My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
BAHAGIA


__ADS_3

Inilah kisah hidup yang beraneka ragam kadang suka dan kadang duka, kita hanya manusia biasa yang hanya bisa menjalankan sesuai perintah NYA.


Semua sudah di garis kan, bahkan ketika kita belum lahir pun. Apapun keadaan kita kalau tetap selalu bersyukur dan kita jalani dengan pikiran positif kita akan selalu bahagia.


Hari ini aku pergi ke dokter untuk memeriksakan kandungan ku sekaligus USG melihat jenis kelamin anak dalam kandungan ku.


"Lihat nih udah keliatan banget jenis kelamin nya"


"Cowok nih bro" ucap spontan Dion kegirangan karena dapat melihat jenis kelamin di monitor.


"Alhamdulillah, semoga beneran cowok yah" sahut pak Zan. Aku hanya bisa mengucap syukur dalam hati. Entah cowok atau cewek gak peduli bagiku anakku lahir dengan selamat sehat tanpa kurang apapun itu yang paling utama.


Aku menutup kembali perut ku, dan bergegas turun dari ranjang rumah sakit.


Sedikit lega dan bahagia atas hari ini. Pak Zan jadi sering mengantar periksa, lebih rajin bantuin kerjaan rumah, lebih sayang dan perhatian. Dan satu lagi dia lebih keras dalam bekerja.


Meski aku udah nawarin untuk gabung kerja di butik pak Zan selalu menolak dia masih kekeh kerja menjadi OB, kadang juga masih jualan baju-baju daster. Dia ambil dari pasar lalu di jual di ibu-ibu komplek. Dan kadang juga kalau libur kerja masih buka les private. Dia ngajari anak-anak SD yang sulit buat belajar sendiri.


Alhamdulillah sekali pak Zan udah banyak berubah. Dia benar-benar tanggung jawab atas semua yang telah ia lakukan selama ini. Dia tidak pernah gengsi dalam mengerjakan apapun.


Pak Zan juga pernah belanja sayuran sendiri lalu di masak sendiri saat aku lagi gak enak badan. Masakan nya sangat enak bahkan pernah di bagi-bagikan sama tetangga dengan alasan akan membuka catering .


Para ibu-ibu suka dengan masakan pak Zan katanya mau pesan sarapan ke pak Zan karena kebanyakan para ibu-ibu di komplek rumahku wanita karir yang kadang sibuk dan buru-buru di pagi hari.


Mulai pagi tadi pak Zan mencoba membuka catering untuk sarapan dengan menu sederhana tapi bagiku sangat lezat. Aku hanya membantu seadanya dan pak Zan mampu menyelesaikan tepat pukul 06.00 WIB dengan pesanan 15 porsi.

__ADS_1


Hatiku lega dengan semua kebahagiaan yang di anugerah kan Allah pada hidup ku. Segala kepahitan ku di balas Allah kebahagiaan dengan kontan.


Sekarang aku akan fokus pada kelahiran ku yang hanya menghitung dua bulan lagi jika sesuai perhitungan.


Ku lihat pak Zan fokus dengan ponsel dan buku di atas meja. Rupanya dia menulis pesanan makanan buat besuk pagi dan gamis seragam buat ibu-ibu pengajian.


"Kak..." ku peluk pak Zan dan duduk di pangkuan nya. Pak Zan meletakkan bolpoin dan ponselnya di atas meja. Dia mengelus rambutku yang tergerai masih sedikit basah karena sore tadi habis keramas maklum habis di eksekusi pak Zan.


"Apa sayang?udah malam loh kamu nggak tidur?"


"Belum... nungguin kamu kak"


"Iya bentar lagi selesai kok, oh ya buat acara besuk siang udah siap semua kan?"


"Ya udah yuk" pak Zan menggendong ku ala bridal style menuju ke kamar dan bahkan belum ada 5 jam sudah ingin menengok anaknya lagi, dengan senang hati ku mulai lagi eksekusi ini.


.


.


.


Laili


Berbeda jauh dengan sang kakak, Laili tampak nya sedang sedikit di uji kesabarannya dengan kehidupan nya. Kesehatan nya sedang tidak stabil terlalu banyak pikiran membuat nya stres siang tadi dia di larikan ke rumah sakit karena kondisinya sangat lemah.

__ADS_1


Sang bayi di asuh orang tua Taufiq dan tak lupa mengabari ibu. Tak berapa lama ibu dan Toni datang ke rumah sakit.


Laili masih berada di ruang ICU dan pukul 13.00 akan di lakukan tindakan histerektomi atau operasi pengangkatan rahim.


Karena penyakit kanker yang di alami semakin memburuk dan pendarahan yang tak kunjung usai membuat dokter melakukan tindakan itu.


Syok dan sedih itu yang di rasakan Taufik ,ibu dan Toni. Semua hanya bisa pasrah pada sang Illahi apapun itu yang telah terjadi. Hanya memohon semoga Laili bisa sehat kembali dan kuat menjalani semua ini.


"Nak Taufiq, ibu mohon bantuannya yah?buat nguatkan Laili. Dia butuh kamu. Semoga kamu bisa sabar dan ikhlas dengan kondisi dia seperti ini"


"InsyaAllah bu, Taufiq kuat kok. Taufiq sangat sayang Laili. Taufiq terima Laili apa adanya yang terpenting dia sehat kembali bu"


"Terima kasih ya nak..."


Setelah beberapa jam menunggu akhirnya operasi selesai di laksanakan dengan lancar. Kondisi Laili masih lemah apalagi kata dokter psikis Laili juga lemah. Sebelum di operasi dia ngelantur dan nangis-nangis nggak jelas. Seperti ada beban yang sangat berat.


Dokter berpesan agar semua bisa di ajak kerjasama untuk tidak di beri tahu dulu untuk sementara waktu tentang histerektomi ini.


Dokter takut dia semakin stres.


Cobaan demi cobaan kini telah menimpa Laili. Seakan dia harus menanggung segala perbuatan nya yang telah ia lakukan dulu.


Hanya keluarga yang bisa membuat nya kuat dan bangkit lagi di saat terpuruk seperti ini.


Ibu dan Toni sengaja belum memberikan kabar pada Tsania karena mereka juga sangat khawatir jika terjadi sesuatu pada Tsania jika banyak pikiran.

__ADS_1


__ADS_2