
"Kelvin, gimana enak gak? Kelvin
suka gak?" tanya Aurel kepada
Kelvin yang tengah asik memakan
ice cream-nya.
"Enak, Kelvin suka. Tapi kadang
Mama ngelarang Kelvin buat
makan ice cream," ucap Kelvin.
"Iya kan emang gak boleh, nanti
giginya jadi ompong, Kelvin mau?"
ucap Aurel sembari menjawil hidung Kelvin.
"Gak mau, nanti Kelvin galk
ganteng lagi," ucapnya. Aurel
tertawa merasa gemas dengan
Kelvin. Ia mencubit pipi Kelvin.
Mereka sedang ada di play ground.
Menunggu Daren yang sedang
membayar makanan.
Meski Aurel kalah, tapi tetap saja
semua makanan yang membayar
Daren.
"Udah?" tanya Aurel kepada Daren yang baru saja datang.
"Udah kok, " ucap Daren. Daren
tidak lupa dengan pesanan yang di
take away tadi.
"Ya udah yuk balik," ajak Aurel.
Aurel mengandeng tangan Kelvin.
Sementara Daren membawa
makanan. Mereka hanya berjalan
kaki, karena memang letak cafe pas
sekali di depan gedung kantor
Daren.
Mereka sampai di lantai 12. Aurel dan Daren saling pandang, ketika
melihat Sella menangis. Kelvin
panik, lelaki kecil itu langsung
berlari memeluk Mamanya.
"Sella kamu kenapa?" tanya Daren.
"Ibu saya masuk rumah sakit Pak,"
jawab Sella. Sella menghapus air
matanya.
"Mama kenapa?" ucap Kelvin
menghapus air mata Sella.
"Mama gak pa-pa kok," ucap Sella tersenyum menatap Kelvin.
"Ya sudah, saya izinkan kamu
untuk pulang," kata Daren.
"Nah itu masalahnya Pak, " Sella
menghentikan ucapannya
sebentar. "Ibu saya sudah pulang
ke kampung. Sementara saya disini
punya tanggungan Kelvin. Dia
harus sekolah."
Aurel mengusap bahu Sella,
mencoba untuk menguatkan
perempuan itu."Gini aja, gimana kalau untuk
sementara waktu biar Kelvin
tinggal sama saya dan Aurel," ucap
Daren mengusulkan sebuah ide.
"Saya takut merepotkan Bapak dan
Bu Aurel, " balas Sella tidak enak.
"Enggak kok Sel, kita bisa bantu
jaga Kelvin. Lagian Kelvin anak
pinter kok, gak manja, " sahut
Aurel.
Sella terdiam sebentar, seprtinya
sedang berpikir.
"Gimana Sel? Saya pastikan Kelvin
aman sama kami," ucap Daren lagi.
Sella mengangguk. Ia berjongkok,
untuk menstarakan tinggi
badannya dengan Kelvin.
"Sayang, kamu Mama tinggal dulu
ya. Oma sakit, Mama harus
pulang. Kamu gak pa-pa kan sama
Om Daren dan Tante Aurel disini,"
ucap Sella memberi tahu dengan
lembut kepada Kelvin.
"Kelvin mau ikut Mama," ucap
Kelvin.
"Jangan, kamu kan harus sekolah,"
ucap Sella. Seketika Kelvin
menangis. "Sayang jagoannya
Mama kok nangis sih. Mama gak
lama kok. "
"Bener? Mama gak lama?" tanya
Kelvin."Iya, Mama janji gak akan lama,
ucap Sella sembari menghapus air
__ADS_1
mata Kelvin. "Jangan nangis lagi
ya anak Mama. Jangan bandel,
nurut sama Om Daren dan Tante
Aurel. Kelvin ngerti kan? "
Kelvin mengangguk. Sella
memeluk Kelvin erat.
"Pak, saya segera pergi ya. Harus
beli tiket," ucap Sella. "Oh iya Pak,
untuk baju Kelvin akan saya kirim
nanti ke rumah Bapak. Maaf kalau
saya merepotkan.""Gak pa-pa kok Sel, semoga Ibu
kamu cepat sembuh ya," ucap
Aurel mengusap bahu Sella.
Sella mengangguk, "Makasih Bu.'
Sella memeluk Kelvin sekali lagi.
Berat rasanya meninggalkan
Kelvin. Tapi itu memang yang
harus ia lakukan sekarang.
Sella pergi, sementara Aurel
menggenggam tangan Kelvin.
Kelvin menangis, sekarang Aurel
mencoba menangkan Kelvin. " Kevin harus menuruti ucapan Mama, ya. Kasihan Mama, " ucap
Aurel.
"Iya Tante, Kelvin akan nurut
ucapan Mama," jawab Kelvin.
Aurel memeluk Kelvin.
Daren yang sedari tadi
memperhatikannya hanya
tersenyum. Karena ia sadar bahwa
jiwa keibuan Aurel sudah muncul.
"Wah, harusnya langsung gas
punya anak ini," batin Daren
sembari terkekeh geli.***"Assalamualaikum.. " ucap Daren
masuk kedalam rumahnya
bersama dengan Aurel dan Kelvin
tentunya.
"Wa'alaikumsalam.. " jawab Sarah
dan juga Wardana. "Loh ini anak
siapa? "
"Ini Kelvin Ma, anaknya Sella
sekertaris aku. Dia harus pulang
kampung beberapa hari. Mamanya
sakit keras soalnya," jawab Daren.
aku sama Aurel. ""Oh gitu, " ucap Sarah. Sarah
berjongkok untuk melihat Kelvin
lebih dekat. "Hai Kelvin, ini Oma
Sarah. Maminya Om Daren."
