My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
MELEPAS RINDU


__ADS_3

Dalam perjalanan aku sengaja pura-pura tertidur karena aku tak mau melihat kenyataan yang ada. Membuka fakta yang baru tentang pernikahan kedua. Aku tak mau meninggalkan kak Zan , dia suami ku. Meski dulu aku mencintai Arnold tapi ini sungguh berbeda. Di luar perkiraan ku. Aku mencintai kak Zan .Bahkan aku takut kehilangan nya.


"Sayang? sudah sampai" aku membuka mataku setelah berjam-jam berpura-pura tertidur.


Sampai di sebuah penginapan yang entah ini ada di mana aku tak begitu menghiraukan nya.Aku mengikuti bunda menurun kan tas ranselku. Menunggu bunda cek in dan selanjutnya menuju kamar yang di pesan bunda.


Aneh, pikirku


Kenapa cuma satu kamar?


Aku masih diam memasuki kamar di penginapan itu. Meletakkan tas ranselku di sofa dekat jendela. Aku duduk mengamati bunda dan Arnold. Karena kak Angga dan mas Yanto tak mengkuti sampai masuk kamar.


"Kita cari makan dulu yuk? " ajak bunda. Bunda keluar kamar dan aku segera berdiri mengikuti bunda tapi belum sempat melangkah pergi Arnold menarik ku dan memelukku dari belakang.


Aku memberontak tapi Arnold semakin mengeratkan pelukannya. Terdengar isakan tangis darinya.


"Izinkan aku sebentar saja Tan, merasakan pelukanmu. Menikmati kebersamaan dengan mu untuk yang terakhir kalinya" bisik nya.


Aku masih terdiam mencerna setiap perkataan darinya.


"Aku tahu ini adalah perbuatan dosa menyentuh mu tanpa ada ikatan yang halal apalagi kamu sekarang sudah tidak bisa di miliki oleh siapa pun"


Ku sentuh tangannya yang masih memeluk erat di perutku. Ku putar balik tubuhku menatap wajahnya yang hanya tinggal sekian jengkal saja.


"Kamu kenapa? "


"Terima kasih sudah merawat ku. Terima kasih sudah membantu ku menyembuhkan luka. Semoga kamu bahagia ya? " Arnold mengusap air matanya dan pergi berlalu meninggalkan ku.


Aku masih berdiri terpaku meresapi setiap kata yang terucap dari mulut Arnold.


Apa dia sudah sadar? entahlah. Syukurlah kalau begitu. Ku susul Arnold dan bunda.Kita semua masuk ke mobil lagi menuju rumah makan yang dekat dengan pantai. Hatiku pun berdecak kagum tidak pernah menyangka sebelum nya. Bunda dan Arnold punya rencana berlibur ke pantai ini.


Usai makan siang Arnold mengajakku ke tepi pantai. Di bawah terik matahari yang kian menyengat Arnold memayungi ku melihat debaran ombak yang terombang-ambing memperindah suasana disiang ini. Arnold lagi-lagi merangkul punggung ku dari belakang. Sempat menolak tapi Arnold menatapku dengan tajam. Ya sudahlah pikirku.

__ADS_1


"Tsania? "


"Iya" sengaja tak melihat wajahnya aku masih terpaku dengan pemandangan di pantai.


"Andaikan jika kamu punya kesempatan kedua apa yang akan kamu lakukan? "


"Entah... " ku silangkan kedua tanganku di dada.


"Kalau aku ingin sekali menikahi mu "


Ku toleh wajahnya yang berjarak hanya beberapa centi itu. Aku mengkerut kan keningku masih bingung dengan ucapan Arnold.


"Sayang? bukannya ini kita akan prewedd ya? " sengaja aku menenangkan pikirannya agar tidak terjadi sesuatu padanya.


"Sayang sekali aku sudah terlambat. Menjadikan mu bidadari ku yang akan menemani ku di dunia maupun di akhirat kelak. Semua rencana ku gagal, semua keinginanan ku pupus. Mungkin kemarin-kemarin aku terlalu naif, terlalu terbawa emosi mengutamakan egoku. Nafsu dunia menguasai hatiku. Hingga berencana membawa mu lari dari kehidupan nyata"


"Tapi Allah punya rencana lain. Allah menggagalkan itu semua. Allah menegurku lewat kejadian naas kala itu. Aku sadar Tan, semua yang kita rencanakan tak akan bisa terwujud tanpa kehendak Allah. Allah memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita mau. Sekuat apapun kita berencana kalau Allah tak mengizinkan juga tak akan bisa terwujud "


Air mata Arnold mengalir begitu saja ingin rasanya mengusap setiap tetesan itu tapi niat itu ku urung kan. Ku tundukkan pandangan ku memejamkan mataku meredam kan emosi di dada agar tidak larut dalam kepedihan yang di alami Arnold. Aku tahu semua tidak mudah. Aku tahu rasanya pasti sakit sekali. Tapi ini sudah kehendak Allah kita hanya bisa pasrah menjalaninya. Ya, ikhlas adalah jalan satu-satunya.


