedua keningnya berkerut. Seperti tidak asing dengan kedua orang di depannya.


"Maaf siapa ya?" ujar Pak Edi mengungkap perasaan kepo-nya.


"Pak Edi inget sama Aurel sama Daren, engga?" tanya Aurel begitu sopan.


"Aurel? Daren?" ujar beliau.


"Iya. Yang dulu suka rusuh di kedai bapak. Yang kita selalu berantem di sini, " balas Aurel, mencoba memberi memori kepada Pak Edi.


"Anak SMA 27 Pak," sambung Daren.


"Oh iya, Bapak ingat, " ucap Pak Edi sembari tersenyum.


Aurel dan Daren senang, karena Pak Edi mengingat mereka.


"Kalian sudah tidak berantem lagi, to?" ucap Pak Edi mengamati keduanya.


"Wih, udah pada sukses ini," sambungnya dengan pandangan mata yang terlihat kagum.


"Mari, saya buatkan bakso gratis buat kalian, " ujar Pak Edi.


"Kok gratis sih Pak. Kali ini kita bayar kok. Tenang aja gak kayak dulu," ucap Daren.


"Gak pa-pa, kali ini biar saya yang traktir," ucap Pak Edi.


"Ini silakan dimakan. Kalian pasti


kangen sama rasa bakso saya kan?" ucap Pak Edi dengan senyum ikhlas yang mengembang.


"Bapak tahu aja," jawab Daren. Keduanya memakan bakso tersebut.


"Kalian sekarang sudah pacaran? Atau menikah? " tanya Pak Edi.


Keduanya tersedak, mendengar kata 'menikah' serasa kata-kata horor dalam kehidupan mereka.


"Kita temenan aja kok Pak," jawab Aurel.


Pak Edi mengangguk paham. "Non Aurel dulu saya ingat waktu Den Deren pacaran sama Non Sofia, Non Aurel kan yang nangis di Sini."


"Nangis?" ucap Daren melirik Aurel.


Kedua pipi Aurel bersemu merah. Ia merasa malu, kenapa Pak Edi membongkar semuanya?


"Iya gue nangis, karena jatuh dari motor. Bukan nangis karena lo," ucap Aurel.


"Tapi waktu itu kan Non Aurel gak bawa motor," ucap Pak Edi menatap Aurel heran.


"Bawa, kan sama Tissa terus kita jatuh, terus saya mampir kesini sambil nangis deh," jelas Aurel.

__ADS_1


"Tapi gue lebih percaya cerita Pak Edi, dari pada cerita lo," sahut Daren.


Aurel mendongak menatap Daren. "Terserah lo! Ngapain juga gue nangisin lo, wle!" Aurel menjulurkan lidahnya. Mengejek Daren. Keduanya malah ribut di depan Pak Edi membuat Pak Edi tersenyum.


***


"Makasih ya Al, udah anterin gue. Sama traktirannya juga," ucap Tissa sebelum turun dari mobil Aldino.


"Iya sama-sama Tis, harusnya gue yang bilang gitu ke lo," ucap Aldino. "By the way, Tissa lo tahu gak hubungan Aurel sama Daren dulu?"


Tissa mengerutkan keningnya. Ketika mendengar pertanyaan Aldino.


"Mereka? Yang gue tahu sih mereka gak pernah akur. Aurel tuh benci banget sama Daren. Tapi gue gak tahu apa penyebab kebenciannya, " jelas Tissa.


"Gitu ya? Oke makasih, " ucap Aldino. Tissa keluar dari mobil Aldino. Perempuan itu beridri di pinggir jalan. Menunggu mobil Aldino pergi baru ia masuk kedalam rumah.


"Kenapa tiba-tiba Aldino nanya gitu? " gumam Tissa.


Tissa membuka pintu rumahnya. Ia kaget, melihat kondisi rumah yang sangat berantakan. Perempuan itu menghela nafas, ia langsung membereskan beberapa sampah dan botol bir di atas meja.


"Sa! Bagi duit!" ucap seseorang keluar dari kamarnya. Tissa hanya diam, masih memunguti sampah di bawah.


"Tissa lo dengar gak sih?" ucapnya sekali lagi dengan suara yang lebih keras.


"Abang cukup ya! Lebih baik Abang pergi dari rumah! Tissa gak kuat tinggal sama Abang. Semenjak Mama sama Papa meninggal Abang gak pernah kerja, Abang selalu membawa perempuan kerumah, selalu mabuk! Tissa gak bisa tinggal sama Abang!"


Plak...


Tissa jatuh, temparan itu begitu kuat di pipinya.


"Lo gak akan bisa ngusir gue dari sini!" ujar Abangnya.


Tissa hanya mampu menangis mendengarnya.


"Cepat bagi duit lo!" ucapnya lagi. "Ah lama lo!" lelaki dengan rambut gerondong igu mengambil tas Tissa dan dompetnya.


"Bang, jangan Bang.. " ucap Tissa


namun Abangnya itu tidakmenghiraukan Tissa. "Diam! Lo mau gue pukul lagi?"


Tissa menggelengkan kepalanya sembari menangis. Abangnya langsung pergi, Tissa hanya mampu menangis. Hidupnya berantakan setelah kedua orang tuanya meninggal.


Tissa harus hidup dengan Abangnya, Stevan, pemabuk, dan tidak jarang juga main tangan. Padahal sewaktu kedua orang tuanya masih ada. Stevan tidak pernah seperti itu.


"Ma, Pa, Tissa harus gimana? Tissa capek Pa, Ma..." ucap Tissa memeluk figuran foto almarhum kedua orang tuanya.


"Tissa... " ucap seseorang.


Tissa mendongak menatap ke sumber suara.


"Aldino?"

__ADS_1


__ADS_2