My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
AKHIR YANG INDAH


__ADS_3

Tak ada kehidupan yang akan berjalan mulus sesuai keinginan kita. Kita pasti akan menemukan kerikil tajam, batu besar, jalan berkelok, dan beraneka macam ujian untuk menemukan jalan pulang.


Hadapi, jalani, dan syukuri segala masalah itu. Insyaallah dengan itu bisa mendewasakan kita dan mampu membuat kita menjadi kuat.


Semalam sebelum tidur ibu memberi kabar kalau Laili habis operasi pengangkatan rahim. Kabar yang membuatku syok dan semalaman aku sulit untuk tidur nyenyak karena kepikiran Laili terus.


Pagi ini aku dan pak Zan langsung berangkat ke rumah sakit setelah pak Zan menyelesaikan pesanan makanan nya.


Pak Zan ijin tidak berangkat bekerja ke rumah sakit. Setelah semua urusan beres aku dan pak Zan berangkat ke rumah sakit mengendarai mobilku.


Was-was dan panik memikirkan Laili. Aku takut mental Laili terganggu. Aku takut dia semakin drop.


Lantunan doa selalu tak lepas dari hati dan mulut yang tak absen berkomat -kamit.


Pak Zan menggenggam tanganku yang mulai dingin . Dengan seutas senyum di bibirnya mampu membuat ku sedikit tenang.


Sampai lah di rumah sakit.


Laili sudah di pindah ke ruang rawat setelah kemarin kritis usai di operasi.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..." semua menyambut ku dengan wajah yang terlihat capek tapi sangat sumringah. Ibu dan Toni dengan senyum yang cemas karena melihat perutku yang semakin membesar.


Taufiq dan Laili dengan senyum harapan.


Setelah mengalami mereka satu-persatu aku duduk di kursi sebelah Laili dan Taufiq duduk di kursi sofa bersama pak Zan. Ibu duduk di kasur sebelah Laili dan Toni berdiri di sebelahku.


"Gimana kabar kamu Lel?" ku genggam tangannya yang begitu hangat terpadu dengan tanganku yang sangat dingin.


"Alhamdulillah baik banget mbak, aku udah baikan ini"


"Syukurlah, mbak jadi lega"


"Tangan mbak kok dingin banget, mbak kedinginan ya?bisa di matiin aja AC nya"


"Gak usah, mbak cuma panik aja tadi mikirin keadaan kamu"


"Makasih yah mbak, Laili beruntung punya mbak seperti mbak Tsania. Maafin Laili ya mbak?Laili banyak salah sama mbak. Sekarang Laili lagi kena azab sama Allah" isak tangis Laili.


"Hustt....nggak boleh ngomong gitu. Ini semua ujian betapa Allah sayang sama kamu"


"Tapi Laili kan banyak salah sama mbak...hiks...hiks .."


"Udah nggak usah di pikirin, mbak kan udah maafin semuanya. Sekarang kamu fokus dengan kesembuhan kamu. Demi Shaka dan Taufiq kamu harus bangkit . Jadikan masa lalu pelajaran yang berharga untuk kita. Kita buka lembaran baru untuk masa depan kita agar lebih indah lagi. Percayalah kita bisa melewati masa-masa pahit ini dengan baik. Lebih sabar dan ikhlas yah?"


"Hiks...hiks...iya..." Laili duduk dan meraihku lalu ku peluk dia dengan hangat. Getaran dadanya yang bergemuruh sedikit mereda. Ada kelegaan darinya.


"Ada Taufiq, ada Shaka yang menunggu kamu. Mereka sayang banget sama kamu. Kamu harus kuat kamu harus bangkit. Kamu masih bisa meraih cita-cita kamu percaya lah..." ku sentuh kedua pipinya dengan tanganku untuk memberinya semangat.


Terasa lega setelah semua berjalan dengan baik. Setelah mampu melewati segala halangan rintangan. Melewati kerikil-kerikil tajam kehidupan.


Terima kasih untuk diriku sendiri, semoga kamu selalu kuat dan rendah hati. Kamu pasti bisa menjadi lebih baik lagi. Aamiin...Terima kasih ya Allah atas segalanya.


"Aku ke toilet dulu yah..."