"Maaf..." Arnold melepaskan rangkulannya. Aku bahkan tak sanggup menatap wajahnya. Aku takut melihat manik matanya. Aku takut setan berhasil menggodaku dan menggugurkan kesetiaan ku.


Aku takut....


Entah berapa lama aku terpejam. Suara Arnold tak terdengar lagi hanya gemuruh ombak yang mengisi di keheningan di antara kita.


Aku terasa lelah rinduku akan pak Zan juga belum bisa terobati apalagi kini Arnold hampir menggoyahkan kesetiaan yang ku emban.


Dia memelukku lagi menicum keningku. Aku tak kuasa menolak. Aku sudah lelah. Aku sudah capek terombang-ambing dalam tidak kepastian ini. Ku tuangkan rasa lelah ku ini pada dada bidang yang memelukku memberikan kenyamanan. Aku sudah tak memikirkan dosa lagi. Aku tahu berduaan dengan lelaki seperti ini saja sudah dosa apalagi berpelukan,dan sampai dia mencium keningku. Sudahlah aku lelah. Biarkan ini seperti ini sebentar saja....


"Maafkan kakak ya Tan? "


Ku buka mataku aku tercengang melihat seseorang yang tersenyum di hadapan ku kini.

__ADS_1


"Kak Irul???mana Arnold?" aku memutarkan segala pandangan ku mencari ke segala arah setiap lekuk tubuh Arnold. Tak ada kemunculan Arnold. Aku bahkan mencari di belakang pak Zan. Aku takut ini hanyalah mimpi. Atau...ada sebuah magic yang mengubah Arnold menjadi pak Zan.


"Arnold sudah pergi"


"Maksud kakak? "


"Tadi pagi dia ngabari kakak kalau dia sudah sembuh dan sudah sadar. Dan dia ingin kembali lagi melanjutkan kuliah dan ngajinya lagi ke Mesir. Maka dari itu dia menghantar kan mu kesini"


Aku tak kuasa lagi menahan rasa sakit ku lagi.Merasa di bohongi dengan sandiwara Arnold.Ya meski ini termasuk cara dia untuk membuatku bahagia.Tapi kenapa bisa begini? aku tak tahu lagi. Entah aku harus senang atau sedih dengan semua kenyataan yang ku hadapi saat ini.


"Tsania... " lirih pak Zan mengeratkan pelukannya.


"Maafin kakak sudah membuatmu lelah. Maafin kakak sudah membuatmu sedih. Terombang-ambing sendiri menahan rindu ini" mencium ujung kepalaku.


Ku rasakan setiap detak jantung pak Zan yang tak beraturan menyatu dengan jantungku yang berdebar. Ku hela nafas dengan lembut. Membalas pelukan pak Zan. Melupakan sejenak tentang Arnold.


Rindu.... ya rinduku yang tak berujung kini telah terobati. Pak Zan yang tanpa kabar selama dua hari ini sekarang sudah berada di hadapan ku. Ku eratkan pelukanku. Melupakan segala rindu yang terasa berat dari kemarin.


"Sudah jangan menangis lagi yah? kakak di sini" pak Zan memegang satu pundak ku dan mengusap setiap tetesan air mataku.


"Kenapa kakak bisa di sini? "


"Ini kan di pantai Parangtritis?"


"Ini Jogja? "


"Lho kamu dari tadi gak tahu kalau di ajak ke Jogja? "


"Nggak, aku nggak lihat kak aku takut kak. Tadi Arnold hanya bilang akan mengajakku prewedding"


Pak Zan mengelus kepalaku dan menciumnya. Dia tak bergeming dia menatap lautan luas yang menjadi pusat pandangannya dan aku. Tangannya memeluk punggungku dan yang satu memegang payung yang tadi di bawa Arnold.


Huft...

__ADS_1


Semoga ini bukan mimpi. Melainkan sebuah fakta yang akan membawa ku dengan kebahagiaan. Aku harap ini adalah awal yang indah dan tak ada lagi pengganggu yang masuk di rumah tangga ku.


Desiran ombak di siang ini biarlah menjadi saksi bisu antara aku dan pak Zan. Untuk menyatukan cinta kita kembali. Kembali mengait tanpa ada penghalang lagi. Meski aku tahu kedepannya akan ada lagi kerikil-kerikil yang menjadi penghias di kehidupan kita. Yang terpenting semoga kita bisa kuat dan tetap setia dalam situasi apapun.


__ADS_2