My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
SUARA HATI KECIL


__ADS_3

Laili menangis tersedu di pelukan kakak iparnya. Meski pak Zan masuk kamar Laili ia tidak menutup pintunya dan hanya beberapa menit saja.


"Kamu yang tenang ya? besuk ikut kakak jalan-jalan ya, berdua aja. Sekarang kamu tidur sudah malam"


Laili mengangguk.


Pak Zan mengusap air mata Laili dan mengelus ujung kepalanya. Lalu pergi dari kamar Laili.


*


*


Keesokan harinya usai sholat subuh Pak Zan memanggilku. Aku masuk kamar lagi usai sholat subuh berjamaah di kamar sholat.


"Ada apa kak? " tanyaku sembari melepas mukena.


"Sini duduk sebelah kakak" pak Zan menepuk-nepuk kasur di sebelahnya.


"Kakak ada apaan sih? bikin penasaran aja"


"Kalau nanti kakak nganter dan sekalian pulang bareng Laili boleh kan? "


"Emang kakak hari ini ada jadwal? "


"Nggak ada sih cuma hari ini mau ke sekolah Laili ada keperluan juga"


"Ok bagus malahan sekalian jagain dia"


"Kamu nggak cemburu kan? "


"Kakak nih, ya nggak lah emang kakak? sama adik sendiri cemburu... "


"Hist, beda cerita itu ma Tsan... oh ya sekalian kakak mau ngajak Laili jalan-jalan siapa tahu dia mau cerita tentang masalah nya"


"Iya kak, makasih banyak ya? aku tahu dia butuh sosok seorang ayah yang selalu ada buat dia. Cinta pertamanya dia.Sebenarnya Laili dan Toni sangat haus kasih sayang ayah meski aku pun juga. Kak? makasih ya? "


"Iya sama-sama sayang" pak Zan memelukku dan mengusap rambutku.


"Sudah sana bantu-bantu ibu di dapur"


"Siap kakak... " aku segera pergi menghampiri ibu. Membantunya masak di dapur.

__ADS_1


Pagi ini aku sangat bahagia mengulang kembali masa-masa bersama keluarga kecilku masak bersama, sarapan bersama dan bersama ibu mengantar Toni, Laili dan pak Zan berangkat sekolah.


Setelah itu aku bantu-bantu ibu bersih-bersih dan tak lupa menjaga warung bersama ibu sembari bercerita panjang lebar tentang semua yang pernah ku alami selama ini termasuk tentang Fulan dan Arnold.


Ibu senang meski agak terkejut dengan pernikahan mereka. Karena ibu tahu Fulan anak yang tomboi dan sekarang sudah menikah muda menyusul ku.


Dengan ibu berbagai macam hal yang aku cerita kan tentang Tafi pun, bahkan ibu sangat mengingat Tafi teman masa kecilku. Senyum tawa dan tangis ku ceritakan semua dengan ibu dan hanya satu yang tak ku beritahukan pada ibu yaitu tentang masa laluku dengan Arnold aku tak mau ibu merasa bersalah dan bersedih.


Sekarang aku sudah bahagia dengan pasangan ku dan bahkan alhamdulilah sudah ada calon bayi di rahim ku.


.


.


Sementara itu pak Zan mengantar Laili ke sekolah dengan motornya meski tadi Toni sedikit merajuk karena ingin juga di antar ke sekolah tapi dengan tambahan uang saku dari pak Zan dia mau mengalah naik angkot.


"Sekolah yang rajin ya? jangan melamun nanti pulang sekolah kakak jemput lagi kita jalan-jalan"


"Iya kak" Laili bersalaman dengan pak Zan dan mencium tangannya. Sedikit lega pak Zan melihat Laili sudah ada perubahan sejak semalam itu, kini ia lebih semangat dan ceria lagi.


Pak Zan meluncur menemui temannya di sekolah itu juga, tanpa sepengetahuan Laili. Dia menemui wali kelas dan guru olahraga. Di sekolah Laili banyak guru yang di kenal pak Zan karena kebanyakan teman pak Zan.


Urusan selesai pak Zan kembali ke tempat parkir menunggu Laili yang sebentar lagi pulang sekolah.