__ADS_1


Semakin tua usia kandungan ku semakin sering aku merasakan keinginan untuk buang air kecil. Cepat lelah, mudah nangis. Mau tidak mau wajib kita syukuri karena sebagian wanita di luar sana sangat menginginkan itu.


Aku tercengang melihat di ****** ***** ku ada bercak darah. Antara takut mau melahirkan atau ada masalah dalam kandungan ku.


Ku atur nafasku dengan perlahan. Mencoba tenang agar semuanya nanti tidak panik tentang apa yang ku alami.


Aku duduk di sofa di sebelah pak Zan yang masih asik ngobrol dengan Taufiq.


"Kamu kenapa sayang?" di elus nya perutku. Karena mungkin wajahku terlihat pucat.


"Tadi aku pas pipis, ada bercak darah di celana ku"


" Oh, ayo...kita periksa. Kamu masih kuat nggak?kakak ambilkan kursi roda ya?"


Aku hanya bisa mengangguk karena terasa lemas sekali badanku. Perutku semakin terasa kencang sekali.


Ibu dan yang lainnya ikutan panik karena usia kandunganku masih 28 minggu. Jadi masih terlalu beresiko untuk melahirkan sekarang.


"Minum ya nduk" ibu menyodorkan air minum dalam kemasan botol. Aku meneguk sedikit.


"Bu, kakak mana..." ku remas tangan ibu sekencang-kencangnya. Karena perutku rasanya sudah tidak karuan.


Setelah menunggu agak lama pak Zan datang membawa kursi roda dan membawaku masuk ke dalam lift. Karena ruang persalinan ada di lantai atas.


Semua dokter dan suster datang dengan sigap. Aku berganti pakaian rumah sakit. Dan terbaring lemah di atas kasur.


"Sebenarnya ini belum saatnya untuk melahirkan karena berat badan bayi masih kecil sekitar 2,5kg. Usia kandungan juga belum begitu kuat. Nanti di tunggu sampai jam 12 jika tidak ada respon kita harus melakukan tindakan CITO. Karena kondisi ibu sangat panik dan stres. Apalagi seperti nya sang ibu sangat kelelahan"


Terlihat pak Zan sangat serius dan panik mendengarkan dokter menerangkan. Dan aku sudah tidak kuat lagi.


Nyeri di punggung bawah, kaki dan perut yang sangat luar biasa.


"Sakit ya sayang?yang kuat yah?kakak di sini kok. Jangan takut, jangan panik ,jangan stres. Denger kata dokter kan?"


"Iya" terdengar jelas pak Zan menahan air matanya.


" Kamu yang tenang ya?jangan banyak pikiran" aku mencoba lebih tenang, rileks, menarik nafas panjang dan membuangnya dengan lembut. Gara-gara terlalu cemas mikirin Laili aku jadi panik kayak gini.


"Sayang, jangan nakal yah?kasian bunda. Kamu udah nggak sabar yah kepingin ketemu ayah bunda?" suara serak pak Zan menahan tangis sembari mengelus perutku. Dia masih setia duduk di kursi menggenggam tanganku. Dan mengelus perutku.


Sembari mengelus dan menggenggam tanganku pak Zan menundukkan kepalanya. Terdengar dengan jelas dia terisak tangis meski sedikit di tahan masih terdengar olehku.


"Kak?"


"Iya" jawabnya dengan masih menunduk.


Setelah dia mengusap air matanya dia berusaha tersenyum membangkitkan semangat ku. Tak pernah aku melihat pak Zan menangis seperti ini. Merasa bangga melihat kasih sayang dan perhatian pak Zan yang sekarang.


"Apa sayang?kamu butuh apa?makan ya?biar ada kekuatan nanti" ucapnya dengan lembut meski dengan mata yang merah suara yang sedikit serak karena menahan tangisnya.


Aku tersenyum meski air mataku akhirnya tumpah juga.


Pak Zan mengusap air mataku dan lalu memeluk ku. Menguatkan ku...


Jam menunjukkan 11.30 WIB dokter dan suster datang memeriksaku dan tiba-tiba kontraksi hebat, ku genggam tangan pak Zan dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


Dokter dan suster menyiapkan semuanya untuk persalinan normal, karena kondisi ku lebih stabil dan lebih tenang. Jadi bisa siap untuk persalinan normal.


Air mata pak Zan yang mengalir begitu derasnya dan segala ocehan iya lontarkan untuk menyemangati ku. Segala tenaga ku kerahkan sampai di titik darah penghabisan.


