
Setelah pak Zan pulang Arnold masih membisu di tempat duduknya dia masih terngiang-ngiang dengan ucapan pak Zan tentang kehamilan Laili dia takut mimpi buruk yang pernah ia alami akan menjadi kenyataan.
Dia terus berpikir keras tentang siapa yang menghamili Laili sedangkan dia selama ini sering bercerita kalau dia sudah tidak punya pacar.
"Kok bisa ya, Laili bilang aku yang menghamili dia? perasaan juga aku nggak pernah melakukannya" gumam Arnold sembari memangku dagunya dengan kedua tangannya.
"Tapi malam itu kan Laili pernah nginep ke rumah.... astagfirullah...iya aku ingat sesuatu" Arnold langsung berdiri dan meninggalkan cafe segera menemui seseorang.
Bayangannya melayang pada kejadian beberapa bulan yang lalu. Ia segera pulang ke rumah eyangnya yang ia tempati selama ini meski beberapa bulan ini ia sudah lama tak ke sana karena sudah pindah ke Jakarta sejak pulang dari Mesir itu, apalagi sekarang dia lebih fokus tinggal bersama Fulan di rumah mertuanya.
Di rumah masih ada bik Yem dan kak Angga dan sesekali masih ada mas Yanto nginep di sana karena dia juga sekarang bekerja di bengkel yang di kelola oleh kak Angga.
Dia mengemudikan mobil dengan cepat. Rasa penasaran dan takut sempat menguasai otaknya, dia takut tentang apa yang ia pikirkan terbukti kebenarannya.
Semuanya akan kacau jika itu benar adanya.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." sambut baik Yem dengan sumringah.
"Mas Arnold? sendirian?"
"Iya bik sudah tiga minggu Arnold di sini bik,maaf ya Arnold nggak pernah mampir" tak lupa Arnold sungkem dengan sopannya.
Lalu setelah itu dia pergi ke sebuah ruangan segera mengecek CCTV beberapa bulan yang lalu. Dia terkejut menemukan apa yang ia cari saat Laili menginap di rumahnya.
Wajahnya tegang dan terbalut emosi yang memuncak. Seketika jarinya berhenti setelah dari tadi sibuk dengan keyboardnya.
"Sialan...." umpatnya.
*
Di sisi lain pak Zan yang sudah lega setelah mengutarakan semua rahasia besar pada Tsania dan ibu mertuanya, yang ia simpan sendiri dengan Laili.
"Sayang?apa rencana kamu ke depan?"
"Entahlah ,aku masih memfokuskan pada Laili dulu agar dia bisa keluar sekolah dengan alasan yang tepat tanpa ada yang tahu kehamilan nya"
"Terima kasih ya sayang?"
"Apa?" dahi pak Zan mengkerut kebingungan melihat raut ku yang sedih.
"Kamu sudah banyak berkorban untukku ,untuk keluargaku. Terima kasih sudah menjadi pengganti sosok ayah di rumah ini"
"Iya sayang tak mengapa ini sudah menjadi kewajiban kakak " pak Zan mencium bibirku sekilas.
"Istirahat yah?besuk kita mulai aktivitas lagi kamu juga sudah mulai aktif di toko baju kamu kan?"
"Iya kak"
__ADS_1
Malam ini sedikit merasa lega setelah kecurigaan ku merasa cemburu yang luar biasa kepada Laili yang begitu di istimewa kan pak Zan, seketika luntur rasa amarah itu.
Penjelasan pak Zan begitu menenangkan hatiku. Dia yang selalu sama dari dulu hingga sekarang tak pernah berubah. Pak Zan yang ku kenal selalu baik dan perhatian pada siapapun terlebih pada orang terdekatnya.
Pundaknya yang begitu keras memikul beban hidup yang selama ini begitu pahit. Dan semua tertutup sudah dengan wajah ceria dan kelembutan tutur katanya.
Aku pikir pak Zan yang tampan ini terlahir dari orang kaya, keluarga yang utuh, pacar yang banyak dan kehidupan yang bebas.
Ternyata aku salah....
Pak Zan guruku tersayang terima kasih ya?
Ku cium keningnya saat terdengar dengkuran halus keluar darinya .Hari ini dia sudah bekerja keras jiwa dan raganya ia kerahkan demi Laili.
Aku yang kakaknya tidak mengerti sedikit pun tentangnya.
Aku telah gagal menjadi kakak...
Ku lelap kan di pelukan pak Zan malam ini, soal esok kan kupikir lagi dengan pak Zan.
Pagi yang indah dan semangat baru.
Usai sholat subuh aku dan pak Zan sudah membicarakan soal Laili. Ngobrol dari hati ke hati agar Laili bisa nyaman mengutarakan semua yang ia pendam.
Siapa tahu dengan ini Laili bisa jujur tentang lelaki yang sudah menghamili nya. Usai subuhan tadi pak Zan sudah memberitahu kan soal ini pada Toni.
