My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
LUKISAN LUKA


__ADS_3

Tafi memelukku lagi.Dan aku hanya diam pasrah saat aku melihat dari jauh pak Zan menyaksikan ku dengan adiknya berpelukan. Dia terlihat sesenggukan menangis aku sangat tahu betul perasaan pak Zan.Tapi apa daya ini hampir sama dengan kejadian dulu dengan Arnold.


Lika-liku tak berkesudahan terkadang membuatku jengah tapi buat apa jengah kalau Allah masih sayang dan memberikan ku dan pak Zan kesempatan untuk merasakan setiap ujian yang ada.


Dari awal pernikahan ada-ada saja cobaan yang menimpa. Dari Arnold,bu Mano dan kini Tafi. Semua datang silih berganti hanya untuk mengujiku menguji keimanan ku. Semoga aku kuat ya Allah....


"Afi? "


"Iya Wa? " Tafi melepaskan pelukanku dan mengusap air matanya.


"Tolong jangan pergi jangan buat aku merasa bersalah atas semua ini"


"Nggak Wa, kak Irul maupun kamu nggak ada yang salah ini sudah jalan Allah. Allah sudah menggariskan ini semua untuk menguatkan hatiku. Aku pergi untuk menimba ilmu Wa, besuk sore aku berangkat ke Jogja untuk mulai kuliah di sana"


"Kenapa harus Jogja? bukannya di sini juga ada kedokteran? "


"Sudah impianku dari dulu Wa,dulu aku berharap jika setiap mendaftar sekolah akan berjumpa dengan kamu.Aku selalu pindah-pindah kota setiap daftar sekolah berharap bisa bertemu kamu. Dan terakhir kemarin setelah lulus SMA aku berharap aku bisa berjumpa denganmu di Jogja sebagai Maba. Tapi... "


"Kita sudah bertemu, mau kapanpun kamu ingin bertemu denganku kamu bisa jangan bersedih lagi ya? ada keponakan kamu di dalam perutku jangan ajarkan dia menjadi lelaki cengeng"


"Emang lelaki bayinya? "


"Belum tahu lah Fi, kan baru 3 mingguan paling. Cuma aku berharap bayi yang aku kandung ini terlahir bayi lelaki yang sehat cerdas dan sholeh"


"Aamiin.... " Tafi memposisikan dirinya dengan berjongkok menghadap perutku yang masih rata.


"Hay, keponakan om...Assalamualaikum.... "


"Waalaikumsalam... " jawabku dengan sumringah. Tafi mengelus perutku.


"Kamu harus jadi keponakan om yang hebat ya? jaga bunda kamu dengan baik jangan rewel yah?. Mmuuach.... " Tafi mencium perutku.


"Bunda? " aku merasa geli dan menutup mulutku.


"Bagus kan Wa?"


"Iya sih aku sama kak Irul aja belum tahu mau di panggil apa"


"Ayah bunda aja Wa kan di keluarga kita belum ada yang manggil gitu"


"Hehehe... iya juga sih... "


"Wa?" Tafi berdiri menatap bola mataku.


"Berjanjilah tetap di sini setia dan sayang dengan kak Irul,kasian dia terlalu suram masa lalunya aku harap kamu bisa menjadi mentari untuk hidupnya"


Aku hanya bisa meneteskan air mata. Merasa lega dan tenang. Selama ini saat masalah datang dan aku belum bisa menjadi pribadi yang ikhlas tapi orang-orang yang hadir selalu pergi dengan meninggalkan ilmu ikhlas.


Arnold, dia begitu sakitnya mendengar pernikahan ku tapi dengan sekejap dia sudah mengikhlaskan ku, bu Mano dia juga sudah melepaskan pak Zan, sekarang Tafi bertahun-tahun dia menungguku, mencari ku kemana-mana dan pada akhirnya dia harus mengikhlaskan ku bersanding dengan kakak angkatnya.


"Jangan nangis Wa,kalau kamu butuh apa-apa ada aku yang selalu siap untuk mu. Tapi percayalah kak Irul adalah lelaki terbaik untuk mu "

__ADS_1


"Iya aku tahu itu, tapi kenapa pernikahan ku dengan kak Irul harus di warnai dengan banyaknya orang yang tersakiti? apa salah ku? apa salah kak Irul? apa Allah tak meridhoi pernikahan ini" isak tangis ku merasa sesak dadaku.


"Huust.... sudah jangan ngomong gitu gak baik" Tafi memelukku menenangkan hatiku yang kecewa.