Lelah rasanya. Ingin berhenti dan menyudahi perjuangan ini yang tak kunjung usai. Dokter dan para suster terus mengoceh tak hentinya menyemangati ku.


Tak kalah pak Zan lebih semangat meski dengan cucuran air mata. Bayanganku kosong, rasanya udara di otakku sudah habis. Ingin ku pejamkan mataku menyudahi semua karena rasanya aku sudah tak sanggup.


Suara dokter ,suster dan pak Zan terus menggema di telinga ku meski pandangan ku sudah tak jelas lagi.


Tiba-tiba suster datang memasukkan selang ke dalam hidungku dan udara segar terasa masuk di otakku yang kering.


Ku buka mataku pak Zan terisak tangis dan seluruh tenaga medis memberikan dukungan penuh untuk ku. Agar bisa lebih semangat lagi.


Ku genggam erat tangan pak Zan.


Ya Allah, jika Engkau beri hamba kesempatan untuk menjadi seorang ibu maka beri kekuatan hamba untuk berjuang ya Allah. Hidup dan mati ku, ku serahkan semuanya padaMu ya Allah.


Lancarkan lah ya Allah dan beri hamba kekuatan lagi. Bismillah...


Semua tenaga ku kerahkan, ku tatap wajah pak Zan penuh air mata tapi dengan hiasan senyum di bibirnya memberikan kekuatan untuk ku.


Ku genggam dengan erat tangan pak Zan...Dan adzan Dzuhur berkumandang...


"Oek...oek...."


"Alhamdulillah...ibu hebat " ucap dokter terharu dengan mata merahnya.


"Ini bayi nya ya buk?" di letakkan di atas dadaku dan aku merasa lega mendengar tangisan bayiku.


Lalu di bawanya sang bayi oleh sang suster dan tim medis yang lain masih membersihkan dan membereskan segala urusanku pasca melahirkan. Karena masih butuh jahitan banyak di jalan lahir ku.


"Terima kasih sayang sudah mau berkorban untuk anak kita, terima kasih ya Allah..." pak Zan memeluk ku dan menciumiku tiada henti.


"Kakak janji nggak akan meminta kamu punya anak lagi. Kakak takut...hiks...hiks..." tangis pak Zan pecah dalam pelukan ku. Aku hanya bisa tersenyum mengelus rambut pak Zan, merasa lega.


Setelah semua selesai aku masih terbaring lemah ,ibu masuk ruangan menangis terharu memeluk ku.


Kondisi ku sedikit membaik dan aku dipindahkan ke ruang rawat. Suster datang membawa bayiku lalu di serahkan pada ibu saat usai di bersihkan.


"Adzani nak " tutur ibu menyerahkan bayiku. Lalu pak Zan menggendong sang bayi untuk yang pertama kali.


Terlihat tangan pak Zan sedikit gemetaran ,lalu dengan lirih mengadzani nya.


"Allahuakbar.... Allahuakbar..." usai adzan tangis pak Zan pecah memeluk sang bayi. Ibu ikut nangis terharu. Dan Toni duduk di sebelah ku menetes kan air mata nya lalu memeluk ku.


"Mbak hebat...." ku elus punggung nya.


Terimakasih ya Allah atas segalanya, atas nikmatMu ini.Terimakasih pak Fauzan suamiku tercinta yang sudah memberikan kasih sayang yang penuh, yang sudah menguatkan ku, yang sudah mendampingi ku dengan baik, terima kasih anakku Zufar Athifun Altaf ( Anak laki-laki Pemberani, pemberi kasih sayang, lemah lembut dan baik hati). Selamat datang di dunia ini semoga dengan kehadiran mu bisa menjadi penyejuk bagi semuanya. Aamiin....


TAMAT.


Terima kasih semua pembaca setia MTIMH. Terima kasih atas dukungannya selama ini. Kalau bukan kalian author belum sampai di titik ini. Dan maaf jika ada salah-salah kata atau masih banyak kekurangan karena pada dasarnya author juga lagi belajar menjadi penulis yang baik.


Yuk kita pindah haluan ke karya author yang lain InsyaAllah akan fokus ke sana. ( Aku ingin bahagia dan menjadi istri ke dua)

__ADS_1


__ADS_2