"Halo Oma, " ucap Kelvin
menggoyangkan tangannya.
"Ih lucu banget sih! Liat deh Pi,
Kelvin lucu banget," ucap Sarah
mencubit pipi Kelvin karena
gemas. Wardana tersenyum
melihat Kelvin, memang anak itu
sangat menggemaskan. "Kelvin
udah makan?""Belum Oma, " jawab Kelvin.
"Ya udah kita makan dulu yuk, "
ajak Sarah. Sarah membawa Kelvin
ke ruang makan.
Daren menarik Aurel untuk masuk
kedalam kamar.
"Kelvin gak pa-pa? Di tinggal sama
Mami?" tanya Aurel.
"Udah gak pa-pa. Mami tuh suka
sama anak kecil, " ucap
banget
Daren melepas dasi yang mrncekik
lehernya. Aurel melihat Daren yang nampak
kesusahan. la pun berinisiatif
untuk membantu Daren.
"Udah, " ucap Aurel meletakkan
dasi di keranjang kotor.
"Kamu liat sendiri kan? Mami
sangat suka sama Kelvin, " ucap
Daren yang tiba-tiba memeluk
Aurel. Bukan hanya itu, lelaki itu
juga mengendus leher Aurel.
"Ayo bikin, yang banyak. Pasti
Mami seneng kalau cucunya
banyak," ucap Daren. Daren mendongak sebentar untuk
melihat ekspresi wajah Aurel.
"Tapi gak sepuluh juga," ucap
Aurel mendorong bahu Daren.
Agar lelaki itu menghentikan
aktivitasnya.
__ADS_1
"Sepuluh sayang, gue sanggup kok
ngasih makan sama nyekolahin
mereka," ucap Daren.
"Gue yang gak sanggup ngelahirin
mereka!" ucap Aurel sembari
mencubit perut Daren.Daren tertawa mendengar ucapan Aurel.
"Ya kan... "
"Ya kan apa? Ha?" ucap Aurel
menatap Daren sengit.
"Ya udah deh, jumlah anak
terserah berapa. Tapi sekarang
bikin dulu yuk," ucap Daren
menaik turunkan alisnya.
"Gue masih halangan," jawab
Aurel.
"Lama banget sih, " rengek Daren seperti anak kecil."Ya emang gitu," ucap Aurel
menatap dirinya di cermin.
"Ya udah sekarang latihan dulu, "
ucap Daren memeluk Aurel dari
belakang.
"Latihan apa? " tanya Aurel
kebingungan.
"Latihan mandi bareng, ya.. " ucap
Daren.
"Gak ngadi-ngadi lo!" tolak Aurel.
Aurel bergegas untuk masuk
kedalam kamar mandi. Masih syok karena Daren mengajaknya mandi bareng. Bukan tidak mau, hanya
saja Aurel belum siap.
Aurel menghela nafas, mencoba
menangkan dirinya. la mengunci
pintu kamar mandi. Lalu melepas
pakaiannya. Tiba-tiba ia menepuk
jidatnya sendiri. Karena lupa
membawa baju ganti.
"Duh bodoh banget sih gue!" ucap
Aurel merutuki dirinya sendiri.
Apalagi sekarang Aurel sudah
terlanjur melepas pakaiannya.
"Daren... bisa tolong ambilin baju gue, gak?" ucap Aurel dari dalam
kamar mandi.
"Baju yang mana?" tanya Daren
"Terserah, pokoknya baju sama
celana," balas Aurel lagi.
"Gue juga yang milih
**********?" ucap Daren.
Seketika Aurel membulatkan
matanya.
"Kalau gitu lo keluar kamar deh!
Gue sendiri yang ambil," ucap
Aurel."Kan gue suami lo. Gak pa-pa kali,
ucap Daren. Aurel menghela
nafas pasrah. Tiba-tiba Daren
mengetuk pintu kamar mandi.
Aurel mengambil handuk untuk
membalut tubuhnya. la
bersembunyi di balik pintu. Hanya
membiarkan tangannya yang
terlihat.
"Mana bawa sini, lo jangan
masuk!" ucap Aurel. Daren
memberikan pakaian Aurel. Lalu
Aurel buru-buru menutup pintu Kamar mandi ia kaget ketika tahu apa yang di ambil oleh Daren.
"Daren! Kok ini sih!" teriak Aurel.
Daren hanya tertawa mendengar
teriakan Aurel. Bagaimana Aurel
tidak murka, kalau yang di ambil
Daren itu lingerie seksi berwarna
merah terang. Aurel bergidik ngeri,
membayangkan ia memakai
lingerie itu.
"Ya udah sini ambil sendiri
bajunya," ucap Daren. Aurel kesal,
ia pun membuka pintu dan
berjalan keluar. Perempuan itu langsung
malemparkan lingerie yang tadi di
berikan Daren kepada Daren.
"Loh ini gak jadi di pake?" tanya
Daren.
"Enggak!" ucap Aurel.
"Tapi nanti juga lo pake di depan
gue," ucap Daren tersenyum
mesum.
Aurel bergidik ngeri. la langsung
berlari menuju kamar mandi.
"Mama tolong ada om-om mesum."
__ADS_1