Amarah nya tersulut ,tapi pak Zan yang baik hati berusaha menenangkan.Dia salah satu orang di rumah ini yang marah mendengar kabar duka ini .Entah dengan paman Ali dan bik Fatim ibu belum berani bicara pada mereka, apalagi aku.
Ibu sudah mempersiapkan hati nya tentang kejujuran Laili nanti, meski sebelumnya beliau sudah banjir air mata tak karuan. Sedih,kecewa marah menyatu beliau tumpahkan dalam air mata.
Ibu mana yang kuat mendengar kabar duka anaknya yang hamil di luar nikah. Masa depan yang hancur dan berantakan apalagi sosok ayah dalam kandungannya belum juga terungkap.
Ibu memang hebat masih bisa tersenyum melihat Laili yang sedikit acuh.
Toni terlihat masih memendam amarah yang berhasil ia sembunyikan.
Pak Zan yang teduh selalu menjadi pendamai semuanya.
Dan aku? aku masih bingung harus bagaimana kecewa,sedih pun sebenarnya aku rasakan tapi ini semuanya bukan kesalahan Laili. Aku juga ikut andil dalam kesalahan ini karena aku sebagai kakak tidak bisa menjaganya dengan baik.
"Laili?"
"Iya kak" Laili mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk sembari fokus dengan ponselnya.
"Kita semua mau ngobrol serius sama kamu bisa taruh sebentar ponsel kamu?"
Tanpa menjawab Laili menaruh ponselnya.
Laili yang keras kepala , dan akhir-akhir ini selalu membantah ibu jika di perintah . Hanya dengan pak Zan ia sangat menurut.
__ADS_1
Pak Zan tersenyum pada Laili dan aku dengan kebodohan ku masih saja merasa cemburu.
Dasar bodohnya aku....
"Lel?"
"Iya buk?"
"Ibu minta maaf ya?selama ini ibu kurang perhatian sama kamu. Ibu selalu fokus dengan warung ibu.Ibu sudah banyak salah .Ibu....sudah menyakitimu....hiks....hiks..." mendengar ocehan ibu yang sudah tak bisa menahan bendungan air matanya aku hanya bisa tertunduk mengalihkan pandangan ku pada ibu.
Ibu nggak salah bu, anak-anak mu lah yang salah... anak-anak mu lah yang belum bisa membuatmu bangga .Maaf bu.....
"Ibu....???" Laili bangkit dari kursinya yang berada di sebelah ibu . Ia memeluk erat ibu.
"Ibu nggak salah,Laili yang salah bu...maafin Laili bu...maaf ....hiks...hiks..." dalam pelukan ibu, Laili bercucuran air mata.
"Ibu,maafin Laili sudah menghacurkan impian ibu...." ibu melepas pelukan Laili . Ibu menyentuh pipi Laili yang sudah banjir air mata.
"Anak ibu yang cantik...." puji dan ibu yang masih bisa tersenyum meski air mata terus membasahi pipinya.
"Kamu masih sakit nak?"
Laili bersimpuh di kaki ibunya.
"Ibu...hiks ..hiks..."
"Laili jangan begitu ,ibu nggak suka duduklah dengan baik " ibu berusaha mengangkat Laili yang menciumi kakinya.
"Hiks...hiks .." Laili mendongakkan kepalanya.
"Ibu...Laili...ha....mil bu...."
Semua terhening hanya ada suara Laili yang terisak. Hatiku terasa sakit dan kecewa mendengar kejujuran Laili.
Dia anak yang cerdas ketimbang aku ,nilainya selalu bagus-bagus. Cita-citanya yaitu ingin menjadi dokter kandungan . Menolong para ibu dan bayi yang sedang berjuang.
Sangat mulia dan selalu menjadi kebanggaan ibu dan diriku termasuk nya. Tapi semuanya telah kandas...
Aku yang bercita-cita menjadi dokter pun juga kandas,menjadi bidan pun juga tak jadi harapan ibu ya Laili agar bisa mewujudkan impian itu impian ayah dulu pada anak-anaknya.
"Makanya di pakai otaknya yang cerdas itu...!!!" umpat Toni lalu pergi masuk ke kamar dengan membanting pintu.
"Toni....!!!" teriakku.
"Sudah..." pak Zan mengelus tanganku.
Ibu masih menunduk memandangi wajah Laili yang penuh dengan penyesalan.
"Maafin Laili bu..." Laili terisak lagi di pangkuan ibu.
__ADS_1
Ibu hanya bisa mengelus kepala Laili terpaku tanpa kata.
Alhamdulillah akhirnya setelah beberapa purnama sekarang bisa up lagi. Maaf ya semuanya , author baru bisa beli handphone sekarang jadi insyaallah kedepannya bisa up tiap hari. Mohon dukungannya ya?kritik dan saran tentang novel ini. Terima kasih... author doakan semoga kalian sehat semua,panjang umur dan lancar rejekinya...😘🤗🤗