"Kak? "


"Iya kak... "


"Pakai helmnya" pak Zan memakaikan helm pada Laili.


"Mau kemana kak? "


"Kita cari makan "


Setelah itu pak Zan meluncur ke mall terdekat dan langsung mencari makan. Usai makan siang pak Zan mengajak Laili bermain di Game Fantasi yang ada di mall itu.


Laili mencoba semua permainan dengan sumringah. Laili terlihat bahagia dan menikmati nya. Pak Zan tak hentinya memandangi Laili bukan karena ada rasa tapi karena sosok Laili mengingatkan pada almarhum adiknya yang terbunuh kala itu.


Pak Zan juga sangat enjoy menemani Laili meski dari tadi banyak mata yang memperhatikan karena terlihat seperti om-om jalan dengan gadis selingkuhan.


"Udahan Lel? " tanya pak Zan yang melihat Laili sudah kelelahan duduk di kursi.

__ADS_1


"Iya kak, lemes banget rasanya"


"Nih minum dulu ya? "


Setelah itu pak Zan menuntun Laili menuju parkir dan mengajaknya pergi lagi ke suatu tempat. Tempat yang tenang dan sunyi. Di sebuah wisata air terjun kecil yang tak begitu deras airnya.


Meski di sana banyak pengunjung tetap saja terasa sunyi karena terletak di pinggir hutan dan suasana yang dingin membuat pengunjung yang lelah akan penatnya kota menjadi rileks. Terutama Laili dia terlihat begitu tenang dan nyaman. Tak sadar dia menyandarkan kepalanya di bahu pak Zan.


Untuk memancing obrolan pak Zan membiarkannya mungkin selama ini Laili sangat kesepian. Dia butuh sosok seorang ayah. Dulu paman Ali yang selalu ada untuknya tapi setelah punya anak dia menjadi sibuk.


"Kak? "


"Iya... " pak Zan mengusap air mata Laili yang sedari tadi menetes.


"Kakak tahu nggak kak Arnold di mana? "


"Kamu menyukai nya? bukannya kamu sudah punya pacar? "


"Sudah putus kak dia pergi ninggalin aku, dia di rebut kakak kelasku. Pas kelulusan itu dia mutusin aku"


"Terus sekarang kamu jadi suka sama Arnold? "


"Dulu sekedar kagum kak tapi sekarang aku jadi suka beneran sama dia, dia yang baik hati pengertian, penyayang. Dan dia juga tanggung jawab"


"Tentang apa? "


"Anaknya... "


Pak Zan sedikit terkejut dan darahnya mulai naik ke atas tapi dia berusaha menahan emosinya itu, agar Laili bisa bercerita dengan nyaman.


"Malam itu setelah aku menolong kak Arnold tanpa sadar kak Arnold melakukan itu padaku, aku yang sedikit terkejut hanya diam pasrah. Tapi malam itu Arnold tak henti-hentinya memanggil nama Tsania, setelah aku telusuri ternyata mbak Tsania adalah mantan nya"


"Huft... " Laili menarik nafas panjang lalu membuangnya kasar. Ada guratan penyesalan dari raut wajahnya.


"Lalu? "


"Aku sering di ajak bertemu dengan kak Arnold, dia selalu bilang maaf padaku dan akan tanggung jawab jika aku hamil. Dan dia juga berjanji jika pulang dari Mesir selesai kuliahnya akan menikahi ku. Dia benar-benar khilaf dan takut sudah menodai ku kak"


"Tanpa pikir panjang dan di buta kan rasa cintaku pada kak Arnold aku mengiyakan. Dan entah kapan aku hamil aku tak tahu kak sudah lama aku nggak datang bulan, aku sering mual muntah jika mencium aroma tertentu. Aku takut beneran hamil. Gimana kalau ibu marah? gimana kalau mbak Tsania kecewa? "


"Hiks... hiks... aku bingung kak, sudah lama kak Arnold susah di hubungi. Aku hanya ingin memberitahu kan kalau aku hamil dan memastikan kalau dia beneran tanggung jawab"

__ADS_1


Laili menunduk dia terisak tangis pak Zan memeluknya mengelus kepalanya dengan lembut.


"Kamu tenang ya? kakak akan bantu semuanya"


__ADS_2