
"Masuklah dulu, biar mas yang turuni barang-barangnya." ucap pak Ardi,
Sebenarnya ada pertanyaan besar saat pulang, pasalnya kami berangkat dengan sepeda motor tapi saat pulang pak Ardi malah membawa mobil yang tidak tahu datangnya dari mana, sepeda motornya juga tidak di urus.
Mungkin nanti deh aku tanyakan.
"Baik pak." aku memang sangat capek, pengen segera masuk ke rumah dan mandi.
Tapi baru juga beberapa langkah, dan kakiku seketika terhenti saat melihat seorang wanita dengan hijab syar'i tengah duduk di teras rumah pak Ardi, maksudnya rumah kami. Aku baru melihatnya, wajahnya teduh dan dia tersenyum padaku.
Aku menoleh ke belakang, tapi pak Ardi tampak sibuk di belakang mobil, sepertinya ia juga belum menyadari ada orang di depan rumah
"Anda siapa?" tanyaku,
"Na, kuncinya masih di saku jaket aku loh." ucap pak Ardi sambil berjalan ke arahku.
"Mas itu_?"
Pak Ardi mengangkat kepalanya dan menatap ke arah wanita yang masih tersenyum lembut di depan rumah itu,
"Mama," ucap pak Ardi sambil tersenyum dan berjalan cepat menghampiri wanita itu.
Mama? Apa itu artinya ibu? Jadi wanita itu ibunya pak Ardi. Keren sekali panggilannya.
Pak Ardi mencium punggung tangan wanita itu,
"Mama ke sini kok nggak ngomong dulu sama Ardi, Ardi kan bisa jemput."
"Nggak pa pa, mama cuma pengen lihat kamu saja." ucap wanita itu dan aku tahu yang tengah mereka bicarakan adalah aku, perlahan aku menyusul pak Ardi dan wanita yang di panggil mama itu.
Ku injak sepatu bagian belakangku agar terlepas hingga menyisakan kaos kaki saja, sepatu yang aku pakai untuk jalan-jalan masih sepatu yang sama yang ku pakai untuk sekolah.
Aku berdiri di belakang pak Ardi tapi pak Ardi menggenggam tanganku dan sedikit menariknya hingga kita berdiri sejajar,
"Dia Zanna, ma. istri Ardi." ucap ya memperkenalkan diriku pada mama.
Wanita yang di panggil mama itu tiba-tiba menarik tubuhku ke dalam pelukannya, ia mengusap punggungku dengan penuh cinta,
"Senang bisa bertemu sama kamu nak, aku mama, kamu juga harus panggil sama seperti Ardi memanggil mama." ucapnya sambil melepaskan pelukannya. Rasanya begitu nyaman, terlepas dari rasa canggung yang tiba-tiba menghinggapi hatiku.
"Iya mama, Zanna juga senang ketemu mama."
"Maaf kan Ardi ya atas musibah yang menyimpan ayah kamu, insyaallah semua akan baik-baik saja."
__ADS_1
Kenapa setiap kali membahas tentang ayah, rasanya aku menaruh rasa kecewa yang teramat besar bagi pak Ardi. Masih tersemat jelas dalam benakku jika pak Ardi lah yang menjadi penyebar kemalangan yang menimpa ayah.
Aku terpaksa tersenyum kecut, rasanya begitu mahal kata ikhlas itu.
"Kita masuk ya ma." ucapan pak Ardi mengalihkan percakapan kami, sepertinya dia sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah ayo."
Kami masuk ke dalam rumah, sebagai seorang tuan rumah aku harus menyiapkan kamar untuk ummi. Mungkin aku benar akan tidak satu kamar dengan pak Ardi malam ini karena ada mama.
Biasanya pak Ardi tidur di ruang tv, atau ruang kerjanya. Kalau begini aku harus beralasan apa.
"Mama silahkan istirahat, Zanna sudah menyiapkan kamar buat mama."
"Makasih ya, padahal mama masih pengen ngobrol-ngobrol sama kamu, tapi ya sudahlah nanti juga bisa."
***
Krikk krikkk krikkk
Kalau aku tinggal di daerah persawahan mungkin yang terdengar di kamar kami saat ini adalah jangkrik.
Klek klek klek
Ahhhh, aku bingung harus apa sekarang. Pak Ardi juga sedari tadi diam saja.
Ini bukan pertama kali aku dan pak Ardi berada dalam satu kamar, tapi tetap saja atmosfer nya selalu berbeda, aku seperti kehabisan oksigen di sini.
Ngantuk, pengen tidur, tapi aku sepertinya lupa caranya tidur. Ah yang benar saja, pak Ardi harusnya tidur dulu biar aku lebih nyaman dan bisa bertindak apa saja.
Buku ini, buku di tanganku, aku sampai hafal setiap halamannya. Entah sudah berapa kali aku membacanya demi mengalihkan rasa canggung ini.
"Na, maaf ya aku jadi tidur di sini." suara Barito itu seperti petasan yang meledak-ledak di jantungku.
"Em i_iya, nggak pa pa pak."
Krekkk
Aku bisa merasakan tempat tidur di sampingku bergoyang, ahhh semakin panas saja. Tiba-tiba keringatku keluar dari pori-pori bawah hidungku. Aku kayak baru lari maraton saja, padahal udara di luar tengah dingin-dingin nya.
"Na,"
Gubrak
__ADS_1
Wajah pak Ardi yang sudah berada di samping wajahku berhasil membuatku terkejut, buku di tanganku jatuh begitu saja.
"Nggak ngantuk?" tanya pak Ardi, tapi bibir yang begitu dekat itu membuatku kesusahan menelan saliva.
"Ngantuk, iya ngantuk. Ini Zanna mau tidur." dengan cepat aku merebahkan tubuhku dan menyembunyikannya di balik selimut tanpa menyisakan sedikitpun yang terbuka.
"Nggak gerah kalau tidurnya kayak gitu?"
"Nggak kok pak, ya sudah Zanna tidur dulu jangan di ajak bicara ya."
"Baiklah, aku juga mengantuk."
Walaupun tidak melihatnya tapi aku yakin dari tempat tidur yang sedikit bergoyang di samping ku pasti pak Ardi juga tengah merebahkan tubuhnya.
Perlahan aku menyingkap selimutku, hingga aku bisa melihat pak Ardi yang tengah tidur telentang, matanya tengah menerawang ke atas.
Ada mamanya pak Ardi yang sudah mulai datang ke sini, apa tidak mungkin jika wanita masa lalu pak Ardi juga akan datang dan meminta pak Ardi untuk kembali padanya.
"Pak," ucapku ragu tapi pak Ardi menoleh padaku hingga aku bisa melihat wajahnya.
"Iya?" tanyanya.
"Jika wanita itu meminta pak Ardi untuk melepaskan aku dan kembali padanya, apa pak Ardi akan melepaskan aku?"
Srekkk
Cup
Bukannya menjawab pertanyaan ku, pak Ardi malah mengangkat kepalanya di mendaratkan bibirnya ke bibirku membuat aku benar-benar terpaku. Benda kenyal itu seperti memantul di bibirku memberi sensasi yang luar biasa.
Hanya sebentar dan bibir itu terlepas, meskipun bentar tapi perasaan meledak-ledak itu tidak bisa aku gambarkan. Segera ku pegangi bibirku,
"Pak Ardi, kenapa menciumku."
"Itu jawaban atas pertanyaanmu."
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...