"Wa, kamu dan kak Irul adalah orang baik tentu saja banyak orang yang ingin memiliki dan semua itu adalah ujian pernikahan kalian. Berapa besar kekuatan cinta kalian. Berdoalah selalu kalau Allah selalu meridhoi pernikahan kalian"


"Hiks... hiks... aamiin makasih ya Fi? "


"Sudah Wa, mulai sekarang aku dan kamu tetap sahabat. Aku sahabat kecilmu dan aku juga adik kesayanganmu.Jangan nangis sudah waktunya kamu bahagia saya tahu sudah banyak lika-liku selama ini yang kamu lewati maka dari itu berbahagialah jangan hiraukan yang lain termasuk aku. Jalanku masih panjang aku masih bisa mencari kebahagiaan ku sendiri " ucap Tafi dengan mengusap lembut air mataku.


"Terima kasih banyak Fi"


"Sama-sama.Udah ah ayo kita turun yang lain pasti sudah nyariin" Tafi merangkul pundak ku dan mengajakku turun dari rooftop.


"Kamu duluan ya Fi? "


"Ok deh cepetan nyusul yah? "


"Iya"


Aku berharap semua akan baik-baik saja tak ada yang terluka lagi, aku dan kak Irul akan bahagia meski masih akan ada banyak lagi kerikil-kerikil tajam yang mewarnai rumah tangga ini. Dan semoga ke depan nya tidak ada lukisan luka lagi untuk orang-orang di sekitarku.Aamiin...


.


.


.


.


.


"Assalamualaikum, selamat pagi Wa" sapa Tafi yang pulang dari jogging.


"Waalaikumsalam... pagi juga Fi, sendiri an aja kamu mana Kafi? "


"Masih di tukang bubur lapar katanya"


"La kamu nggak lapar? "


"Aku ma lebih suka makan di rumah Wa, mana kak Irul Wa? "


"Tadi masuk ngambilin air minum buat aku"


"Oh, "


"Sudah pulang Taf?" pak Zan keluar dari dalam rumah membawa segelas air putih.


"Eh, iya kak"


"Mana Kafi? "

__ADS_1


"Masih sarapan di tukang bubur"


"Oh..., eh Tsan ini minum dulu"


"Ehem, cie... yang bucin nya lagi kumat"


"Emang, kan sudah halal dari pada kamu jomblo" sahut pak Zan sembari merangkul pundak ku.


"Hist,mentang-mentang sudah punya istri awas aja kalau gue sudah punya cewek" Tafi masuk kedalam rumah dengan meremas handuk kecil nya.


"Ye dia yang ngejek dia yang sewot" pak Zan mencium keningku.


"Makasih ya sayang? " aku meletakkan gelas


kosong di atas meja teras rumah.


"Iya sayang ku sama-sama" pak Zan menautkan ke dua tangannya di dua pipiku, dan mencium lembut bibirku.


"Ehem, kawasan anak di bawah umur" ceplos Kafi yang pulang dari jogging .


"Di bawah umur? di bawah umur kok sudah berani kiss bibir"


Kafi menghentikan langkahnya saat hendak masuk rumah. Dia menoleh.


"Kakak tahu dari mana? "


"Makanya kalau mau bawa masuk cewek tu kunci kamar dulu jangan asal "


"Kakak lihat? " Kafi mendekat dan memegang erat tangan pak Zan. Pak Zan hanya mengangguk.


"Makanya jangan macem-macem sama kakak"


"Halah, gak apa-apa wes orang nggak ada yang tahu juga"


"Hist, jangan salah kakak punya foto dan video nya loh... "


"Kak please jangan kasih tahu mamah papah yah? nanti gue nggak di kasih uang jajan lagi" Kafi semakin mengeratkan pegangan tangannya ke pak Zan.


"Tergantung.... "


"Iya deh apapun ku lakukan buat kakak deh asalkan jangan bilang ke mamah papah"


"Ada apa nih kok sebut-sebut mamah papah" mamah keluar dari rumah sudah rapi dan cantik.


"Nggak mah, Kafi katanya kepingin nginep di rumah ku seminggu mau bantuin bersih-bersih" jawab pak Zan dengan merangkul bahu Kafi dan Kafi menatap pak Zan dengan tajam.


"Oh bagus deh, oh ya Tsan siap-siap ya nanti ikut mamah ke klinik"


"Mamah sama papah duluan aja nanti Tsania aku yang antar mah"


"Ok deh, ya sudah yuk sarapan dulu "

__ADS_1


"Ok mah"


.


__ADS_2